Menantu Yang Menyembunyikan Identitas

Menantu Yang Menyembunyikan Identitas
Bab 90 Apakah Dia Tidak Bisa Bersimpati?


__ADS_3

Plak!


Ucapan Jeslin akhirnya menyulut amarah Tuan Besar Burton. Dia memukul meja dengan keras.


“Pengawal, tangkap Ihsan dan istrinya ke sini. Aku ingin tanya bagaimana cara mereka mendidik anak.”


Saat ini Tuan Besar Burton benar-benar sangat marah.


Guntur dan Novia yang duduk di samping saling bertatapan, ekspresi mereka terlihat masam. Mereka pernah berhubungan dengan Arief sebelumnya, kedua kakak adik ini merasa Arief adalah orang yang


tidak buruk.


Namun ternyata, dia bahkan melakukan hal seperti itu.


Bukankah dia lebih kejam dari binatang?


Tiga hari kemudian, Danau Dewata.


Cuaca hari ini sangat baik, matahari juga sangat terik. Piknik kali ini akhirnya berakhir. Pagi-pagi, Keluarga Sutopo sudah mengirimkan bus untuk menjemput mereka.


Kejadian gua runtuh beberapa hari yang lalu, membuat banyak orang terluka. Walaupun tidak parah, para generasi kedua yang kaya ini sangat manja. Mereka tetap ingin melakukan pemeriksaan di rumah


sakit meskipun luka sudah mengering.


Ketika bus datang, orang-orang yang terluka berebut untuk masuk ke dalam bus.


Niko, Ester, Arief, Debora dan lainnya yang tidak terluka, mereka duduk di bus paling terakhir.


Pada siang hari, bus mulai berjalan ke arah kota dengan perlahan.


Sinar matahari di pinggir pantai terlihat begitu indah.


Kecepatan bus tidak cepat, sehingga membutuhkan waktu lima jam untuk sampai Kota Malang.


Beberapa generasi kedua yang kaya tidak tahan dengan kebosanan ini, mereka mulai mengeluarkan kartu remi dan bermain bersama.


Memenangkan permainan kartu remi mungkin memerlukan trik tertentu, tetapi lebih membutuhkan keberuntungan.


Mereka tidak kekurangan uang, sehingga taruhannya juga cukup tinggi. Hal ini menarik perhatian para wanita.


Hendry yang sial sudah kalah beberapa ronde. Saat ini, supir tiba-tiba menginjak rem.


“Sialan! Kenapa ini?”


Hendry berteriak dengan keras, lalu melemparkan kartu di tangannya. “Sialan! Aku sudah pasti menang kali ini! Dasar sopir, apakah kamu sanggup ganti rugi?”


“Iya! Benar-benar mengesalkan.”


Beberapa tuan muda yang lain juga berdiri dengan wajah memerah.


Sopir itu segera berdiri dengan ekspresi tidak bersalah, dia berusaha menjelaskan, “Tuan Muda dan Nona sekalian, jangan salahkan aku. Di depan sana ada yang menghalangi mobil kita.”


Setelah mendengar ucapannya, semua orang melihat ke arah depan.


Ternyata, dua orang pria dan satu wanita muncul di depan bus.


Dua orang kakak laki-laki berdiri di depan mobil dengan wajah panik. Adik perempuan mereka duduk di lantai, kakinya yang diperban jelas terluka.


“Tolong … tolong adikku!”


Kedua kakak laki-laki ini kembar, berusia sekitar tiga puluh tahun. Tampang mereka terlihat menarik, selain sedikit juling, cara mereka berbicara juga sedikit gagap.

__ADS_1


Mereka bertiga berpenampilan seperti orang desa, ekspresi mereka juga terlihat panik. Saat ini, pria itu berteriak kepada sopir, “Tolong kami, tolong selamatkan adikku. Adik … adikku terluka.


Kaki … kakinya patah. Aku … aku tidak bisa menemukan taksi di tempat … tempat ini.”


Sopir segera menurunkan jendela mobil, lalu berteriak dengan kesal, “Cepat minggir!”


Sopir sudah dimarahi karena tiga orang ini, dia tidak ingin menunda perjalanan mereka lagi. Para generasi kedua yang kaya ini tidak boleh disinggung.


Sebelum sopir selesai bicara, dua orang pria kembar ini segera berlari ke dekat jendela.


“Ka … kakak, to … tolong kami!”


“Tolong apa? Bus ini sudah penuh, tidak ada tempat untuk kalian!” teriak sopir itu.


Saat ini, beberapa wanita yang tidak bisa menahan diri mulai berdiri dan memarahi sopirnya, “Kenapa kamu ini? Apakah kamu tidak punya sedikit cinta kasih?”


Sopir juga terdiam dan hampir menangis.


Para generasi kedua yang kaya ini benar-benar sangat sulit dilayani. Sopir terpaksa bertanya kepada tiga orang itu, apa yang mau mereka lakukan?


Dua orang kakak laki-laki sangat gagap, sehingga membutuhkan waktu lama untuk mendengar jelas ucapan mereka.


Ternyata tiga orang ini tinggal di desa dekat sini. Ketika sedang membersihkan rumah, adiknya tidak sengaja terjatuh dan kakinya patah. Kedua kakaknya ingin membawa adiknya ke rumah sakit, tetapi


tidak ada mobil di jalan ini. Jadi, mereka terpaksa menghalangi bus ini.


Tiga orang kakak beradik ini juga memiliki nama yang lucu. Kakak laki-laki bernama Tiko dan Tiku, lalu adik perempuan mereka bernama Tika.


Walaupun tiga kakak beradik ini terlihat kotor, sehingga tidak mau membiarkan mereka masuk ke mobil.


Namun, mereka juga tampak sederhana.


“Cepat, cepat buka pintunya!” kata Debora kepada sopir sembari berdiri.


Kalau bisa membantu orang di luar sana, tentu saja merupakan hal baik.


Sopir menjawab, lalu segera bersiap untuk membuka pintu. Saat ini, Tiko bersaudara terlihat senang, mereka segera membawa adiknya ke depan pintu.


Namun, Arief tiba-tiba berdiri dan berkata, “Tunggu sebentar! Lebih baik kita panggil ambulans saja untuk mereka.”


“Kenapa?”


Debora menunjukkan ekspresi bingung dan mengerutkan keningnya.


Arief pun tersenyum. “Tidak ada alasan lain. Hanya saja, kursi di bus ini sudah penuh, kita tidak punya tempat untuk mereka, bukan?”


Setelah Arief berbicara, semua orang di dalam mobil langsung marah,


Apakah ucapannya terdengar seperti ucapan manusia? Apakah tidak boleh membiarkan mereka masuk walaupun sudah penuh? Adik perempuan itu terluka sangat parah, dia harus segera dibawa ke rumah sakit.


Sebenarnya, Arief bukan tidak bisa bersimpati. Hanya saja, Arief merasa ada masalah dengan kemunculan tiga kakak beradik ini.


Tika yang terluka, tampak menunjukkan ekspresi menderita. Namun, wajahnya tidak ada keringat sama sekali, kelihatan jelas kalau dia sedang berpura-pura. Lalu, ketika Tika mengangkat tangannya tadi, sama-samar terlihat tato di tangan kirinya.


Lalu, Tiko bersaudara walaupun terlihat tidak ada celah, Arief menyadari kapalan di tangan kanan mereka.


Karena belajar Tinju Wing Chun sejak kecil, Arief bisa memastikan kapalan seperti itu, bukan berasal dari bercocok tanam. Karena bagian yang kapalan tidak tepat, mereka pasti sering menggunakan


senjata.


Arief tidak yakin apa yang ingin dilakukan kakak beradik ini. Namun bisa dipastikan, lebih baik menghindari masalah dengan tidak membiarkan mereka naik ke mobil.

__ADS_1


Arief mengerti, walaupun dia menjelaskan semua ini, semua orang di mobil juga tidak akan percaya. Jadi, dia menggunakan alasan lain.


Yang penting, mereka tidak boleh dibiarkan naik ke atas.


Debora tentu saja tidak tahu niat Arief, dia langsung berkata, “Tidak masalah. Aku bisa membiarkan tempat dudukku kepada adik perempuan itu.”


Saat berbicara, Debora juga merasa tidak senang dalam hatinya.


Kenapa Arief tidak bisa bersimpati sama sekali?


Awalnya, dia mengira Arief adalah orang baik. Namun, dari hal kecil ini, sepertinya dia sudah terlalu meninggikan Arief.


Arief pun menghela napas.


Apakah Debora masih seorang Kapten Tim Reserse Kriminal? Kenapa dia tidak bisa melihat kecurigaan pada tiga orang ini?


Arief hanya meliriknya, lalu berkata, “Pak Sopir, jalankan mobilnya. Jangan biarkan mereka masuk.”


Saat ini, semua orang di dalam bus langsung kesal.


Arief sialan ini! Apakah mentalnya rusak karena tertekan di Keluarga Kimberly?


Kenapa dia menyuruh semua orang mengabaikan wanita yang terluka parah itu?


Kenapa dengan Arief? Pantas saja dia miskin seumur hidup. Pantas saja dia diremehkan orang-orang.


“Arief, pantas saja kamu hanya bisa menjadi menantu tidak berguna dengan kesadaranmu ini. Kamu benar-benar tidak bisa bersimpati sama sekali, pantas saja hidupmu berantakan,” teriak Hendry


kepada Arief.


Penyerangan hiu sebelumnya, sudah membuat Debora kecewa kepada dirinya. Hendry harus memanfaatkan kesempatan ini untuk menunjukkan dirinya.


Wanita selalu menyukai pria yang bersimpati.


Ternyata, setelah Hendry melontarkan ucapannya, tatapan Debora kepadanya menjadi lebih lembut.


Heno yang berada di samping juga mulai menyindir, “Arief, aku merasa kamu sudah keterlaluan. Lihat Tika yang sudah patah kaki itu, kamu bahkan tega meninggalkannya, bukan? Walaupun tidak kenal,


kita tidak harus bersikap kejam seperti itu, bukan?”


“Dia hanya seorang pria yang mengandalkan istri. Dia tidak tahu apa pun.”


“Betul. Dia hanya mementingkan dirinya sendiri dan egois.”


Semua orang mulai bergantian memarahi Arief.


Arief mengepalkan tinjunya. Mendengar sindiran orang-orang ini, dia langsung marah, “Aku tidak bersimpati? Sebelumnya, ketika kalian terjebak di dalam gua, siapa yang menyelamatkan kalian? Dasar tidak punya otak!”


Semua orang saling bertatapan dan terdiam.


Pada saat ini, David tiba-tiba memikirkan sesuatu dan berdiri. “Arief, kamu jangan berpura-pura lagi. Aku


tiba-tiba teringat sesuatu begitu kamu mengungkit tentang gua. Kenapa gua itu bisa tiba-tiba runtuh? Pasti karena kamu yang meruntuhkannya. Kamu ingin berduaan dengan Nita, sehingga membuat alasan bahwa gua itu membawa sial. Lalu, demi membuktikan ucapanmu, kamu mencari cara untuk meruntuhkan guanya. Semua karena kamu!”


Sialan! Masuk akal juga!


Setelah mendengar ucapan David, semua orang pun tertegun.


Betul juga. Mungkin saja Arief yang meruntuhkan gua itu, ‘kan?


Arief benar-benar sangat kesal sampai tertawa. “Aku yang meruntuhkan guanya? Kalian benar-benar menganggapku terlalu hebat. Coba jelaskan, bagaimana caraku meruntuhkan guanya?”

__ADS_1


__ADS_2