
Ketika berada di pertemuan teman sekelas sebelumnya, Herwanto sudah mengatakan bahwa dirinya sudah sukses. Ternyata dia mendapatkan seorang ibu angkat yang hebat.
“Bagaimana dengan hadiah ibu angkatku?” tanya Herwanto sambil menatap Arief dengan bangga.
Arief tersenyum dan berkata, “Memang barang bagus. Tapi … sebagus apa pun itu, juga bukan dari dirimu. Apa yang kamu banggakan?”
“Memamerkan dirimu dengan hadiah dari ibu angkat, kamu benar-benar tidak tahu malu.”
Wah!
Seketika, semua orang menatap ke arah Herwanto.
Benar juga! Sehebat apa pun bocah ini, itu merupakan hadiah dari ibu angkatnya.
Sialan!
Merasakan tatapan dari sekitarnya, Herwanto langsung marah. Namun, dia tidak membentak, melainkan tersenyum dingin. “Siapa bilang aku tidak punya hadiah?”
Sambil berbicara, Herwanto berdiri, lalu berjalan ke depan Niko. Dia mengeluarkan sebuah kotak hadiah yang sangat indah.
“Pak Niko, aku bersyukur bisa datang mengucapkan selamat kepada Tuan Besar. Ini sedikit hadiah dariku, semoga Pak Niko bisa menerimanya,” ucap Herwanto dengan sopan sambil membuka kotak hadiahnya.
Setelah melontarkan ucapannya, dia tidak lupa menatap Arief dengan tatapan provokasi.
Wah.
Seketika, semua orang yang melihat isi kotak itu langsung berdiri.
Di dalam kotak itu, terdapat sepasang liontin giok putih.
Liontin ini tampak halus dan mulus, tidak ada sedikit pun kotoran lain. Gambar burung terukir dengan indah dan tampak hidup.
“Melihat ukiran liontin giok ini, sepertinya dari zaman kerajaan kuno?” ucap seseorang.
Semua orang di sini merupakan kalangan atas, sehingga tentu saja mengerti tentang barang antik.
Setelah mendengar ucapan itu, orang-orang yang lain juga ikut mengangguk.
Harga liontin giok ini sepertinya tidak kurang dari 4 miliar. Anak muda ini cukup baik, dia cukup pengertian dengan memberikan hadiah seperti ini.
“Mata Anda cukup bagus. Betul, liontin ini berasal dari zaman kerajaan kuno.” Herwanto tampak tersenyum, “Aku tahu Tuan Besar Tomoro tertarik dengan barang antik, sehingga sengaja membelinya dari seorang kolektor. Semoga Tuan Besar bisa menyukainya.”
Tidak bisa dipungkiri, liontin giok ini sangat indah. Walaupun orang yang tidak mengerti barang antik, mereka juga akan menyukainya.
“Liontin giok ini sepertinya cukup mahal, bukan?” tanya seseorang.
Herwanto lalu tersenyum dan berkata, “Tidak seberapa, hanya sekitar 10 miliar saja.”
10 miliar?
Anak muda ini hebat juga, dia menggunakan 10 miliar untuk ditukarkan dengan koneksi Keluarga Tomoro.
Beberapa tamu diam-diam mengangguk dan terus memperhatikan liontin itu. Bahkan Nita juga terus menatapnya.
Hanya Arief yang terdiam, dia hanya menggeleng sambil tersenyum begitu melihat orang-orang memujinya.
“Apa yang kamu tertawakan?” Herwanto langsung marah.
Arief tersenyum dan berkata dengan pelan, “Aku ingin tanya, kamu menghabiskan berapa untuk membeli liontin ini?”
__ADS_1
Herwanto tertegun, dia kembali berkata, “Apa kamu tuli? Apa kamu tidak mendengar 10 miliar? Kenapa? 10 miliar sangat tinggi untuk menantu sepertimu, bukan?”
Arief menggeleng dengan ekspresi sinis. “Terlalu mahal.”
Setelah ucapannya terlontar, Nita langsung menarik lengannya dan berbisik, “Arief, jangan asal bicara ….”
Walaupun Arief memiliki hubungan dengan Niko, semua orang yang datang hari ini memberikan selamat kepada Tuan Besar Tomoro.
Lagipula, orang-orang di sini sudah mengatakan bahwa liontin ini tidak buruk, Arief tidak perlu ikut campur.
Seketika, semua orang menatap Arief dengan ekspresi bingung.
Terlalu mahal?
Apa maksudnya? Apakah Herwanto tertipu?
Liontin giok ini cukup cantik, walaupun 10 miliar cukup mahal, seharusnya tidak terlalu mahal juga, bukan?
Herwanto berkata dengan ekspresi masam, “Arief, apa maksudmu? Coba jelaskan, berapa harga liontin ini?”
Arief menjulurkan empat jari.
Apa?
“Empat miliar?” Herwanto tersenyum dingin, “Apa yang kamu tahu? Liontin ini bernilai empat miliar? Kamu bodoh, ‘kan?”
Niko juga terlihat bingung, dia lalu bertanya dengan penasaran, “Arief, kamu tahu tentang barang antik?”
Ternyata Arief tahu banyak hal juga.
Arief tersenyum dan mengangguk, “Aku tahu sedikit.”
Sialan! Apakah si bodoh ini gila? Herwanto membeli liontin ini dari pamannya. Pamannya sudah berbisnis barang antik puluhan tahun! Harga liontin ini adalah 6 miliar. Dia sengaja mengatakan 10 miliar untuk berlagak hebat.
Namun, Arief malah mengatakan bahwa harga liontin ini hanya senilai empat miliar. Omong kosong!
Arief menggeleng, “Sepasang liontin ini juga memiliki julukan lain, apakah kamu tahu?”
Semua orang menggeleng dengan ekspresi penasaran.
Arief menghela napas, lalu berkata, “Liontin satu pasang seperti ini dinamakan “Liontin Bebek Mandarin” pada zaman dulu. Ketika wanita ingin menikah, liontin ini merupakan hadiah paling spesial. Orang zaman kerajaan kuno sangat mementingkan hadiah. Jadi, Liontin Bebek Mandarin sangat terkenal di saat itu.”
“Setelah menikah, pengantin wanita akan memberikan satu kepada suaminya, kemudian dirinya akan menyimpan satunya lagi. Lalu, mereka akan mengukir nama di atas liontin, sebagai bukti cinta mereka akan bertahan selamanya.”
Berbicara sampai di sini, Arief mengambil dua liontin itu, lalu dilihat dengan saksama. “Jadi, Liontin Bebek Mandarin yang asli akan terukir nama orang. Liontin ini … tidak ada. Palsu!”
Suara Arief tidak besar, tetapi cukup terdengar jelas oleh orang-orang!
Jadi, semua orang langsung tertegun.
Penjelasan tentang Liontin Bebek Mandarin ini dijelaskan dengan detail, masuk akal dan bahkan lebih jelas dari para ahli barang antik.
Setelah merasa kagum, orang-orang akhirnya sadar dan merasa ragu.
Apakah liontin giok ini benar-benar palsu?
“Ternyata memang tidak ada ukiran nama.” Pada saat ini, Niko mengambil liontin dari tangan Arief, lalu dilihat dengan saksama.
Seketika, beberapa orang di samping langsung mengerumuni liontin giok itu. Nita juga ikut mendekat.
__ADS_1
Ternyata, selain ukiran bunga yang indah, liontin ini tidak terlihat ukiran nama sama sekali.
Ini ….
Wajah Herwanto memerah. Dia tidak bisa menerima penjelasan Arief, dia lalu berkata, “Memang kenapa kalau tidak ada ukiran nama? Kamu sudah bilang, kalau Liontin Bebek Mandarin merupakan mahar pengantin wanita. Jadi, bagaimana kalau pemilik liontin ini meninggal sebelum menikah? Dia tidak punya suami, sehingga tidak mungkin terdapat ukiran nama, ‘kan?
Saat ini, Herwanto merasa dirinya sangat pintar.
Betul.
Bagaimana kalau wanita itu masih belum menikah?
Saat ini, semua orang langsung kembali menatap Arief.
Arief tersenyum, lalu menatap Herwanto seperti orang bodoh. “Ucapanmu memang masuk akal. Tapi, Liontin Bebek Mandarin akan dibuat saat setengah bulan sebelum pengantin wanita menikah.”
Berbicara sampai di sini, Arief lalu mengangkat bahunya, “Kalau kamu ingin berdebat, lalu mengatakan bahwa pengantin wanita tiba-tiba meninggal sebelum setengah bulan, aku juga tidak bisa menyangkalnya.”
Herwanto tidak berbicara, keningnya sudah dipenuhi oleh keringat dingin.
“Lalu, aku ingin mengoreksi satu kesalahan,” ucap Arief sambil tersenyum.
“Kesalahan apa?”
Arief tersenyum, “Aku menjulurkan empat jari, bukan mengatakan bahwa harganya empat miliar. Maksudku, harganya hanya sekitar empat ratus ribu. Kalau tidak percaya, coba kamu lihat.”
“Bam!”
Liontin giok itu terjatuh ke lantai dan langsung pecah.
Setelah pecah, mereka bisa melihat jelas bekas lem plastic di liontin ini. Jelas, liontin ini palsu.
Hening! Seluruh ruang tamu benar-benar sangat hening!
Herwanto gemetar dengan ekspresi masam.
“Plak! Plak! Plak!”
Saat ini, Ester akhirnya tidak bisa menahan diri, dia berdiri dan bertepuk tangan dengan keras.
Menarik! Benar-benar menarik!
Herwanto mengepalkan tangannya dan berteriak, “Arief, walaupun ini barang palsu, aku juga sudah memberikan hadiah dengan niat tulus. Lalu, bagaimana dengan kamu? Kamu bisa datang ke sini berkat hubungan Keluarga Kimberly. Jadi, apakah kamu membawa hadiah?”
Arief bodoh ini berani membuat diriku malu. Aku juga tidak akan melepaskanmu!
Huh!
Arief menarik napas dalam-dalam, lalu menatap Herwanto dengan tidak berdaya. “Kamu salah! Aku benar-benar membawa hadiah kali ini.”
Ketika turun ke bawah, Arief sudah mengirimkan pesan.
Seharusnya, orangnya akan segera tiba.
Apa?
Dia juga bawa hadiah?
“Arief ….” Nita mengentakkan kakinya dengan panik, “Kamu baru tahu tentang ulang tahun Tuan Besar Tomoro, darimana hadiah yang kamu bilang?”
__ADS_1