
Pada siang hari di bulan Agustus, cuaca selalu bagus. Namun, suasana di kediaman Keluarga Burton sangat dingin.
Aula yang penuh dengan orang, semuanya tampak menunjukkan ekspresi jelek dan seluruh ruang tamu sangat tertekan.
Kepala keluarga, Chandra, juga terlihat sangat murung. Semua tatapan tertuju kepada Yanto dan Dewi.
“Yanto, apakah kamu sudah mempertimbangkannya dengan baik?”
Saat ini, Chandra menarik napas dalam-dalam dan bertanya kepadanya.
Yanto mengangguk. “Sudah. Ayah, aku sudah mempertimbangkannya. Aku mendukung Dewi untuk melahirkan anak ini.”
Sambil berbicara, Yanto melihat ke arah perut istrinya.
Betul, istrinya hamil. Namun … Yanto dan istrinya belum berhubungan badan.
Sejak menikah dan Dewi dinodai, Yanto tidak pernah berhubungan badan dengannya. Bukan karena merasa Dewi kotor, melainkan ingin memberikan waktu pemulihan kepadanya. Bagaimanapun, hal seperti ini memberikan pukulan sangat besar kepada seorang wanita.
Namun, Yanto tidak menyangka istrinya akan hamil. Semua orang juga tahu siapa Ayah dari anak ini.
Berita kehamilan Dewi langsung tersebar di seluruh keluarga dalam waktu kurang dari satu hari.
Heboh!
Setelah Yanto melontarkan ucapannya, seluruh anggota Keluarga Burton langsung heboh.
“Yanto, kamu gila.”
“Betul. Anak ini bukan anakmu, kenapa kamu ingin melahirkannya?”
Arief sudah menodai istrimu, kenapa kamu masih membesarkan anaknya?
Saat ini, semua anggota Keluarga Burton sangat marah dan terus berteriak.
Suara kritikan membuat Yanto mengepalkan tangannya.
“Plak!”
Jeslin memukul meja dengan keras, lalu berdiri dan berkata, “Yanto, kamu benar-benar bodoh. Perbuatan Arief yang seperti binatang itu sudah mempermalukan harga diri Keluarga Burton kita. Sekarang, kamu justru menyuruh Dewi untuk melahirkan anaknya. Kalau sampai orang luar tahu, bagaimana dengan harga diri Keluarga Burton kita?”
“Betul. Yanto, kamu harus mempertimbangkannya lagi,” ucap Doni yang terlihat sedikit panik.
Doni sangat tegang dalam hati. Kalau sampai anak ini lahir, kemudian melakukan tes DNA, bukankah dirinya akan ketahuan.
Jadi, dia harus menghentikannya.
Jeslin juga sama.
Kalau sampai semua orang tahu kebenarannya, Doni pasti akan habis. Sampai saat itu, Doni yang kehilangan kekuasaan akan membuat hidupnya menderita.
“Kakak, kakak ipar!” Yanto tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, “Lebih baik anaknya dilahirkan saja. Aku sudah memutuskannya. Kalian juga tidak perlu menasehatiku lagi.”
Semua orang saling bertatapan, lalu melihat ke arah Dewi.
“Dewi, kenapa kamu ikut bertingkah bodoh seperti Yanto? Cepat nasehati dia! Anakmu ini adalah anak haram Arief,” ucap Jeslin dengan panik.
Dewi menggigit bibirnya dan berkata, “Kakak ipar, kalian tidak perlu khawatir. Aku dan Yanto sudah mendiskusikannya. Bagaimanapun, anak ini tidak bersalah.”
Setelah itu, Dewi pun menunduk, menggigit bibir dan melanjutkan, “Lalu, anak ini juga termasuk darah daging Keluarga Burton ….”
Ekspresi anggota Keluarga Burton lainnya di sekitar juga sangat menarik. Lalu, mereka mulai marah lagi dengan kesal.
“Aduh, benar-benar dosa!”
“Semua karena Arief. Kenapa Yanto harus menanggung dosa Arief? Dia harus mati!”
__ADS_1
“Semua keluarga Arief pantas mati.”
…
Perusahaan Net Media, ruangan presiden direktur.
Sekretarisnya, Siska, telah mendaftarkan sebuah perusahaan real estate. Nama perusahaan itu adalah Perusahaan Angin Real Estate. Walaupun namanya sedikit lemah, tetap saja mudah diingat.
Setelah Siska pergi, Arief segera mengeluarkan pedang kuno itu.
Meskipun itu adalah harta karun yang ditemukan di tempat jualan, dia selalu berpikir pedang ini bagus. Hanya saja karatnya sangat parah sehingga perlu dibersihkan.
Sambil berpikir sendiri, Arief masuk ke kamar mandi dan mendapatkan wol baja. Dia mulai menyalakan kran dan menggosok pedangnya.
Hanya saja karat di atasnya terlalu sulit untuk dihilangkan.
Sialan, apa yang terjadi?
Arief menggosok pedang kuno dengan sangat kuat. Namun, karat di atas pedang itu tidak bisa dihilangkan.
Aduh, habislah! Sepertinya dia sudah salah menilainya, pedang ini tidak berharga. Arief menghela napas. Lalu saat ini, dia menggores jarinya karena tidak hati-hati.
“Sialan!”
Berkarat saja masih begitu tajam. Darah segera pun menetes di bilah pedang.
“Ong!
Namun, pada saat ini, sebelum tetesan darah sempat menyebar, sudah diserap ke dalam pedang kuno. Lalu, dari tubuh pedang memancarkan cahaya merah darah dan menyinari seluruh kamar mandi menjadi warna merah.
Krak! Krak!
Karatan mulai pecah sendiri dan hilang semua pada akhirnya.
Sampai saat ini, dia akhirnya bisa melihat wujud asli pedang ini.
Di sisi bilahnya, terukir tiga kata, “Pedang Haus Darah.”
Apa … apa yang terjadi?
Arief tertegun. Ketika belum sempat merespons, sebuah suara tiba-tiba masuk ke benaknya. “Pedang Haus Darah berhasil mengenali pemiliknya. Level Pedang Haus Darah saat ini, tingkat merah tahap pertama.”
Sialan, ternyata senjata juga mempunyai level sendiri. Apakah tingkat merah tahap pertama sangat kuat?
Arief yang senang langsung mengeluarkan ponsel dan menelepon Debora.
Dia adalah kakak senior di Sekte Bulan Sabit, pasti tahu lebih banyak hal.
Setelah teleponnya tersambung, Arief langsung bertanya, “Bu polisi, apakah senjata juga memiliki tingkatan?”
Setelah beberapa hari tidak meneleponnya, dia tidak menyangka Arief akan bertanya setelah teleponnya diangkat.
Debora mengangguk. “Betul. Senjata juga memiliki tingkatannya. Apakah kamu mendapatkan senjata?”
Arief tersenyum, “Aku mendapatkan sebuah pedang yang terasa aneh. Jadi, aku ingin bertanya tentang pembagian tingkatan dalam senjata.”
Setelah mendengarnya, Debora pun tersenyum dan berkata, “Kenapa aku harus memberitahumu?”
Uh ….
Debora tersenyum dan berkata, “Panggil Kakak yang baik, maka aku akan memberitahumu.”
Wanita ini benar-benar pendendam.
Debora masih ingat ketika Arief menyuruhnya memanggil kakak yang baik di depan aula Sekte Minglahi.
__ADS_1
Arief tak berdaya dan merasa sulit mengatakannya.
“Ini … apakah aku boleh mentraktirmu?” tanya Arief.
“Tidak malu! Panggil Kakak dulu, kalau tidak, aku akan mematikan panggilannya,” ucap Debora dengan tegas.
Wanita ini!
Walaupun tidak enak, rasa penasaran setelah melihat pedang antik di tangannya membuat Arief menghela napas dan berbisik, “Kakak yang baik.”
“Siapa yang bisa mendengar bisikanmu ini?” tanya Debora sambil tersenyum. “Yang keras.”
“Kakak yang baik,” ucap Arief dengan nada keras dan tak berdaya.
“Baguslah! Aku akan memberitahumu karena melihat ketulusanmu. Senjata kultivator dibagi tujuh tingkat. Semuanya dibagi berdasarkan warna, dari paling kecil ke yang besar. Merah, jingga, kuning, hijau, biru muda, biru tua, ungu. Setiap tingkat memiliki lima tahap.”
Sialan!
Setelah semua ini, ternyata Pedang Haus Darah yang berada di tingkat merah tahap pertama termasuk yang paling rendah.Sialan!
Setelah mendengarnya, Arief menatap pedang kuno di tangannya dan merasa depresi.
Lalu, Debora kembali melanjutkan, “Walaupun hanya tingkat merah tahap pertama, juga lebih kuat dari senjata biasa. Lalu, ada senjata yang memiliki kekuatan bawaan, apakah kamu ingin membawanya kemari untuk aku lihat?”
“Boleh. Kamu di mana sekarang?” tanya Arief.
“Aku sedang di bank sekarang. Kemarilah,” jawab Debora. Lalu, dia juga memberi tahu Arief lokasi bank tersebut.
Di depan pintu masuk bank.
Agar tidak menarik perhatian, Arief meletakkan pedang kuno di dalam mobil ketika turun.
Orang yang datang ke bank sangat banyak, sehingga mereka semua harus antri.
Debora mengatakan bahwa dia sedang mengurus hal khusus, jadi setelah memasuki lobi, Arief langsung berjalan ke area VIP.
Setelah dua langkah, dia dihentikan oleh seorang wanita yang mengenakan seragam bank.
“Pak, butuh bantuan?” Setelah menghentikan Arief, wanita itu menunjukkan senyum profesional.
Wanita ini terlihat baik, dan terlihat sangat cantik di bawah seragam profesionalnya.
Arief tersenyum. "Aku sedang mencari seseorang. Temanku sedang berada di dalam sini.”
Temanmu?
Mengenakan pakaian biasa seperti itu, dia pasti orang kantoran. Bagaimana bisa dibiarkan memasuki area VIP?
Wanita itu tersenyum sedikit, tetapi tidak bisa menyembunyikan ketidakpedulian di matanya. "Maaf, tempat ini area VIP, dan Anda tidak bisa masuk dengan santai. Jika ingin mencari seseorang, tunggu saja di lobi luar."
Arief tertegun dan kemudian menggaruk kepalanya. “Kalau begitu … aku juga butuh mengurusi sesuatu.”
Wanita itu tetap tersenyum walaupun sudah mulai kesal. “Kalau ingin mengurus sesuatu, silakan ke konter depan. Di lobi luar juga ada mesin ATM. Kami tidak menerima nasabah biasa di area VIP.”
Perlu diketahui, semua nasabah VIP minimal harus memiliki tabungan 2 miliar.
Pria di depannya ini bahkan tidak punya 200 juta.
“Bagaimana kalau aku ingin ambil uang?”
Arief menahan rasa kesalnya dan berkata dengan perlahan.
Wanita itu pun menghela napas, mengerutkan kening dan berkata, “Pak, aku sudah bilang kalau tarik atau setor uang dapat dilakukan di luar sana. Kamu dapat menarik beberapa juta di mesin ATM juga.”
Kenapa dengan orang ini? Apa otaknya bermasalah dan sengaja membuat kekacauan di bank?
__ADS_1
Kenapa dia tidak berkaca dulu dengan penampilannya sendiri? Berdiri di depan area VIP benar-benar mempengaruhi citra bank.
Ekspresi Tina sudah terlihat kesal. Setiap hari dia akan selalu bertemu orang seperti ini yang mencari masalah dan menghabiskan waktunya.