Menantu Yang Menyembunyikan Identitas

Menantu Yang Menyembunyikan Identitas
Bab 58 Menghargai Dia


__ADS_3

Arief berbisik kepada Debora, “Mereka salah mengenaliku, sepertinya menganggapku sebagai Raja apa. Jadi, aku pun membohongi mereka.”


Tatapan Debora pun menjadi semakin kagum kepada Arief.


Seorang menantu Keluarga Kimberly ini, terus memperbarui kesan Debora terhadapnya.


“Pantas saja, aku bingung kenapa mereka bersikap sopan kepadamu, ternyata salah orang.” Pada saat ini, Hendry yang berada di samping terus menggoyangkan rantai besi di tubuhnya. Dia lalu berkata, “Sekarang mereka pergi minum anggur, kenapa kamu tidak melepaskan rantai besi ini?”


Hendry benar-benar gila.


Nada bicara Hendry semakin membuat Arief tidak senang dan tidak mau memedulikannya.


Pada saat ini, Debora juga mulai panik.


Setelah menangkap banyak anak buahnya, Luntoro pasti tidak akan melepaskannya.


Setelah minum anggurnya, mereka mungkin akan segera bergerak.


Ketika sedang panik, Debora pun penasaran kenapa Arief sama sekali tidak panik.


Pong pong ….


Pada saat ini, terdengar suara orang-orang yang terjatuh ke bawah. Setelah minum anggurnya, Luntoro dan yang lain langsung merasa pusing dan pingsan.


Bahkan Luntoro juga ikut pingsan dan bersandar ke dinding mereka. Kedua matanya pun tertutup dan tidak bergerak sama sekali.


Seketika, istana bawah tanah yang besar ini hanya menyisakan Arief, Debora dan Hendry bertiga.


“Haha, kerja bagus, menantu tidak berguna ….” Hendry yang awalnya kesal langsung tertawa ketika melihat pemandangan ini. Dia segera memuji Arief dengan ucapan yang angkuh.


Arief berjalan ke sana dan menemukan kunci dari badan Luntoro.


Setelah membuka rantai besi yang mengikat Debora, Arief langsung berbalik dan berjalan keluar. Dia berkata, “Ayo, medan di sini sangat rumit, sebelum orang-orang ini bangun, kita harus menemukan jalan keluarnya dengan cepat.”


“Sialan! Apa kamu buta? Rantai besiku masih belum terlepas,” teriak Hendry.


Arief pun tersenyum dan menoleh ke arahnya, “Kenapa aku harus melepaskan ikatanmu?”


Ketika penawaran tadi, si bajingan ini merasa senang ketika Arief akan dipenggal jarinya.


Sekarang baru ingat dengan diriku?


Berpikir dalam hati, Arief melanjutkan, “Bukankah kamu kaya? Ketika mereka bangun, kalau kamu membayar lebih, mereka mungkin saja melepaskanmu.”


Hendry meneguk darah dan mulai panik. Dia hampir saja menangis.


Debora lalu berkata dan memohon belas kasihan untuk Hendry. “Arief, tolong lepaskan ikatannya.”


Arief menggelengkan kepala, “Aku tidak punya tanggung jawab untuk menyelamatkannya.”

__ADS_1


Mendengar ucapannya, Debora menggigit bibir dan berkata, “Arief, aku tahu ucapan Hendry sangat jahat, sehingga membuat hatimu tidak nyaman. Aku mewakili dia untuk minta maaf kepadamu. Kalau tidak menyelamatkannya, dia pasti akan mati di sini.”


Arief hanya tersenyum menatap Debora dan tidak menjawab.


Hendry menelan satu Pil Dewa-ku. Terserah dia mau mati atau tidak.


Hendry membelalakkan mata dan berteriak, “Debora, kenapa kamu minta maaf kepadanya? Sampah seperti dia tidak pantas mendapatkan permintaan maaf dari kamu. Coba lihat tampang sombongnya itu, dia hanya beruntung saja.”


Sambil berkata, dia menatap Arief dengan sinis. “Bocah, jangan berharap untuk mengancamku dengan kesempatan ini. Aku tidak berharap diselamatkan olehmu.”


Arief pun tersenyum dan berkata kepada Debora. “Lihat tidak? Dia sendiri saja tidak berharap diselamatkan olehku. Kamu tidak perlu khawatir.”


Setelah itu, Arief melanjutkan melangkah ke depan.


Debora semakin panik, dia langsung mengejar dengan sepatu hak tingginya. “Arief, kamu jangan masukkan ke hati ….”


Sebelum Debora selesai bicara, Hendry kembali berteriak. “Debora, jangan memohon kepadanya! Setelah kamu keluar, kamu harus kembali menyelamatkanku. Aku percaya padamu! Setelah mereka sadar, aku akan memberikan mereka uang. Aku yakin mereka tidak akan membunuhku.”


“Diam kamu!” Debora sangat marah. “Apa kamu kira dirimu bisa hidup setelah kami berdua kabur?”


Setelah mendengarnya, tubuh Hendry pun gemetar. Dia akhirnya sadar dan menjadi panik.


Tempat apa ini?


Tempat ini adalah cabang Sekte Minglahi yang berada di Kota Malang. Kalau Luntoro dan yang lain sadar, lalu melihat Arief dan Debora menghilang. Mereka pasti akan melampiaskan kemarahan kepada dirinya.


Pada saat itu, semua uangnya tidak akan berguna.


Debora menghentakkan kaki karena panik. “Arief, tolong dia. Aku … aku mohon padamu.”


Arief tiba-tiba tersenyum. “Kalau begitu, bagaimana kamu akan memohon kepadaku? Kamu harus menunjukkan sedikit ketulusan, bukan?”


“Ketulusan apa … ” bisik Debora dengan pelan.


“Kalau begitu, panggil aku Kakak. Aku akan melepaskan rantainya,” ucap Arief dengan serius.


Ekspresi Debora tersipu malu, dia menggigit bibir bawahnya. Ini pertama kali orang meminta hal seperti ini kepadanya. Dia yang selalu berada di posisi atas, selalu dipanggil Kak Debora.


Hendry juga tidak bisa menahan diri, dia ingin segera menghentikannya. Namun, ketika teringat nyawanya berada di tangan Arief, dia harus menahan diri. Namun, tatapannya kepada Arief dipenuhi oleh amarah.


“Kalau tidak mau, aku akan pergi,” ucap Arief sambil tersenyum. Di saat yang sama, Arief marah besar dalam hati. Debora bukan hanya cantik, tapi sifatnya juga sangat baik. Wanita seperti ini, sayang sekali harus dinikmati oleh Hendry.


“Jangan pergi … ” ucap Debora dengan nada pelan sambil menundukkan kepala. “Baik … baik. Kak … Kakak.”


Setelah berbicara, ekspresinya pun menjadi muram. Bahkan wanita sombong seperti itu, akan merasa malu ketika mengucapkan kata seperti itu.


“Oke, melihatmu begitu tulus, maka aku akan menyetujuinya,” kata Arief sambil tersenyum.


Ekspresi Hendry terlihat tidak rela, tetapi dia merasa lega dalam hatinya.

__ADS_1


Namun, Arief belum selesai, dia menatap Hendry dengan senyuman tipis tersenyum dan berkata, “Aku bersedia membantumu karena menghargai tunanganmu. Jika dia tidak memanggilku Kakak, kamu harus bersujud untuk minta maaf kepadaku.”


“Arief, kamu jangan keterlaluan.”


Ekspresi Hendry langsung berubah, dia berteriak karena tidak bisa menahan diri.


Arief menggelengkan kepala dengan kecewa. “Kamu masih saja keras kepala. Kalau begitu, aku akan pergi. Sepertinya orang-orang ini akan segera sadar, aku tidak punya waktu untuk berbicara denganmu lagi.”


Ucapan itu membuat Hendry putus asa. “Arief, sebelumnya aku yang salah. Mohon maafkan aku.”


Ekspresinya sangat tertekan.


Arief, tunggu saja.


Arief tertawa dan membukakan rantai untuknya, lalu dengan cepat menelusuri lorong itu dan meraba-raba untuk mencari pintu keluar.


Tidak bisa dipungkiri, tempat ini terlalu besar dan rumit. Beberapa lorong saling tersambung, Arief mereka sempat tersesat beberapa kali. Setelah setengah jam kemudian, mereka akhirnya menemukan pintu keluar.


Ketika sampai di luar, mereka melihat lautan.


Sekte milik Luntoro ini berada tepat di bawah tebing di tepi laut.


Setelah Debora mencatat lokasi dengan cepat, dia mengantar Arief dan Hendry dengan mobil ke arah kota.


Ketika Arief sampai di rumah, sudah tengah malam. Heny dan Nita sudah tidur. Arief tidak ingin mengganggunya dan langsung menuju kamar tamu di lantai dua. Setelah kejadian tadi, Arief sama sekali tidak merasa kantuk. Ketika sampai di pintu, Arief tidak sabar untuk mengeluarkan kitab rahasia itu.


Sembilan Naga Terbang Naik Ke Langit.


Membuka halaman pertama, Arief melihat beberapa tulisan.


“Sembilan Naga Terbang Naik Ke Langit, adalah teknik rahasia Sekte Minglahi. Orang yang sukses berlatih akan mendapatkan kekuatan yang sangat besar.”


“Kitab rahasia ini hanya dapat dipraktekkan oleh Raja sekte. Siapa pun selain Raja sekte yang mencuri buku ini tanpa izin adalah hukuman mati! Termasuk Dua Utusan Yin Yang dan Empat Pengawal Raja.


Melihat hal itu, Arief langsung menyimpulkan bahwa kitab rahasia ini pasti dicuri oleh Luntoro.


Lalu, sekarang buku ini menjadi keuntungan untuknya.


“Mengumpulkan aura di sekitar, dan dikumpulkan ke pusat energi ….” Arief mulai berlatih sesuai dengan kitab rahasia sambil melafalkan rumusnya.


Waktu berlalu menit demi menit.


Ketika dia membuka matanya lagi, hari sudah fajar. Setelah semalaman tidak bisa tidur, Arief sama sekali tidak lelah, dia justru merasa segar dan bersemangat. Setelah bekerja keras semalaman, Teknik Sembilan Naga Terbang Ke Langit ini telah berhasil dipelajari. Kekuatan teknik ini benar-benar mencapai ranah yang sangat mengerikan.


Arief meregangkan tubuhnya dan menyimpan buku itu. Ketika dia membuka pintu dan keluar, kebetulan Nita keluar dari kamar tidur.


“Kamu sudah pulang?”


Melihat Arief, wajah Nita menunjukkan sedikit kegembiraan, dan dia tidak bisa menahan diri untuk bertanya.

__ADS_1


Hari ini, dia mengenakan rok pendek, kaki putihnya yang indah dan menawan terlihat olehnya.


__ADS_2