Menantu Yang Menyembunyikan Identitas

Menantu Yang Menyembunyikan Identitas
Bab 86 Teruslah Berpura-pura


__ADS_3

Arief mengabaikan semua sindiran itu.


Dia mengangkat bahu dan mengambil pot tanah liat. Ada banyak botol dan toples di gua ini, tidak tahu siapa yang meninggalkannya.


Setelah membersihkannya, Arief melihat sekeliling dan berkata, “Heno, David, Hendry. Buka baju kalian.”


“Kenapa? Apa kamu gila?” kata Hendry dengan kesal.


“Memurnikan ramuan. Aku membutuhkan api, tetapi karena hujan, semua ranting di luar sana sudah basah. Jadi, aku hanya bisa menggunakan baju kalian,” ucap Arief dengan pelan.


“Kenapa harus menggunakan pakaian kami? Kenapa kamu tidak membuka bajumu sendiri?” ucap Heno. “Suhunya sangat dingin, apakah kamu ingin kami kedinginan?”


“Kalau tidak mau, ya sudah!” Arief melambaikan tangannya dan berkata, “Pakaian kalian lebih penting dari nyawa Ester.”


Kamu!


Hendry sangat kesal, karena Arief sengaja mencari masalah dengannya. Baiklah, kamu mau berpura-pura memurnikan ramuan, bukan? Aku akan melepaskannya. Kalau Ester tidak bisa bangun, aku ingin melihat respons kamu nanti.


Mereka saling bertatapan dan terpaksa membuka pakaiannya.


Penampilan mereka membuat semua orang tertawa.


Tak lama kemudian, api dinyalakan. Pot tanah liat diletakkan di atas api, Arief lalu mulai memurnikan ramuan.


Setiap langkah, Arief melakukannya dengan cermat dan serius.


Namun, David, Hendry dan yang lain justru ingin tertawa setelah melihatnya.


Apakah dia sudah mulai memurnikan ramuan?


Benar-benar seperti mainan anak-anak.


Kalau mau berpura-pura, apakah bisa lebih serius lagi?


“Arief, apakah kamu bisa memurnikan ramuan dengan cara seperti ini?” Hendry memegang perutnya dan tertawa terbahak-bahak. “Jangan menipu orang lagi. Pemurnian ramuan pada zaman kuno selalu menggunakan tungku ramuan. Dengan pot tanah liat yang rusak itu, apakah kamu bisa berhasil?”


Betul. Arief terlalu konyol. Apakah dia bisa memurnikan ramuan dengan pot tanah liat itu?


Apakah Arief ingin menipu mereka seperti anak kecil?


“Siapa yang bilang pot tanah liat tidak bisa memurnikan ramuan?” ucap Arief dengan pelan.


Teknik pemurnian ramuan yang sebenarnya itu, tidak mementingkan wadah yang digunakan. Melainkan proporsi setiap bahan serta pengendalian suhu.


Semua orang dapat memastikan proporsi bahan.


Namun, mengendalikan suhu adalah hal yang paling sulit untuk dikuasai.


Jika suhunya terlalu tinggi, ramuan akan hancur. Jika suhunya terlalu rendah, ramuan tidak akan terbentuk. Oleh karena itu, masalah ini selalu menjadi yang paling merepotkan bagi para ahli alkimia kuno.


Namun, hal ini bukan masalah bagi Arief.


Sebagai kultivator, Arief dapat mengendalikan energi murni untuk mengendalikan suhu api, sehingga dapat mengendalikan setiap detail dengan baik.


Jadi, bagi Arief, semua wadah yang tahan panas dapat digunakan untuk memurnikan ramuan.


Tentu saja, semua orang yang berada di sini tidak tahu tentang hal ini.

__ADS_1


Mereka beranggapan bahwa Arief sedang berpura-pura.


“Dia terlihat percaya diri juga.” Saat ini, Hendry mendengus dingin dan menatap ke arah Fransiska. “Keluarga Salim adalah keluarga yang berbisnis barang antik sejak dulu, Nona Fransiska tentu saja mengerti tentang bidang ini. Kita harus mendengar penjelasan dari ahlinya. Nona Fransiska, coba jelaskan kepada kami, berdasarkan catatan kuno, apakah benda seperti itu bisa memurnikan pil?”


Ketika bertanya, Hendry juga menatap Arief dengan sombong.


‘Bocah ini masih berani berlagak hebat? Aku akan segera membongkar kebohonganmu,’ pikir Hendry.


Setelah itu, semua orang langsung mengalihkan pandangan ke arah Fransiska.


Betul juga. Kenapa mereka tidak bertanya kepada Nona Besar Keluarga Salim? Dia adalah orang yang berhak berbicara dari semua orang.


Fransiska menggigit bibir bawahnya dengan erat.


Ketika Arief mulai memurnikan ramuan, Fransiska terus memperhatikan dari samping. Fransiska pernah membaca buku kuno tentang memurnikan ramuan.


Orang zaman dulu sangat percaya mitos, sehingga mereka berusaha menciptakan obat hidup abadi. Jadi, profesi seperti ahli alkimia pun muncul.


Namun, kebanyakan dari ahli alkimia adalah penipu. Walaupun ada yang bisa memurnikan ramuan, tidak ada yang sesantai Arief.


Fransiska berkata dengan pelan, “Setahuku, wadah yang digunakan ahli alkimia zaman dulu berupa, tungku, botol delima, kolam, pot besar dan yang lainnya. Aku juga pertama kali mendengar bahwa ada orang yang menggunakan pot tanah liat untuk memurnikan ramuan.”


Wah!


Ucapannya langsung membuat semua orang heboh.


Dengar sendiri, bahkan Nona Besar Keluarga Salim sudah berkata seperti itu.


Bocah ini sudah jelas sedang berbohong.


Semua orang kembali menatap Niko.


Melihat semua orang sedang menyindir Arief, Fransiska langsung panik. “Aku juga tidak paham semuanya. Mungkin saja ada yang menggunakan pot tanah liat untuk memurnikan ramuan ….”


Fransiska merasa dirinya sangat bodoh, hanya ingat memberitahu orang-orang tentang pengetahuan pemurnian ramuan. Dia lupa kalau ucapan ini bisa mendatangkan sindiran untuk Arief.


“Haha, Nona Fransiska, kamu tidak perlu membela Arief lagi.”


“Betul. Walaupun menantu tidak berguna ini menyelamatkanmu dari serangan hiu tadi pagi, kamu juga tidak perlu berterima kasih kepadanya. Dia hanya sedang berlagak hebat.”


David tertawa dan berkata, “Aku khawatir sampai potnya meledak, Arief juga tidak akan berhasil. Arief, jangan berpura-pura lagi. Kamu tidak capek, ya?”


Bam!


Pada saat ini, tiba-tiba terdengar suara ledakan dari dalam pot.


Semua orang terkejut dan segera mundur. Potnya tidak hancur, suara ledakan tadi merupakan reaksi yang terjadi di dalam pot dalam keadaan suhu tinggi.


Pada saat ini, Arief membuka pot tanah litany dengan perlahan.


Semua orang yang penasaran segera mendekat. Dalam sesaat, semua orang terdiam.


Beberapa wanita berseru kaget dan merasa kaki mereka menjadi lemas.


Mereka melihat sebuah pil berwarna hitam di dalam pot tanah liat itu. Bukan hanya itu, aroma wangi juga memenuhi seluruh gua.


Apa?

__ADS_1


Dia benar-benar berhasil?


Pada saat ini, semua orang langsung bengong. Mereka tidak bisa percaya dengan pil yang muncul di dalam pot itu.


Nita yang berada di samping juga mengerutkan keningnya. Selain terkejut, dia juga sangat penasaran. Suaminya ini terus saja memberinya kejutan, membuat Nita semakin tidak memahami dirinya.


“Niko, pilnya sudah jadi, aku akan memberikan kepada istrimu.” Arief mengeluarkan pil, membuka mulut Ester dengan pelan dan memasukkan pilnya.


Ketika orang-orang sedang menyindir Arief, Niko tidak memarahi mereka, karena takut mengganggu konsentrasi Arief dalam memurnikan ramuan. Pada saat ini, Niko sangat kagum ketika menyadari ramuannya berhasil dibuat.


“Arief, terima kasih!” Niko mengangguk pelan, dia kemudian menunggu Ester bangun dengan tenang.


Pada saat yang sama, semua orang juga mendekat dengan hati-hati, lalu memperhatikan dengan seksama.


Setelah 10 menit, ekspresi Ester tampak lebih baik dari sebelumnya, tetapi masih belum sadar.


Setelah 15 menit, Ester juga tidak ada tanda-tanda sadar.


Setengah jam ….


Satu jam!


“Arief, apa yang terjadi?”


Niko yang mulai tidak sabar langsung melihat ke arah Arief.


Arief tersenyum dan menghiburnya, “Tidak apa-apa. Menawar racun membutuhkan proses, dia sudah keluar dari kondisi bahayanya. Dia akan bangun sebelum besok pagi.”


Berbagai ramuan yang tercatat di buku Alkimia Tak Terbatas, tidak menuliskan berapa lama efek yang dibutuhkan setiap ramuan.


Dibandingkan Pil Dewa sebelumnya, Debora juga tidak menunjukkan reaksi sama sekali. Namun, Debora berhasil menembus setelah itu.


Niko pun mengangguk.


Namun, orang-orang justru mendengus dingin.


Walaupun Arief berhasil memurnikan ramuan dan membuat mereka terkejut, Arief mungkin saja beruntung.


Semua orang tentu bisa melihat jelas efek dari ramuan ini, Arief sedang menipu Niko.


“Pak Niko, sepertinya Arief sengaja menipumu, kenapa harus menunggu sampai besok pagi? Kalau obat yang dibuatnya berhasil, kenapa tidak ada reaksi sama sekali?” ucap Heno yang telanjang kepada Niko.


Dingin, benar-benar dingin sekali.


Cuaca di pinggir pantai sejak awal sangat dingin, ditambah hujan yang deras, membuat suhu semakin menurun. Heno langsung kesal ketika mengingat bajunya yang dibakar oleh bocah itu.


Saat ini, ponsel Arief tiba-tiba berdering.


Belasan pesan Whatsapp.


Siapa yang kirim pesan malam-malam? Arief mengeluarkan ponsel, dia terkejut ketika membaca pesannya.


Apa yang dilakukan Cindy? Kenapa dia mengirimkan foto sebanyak ini?


Karena penasaran, Arief pun mengunduh semua fotonya. Setelah tampak jelas, Arief langsung menelan ludah.


Orang dalam semua foto itu adalah wali kelasnya, Sari.

__ADS_1


Berbicara tentang Sari, Arief teringat masa-masa sekolah. Ketika SMA, dia paling takut dengan Sari.


__ADS_2