
Di sisi lain.
Arief yang pingsan, seolah-olah sedang mimpi. Di dalam mimpinya, seseorang terus mengejarnya dan dia juga terus berlari. Pada akhirnya, dia membuka matanya dengan perlahan.
Di depan matanya adalah sebuah kamar tidur yang mewah.
“Arief,kamu sudah bangun?”
Terdengar suara dengan nada gembira. Saat ini, kedua mata Nita memerah, seperti baru saja menangis.
“Istriku yang baik, kenapa matamu memerah?” tanya Arief sambil tersenyum. “Apakah khawatir dengan suamimu ini? Sini, aku peluk.”
Arief memaksakan senyuman. Walaupun lukanya sudah dirawat, masih terasa sangat sakit.
Sialan! Dia tertembak dua kali dalam beberapa hari.
Wajah Nita memerah, dia langsung mundur selangkah dan berkata, “Aku … aku tidak khawatir denganmu. Aku juga tidak menangis.”
Kenapa Arief tidak bisa serius?
Dokter sudah bilang kalau lukanya cukup parah, pelurunya juga hampir menembus bagian jantung.
Namun untung saja, dia akhirnya sadar.
“Arief, aku sudah tahu situasi saat itu, kamu dan Niko yang menyelamatkan semuanya,” ucap Nita dengan pelan. Walaupun dia terharu, nada bicaranya terdengar sedikit menyalahkan. “Kamu … kamu sangat berani, tetapi kenapa kamu begitu bodoh? Para perampok itu memegang pistol di tangan, bagaimana kalau terjadi sesuatu denganmu?”
Suara Nita semakin kecil dan juga tersipu malu.
Arief tersenyum menatapnya, lalu berkata, “Dasar bodoh. Bagaimana mungkin terjadi sesuatu padaku? Lagipula, kamu adalah istriku. Dalam situasi seperti itu, aku tentu saja harus berusaha menyelamatkanmu.”
Nita merasa sangat terharu.
“Omong-omong, di mana ini?” Arief menggertakkan gigi untuk duduk di ranjang.
Desain yang begitu mewah, tidak mungkin di kediaman Keluarga Kimberly.
Nita berkata, “Ini adalah rumah Niko, dokter pribadi mereka yang menyelamatkanmu.”
Aief mengangguk. Dia tidak sia-sia mendapatkan teman ini.
Setelah terharu sesaat, Arief lalu bertanya dengan bingung, “Di mana Niko?”
“Di ruang tamu,” jawab Nita. “Besok adalah ulang tahun kakek Niko. Beberapa tamu datang mengucapkan selamat lebih awal, dia sedang menjamu tamu-tamu itu di sana.”
Kakeknya bernama Tono Tomoro. Dua tahun yang lalu, Tono menyerahkan semua bisnis kepada Niko, lalu tidak lagi mengurusi semuanya. Namun, Tuan Besar Tomoro tetap memiliki reputasi yang tinggi di Kota Malang.
Tentu saja, banyak yang akan datang menghadiri ulang tahunnya.
“Oh iya? Aku harus melihatnya.” Arief menahan rasa sakit untuk turun dari ranjang.
Dia dan Niko adalah sahabat. Arief tentu saja tidak boleh tidak sopan saat kakeknya ulang tahun.
Melihat ekspresinya masih pucat, Nita segera memapahnya, “Apakah kamu bisa turun ke bawah?”
Arief benar-benar tidak sayang diri dan terus membuat orang khawatir.
__ADS_1
Arief berkata tidak perlu dibantu, dia lalu melanjutkan, “Aku sudah baik-baik saja. Jangan melihat bahwa aku baru saja dioperasi, aku juga bisa berhubungan badan nanti malam.”
“Kamu … kenapa kamu tidak bisa lebih serius?” wajah Nita menjadi merah karena malu. “Dasar tidak tahu malu ….”
Haha ….
Suasana hati Arief sangat baik melihat Nita tersipu malu. Dia langsung semakin bersemangat dan turun ke lantai bawah.
Sambil turun ke bawah, dia mengeluarkan ponsel, lalu mengirimkan pesan untuk menyuruh seseorang membawakan hadiah. Besok adalah ulang tahun kakeknya Niko, sebagai sahabatnya, dia harus memberikan sesuatu.
Di ruang tamu yang besar, duduk tujuh sampai delapan orang. Semuanya adalah orang terkenal di Kota Malang. Orang-orang ini tidak bisa menghadiri acara ulang tahun besok, karena ada urusan mendadak. Jadi, mereka membawakan hadiahnya lebih awal.
Di kursi paling tengah, Tono sedang duduk di sana sambil tertawa. Tuan Besar Tomoro sudah berusia 70-an, tetapi auranya masih sangat kuat.
Aduh, kebetulan sekali!
Arief tertawa terbahak-bahak, dia bahkan melihat orang yang tidak asing! Ketua kelas SMA, Herwanto.
Semua orang yang memberikan hadiah kepada Tuan Besar Tomoro adalah orang penting dan terkenal, Herwanto tentu saja tidak pantas.
Namun, ibu angkat Herwanto memiliki hubungan yang erat dengan Keluarga Tomoro, sehingga dia mewakili ibu angkatnya untuk datang memberikan hadiah.
Saat ini, Herwanto terlihat sangat bersemangat.
Keluarga Tomoro adalah keluarga yang terkenal di Kota Malang. Hari ini, dia bisa memanfaatkan kesempatan yang diberikan ibu angkatnya, untuk berteman dengan orang seperti Niko. Setelah itu, dia bisa membual di kalangan teman dan keluarganya.
Pada saat ini, Arief dan Nita juga masuk ke ruang tamu.
Seketika, semua orang menatap ke arah mereka dengan tatapan penasaran.
“Arief?”
Pada saat ini, Herwanto yang duduk di samping memanggilnya.
Apa yang terjadi? Kenapa Arief di sini?
Bocah ini menghadiri pertemuan teman sekelas dengan motor listrik. Apakah dia pantas datang ke acara ini?
Oh, dia datang menemani istrinya!
Seorang menantu tidak berguna, dia juga hanya bisa mengandalkan istrinya saja.
Sambil berpikir, Herwanto melirik ke arah Nita.
Wanita ini sangat cantik! Proporsi tubuh yang sempurna dan juga sangat seksi! Tampang yang cantik itu juga tidak kalah dengan artis.
Bocah ini benar-benar beruntung. Namun, dia mendengar bahwa Arief tidak pernah menyentuh istrinya selama tiga tahun menikah. Semua orang di Kota Malang tahu akan hal ini. Haha!
“Ketua Kelas!” ucap Arief dengan ramah sambil tersenyum.
“Kalian kenal?” tanya Niko yang penasaran.
Hehe ….
Sebelum Arief menjawab, Herwanto sudah mendengus dingin. Dia menjawab dengan sarkastik, “Menantu tidak berguna Keluarga Kimberly, dia sangat terkenal di Kota Malang. Siapa yang tidak kenal?”
__ADS_1
Bocah ini benar-benar sangat buruk. Hewanto merasa malu menjadi teman sekelasnya. Dia juga merasa sangat memalukan kalau kenal dengan bocah ini di acara yang begitu mewah.
Ucapannya membuat Arief bingung. Arief tidak menyinggungnya, ‘kan? Mereka adalah teman sekelas selama beberapa tahun, apa yang dia lakukan?
Semua orang di sekitarnya juga menertawakan Arief.
Ternyata, orang ini adalah menantu Keluarga Kimberly.
Nita yang berada di samping tampak tidak senang. Dia bertanya kepada Arief, “Siapa dia?”
Arief tersenyum datar dan menjawab, “Orang tidak penting.”
Kalau Herwanto berkata buruk, Arief juga tidak perlu menghargainya.
Herwanto tersenyum dingin. Arief bodoh ini, seorang pria yang mengandalkan istri juga berani melawannya?
Tuan Besar Tomoro yang berada di samping juga melihatnya dengan penuh ketertarikan.
Dia mendengar bahwa cucunya mendapatkan seorang teman yang bernama Arief, seharusnya adalah anak muda di depan matanya ini.
Melihat Arief, dia langsung teringat dirinya di masa muda.
Dulu, Tuan Besar Tomoro juga miskin dan sering diremehkan orang-orang. Namun, ketika ada yang merundungnya, dia akan melawan balik dengan sekuat tenaga. Hari ini, dia ingin melihat Arief ini pengecut atau bukan. Dia ingin melihat apakah Arief pantas berteman dengan cucunya.
“Arief, siapa orang tidak penting di antara kita?” kata Herwanto dengan nada dingin. “Kalau aku tidak salah, kamu datang memberikan hadiah bersama istrimu, ‘kan? Aku beri tahu, kamu bisa datang ke sini karena mengandalkan Keluarga Kimberly. Tanpa mereka, kamu bukan siapa-siapa, bahkan tidak berhak berbicara.”
Arief tersenyum dan berkata, “Kalau begitu, kamu juga datang memberi hadiah?”
“Aku ….” Wajah Herwanto sedikit memerah, dia menegakkan tubuh dan berkata, “Tentu saja. Aku datang mewakili ibu angkatku untuk memberikan hadiah. Apakah kamu tahu siapa ibu angkatku? Aku khawatir kamu akan tercengang setelah mendengarnya.”
Ibu angkat?
Haha … kenapa orang dewasa seperti dia masih punya ibu angkat?
Lalu, kenapa dia berlagak hebat dan berbicara besar? Padahal hanya mewakili ibu angkatnya saja.
Bocah ini memang konyol.
Arief langsung merasa senang, dia tersenyum dan bertanya, “Siapa ibu angkatmu? Coba katakan kepadaku.”
Herwanto tertawa, “Kamu juga ingin tahu siapa ibu angkatku? Walaupun aku memberitahumu, kamu juga tidak pantas mendekatinya. Kamu juga pantas mengerjakan urusan rumah tangga.”
Seketika, semua orang di sana pun mengangguk.
Ketika Herwanto memberikan hadiah tadi, mereka juga melihat nama yang tertera.
Tentu saja, ibu angkat bocah ini bukan orang biasa.
Lalu, Arief yang merupakan seorang menantu tidak berguna juga berani melawannya. Dia benar-benar bodoh.
Ketika memiliki status lebih rendah, kita harus belajar bersabar. Kita harus bersabar walaupun dimarahi.
Setelah melontarkan ucapannya, Herwanto menunjuk ke samping dengan ekspresi bangga, “Apakah kamu melihatnya? Itu hadiah dari ibu angkatku.”
Di atas meja, ada satu set porselen indah yang berkilauan, memiliki pomelo bunga sangat indah dan seharusnya cukup mahal.
__ADS_1
Setelah melihat sekilas, Arief tahu bahwa itu barang asli. Satu set ini paling tidak bernilai belasan miliar. Sepertinya ibu angkatnya cukup hebat.