
Jenny berdiri di depan pintu Net Media, dia memakai rok panjang yang begitu menggoda. Banyak paparazzi yang terus mengambil foto, mereka mengira ada artis baru.
Bahkan satpam mengira dia artis baru, jadi tidak berani menghalanginya. Jenny langsung datang ke ruangan CEO. Ketika ingin mengetuk pintu dan berjalan masuk, dia melihat Siska berjalan keluar.
Saat itu Siska ingin menuangkan teh untuk Arief, ketika membuka pintu, dia menatap Jenny. Ketika tahu dia berasal dari keluarga Kimberly, dia langsung diusir keluar.
Siapa Jenny? Dia adalah wanita yang terkenal cantik di kota Malang. Banyak orang yang mengejarnya terus, semuanya ditolak olehnya. Sekarang dia diusir begitu saja, membuatnya merasa tidak nyaman.
Setelah tahu kejadian ini, nenek merasa sangat panik.
----
Keesokan harinya, Villa keluarga Kimberly.
Hari ini ulang tahun Nenek, Villa Keluarga Kimberly terlihat sangat ramai.
Semua anggota keluarga yang berada di manapun telah pulang hari ini. Ulang tahun ke 70 Nenek, berita ini juga mulai menyebar ke seluruh Kota Malang.
Umur 70 tahun, tentu harus mengundang banyak orang. Keluarga Kimberly walaupun keluarga kelas dua, tetapi acara ulang tahun ini juga mengundang banyak orang.
Di luar Villa Keluarga Kimberly sudah terparkir banyak mobil.
Nita dan Heny berdiri di depan Land Rover dan melihat jam tangan dengan kesal.
Saat ini, terlihat sebuah motor yang mendekat. Motor berhenti, dan Arief bergegas kemari.
“Macet, macet.” Kata Arief dengan nafas terengah-engah.
Sialan, awalnya dia menyuruh Siska mengantarnya. Tapi beneran terlalu macet! Di atas jembatan sudah macet 1 jam lebih, melihat acaranya akan segera dimulai, Arief terpaksa menurunkan motor dari belakang dan datang dengannya.
Keluarga Kimberly adalah keluarga besar, melihat masih ada yang memakai motor, banyak tamu undangan yang menertawakannya.
“Kalian lihat, itu Arief kan? Itu menantu yang tinggal di rumah istri.”
“Betul betul, itu dia. Haha!”
“Orang bodoh itu bisa menikah dengan Nita, hidupnya juga sudah cukup!”
“Haha, kamu tidak tahu, aku dengar bocah itu hanya tidur di lantai selama 3 tahun ini. Haha!”
Beberapa anak muda keluarga Simton sibuk membicarakan mereka. Keluarga Simton dan keluarga Kimberly memiliki hubungan baik, bahkan ada beberapa pernikahan di antara dua keluarga ini. Jadi keluarga Simton sangat mengerti tentang keadaan keluarga Kimberly.
Mendengar pembicaraan orang lain, Nita merasa sangat malu. Dia berkata kepada Arief: “Lain kali kamu parkir yang jauh motornya. Kamu tidak melihat ada banyak tamu di sini.”
“Oh.” Arief mengangguk dengan santai.
Heny kesal melihat tampangnya. Hari ini acara penting, dia masih memakai baju murahan? Kenapa dia tidak tahu malu sama sekali?
“Aku tanya, kamu sudah menyiapkan hadiah untuk nenek?” tanya Nita.
“Sudah.” Arief tersenyum dan mengeluarkan sebuah kotak kayu. Kotaknya terlihat sangat tua.
__ADS_1
“Kamu!” Melihat kotaknya, Nita menghentakkan kaki karena kesal: “Hadiah apa ini? Hari ini ulang tahun ke 70 nenek, kamu jangan memberikan hadiah jelek!”
“Tidak jelek.” Arief menjawab dengan tenang.
Masih berani bilang tidak jelek? Bahkan kotaknya saja sejelek itu? Heny tidak tahan lagi, dia ingin memarahi Arief. Lalu tiba-tiba terdengar suara lain.
“Persilahkan anak-anak keluarga Kimberly untuk memberi ucapan kepada nenek!”
Setelah itu, ratusan anggota keluarga Kimberly langsung masuk ke dalam Villa.
Heny melotot ke Arief dan berjalan masuk.
Saat ini, di dalam Villa Keluarga Kimberly, tamu juga sudah duduk.
Nenek memakai pakaian terang dan duduk di kursi utama, dia terlihat sangat senang.
“Tuan Kelvin dari grup Jaya Perkasa datang mengucapkan selamat!” Saat ini, pembawa acara berkata dengan keras.
Kemudian seorang pria paruh baya berjalan masuk. Dia adalah Kelvin. Memiliki kekayaan ratusan miliar dan hubungan yang baik dengan Nenek.
Di sampingnya ada seorang sekretaris yang membawa kotak besar.
“Haha, semoga Nenek Keluarga Kimberly umur panjang!” Kelvin tertawa dan membuka kotaknya.
Semuanya mengeluarkan suara kaget!
Cloisonne vase!
Cloisonne, juga dikenal sebagai cloisonne enamel. Barang seperti ini sangat mahal, lalu vas di depannya juga sepertinya barang antik. Harganya pasti lebih dari miliaran!
“Cepat cepat cepat, persilahkan Tuan Kelvin untuk duduk. Lain kali jangan menghabiskan uang sebanyak itu lagi, aku sudah mengingatnya, terima kasih Tuan Kelvin!” Nenek mengangguk dan tertawa senang.
Semua orang tahu, nenek suka barang antik. Dia pasti sangat menyukai hadiah ini!
Dengan adanya hadiah ini, hadiah di belakangnya menjadi lebih biasa.
Sampai kemunculan David, kembali menarik perhatian orang-orang.
Semua orang sudah pernah mendengarnya. Ulang tahun kali ini, David akan memberikan hadiah besar. Karena Nenek paling menyayanginya.
David membawakan sebuah kotak, merapikan poni rambutnya. Berjalan ke tengah dan membungkuk kepada Nenek.
“Nenek, Semoga Nenek panjang umur dan sehat selalu!” kata David sambil tersenyum.
Tidak ada yang peduli dengan ucapannya, semua orang melihat kotak di tangannya itu.
Kotak ini tidak besar, tapi kotaknya dibalut dengan warna hijau, dibuat dari giok bermutu tinggi!
Boros sekali! Hanya kotak hadiah saja sudah terbuat dari giok!
Setelah mengucapkan kalimat selamat yang panjang lebar, akhirnya dia masuk ke topik utama dan menjentikkan jarinya.
__ADS_1
Detik selanjutnya, ruangan yang terang tiba-tiba menjadi gelap. Golden juga ditutup, sehingga sangat gelap.
Ketika semua orang sedang ribut, David berkata: “Semuanya tidak perlu panik. Hadiah yang aku berikan kepada Nenek harus dengan menutup lampu.”
Selesai berkata, dia langsung membuka kotak gioknya. Seketika, suara kaget menyelimuti seluruh ruangan!
Di dalam kotak ada sebutir mutiara sebesar kepalan tangan! Kemunculan mutiara ini walaupun tidak terang, tapi kurang lebih setara 8-9 lilin.
Mutiara sebesar ini bisa seharga berapa!
Mungkin tidak kurang dari 4 miliar?!
“Bagus, bagus, bagus!” Nenek tertawa dan berkata: “David, Nenek tidak salah menyayangimu!”
Semua orang juga ikut bertepuk tangan. Tidak bisa dipungkiri, hadiah ini sangat masuk ke hati.
Mutiara sebesar ini pasti sangat susah ditemukan di kota Malang!
Tapi saat ini, Arief malah tidak bisa menahan diri dan tertawa.
Haha, David sedang melucu ya? Orang lain mungkin tidak tahu, tapi Arief bisa melihatnya dengan jelas. Mutiara ini, bahkan tidak lebih dari 20 juta. Itu sama sekali bukan alami, melainkan buatan.
Besar di keluarga Burton, Arief sudah pernah melihat semua harta karun. Di perusahaan induk keluarga, di ruangan CEO juga ada sebuah mutiara sebesar kepalan tangan.
Mutiara itu menghabiskan uang 4 miliar. Walaupun tidak mahal, tetapi bukan bisa dibeli dengan uang.
Mutiara yang alami selalu dianggap harta karun. Di zaman dulu, hanya kaisar dan ratu yang boleh memakai mutiara.
Karena banyak sekali orang yang ingin membeli, jadi ada beberapa yang berniat jahat dan menggunakan kimia untuk menggabungkan beberapa butir mutiara kecil.
Mutiara yang digabung juga terlihat jelas, di tengahnya ada lem.
Mutiara yang diberikan David juga terlihat sangat jelas bekas lemnya!
“Kenapa tertawa?” Saat Ini, David keluar dan berteriak kepada Arief.
Seketika, semuanya menatap ke Arief.
“Maaf, aku benar-benar tidak bisa menahannya.” Arief menutup mulutnya: “Mutiara kamu ini terlalu palsu.”
“Kamu, berisik!” David berteriak dengan wajah memerah.
Betul, dia tahu mutiara ini palsu. Tapi orang keluarga Kimberly tidak pernah melihat mutiara, tentunya tidak mengerti asli atau palsu. Sekarang Arief membocorkannya, mana mungkin dia tidak panik.
“Arief, kamu jangan asal bicara.” Nita mendorong Arief dengan pelan.
Arief kalau menyinggung David, dia pasti akan terus menyerang Arief nanti.
Ternyata, Arief tersenyum dingin: “Menantu sampah sepertimu, uang saku 400.000 sehari, tentu tidak mengerti mutiara. Aku juga tidak mau ribut denganmu. Aku ingin lihat, apa hadiah yang kamu berikan kepada Nenek!”
Sebenarnya David sudah melihatnya tadi, di tangan Arief ada sebuah kotak jelek. Haha, kotak sejelek itu, pasti barang pinggir jalan!
__ADS_1
Arief juga tidak berbicara, dia hanya tidak bisa menahan tawanya.
Heny yang berada di samping juga sangat kesal, dia menatap ke Arief dan berkata: “Kalau kamu ketawa lagi, kamu harus keluar sekarang juga!”