
Pandu memanggilnya kakak ipar?
Apakah Nita memiliki pria lain di luar sana?
Semua orang menatap Nita dengan bengong.
Namun, pada saat ini, Pandu tertawa, berjalan ke Arief, dan membungkuk dengan hormat.
“Kak Arief, kalau aku tahu bahwa Nita adalah Kakak Iparku sejak awal, aku tidak perlu datang lagi.”
Arief tidak mengatakan apa-apa, hanya mengangguk sambil tersenyum.
“Kak Arief, kalau tidak ada urusan lain, aku akan pergi dulu.”
Pandu tidak mengatakan apa-apa lagi dan pergi bersama asistennya
Semua ini terjadi terlalu cepat, dan baru setelah Pandu pergi, Keluarga Kimberly dan lainnya tersadar kembali.
Ini ….
Apa yang terjadi?
51 persen saham menjadi milik Nita?
Nenek menatapnya dengan pandangan kosong, mencoba mengatakan sesuatu, tetapi tidak bisa mengatakan sepatah kata pun!
Nita memegang dokumen di tangannya, dan tubuhnya pun gemetar. Dia seperti sedang bermimpi.
“Arief, kamu dan Direktur Lukas .…” Detik berikutnya, Nita langsung bertanya karena penasaran.
Arief menjawab dengan santai, “Hanya teman.”
Kemudian, tanpa memberi kesempatan pada Nita untuk terus bertanya, Arief melanjutkan, “Aku harus pergi bekerja sekarang, atau akan terlambat.”
Setelah mengatakan ini, Arief berbalik dan berjalan keluar dari sana.
Saat masuk ke mobil, Arief sedikit khawatir dan mengirim pesan ke Nita, “Pastikan untuk memegang erat saham ini di tanganmu, bahkan jika Nenek memohon, jangan serahkan padanya. Mulai sekarang, Keluarga Kimberly akan menuruti kata-katamu.”
Nita yang masih tercengang, membaca pesan singkat itu. Dia lalu menjawab bahwa dia tahu.
Setelah apa yang baru saja terjadi, Nita benar-benar mengenali orang-orang ini dalam keluarganya.
Saham di tangannya ini adalah pelindungnya sendiri, dan tentu saja dia tidak akan menyerahkannya dengan mudah.
Mendapat jawaban Nita, Arief menghela napas dan pergi.
Sebelum dia sampai di Perusahaan Net Media, ada telepon masuk.
Setelah melihat layar ponselnya, dia melihat sebuah nomor asing. Nomor asing ini memiliki enam angka delapan di belakangnya. Setelah ragu sejenak, dia pun menjawabnya.
“Halo, dengan Tuan Arief?”
Terdengar suara pria yang dalam dari ujung telepon, suara ini terdengar sekitar empat puluh sampai lima puluh tahun.
Arief mengerutkan keningnya dan berkata, “Siapa kamu? Kenapa kamu tahu nomorku?”
Orang itu tersenyum dan menjawab dengan sopan. “Guntur yang memperkenalkan kamu kepadaku.”
Guntur?
“Aku dengar dari Guntur, Tuan Burton memiliki Pil Dewa. Setelah mengkonsumsinya, Pil Dewa itu dapat menembus kemacetan kultivasi. Aku sangat membutuhkannya. Tuan Burton, silakan buka harga,” kata pria paruh baya itu.
Sialan! Pil Dewa ini tidak sulit dibuat, tetapi tidak seperti buah, yang bisa dibeli kapanpun. Arief harus memurnikannya. Pot tanah liat yang dibeli hanya bisa memurnikan dua sampai tiga butir pil setiap kali.
Dua yang dimurnikan sebelumnya, satu dijual ke Guntur, dan satu lagi diberikan kepada bocah Hendry. Sekarang dia tidak memiliki apa pun lagi.
Bahkan jika itu dimurnikan sekarang, Arief membutuhkan waktu beberapa jam.
__ADS_1
Setelah berpikir, Arief berkata dengan kesal, “Jika kamu benar-benar menginginkannya, temui aku besok.”
Setelah tertegun sejenak, Arief menambahkan, “Tapi, aku khawatir kamu tidak sanggup membelinya.”
Orang itu tersenyum dan menjawab, “Tenang saja. Uang bukan masalah. Berapa harganya? Aku akan menyiapkannya.”
“6 triliun,” ucap Arief tanpa pikir panjang.
Sebelumnya Guntur memberikan harga 4 triliun tanpa berkedip. Hal itu membuat Arief merasa dirugikan.
Tentu saja, lebih rugi ketika memberikan gratis kepada Hendry itu.
“Baik, 6 triliun! Kita sepakat. Aku akan menghubungi Tuan Burton lagi besok,” jawab pria paruh baya tanpa ragu setelah mendengar harga dari Arief.
Huh!
Setelah menutup teleponnya, Arief pun menghela npas.
Apakah orang ini gila? Dia langsung setuju tanpa pikir panjang untuk uang senilai 6 triliun.
Pada saat ini, dia juga sampai di Perusahaan Net Media.
Saat hendak ke kantor, dia melihat Siska keluar dari sana.
“Direktur, ada dua tamu yang telah menunggu Anda untuk sementara waktu,” ucap Siska dengan cepat ketika melihat Arief datang.
Tamu?
Arief mengerutkan kening, lalu mendorong pintu dan berjalan masuk.
Pada saat itu, seluruh tubuh Arief membeku, dan kemudian dia menjadi sangat senang dan bersemangat.
"Ayah, Ibu. Kenapa kalian datang ke sini?"
Di sofa di kantor, duduk pasangan paruh baya berpakaian sederhana. Ayahnya bernama Ihsan dan Ibunya bernama Siti.
“Arief, aku dengar dari pamanmu beberapa hari yang lalu, bahwa dia memberimu Perusahaan Net Media. Aku tidak percaya, sehingga datang untuk melihatnya,” kata Ihsan dengan senang sambil tersenyum.
Siti pun ikut berkata, “Arief, apakah kamu adalah Presiden Direktur Perusahaan Net Media?”
Arief mengangguk dan menjelaskan, “Ayah, Ibu, keluarga kita telah berdamai denganku tentang masalah tiga tahun lalu. Paman yang memberikan langsung Perusahaan Net Media kepadaku.”
Sambil berkata, Arief kemudian melanjutkan, “Tiga tahun ini, kalian berdua sudah khawatir dan terlalu lelah. Tapi semua telah berlalu. Beberapa hari ini, aku terus memikirkan bagaimana cara untuk memberi tahu kalian, tapi kalian justru datang sendiri.”
Ihsan menghela napas dan berkata dengan terharu, “Baguslah kalau kamu sudah menyelesaikan kesalahpahaman, sehingga ibumu dan aku akan merasa nyaman.”
Arief mengangguk dan berkata, “Ayah, Ibu, karena kalian sudah datang ke sini, jangan kembali ke pedesaan lagi.”
Meskipun pedesaan tenang dan udaranya bagus, tetap saja tidak nyaman.
Ihsan berpikir sejenak, dia lalu menatap Siti, mengangguk dan berkata, “Baiklah. Aku dan Ibumu akan kembali ke kediaman keluarga kita dulu. Sudah lama tidak pulang ke rumah, kami juga merindukan mereka.”
“Aku akan mengantar kalian,” ucap Arief.
Ihsan melambaikan tangannya, “Tidak perlu. Kamu pasti akan sibuk untuk mengurus sebuah perusahaan besar. Lagi pula, aku dan Ibumu sudah lama tidak datang ke perkotaan. Kami akan pergi jalan-jalan sendiri, kamu tidak perlu mengurusi kami.”
Melihat ayahnya bersikeras untuk tidak membiarkan dia mengantarnya, Arief pun setuju.
Orang tuanya tidak duduk lama dan segera pergi dengan taksi.
Setelah orang tuanya pergi, Arief mengeluarkan pot tanah liat dan mulai memurnikan Pil Dewa.
…
Pantai Kota Malang, vila Keluarga Burton.
Dua pelayan berdiri di pintu, kemudian, sebuah taksi datang dan pasangan paruh baya turun dari mobil.
__ADS_1
Melihat vila di depan mereka, Ihsan dan Siti saling berpandangan dengan haru.
“Tuan Kedua, Nyonya?”
Kedua pelayan itu tertegun. Kemudian segera menyambut mereka dengan sopan.
Setelah sepuluh menit kemudian, Chandra, kepala Keluarga Burton pun keluar. Doni, Jeslin, serta beberapa anggota Keluarga Burton juga ikut keluar.
Di ruang tamu.
Dengan sedikit kelegaan di wajahnya, Chandra tersenyum pada Ihsan, yang duduk di seberangnya, “Adik kedua, akhirnya kamu sudah terbuka? Kembalilah. Aku akan mengirim seseorang untuk membersihkan tempat tinggalmu sebentar lagi.”
Saat itu, Arief bertiga diusir dari sini. Chandra sebenarnya juga merasa bersalah.
Ihsan tertawa, “Kak, jangan sopan padaku, ini rumahku, kenapa aku tidak kembali? Aku baru saja kembali karena aku mendengar kesalahpahaman dengan Arief sudah selesai.”
Ssh!
Pada saat ini, ekspresi semua orang termasuk Chandra langsung berubah ketika mengungkit Arief.
Terutama Yanto yang berdiri di samping, tatapannya terus berbinar dan terlihat sangat jelek.
Beberapa hari telah berlalu sejak Yanto menikah.
Dalam beberapa hari terakhir, fakta bahwa Dewi dinodai oleh Arief telah tersebar luas di keluarga.
Pada saat ini, nama busuk Arief telah terdengar di seluruh Keluarta Burton.
“Kalian bertiga telah diusir dari kediaman Keluarga Burton tiga tahun lalu. Kenapa kalian masih berani pulang?” Pada saat ini, di tengah perubahan cepat dalam ekspresi semua orang, Jeslin melangkah maju dan berkata.
Ihsan terkejut, “Apa yang kamu katakan?”
Jeslin tersenyum dan melanjutkan, “Izinkan aku mengatakan yang sebenarnya, putra kalian yang baik, Arief, yang menghabiskan dana keluarganya tiga tahun lalu untuk membeli saham di perusahaan minyak, telah melakukan perbuatan tercela beberapa hari lalu.”
Berbicara tentang ini, Jeslin melanjutkan lagi, “Sebelumnya, dia tidak merasa malu karena menikah dengan Keluarga Kimberly, tapi seluruh anggota Keluarga Burton merasa sangat malu. Siapa yang mengira bahwa dia bahkan lebih busuk lagi. Dia menodai adik ipar sendiri!”
Mendengar kata-kata ini, Siti tidak bisa duduk diam dan mengerutkan kening, “Apa yang dilakukan anakku? Apa yang terjadi? Apakah kamu bisa mengatakannya dengan jelas?”
Di bawah isyarat mata Jeslin, Doni keluar dan berbisik, “Paman dan bibi kedua, kamu belum tahu, Arief ... Arief menodai pengantin wanita di malam pernikahan Yanto.”
Apa?
Ucapan terakhir membuat ekspresi Ihsan dan Siti berubah. Mereka langsung berdiri pada saat yang sama.
“Tidak mungkin, Arief bukan orang seperti itu!” Detik selanjutnya, Siti menggelengkan kepala dengan ekspresi tidak percaya.
Doni mendengus dingin dan berkata, “Yanto, kamu saja yang jelaskan.”
Yanto berjalan keluar dengan wajah pucat dan perlahan berkata, “Paman kedua, Bibi kedua, ada berbagai tanda di tempat kejadian, bahwa Arief-lah yang menodai istriku.”
Mendengar itu, Ihsan merasa seperti dipukul keras, tubuhnya terguncang, dan hampir pingsan.
“Kalian sudah mendengarnya, ‘kan? Bahkan Yanto mengatakan itu, bagaimana mungkin palsu?” Pada saat ini, wajah Jeslin penuh dengan kelicikan. “Arief ini benar-benar sampah, dan dia bahkan melakukan hal tercela seperti itu. Kalau aku punya anak seperti itu, aku akan memutuskan hubungan dengannya. Kemudian keluar dari Keluarga Burton, aku tidak mungkin kembali ke sini lagi.”
Jeslin lalu berkata lebih kejam lagi, “Arief telah menjadi menantu tidak berguna selama tiga tahun, dan aku mendengar bahwa Nita tidak membiarkan dia menyentuhnya. Aku kira dia tidak bisa mengendalikan diri ketika melihat seorang wanita, bukan? Bahkan adik ipar sendiri juga tidak mau dilepaskan. Apakah dia masih seorang manusia? Tiga tahun lalu, kami membuat keputusan yang tepat untuk mengusir keluarga kalian! Sekarang, kenapa kalian masih berani pulang?”
“Anakku tidak mungkin melakukan hal seperti itu!” Ihsan terbatuk beberapa kali sambil memegangi dadanya.
Melihat ini, orang-orang di sekitar juga mencibir, “Putramu menodai adik ipar sendiri, semua anggota Keluarga Burton sudah tahu.”
“Ya, inilah anakmu yang baik.”
“Anak adalah hasil cerminan dari Ayah. Selain tidak bisa mengajari anak dengan baik, kamu sendiri bahkan tidak tahu malu dengan kembali ke sini.”
“Kalian bertiga benar-benar sampah!”
Ucapan kemarahan itu membuat mata Ihsan memerah. Dia menunjuk semua orang dan berkata, “Kalian … diam kalian semua! Anakku tidak mungkin ….”
__ADS_1
Pada akhirnya, tubuh Ihsan gemetar dengan hebat. Dia tidak berhasil menarik napas dan langsung pingsang ke belakang. Mulutnya berbusa dan tubuhnya terus berkedut.