Menantu Yang Menyembunyikan Identitas

Menantu Yang Menyembunyikan Identitas
Bab 38 Ada yang Salah!


__ADS_3

Pada saat yang sama, Fransiska dan Jenny juga merasa lemas.


Arief bahkan bisa menilai sebuah barang antik legendaris?


Melihat ekspresi Handoko yang bersemangat, dua orang wanita ini juga tidak mungkin curiga, bukan?


“Oi, kalian bicara panjang lebar, apa kalian masih menginginkannya atau tidak?”


Pada saat ini, pria botak yang terus menunggu jawaban Handoko mulai tidak sabar.


Arief tertawa dalam hati, sepertinya orang ini tidak mengerti barang antik. Dia membawa sebuah barang antik yang tak ternilai harganya ke Panca Heritage, kemudian hanya menginginkan satu miliar?


Kemudian mengingat bekas tanah yang masih menempel di bawah vas itu, barang ini pasti baru digali keluar. Ada yang salah dengan pria botak ini, dari mana dia mendapatkannya? Arief mengerutkan kening sambil memikirkan hal ini.


“Beli, beli!”


Setelah mendengar ucapan pria botak, Handoko segera mengangguk dengan cepat karena takut pria botak menyesalinya.


Dia lalu berteriak kepada Hidayat, “Cepat, cepat bayar kepadanya.”


Setelah itu, dia segera mengangkat vas itu dengan hati-hati dan memasukkan ke dalam kotak khusus yang dibawa oleh Fransiska.


Raut wajah beberapa bos toko barang antik pun terlihat iri.


Pada saat yang sama, tatapan mereka kepada Arief juga menjadi berbeda.


Anak muda ini ternyata menyembunyikan sesuatu.


Setelah selesai bayar, pria botak segera mengecek di ponsel dan berjalan pergi dengan wajah senang.


Saat ini, Handoko menatap Arief dan berkata dengan nada lembut, “Arief, aku tidak menyangka kamu memiliki ilmu tinggi dalam dunia barang antik. Fransiska tidak salah menilai orang, kamu memang anak muda yang berbakat!”


Fransiska pun ikut tersenyum karena dipuji.


“Hari ini kamu membantu paman mendapatkan sebuah barang berharga, bagaimana kalau malam ini paman mentraktirmu?” ucap Handoko.


Vas Salju Wendia adalah barang berharga yang legendaris, sekarang vas ini berada di tangannya.


Suasana hati Handoko tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, dia benar-benar sangat senang.


Di saat yang sama, Handoko juga mulai tertarik dengan Arief.


Awalnya, dia hanya tahu kalau anak muda ini adalah menantu Keluarga Kimberly yang tidak berguna.


Tapi ternyata dia menunjukkan kemampuan hebat di Panca Heritage hari ini.


Handoko harus ngobrol baik-baik dengannya.


Namun, Arief sepertinya tidak tertarik dengan undangan Handoko, karena dia terus menaruh perhatian kepada pria botak itu.


“Makan? Lain kali saja, aku ada urusan lain, aku pergi dulu.” Melihat pria botak berjalan keluar, Arief segera berpamitan dan berjalan keluar dari Panca Heritage.


Handoko, Fransiska dan yang lain saling bertatapan dan terlihat bingung, mereka tidak mengerti kenapa Arief terburu-buru ingin pergi dari sini.


Sampai di luar, Arief pun mengikuti pria botak yang berjalan tidak jauh dari sini.


Pria botak merasa senang setelah berhasil mendapatkan uang dari penjualan porselen itu, pada saat yang sama dia juga bersikap waspada. Dia terus melihat kiri kanan, seolah-olah takut diikuti oleh orang lain.


Pria botak ini terlihat jelas ketakutan karena melakukan kesalahan.


Melihat pria botak yang waspada, Arief juga tidak berani mengikuti terlalu dekat.


Setelah melewati belokan, Arief melihat pria botak masuk ke sebuah mobil dan pergi ke wilayah utara kota. Arief mengerutkan kening dan mengikutinya dengan mobil Audi R8.


Kemampuan mobil Audi ini tidak bisa diragukan, Arief pun berhasil mengikuti mobil itu.


Namun, Arief tetap menjaga jarak agar tidak ketahuan.


Setelah setengah jam kemudian, Arief mengikuti mobil itu sampai di Gunung Arjuna wilayah utara.


Gunung Arjuna adalah sebuah gunung yang belum memiliki pembangunan di wilayah utara kota Malang, bahkan juga merupakan kuburan massal. Banyak orang miskin yang dikubur di atas gunung ini karena tidak memiliki uang.


Saat ini matahari sudah mulai terbenam, langit pun ikut menggelap.


Mobil pria botak itu berhenti di sebuah area terbuka yang landai, kemudian supir dan pria botak turun dari mobil dan berjalan menelusuri gunung.


Arief tidak berpikir lagi, dia segera mematikan mobil dan mengikutinya.


Hembusan angin yang menerbangkan rerumputan, membuat Arief merinding melihat makam yang berada di sekitar sini.

__ADS_1


Apakah dua orang itu sedang menggali barang di dalam kuburan ini?


Apakah Vas Salju Wendia berasal gunung ini?


Sambil berpikir, dia pun mendengar pergerakan dari depan.


Arief segera mempercepat langkahnya, kemudian dia bersembunyi di belakang pohon besar untuk melihat apa yang terjadi.


Arief tertegun setelah melihatnya.


Dia melihat belasan orang membawa cangkul dan sekop, satu per satu sedang menggali sebuah kuburan dengan penuh keringat.


Dari belasan orang itu, terlihat seorang pria berjenggot yang sedang memberikan arahan, dia sepertinya adalah pemimpin orang-orang ini.


Melihat pria botak kembali, pria berjenggot pun bertanya, “Si Kuat sudah pulang? Bagaimana hasilnya?”


Haha, pria botak ini bernama si Kuat?


Apa dia kuat?


Mendengar julukan ini, Arief yang bersembunyi di belakang pohon hampir saja tidak berhasil menahan tawanya. Nama ini benar-benar konyol.


Pria botak menggoyangkan ponsel dengan ekspresi senang, dia lalu berkata, “Sudah terjual dengan harga satu miliar.”


“Astaga, vas itu ternyata sangat bernilai?”


Pria berjenggot terkejut mendengarnya, raut wajahnya pun segera terlihat senang.


Orang-orang yang sedang bekerja di sana juga semakin bersemangat.


“Haha, bos, kita tidak salah memilih tempat.”


“Betul, kita akan segera kaya raya.”


Melihat orang-orang ini berhenti bekerja dan mulai berbicara, pria berjenggot pun memarahi mereka, “Kenapa kalian berhenti? Satu vas bunga saja bisa bernilai setinggi itu, di dalam sini pasti ada barang berharga yang lain. Cepat kerja, gali lebih banyak barang berharga lainnya.”


Semua orang segera mengiyakan dan mulai menggali.


Melihat situasi ini, Arief tidak bisa menahan gejolak di dalam hatinya.


Vas Salju Wendia benar-benar digali dari sini.


Bagaimana ini?


Ketika sedang berpikir, dia mendengar pria berjenggot berteriak, “Siapa yang bersembunyi di sana? Keluar!”


Arief terkejut!


Habis sudah, Arief sudah ketahuan.


Kemudian ketika Arief ingin berjalan keluar dari belakang pohon, dia melihat pria berjenggot berjalan ke arah pohon lain yang berjarak belasan meter dari sini.


“Kalian berani sekali menggali kuburan orang lain, ini adalah kejahatan, cepat berhenti!”


Tidak menunggu pria berjenggot mendekat, dari belakang pohon terdengar sebuah suara yang indah.


Sialan, Arief mengira dirinya ketahuan.


Setelah mendengar teriakan itu, Arief diam-diam menghela napas.


Setelah itu, dia melihat sebuah tubuh indah yang mempesona berjalan keluar dari belakang pohon.


Arief tertegun melihatnya.


Wajah yang indah dibalut oleh aura dingin, kedua mata tegas yang tidak takut apa pun, siapa lagi kalau bukan Debora?


Kenapa dia bisa berada di sini?


Debora mengerutkan keningnya, setelah pulang dari kantor polisi, dia menyadari sekelompok orang ini datang ke Gunung Arjuna dengan tingkah laku yang mencurigakan. Karena intuisi seorang polisi kriminal, Debora memiliki firasat bahwa mereka sedang melakukan kejahatan, sehingga dia pun mengikuti mereka naik ke atas gunung.


Karena sudah pulang, Debora berganti baju santai dan juga tidak membawa peralatan. Jadi ketika melihat orang-orang ini sedang merampok makam, Debora juga tidak berani bergerak. Dia menunggu kesempatan untuk menelepon rekannya.


Tapi sebelum sempat mengirimkan pesannya, dia sudah ketahuan oleh pria berjenggot itu.


Pada saat ini, kecantikan Debora membuat pria berjenggot tertegun, orang-orang yang lain juga bengong ketika melihat Debora.


“Aduh? Kenapa ada wanita cantik di dalam gunung ini?” ucap pria berjenggot sambil tersenyum genit kepada Debora.


Pria botak dan yang lain juga mulai berkata.

__ADS_1


“Sialan, wanita ini benar-benar sangat cantik.”


“Kecantikan yang tidak masuk akal.”


“Bisa mendapatkan wanita ini, aku juga tidak masalah kalau umur berkurang sepuluh tahun.”


Mendengar ucapan rekannya, pria berjenggot pun tersenyum dan menatap Debora, dia lalu berkata, “Wanita cantik, beberapa temanku ini sudah bekerja dengan keras, bagaimana kalau kamu menemani kami main-main dulu?”


Debora terlihat sangat kesal, dia pun memarahi mereka, “Jaga ucapanmu! Aku adalah Kapten kepolisian kriminal kota Malang.”


Setelah itu, Debora berteriak kepada pria botak dan yang lain, “Cepat letakkan alat-alat di tangan kalian dan berdiri dengan baik.”


Setelah mendengarnya, pria berjenggot dan yang lain tertegun, raut wajah mereka pun menjadi lebih waspada.


Mereka sudah sering mendengar ada seorang wanita di kepolisian kota Malang yang sangat cantik.


Pria berjenggot mengepalkan tangan dan tersenyum dingin, “Ternyata wanita cantik ini adalah seorang polisi.”


Sambil berbicara, pria berjenggot melambaikan tangannya, kemudian pria botak dan yang lain mulai mengepung Debora.


“Apa yang kalian lakukan?” teriak Debora.


Pria berjenggot menunjukkan senyuman cabul, “Menurutmu?”


Sialan, mereka tidak mungkin berhenti sekarang, jadi mereka tidak mungkin menyerah untuk ditangkap begitu saja.


Setelah itu, pria botak dan yang lain langsung menyerang Debora.


Saat itu, aura dingin terbesit di mata Debora. Tidak menunggu musuh mendekat, Debora segera bergerak.


“Aduh.”


Tidak bisa dipungkiri, sebagai kapten kepolisian kriminal, Debora memiliki kemampuan yang hebat. Dia berhasil menjatuhkan belasan orang hanya dalam beberapa detik.


Namun, Debora juga tidak bisa mengalahkan jumlah mereka yang lebih banyak. Karena tidak hati-hati, pria berjenggot berhasil menyerangnya dan mengikat Debora dengan tali.


“Kenapa dengan kapten polisi kriminal? Aku juga bisa mengalahkannya, bukan? Hehe, jangan memelototiku, setelah kami selesai menggali barang berharga, kami akan bermain denganmu!” Setelah berhasil mengikat Debora, pria berjenggot tersenyum dan terus memperhatikan tubuh Debora.


Debora memelototi pria berjenggot, dia pun berkata dengan kesal, “Kamu jangan senang dulu! Kalian tidak akan bisa kabur dari sini!”


Wajah Debora terlihat merah, tubuh indahnya juga terus gemetar karena marah. Dia terlihat sangat mempesona.


Pria berjenggot melihatnya sampai bengong, setelah dua detik, dia pun tertawa terbahak-bahak. Dia berkata dengan nada kejam, “Haha, kamu masih berani menantangku? Masih ingin menangkap kami? Aku akan membuatmu merasakan pesona sebagai seorang wanita, kami akan menguburmu di sini setelah selesai.”


Debora menggigit bibir karena sangat kesal.


Sebagai kapten kepolisian kriminal, dia selalu bersikap tegas di dalam tim. Bahkan di hadapan orang lain, dia juga adalah wanita dengan posisi yang tinggi.


Namun saat ini, seorang perampok makam sedang menggunakan ucapan untuk melecehkannya, bagaimana mungkin dia bisa menahan diri?


“Ckck, kalian benar-benar sangat berani, selain merampok makam, kalian juga sangat cabul.”


Pada saat ini, terdengar sebuah suara dari tempat yang tidak jauh.


Debora dan pria berjenggot pun melihat ke arah sana, mereka menyadari Arief sedang tersenyum dan berdiri di sana.


“Kamu?” Debora merasa terkejut dan senang ketika melihat Arief, tapi dia juga sedikit khawatir.


Orang-orang ini adalah penjahat, jika ditangkap oleh mereka, maka akibatnya akan sangat parah.


Debora pun segera berteriak dengan panik, “Cepat lari, cepat lapor polisi!”


Melihat Arief tidak bergerak dan juga tidak bermaksud untuk kabur.


Pria berjenggot menatap Arief dan berkata dengan nada dingin, “Siapa kamu?”


Setelah itu, pria botak menunjuk ke Arief dan berkata, “Sialan, bukankah kamu adalah apresiator dari Panca Heritage?”


Apresiator?


Debora dan pria berjenggot tertegun mendengarnya.


Apresiator apa? Debora hanya tahu kalau pria ini adalah menantu tidak berguna dari Keluarga Kimberly.


“Cepat kabur!” teriak Debora yang sangat panik. Ternyata saat ini, dia melihat pria berjenggot mengeluarkan sebuah pil obat dan dimasukkan ke dalam mulut Debora.


“Diam kamu,” ucap pria berjenggot sambil tersenyum jahat. “Kami akan membereskan anak muda itu, kemudian kami akan kembali untuk bermain denganmu.”


Setelah dipaksa menelan pil obat itu, Debora merasakan kedua kakinya menjadi lemas, “Apa yang kamu berikan kepadaku?”

__ADS_1


__ADS_2