Menantu Yang Menyembunyikan Identitas

Menantu Yang Menyembunyikan Identitas
Bab 74 Pria Sejati


__ADS_3

Mobil van perampok itu melaju ke pinggiran kota. Pada saat ini, para perampok di dalam mobil juga melepas kain hitam di kepala mereka satu per satu


Melihat tas-tas besar berisi uang di bagasi mobil, wajah semua orang terlihat gembira.


"Bos, anak muda itu dan polisi wanita itu baru saja mengejar kita."


Pada saat ini, salah satu perampok melihat ke kaca belakang dan berkata dengan panik kepada pria singlet militer.


Beberapa perampok langsung melihat ke belakang dengan ekspresi ketakutan. Pada saat di bank tadi, mereka beberapa saja tidak sanggup mengalahkan anak muda itu dan tembakan dari bos juga tidak berhasil membunuhnya.


“Kenapa kalian panik? Anak muda itu saja sudah membuat kalian ketakutan? Naik ke atas gunung. Mereka tidak akan bisa lapor polisi dengan kondisi sinyal yang jelek,” teriak pria singlet militer dengan keras.


Walaupun berkata begitu, kedua mata pria ini juga dipenuhi kepanikan dan kekesalan.


Pria singlet militer itu bernama Koni. Dia adalah seorang penjahat yang melakukan kejahatan di mana-mana. Dia baru datang ke Kota Malang beberapa hari ini dan ingin mendapatkan uang besar. Siapa sangka justru bertemu dengan Arief.


Namun untungnya, setelah semua yang terjadi, dia tetap berhasil mendapatkan uangnya.


Lalu, mereka juga memiliki sandera seorang anak kecil, jadi lawan juga tidak berani gegabah. Selama berhati-hati, dia mungkin saja bisa mengalahkan mereka atau pun menikmati wanita cantik.


Haha! Sambil berpikir, Koni tersenyum.


Mobil Audi R8 di belakangnya.


“Arief. Lebih cepat lagi, kita harus mencari kesempatan untuk menghalang mereka.” Melihat Arief mengikuti mereka dari belakang dengan perlahan, Debora mulai panik.


Arief tersenyum santai. “Jangan panik. Sampai di atas sana, mereka pasti akan berhenti.”


Arah pelarian perampok ini adalah gunung di utara Kota Malang, yaitu tempat di mana Arief bertemu dengan pencuri makam.


Arief ingat dengan jelas, gunung ini masih belum pernah disentuh, sehingga jalan raya hanya sampai setengah jalan. Ketika sampai ujung sana, mereka tidak bisa menggunakan mobil lagi.


Di sisi lain, dia mengemudikan mobil sport dan lawannya menggunakan mobil van. Kalau dipaksa berhenti, mobil sport akan dirugikan kalau tertabrak. Walaupun dia dan Debora adalah kultivator yang tidak akan mati walaupun terjadi tabrakan, di dalam mobil van itu masih ada seorang anak kecil. Bagaimana kalau anak kecil itu terluka?


Walaupun tidak menghentikan mereka, mereka juga tidak akan melukai anak kecil itu. Sebelum berhasil kabur, anak kecil itu adalah jimat pelindung mereka.


Debora tentu saja tidak berpikir sejauh itu. Dia hanya ingin menyelamatkan sandera dan menangkap semua penjahat itu.


Bagaimanapun, ini adalah kewajibannya.


Namun, ketika dia ingin mendesak lagi, dia menyadari darah merah di bahu kiri Arief. Dia pun sadar kembali dan berkata, “Lukamu tidak apa-apa, ‘kan?”


Saat bertanya, Debora pun merasa tidak enak.


Dirinya hanya memedulikan untuk mengejar para perampok sampai melupakan luka di tubuhnya.


Lalu ….


Dia juga terluka karena seorang mahasiswa yang tidak dikenalnya.


“Tidak apa-apa,” jawab Arief dengan santai.


Kedua mobil itu naik ke atas gunung dan sampai di ujung jalan.


Para perampok pun turun dari mobil sambil menahan anak kecil itu.

__ADS_1


Debora juga segera turun dari mobil dengan sepatu hak tingginya.


Arief melirik ke arah belakang dan menyimpan Pedang Haus Darah di dalam bajunya. Walaupun tingkatan pedang ini sedikit rendah, tetap saja sebuah senjata.


“Kalian berdua benar-benar keras kepala. Apakah kalian tidak takut mati? Kalau berani maju lagi, aku akan membunuhnya.” Kedua mata Koni dipenuhi tatapan kebencian. Dia kembali mendekatkan pisau di leher anak kecil itu.


Gadis kecil itu tampak sangat ketakutan, kali ini dia tidak menangis, tetapi wajahnya menjadi pucat.


Setelah itu, Koni berteriak dan melihat sekeliling. Pada saat ini, di belakangnya adalah hutan luas yang dalam.


Sialan! Semua karena pria dan wanita ini, makanya dia bisa kabur ke sini. Kalau tidak, dia dan rekannya sudah kabur keluar Kota Malang dan sedang menghitung uang.


“Cepat letakkan senjatamu dan lepaskan anak kecilnya. Kalian masih punya kesempatan untuk bertobat! Jangan menggali kuburan sendiri,” teriak Debora dengan ekspresi dingin.


Koni tersenyum dan berkata, “Tidak usah omong kosong. Kalau aku berani melakukannya, berarti aku tidak takut dengan polisi.”


Debora kembali gemetar setelah mendengar ucapan itu.


Selalu ada sampah masyarakat yang mengganggu ketertiban sosial.


Ekspresi Arief sangat jelek. Dia berjalan ke depan dan menatap Koni. “Menggunakan seorang anak kecil sebagai sandera, lalu mengatakan bahwa dirimu tidak takut dengan polisi, apakah kamu masih punya kemaluan sebagai seorang pria?”


“Apa yang kamu bicarakan?”


Koni marah besar dan seluruh tubuhnya dipenuhi aura membunuh.


Dalam satu tahun terakhir, dia membawa anak buah melakukan berbagai kejahatan dan selalu berhasil di bawah kepemimpinan dan komandonya.


Di hadapan anak buahnya, dia adalah seorang bos dan perencana yang dikagumi dan dihormati.


“Kenapa? Apa aku salah? Kalau kamu masih punya kemanusiaan dan hati nurani, lepaskan anak itu sekarang juga!” ucap Arief sambil mendekat dengan ekspresi tenang.


“Sialan kamu! Berhenti! Cepat berhenti!” teriak Koni dengan tatapan penuh kebencian.


Apa yang ingin dilakukan Arief?


Debora juga sangat panik dan tegang. Dia merasa Arief sedikit keterlaluan. Bagaimana kalau perampoknya marah dan melukai anak kecil ini?


Arief tersenyum dan berkata, “Sebenarnya, aku sangat kagum dengan keberanian kalian yang berani merampok bank dalam jumlah kecil. Hanya saja menjadikan seorang anak kecil sebagai sandera sangat memalukan. Tujuan kalian sebenarnya hanya ingin melepaskan diri, bukan? Kalau begitu, jadikan aku sandera kalian dan lepaskan anak kecil itu.”


Koni tidak menjawab dan menatapnya dengan kesal.


Arief tersenyum dan melanjutkan, “Bukankah kamu sangat membenciku? Anak kecil ini tidak bersalah dan tidak ada dendam denganmu.”


“Baik, baik!”


Kedua mata Koni memerah. Saat ini, dia benar-benar sangat membenci Arief.


Kalau Arief ingin menjadi sandera, dia akan memenuhi keinginannya.


Koni mengepalkan tangannya dan berkata dengan kesal, “Sialan kamu! Kamu mau jadi pahlawan, ‘kan? Kamu mau berlagak hebat, ‘kan? Aku akan membuatmu menangis hari ini! Kemarilah dengan perlahan, jangan berbuat hal yang aneh.”


Arif tersenyum dan merentangkan kedua tangannya untuk memberi tahu bahwa dia tidak membawa senjata. Lalu, dia pun berjalan mendekat dengan pelan.


“Arief!”

__ADS_1


Pada saat ini, Debora akhirnya tidak tahan dan memanggilnya.


Arief baru saja menahan peluru untuk seorang mahsiswi yang tidak dikenalnya.


Lalu sekarang, dia ingin menjadikan dirinya sebagai sandera untuk mengganti anak kecil itu.


Apakah dia tidak merasa takut?


Debora menggigit bibir bawah sambil menatap punggung Arief.


Semua orang mengatakan bahwa dia adalah menantu tidak berguna dan tidak memiliki apa pun. Namun, dia benar-benar pria sejati.


Arief berjalan perlahan ke depan.


10 meter.


5 meter ….


3 meter ….


Jantung Debora semakin tegang ketika jarak Arief semakin mendekat dengan perampok itu.


Ketika jaraknya sisa 1 meter, Koni segera melepaskan anak kecil itu.


Anak kecil yang ketakutan langsung berlari ke arah Debora.


Pada saat yang sama, Koni langsung menangkap Arief dan ingin menahannya. Dia mendekatkan pisau ke arah leher Arief.


Namun, Arief tiba-tiba mendengus dingin dan mengeluarkan Pedang Haus Darah dengan cepat.


Bam!


Cahaya merah dari Pedang Haus Darah hampir menyinari setengah dari wilayah pegunungan ini.


“Ah ….”


Koni tidak bisa membuka matanya karena silau. Sebelum dia sempat bereaksi, tiba-tiba pergelangan tangannya terasa sakit. Dia berteriak dan menjatuhkan pisau di tangannya.


Detik selanjutnya, darah segar memuncrat dan mengenai pedang kuno itu lagi.


“Ah! Ah!”


Koni berteriak dengan keras dan berlari ke dalam hutan.


“Aku akan mengingatmu! Tunggu saja, tunggu saja kamu!” Koni sambil berlari sambil berteriak. Dalam sekejap, belasan perampok langsung menghilang.


Arief juga tidak ingin mengejar mereka. Ketika menghunuskan Pedang Haus Darah tadi, gerakan yang terlalu besar membuat luka tembakan kembali terbuka dan berdarah.


Sialan!


Arief menekan lubang luka dan tiba-tiba mendengar suara misterius di benaknya.


“Pedang Haus Darah berhasil naik tingkat. Tingkat sementara, tingkat merah tahap kedua.”


Ah? Naik tingkat?

__ADS_1


Sialan! Ternyata senjata bisa naik tingkat juga?


__ADS_2