Menantu Yang Menyembunyikan Identitas

Menantu Yang Menyembunyikan Identitas
Bab 85 Kamu Bisa Memurnikan Ramuan? Hahaha!


__ADS_3

Niko menggendong Ester dan berjalan masuk dengan terburu-buru. Ekspresinya terlihat sangat panik. “Ada dokter di sini? Ada dokter di sini?”


Ester yang berada di pangkuannya sudah menutup mata dan tidak sadarkan diri..


Orang-orang yang sedang berbicara segera mengerumuni mereka dengan ekspresi bingung.


Apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba pingsan?


Semua orang di sini ingin menyanjung Keluarga Tomoro, tetapi tidak ada yang bisa mengobatinya. Saat ini, seorang wanita berjalan keluar. Dia bernama Vira Haroma, cucu Keluarga Haroma. Dia memiliki prestasi akademik yang bagus sejak kecil. Dia sedang kuliah tahun kedua jurusan kedokteran.


Ketika melihat dia mendekat, Niko merasa lebih lega.


Via segera mengecek denyut nadi Ester. Setelah tiga detik, dia menggelengkan kepalanya, “Gejala ini sangat aneh. Napasnya lemah, sepertinya dia tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Mungkin saja dia akan mati sebelum dua jam.”


“Nona Vina, jangan menakutiku. Apakah dia masih bisa diselamatkan?” Niko terus gemetar. Dia adalah orang yang memiliki banyak pengalaman, bahkan ketika dikejar oleh ratusan orang, dia juga tidak pernah bersikap panik seperti ini.


Vina pun menghela napas dan berkata, “Dengan kemampuanku ini, aku tidak bisa melakukan apa-apa.”


“Apa?” Niko langsung bengong.


Vina adalah mahasiswa berprestasi. Keterampilan medisnya tidak kalah dari dokter di rumah sakit. Setelah mendengarnya, Niko langsung panik dan marah, dia melotot ke arah Hendry. “Hendry, apakah Keluarga Sutopo tidak menyediakan ambulans untuk piknik kali ini?”


Niko yang sangat marah terlihat menakutkan.


Kalau terjadi sesuatu pada istrinya, Keluarga Sutopo juga tidak bisa hidup dengan tenang.


Suaranya seperti guntur di langit, yang membuat Hendry tercengang. Hendry pun menjawab dengan tubuh yang gemetar, “Kak … Kak Niko. Aku … aku akan segera menelepon rumah sakit.”


Dia tidak berani menyinggung Keluarga Tomoro yang begitu kuat.


Debora yang berada di samping juga mulai panik. Walaupun dia tidak senang dengan kejadian penyerangan hiu tadi pagi, Debora juga panik melihat Hendry begitu ketakutan.


Melihat langit malam di luar gua, Hendry merasa sangat sedih.


Tema piknik kali ini adalah kemampuan bertahan hidup. Mereka harus membakar ikan dan tinggal di gua. Mereka bahkan tidak membawa mobil, dari mana bisa mencari seorang dokter? Lagi pula, area sini sangat terpencil. Kalau ambulans sampai tempat ini dan kembali ke rumah sakit, sepertinya sudah pagi.


“Tidak usah telepon lagi! Kalau ambulans datang, mungkin racun sudah menyebar ke seluruh tubuhnya.”


Pada saat ini, Arief pun berkata dengan pelan.


“Arief, apakah kamu bisa menyelamatkan istriku?” tanya Niko. Niko yang sangat panik langsung merasa senang ketika mendengar ucapan Arief.


“Tidak tidak tidak. Dia tidak bisa menyelamatkannya.” Nita yang berada di samping langsung panik. Dia mengentakkan kakinya dan menarik lengan Arief. “Arief, kamu jangan ikut campur.”


Setelah menikah tiga tahun, Nita tidak pernah melihat Arief belajar medis, bagaimana Arief bisa menyelamatkannya?


Ini berhubungan dengan nyawa manusia.


Arief menepuk tangan Nita dan menyuruhnya jangan khawatir.


Dia tersenyum kepada Niko sambil mengangguk. “Niko, jangan panik. Apakah istrimu makan sejenis buah liar?”


Ester berbaring di sini dan tidak bergerak sama sekali. Kebanyakan orang hanya memperhatikan tubuhnya.


Namun, Arief justru melihat ada cairan berwarna putih di bibir merahnya.

__ADS_1


Niko terus mengangguk. “Betul. Dia makan buah plum merah yang dipetik olehku. Pohon buah itu berasal tidak jauh dari sini.”


Buah plum merah?


Arief juga kesal. Buah yang dimakan Ester bernama Buah Lohan Darah. Buah yang sangat beracun! Namun, buah ini termasuk salah satu bahan penting untuk memurnikan ramuan.


Ternyata Arief bisa mendapatkan kejutan di piknik kali ini.


Namun, dia harus segera menyelamatkan Ester sekarang. Dia bisa memetik Buah Lohan Darah nanti.


Sambil berpikir, Arief lalu berkata, “Dudukkan istrimu di pahaku.”


Menurut catatan “Alkimia Tak Terbatas,” racun dari Buah Lohan Darah sangat mudah ditawar.


Hanya diperlukan satu butir Pil Tiga Matahari untuk menawar racunnya.


Pil Tiga Matahari termasuk pil kelas rendah yang mudah dimurnikan. Bahan yang dibutuhkan hanya berupa air, akar pohon dan cacing tanah.


Namun, pemurnian ramuan ini membutuhkan waktu setengah jam. Dalam jangka waktu itu, Arief harus memblokir pusat energi di tubuh Ester, supaya racunnya tidak menjalar. Jadi, Ester harus duduk di kakinya.


Namun, orang-orang di sekeliling mereka langsung marah.


Apa yang ingin dilakukan Arief bodoh ini?


Apakah dia mulai berlagak hebat setelah membunuh seekor hiu?


Kenapa dia berani ikut campur masalah Keluarga Tomoro? Apakah dia sudah bosan hidup? Membiarkan Ester duduk di kakinya, sepertinya Arief benar-benar sudah bosan hidup.


“Arief, dasar sampah tak berguna. Apakah kamu menggila karena wanita?” teriak Heno. “Istrimu tidak mengizinkanmu untuk menyentuhnya, tetapi kamu malah ingin mengambil keuntungan dari Ester?”


Arief tidak menjawab, dia hanya merentangkan tangan dan berkata, “Baiklah. Kalau kalian berkata seperti itu, mungkin saja kalian bisa mengobatinya. Ayo sini!”


Ini ….


Ucapan ini membuat mereka berdua terdiam. Mereka mana mungkin bisa mengobatinya.


“Sudahlah. Diam kalian semua!” Niko melambaikan tangannya, kemudian mendudukkan istrinya di kaki Arief.


“Niko, segera pergi ke luar dan kumpulkan beberapa akar pohon dan cacing tanah,” ucap Arief sambil mengulurkan jari untuk menotok pinggang Ester.


Titik Akupunktur Shengyang!


Ketika belajar Tinju Wing Chun, gurunya sudah mengingatkan bahwa titik akupunktur ini tidak boleh sembarang ditekan. Karena ini adalah pusat peredaran darah. Ketika titik akupunktur ini ditekan, energi dan darah tidak akan bisa mengalir.


Setelah Niko keluar, Nita segera mendekat. “Arief, kamu jangan mengacau. Istri Pak Niko keracunan parah, apakah kamu sanggup menawar racunnya? Jangan berlagak hebat!”


Nita sedikit marah. Ester dan Arief terlalu dekat, sehingga membuat Nita merasa tidak nyaman.


“Tidak apa-apa. Aku percaya diri.”


“Percaya diri? Kamu juga bukan dokter, dari mana kepercayaan dirimu itu?”


Nita benar-benar sangat marah. “Arief, apakah kamu ingin mencelakai Keluarga Kimberly? Kita tidak bisa menyinggung Niko.”


Arief tidak menjawab, dia terus menutupit titik akupunktur Ester, kemudian memberikan sedikit tenaga dalam kepadanya.

__ADS_1


Setelah beberapa saat, Niko berjalan masuk dengan satu kantong. Di dalamnya terdapat akar pohon dan cacing tanah.


David segera mendekat dengan keringat di keningnya. “Pak Niko, nyawa istri Anda sangat penting. Apakah Anda akan membiarkan saja? Jangan membiarkan Arief mengacau!”


Kalau sampai istrinya mati, tidak masalah kalau Arief yang dibunuh. Namun, Keluarga Kimberly tidak bersalah, bagaimana kalau mereka harus terseret dalam masalah ini.


“Iya! Bocah itu tidak mengerti apa pun. Jangan percaya padanya, Pak Niko!”


“Aku paling memahami Arief, dia hanya ingin berlagak hebat.”


Semuanya terus berbicara, sehingga membuat Niko sangat kesal.


“Diam kalian semua!” teriak Niko sambil melihat sekeliling. “Aku tahu apa yang kalian pikirkan. Kalian takut terjadi sesuatu dan terseret dalam masalah ini, bukan? Tapi, kalian tenang saja. Walaupun Arief tidak bisa menyelamatkannya, aku juga tidak akan meminta kalian bertanggung jawab.”


Setelah berhenti sebentar, Niko kembali menambahkan, “Sekarang tidak ada cara lain lagi. Ambulans akan tiba di sini besok pagi. Jadi, aku percaya dengan Arief.”


Setelah mendengarnya, semua orang langsung terdiam. Pada saat yang sama, mereka juga menghela napas.


Kalau Niko berkata seperti itu, maka masalah ini tidak ada hubungan dengan mereka. Jadi, mereka juga tidak bisa mengatakan apa pun lagi.


Nita berdiri di sana dengan ekspresi masam.


Niko dan Arief hanya kenal tidak sampai satu hari. Kenapa Niko begitu memercayai Arief?


Sebaliknya, selama tiga tahun menikah, Nita selalu mencurigai Arief pada saat-saat penting. Apakah … apakah dirinya masih tidak memahami Arief?


“Apakah kamu yakin bisa menyembuhkan istrinya Niko?” tanya Nita sambil mendekat.


Arief pun tersenyum. “Sejak kapan aku pernah berbohong?”


Nita gemetar.


Betul. Belakangan ini, entah itu urusan Keluarga Kimberly ataupun urusan lain, semuanya akan berjalan lancar kalau Nita mengikuti arahan Arief.


Sepertinya … suaminya sendiri bisa melakukan apa pun.


Saat ini, Niko bertanya dengan panik, “Arief. Apakah cacing tanah ini bisa langsung dimakan?”


Cacing tanah adalah makhluk yang bagus. Banyak dokter pengobatan tradisional menyebutnya “Naga Tanah,” karena bisa menyembuhkan banyak penyakit.


Arief menggeleng. “Tidak ada gunanya dimakan langsung. Aku harus memurnikannya menjadi ramuan.”


Apa?


Memurnikan ramuan?


Setelah mendengarnya, beberapa wanita tidak bisa menahan tawa mereka.


Kali ini, mereka bisa memastikan kalau menantu tidak berguna ini sedang mengacau.


David pun menyindirnya. “Arief, sejak kapan kamu menjadi seorang ahli pemurnian ramuan? Kenapa? Setelah beberapa tahun menganggur di Keluarga Kimberly, kamu juga belajar berkultivasi? Apakah kamu bisa memurnikan ramuan abadi? Coba tunjukkan kemampuan kalian.”


Haha!


Ucapannya membuat semua orang yang menahan tawa, langsung tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


__ADS_2