
Suasana di ruangan itu aneh dan tegang.
Arief berdiri di samping, ekspresinya juga sangat masam.
Dia berpikir Heny dan Nita datang untuk berkunjung, tetapi dia tidak menyangka mereka justru membuat masalah. Setelah tiga tahun menikah, kapan mereka datang mengunjungi orang tuanya? Pertama kali bertemu, ucapannya langsung tidak enak didengar.
Nita seharusnya menghentikan ucapan Heny yang begitu tidak enak didengar.
Namun, yang membuat Arief kecewa, Nita tetap memasang wajah datar dan tidak pernah berbicara.
“Arief, apa yang kamu lihat?” Melihat tatapan Arief, Heny terus berteriak, “Apa? Apakah kamu beranggapan kami berdua datang membuat masalah?”
Arief mencibir, “Aku tidak berkata seperti itu, kamu sendiri yang mengucapkannya.”
Mereka bukan saja membuat masalah, tetapi sudah tidak masuk akal.
Heny semakin marah dan berteriak, "Arief, kenapa dengan sikapmu? Kamu mencari wanita lain di belakang Nita, tetapi masih bersikap seperti ini?”
Arief malas mempedulikannya.
Saat ini, Ihsan kembali berbicara, “Ibu mertua, tenangkan diri dulu. Kamu benar-benar salah paham pada mereka.”
Heny yang marah besar langsung berteriak, “Kamu tidak perlu berlagak mendamaikan. Aku beri tahu, anakmu yang tidak berguna ini sudah tinggal dan makan di rumah kami selama tiga tahun. Dia tidak pernah memberikan kontribusi apa pun kepada Keluarga Kimberly, hanya tahu mengandalkan kami! Kalau aku punya anak seperti dia, aku pasti akan bunuh diri.”
Ucapan itu membuat wajah Ihsan memerah. Napasnya mulai terengah-engah.
Dia baru saja mengalami serangan jantung beberapa hari yang lalu, kemarin juga dihukum dengan siksaan berat. Kondisi tubuhnya sangat lemah sekarang, tidak mungkin bisa bertahan dengan emosi ini.
“Apa kamu sudah selesai?”
Melihat ayahnya tersakiti, Arief langsung panik. “Aku tidak memberikan kontribusi? Sekarang Keluarga Kimberly berada di tangan anakmu dengan total saham 51 persen. Bukankah itu kontribusi dariku?”
“Hehe.” Heny mendengkus dingin, seolah-olah mendengar sebuah lelucon yang sangat besar. “Arief, dari mana keberanianmu berkata seperti itu?”
“Kalau kamu tidak percaya, tanyakan kepada anakmu sendiri,” ucap Arief yang malas menjelaskan.
Pertengkaran mereka berdua membuat Ihsan yang berada di ranjang hampir pingsan.
Lisa akhirnya tidak bisa menahan diri lagi. Sebagai dokter, dia paling memahami bahwa pasien serangan jantung tidak boleh dibuat emosi lagi. Dia langsung berkata dengan kesal, “Hentikan sekarang juga! Pasien tidak boleh emosi lagi. Apakah kalian tidak bisa bicara baik-baik?”
“Wanita jalang, diam kamu!” Heny langsung mendekatinya, “Sejak kapan kamu berhak berbicara? Kamu seharusnya tahu bahwa Arief sudah beristri, kamu masih saja bermesraan dengannya di dalam bangsal. Apa kamu tidak tahu malu?”
Setelah itu, Heny melirik ke arah ranjang dan berkata dengan dingin, “Bukankah dia baik-baik saja? Apanya yang tidak boleh emosi? Aku hanya berkata beberapa kata saja, apakah dia akan segera mati?”
“Diam kamu! Keluar!”
Arief benar-benar sangat marah. Dia menatap Heny dengan kedua mata yang memerah.
Tatapan yang begitu mengerikan.
Seluruh bangsal menjadi sangat hening.
__ADS_1
Nita juga tercengang. Dia menggigit bibir dengan jantung yang berdebar-debar.
Bukan karena takut, tetapi kecewa.
“Arief.” Setelah sadar kembali, Nita berkata dengan kesal, “Apa yang kamu lakukan? Apa kamu ingin memukul ibuku? Atau memukulku?”
“Sekarang, aku tidak ingin berbicara denganmu. Keluarlah!” Arief mengepalkan tangannya dengan ekspresi yang suram.
Nita gemetar, lalu menarik napas dalam-dalam, “Ibu, ayo kita pergi.”
Setelah itu, mereka berdua meninggalkan bangsal.
Suasana di dalam bangsal menjadi sangat tertekan.
Setelah beberapa saat, Lisa menggigit bibir dan berkata dengan pelan, “Kak Arief, maaf. Salah paham ini terjadi karena aku.”
Dia bisa menjadi direktur rumah sakit karena bantuan Arief, Lisa masih belum membayar utang budi ini. Kalau hubungan Arief rusak karena dirinya, Lisa tidak akan memaafkan dirinya sendiri.
Huh.
Arief menarik napas dalam-dalam, lalu berkata dengan ekspresi lembut sambil menggeleng, “Kamu tidak perlu menyalahkan dirimu. Kamu tidak bersalah.”
Lisa mengangguk, tetapi jantungnya terus berdebar-debar.
“Jangan khawatir, tidak apa-apa. Setelah pulang kerja nanti, aku akan mentraktirmu makan,” ucap Arief sambil tersenyum kepada Lisa.
Lagi pula mereka sudah salah paham, Arief juga tidak takut kalau Keluarga Kimberly akan membicarakannya.
“Kak Arief, ini … sepertinya tidak baik, bukan?” ucap Lisa dengan pelan dan merasa tidak enak.
Bagaimanapun, Arief baru saja bertengkar dengan ibu mertuanya. Sekarang, kalau dia keluar makan dengan Arief, kesalahpahaman ini akan semakin sulit dijelaskan.
Arief berkata dengan santai, “Kenapa harus takut? Aku hanya ingin berterima kasih kepadamu karena telah merawat orang tuaku beberapa hari ini. Tidak ada yang lain.”
Pada saat yang sama, Arief juga memperhatikan Lisa.
Lisa benar-benar termasuk wanita dewasa yang cantik. Ketika sedang malu, dia tampak semakin memesona.
Lisa terpaksa menerima ajakan Arief.
…
Nita keluar dari lobi rumah sakit dengan ekspresi kesal.
“Sampah seperti itu, lebih baik kamu segera cerai dengannya!” ucap Heny dengan kesal setelah keluar dari rumah sakit. “Coba kamu lihat sendiri! Dia benar-benar sangat galak. Tidak punya kemampuan apa pun, tetapi emosinya justru sangat besar.”
Heny langsung kesal ketika mengingat kejadian di dalam bangsal tadi.
Suasana hati Nita sedang kacau, dia berkata sambil menggigit bibir bawahnya, “Ibu, sudahlah. Biar aku pertimbangkan lagi.”
Nita juga sangat kesal. Dia cemburu ketika melihat Arief tersenyum ceria dengan Lisa.
__ADS_1
Saat ini, ponsel Lisa tiba-tiba berdering. Dia menerima panggilan dari David.
“Nita, nenek sedang sakit, cepat pulang dulu,” ucap David setelah panggilannya tersambung.
Apa?
Nenek sakit?
Sebelum Nita sempat bertanya, David sudah memutuskan panggilannya.
Nita tidak berpikir lebih panjang lagi, dia segera mengemudikan mobil ke vila Keluarga Kimberly.
Belasan menit kemudian.
Nita memarkirkan mobil setelah sampai di depan vila Keluarga Kimberly. Dia berlari masuk ke ruang tamu dengan sepatu hak tingginya.
Ketika masuk ke dalam, dia langsung tercengang.
Nenek sedang duduk di sana dengan wajah merona dan sangat bersemangat. Dia sama sekali tidak terlihat sakit parah.
David dan anggota Keluarga Kimberly yang lain juga ada di sini. Mereka sedang mengerumuni nenek dan menyanjungnya.
“Nenek, kamu ….” Nita sangat kesal, “David, nenek baik-baik saja. Kenapa kamu bilang kalau dia sakit parah? Apa maksudmu?”
David mengangkat bahunya dan menunjukkan ekspresi acuh tak acuh, “Kalau aku tidak berkata seperti itu, apakah kamu akan datang dengan cepat?”
“Sudah, sudah. Nita, kamu juga jangan marah. Aku yang menyuruh David melakukannya.” Saat ini, Nenek tersenyum dan berkata, “Nita, nenek sangat senang kamu bisa datang secepat ini. Itu artinya kamu masih berbakti kepada nenek.”
Setelah itu, dia melambaikan tangannya, “Ayo, duduk di sini.”
Apa?
Benak Nita dipenuhi tanda tanya. Dia segera duduk dan bertanya, “Nenek, kenapa nenek tiba-tiba menyuruhku datang dengan buru-buru?”
Nenek itu menghela nafas dengan ekspresi sedih di wajahnya. “Nita, selama kamu mengelola bisnis keluarga, nenek telah memperhatikannya. Kamu sangat pekerja keras dan memiliki motivasi diri yang tinggi, tetapi kemampuanmu masih sedikit tidak mencukupi.”
“Kecuali pengemasan Cindy sangat sukses, tetapi kinerja bisnis lain biasa-biasa saja.”
Pada akhirnya, nenek pun berkata dengan ragu.
Nita tercengang dan tanpa sadar berkata, “Jadi maksud nenek ….”
Nenek itu tersenyum, dan sebelum Nita bisa menyelesaikannya, dia langsung menyela, “Nita, kamu masih muda, dengan bisnis keluarga yang begitu besar dan begitu banyak bisnis, masih sangat sulit bagimu untuk mengurus semuanya, ‘kan?”
Nita terdiam.
Nenek benar, sejak menjadi kepala Keluarga Kimberly, dia menghabiskan sebagian besar waktunya di tempat kerja, dan bahkan ketika para karyawan tidak bekerja di malam hari, dia masih di kantor melihat proyek dan menyetujui proposal.
Sejujurnya, Nita merasa sedikit lelah.
Namun, itu juga cukup menyenangkan, karena lebih baik daripada ketika orang lain memandang rendah Nita sebelumnya. Sekarang, kekuatan Keluarga Kimberly ada di tangannya, dan siapa pun yang melihatnya akan merasa hormat. Perasaan ini jauh lebih baik dari sebelumnya.
__ADS_1
Nenek lalu berkata sambil tersenyum, "Nita, kurasa kamu tidak perlu terlalu lelah. Begini saja, kamu keluarkan beberapa sahamnya, karena kamu tidak perlu memegang begitu banyak saham, bukan?”