
Perusahaan Net Media, ruangan presiden direktur.
Setelah tiga jam pemurnian, Pil Dewa akhirnya berhasil dimurnikan. Lalu, setelah pengalaman dua kali sebelumnya, Arief semakin mahir dalam memurnikan Pil Dewa.
Kali ini, dia berhasil memurnikan lima buah pil sekaligus.
Setelah mendapatkan Pil Dewa, telepon Arief tiba-tiba berdering.
Apa yang terjadi hari ini? Kenapa selalu ada yang meneleponku?
Apakah ada yang datang membeli Pil Dewa lagi?
Sebenarnya, Guntur memberi tahu hal ini kepada berapa orang?
Ketika melihat nomor telepon dari pesawat telepon, Arief mengerutkan kening sebelum menjawabnya.
“Halo, dengan Arief? Saya dari Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Kota, orang tua Anda sedang berada di rumah sakit dan membutuhkan tindakan operasi secepat mungkin. Mohon Anda segera kemari,” ucap seseorang dari ujung telepon dengan cepat.
Apa?
Arief tercengang dan mengira dia salah dengar.
“Apa katamu? Kenapa dengan orang tuaku?” tanya Arief dengan suara keras.
Suara orang di ujung telepon terdengar kesal. “Kenapa kamu berteriak? Lalu, aku tidak pernah melihat anak sepertimu. Ayahmu terkena serangan jantung dan masih dalam kondisi kritis. Kamu langsung pergi setelah membawa orangnya ke sini. Kamu menganggap tempat kami ini sebagai tempat apa? Panti asuhan gratis? Cepat kemari!”
Setelah itu, orangnya langsung memutuskan panggilan telepon.
Arief tidak berpikir lebih jauh. Dia segera keluar dari ruangan kantor, turun ke bawah dan mengemudikan mobil ke arah rumah sakit.
…
Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Kota.
Siti sudah sadar kembali.
Kondisi Ihsan lebih parah dan membutuhkan tindakan operasi. Hanya saja karena belum bayar biaya rumah sakit, Ihsan pun didorong keluar dan berada di lorong rumah sakit.
“Aku mohon, tolong selamatkan dia.” Siti terus menangis. “Kami pasti akan membayar biaya rumah sakit. Tolong selamatkan orangnya dulu ….”
Setelah tinggal tiga tahun di pedesaan, Ihsan dan istrinya tidak memiliki pemasukan sama sekali. Tabungan mereka juga tidak cukup membayar biaya rumah sakit. Dokter menyuruh mereka bayar dulu sebelum melakukan tindakan operasi. Para tenaga medis di sekitar sana juga menunjukkan ekspresi dingin.
“Aku mohon, tolong selamatkan dia dulu. Uangnya akan segera diantar sebentar lagi.” Siti berkata sambil menangis.
Salah satu perawat akhirnya tidak tahan, dia pun berkata sambil mengerutkan kening, “Kenapa dengan ibu ini? Aku sudah bilang kalau tidak bisa melakukan tindakan operasi sebelum melakukan pembayaran.”
Melihat pakaian kedua orang ini, perawat itu berasumsi bahwa dua orang ini tidak sanggup bayar.
Lalu, perawat itu sudah sering mendengar ucapan seperti Siti yang menyuruh mereka melakukan tindakan dulu dan akan dibayar kemudian.
“Kalau ada waktu, segera pergi kumpulkan uangnya. Tidak ada gunanya kamu berteriak di sini,” ucap perawat itu dengan kesal.
“Anakku akan segera datang. Tolong selamatkan orangnya dulu,” ucap Siti yang merasa sangat sedih.
“Anakmu?” Perawat itu pun tersenyum.
Anaknya mungkin juga orang miskin. Melihat pakaian dua orang ini, sepertinya mereka menjahit sendiri di pedesaan. Mereka yang tidak sanggup membeli baju, anaknya juga pasti tidak sanggup membayar biaya rumah sakit.
“Arief!” Saat ini, Siti melihat Arief berlari kemari. Wajahnya menunjukkan sedikit kegembiraan, tetapi dia segera berkata dengan panik, “Cepat, cepat selamatkan Ayahmu.”
__ADS_1
“Ibu, aku sudah datang.” Arief yang basah kuyup karena keringat, langsung berbalik dan berkata kepada perawat itu, “Kenapa tidak segera melakukan tindakan operasi?”
Sialan! Nyawa lebih penting, apakah mereka tidak akan melakukan tindakan operasi sebelum dibayar?
Perawat meliriknya dan berkata dengan datar, “Kalau tidak bayar, kami tidak akan melakukannya. Ini merupakan peraturan rumah sakit.”
Arief berkata dengan dingin. “Aku pasti akan membayarnya. Sekarang, segera bawa Ayahku untuk dioperasi.”
“Kamu yang bayar?” Perawat itu memperhatikan Arief sebentar dan tidak bisa menahan tawanya. “Apakah kamu tahu seberapa parah kondisi Ayahmu setelah dibuat kesal? Apakah kamu tahu berapa biaya tindakan operasinya? 1,4 miliar lebih! Apakah kamu sanggup membayarnya? Tadi itu Ibumu, ‘kan? Aku sudah menyuruhmu pergi mengumpulkan uang, tetapi dia justru terus menggangguku di sini. Sekarang datang orang yang sama lagi seperti dia.”
“Hanya 1,4 miliar lebih?”
“Hanya karena 1,4 miliar, kalian membiarkan pasien begitu saja karena menganggap kami tidak sanggup bayar?”
Suara Arief terdengar sangat dingin!
Perawat itu pun takut melihat ekspresinya. Namun, dia tetap cemberut dan menyindirnya, “Kenapa kamu memelototiku? Apakah kamu ingin menyerangku? Apakah kamu menyangkal dikritik orang lain karena lemah?”
“Aku bilang selamatkan pasiennya!” ucap Arief dengan tegas dan kedua mata yang memerah.
“Kenapa dengan kamu ini?” Perawat pun memelototinya dan berkata, “Kamu harus bayar kalau ingin diselamatkan! Apakah kamu tidak mengerti bahasa manusia? Lihat saja keluar jendela, semua orang sedang antri. Kalau kamu tidak antri sekarang juga, Ayahmu tidak akan selamat. Walaupun kamu membayarnya sekarang juga, belum tentu Ayahmu akan selamat.”
“Selamatkan pasiennya! Berengsek!” teriak Arief dengan keras.
“Krak!”
Tenaga dalam yang besar menyembur keluar dari pusat energinya dan menggetarkan lantai dua rumah sakit ini. Semua jendela di sekitar sana pun pecah karena getaran ini.
Hening!
Rumah sakit yang besar ini menjadi sangat hening.
“Apa yang kamu lakukan? Satpam! Cepat panggil satpam dan usir mereka bertiga dari sini.” Perawat itu jelas tercengang dan ketakutan. Namun, dia melihat jelas Arief memakai pakaian murahan, sehingga dia menganggap Arief sedang menggertak.
“Iya. Kenapa kamu berteriak di rumah sakit?”
“Sudah miskin, tetapi masih berharap rumah sakit kami menyelamatkan orang dengan gratis?”
Beberapa dokter juga maju ke depan dan berbicara karena tidak senang.
Setelah itu, belasan satpam bergegas kemari dengan wajah garang. Walaupun mereka memakai pakaian satpam, semuanya terlihat cukup kekar dan besar. Ekspresi mereka yang garang menunjukkan kalau mereka pernah menjadi preman.
Setelah melihat belasan satpam yang datang, perawat itu segera mendengus dingin dan berkata kepada sambil menunjuk Arief. “Orang ini yang sedang mengacau.”
Satpam di rumah sakit ketiga Kota Malang ini berasal dari Perusahaan Keamanan Serigala Hitam.
Siapa bos dari Perusahaan Keamanan Serigala Hitam? Guntur dan Novia.
Kedua kakak adik ini sangat terkenal di Kota Malang! Semua preman juga menakuti kakak adik ini.
Perusahaan Keamanan Serigala Hitam mendapatkan kontrak proyek satpam di sejumlah besar tempat di Kota Malang. Siapa yang berani membuat masalah di sini?
Ketua satpam, John berjalan kemari dan menarik keluar tongkatnya. Ketika sampai di samping Arief, John justru tercengang.
“Kak John, ini orangnya!”
Perawat itu berteriak, “Dia tidak punya uang untuk berobat, tetapi terus mengacau di sini.”
Hah?
__ADS_1
John mengira dirinya salah lihat.
Sialan! Bukankah orang ini adalah orang yang dia lihat di acara pernikahan ketika mengikuti bosnya?
Bukankah dia bernama Arief? Tuan Muda Kedua Keluarga Burton! Orang yang menyelamatkan bosnya!
Dia juga pernah mendengar dari bosnya bahwa Arief memiliki pil yang ajaib, Pil Dewa. Pil ini dapat membantu orang menembus hambatan. Dia menjual sebutir pil itu kepada Guntur seharga 4 triliun!
Dia juga mendengar dari bos bahwa Guntur telah menembus hambatannya.
“Kak John, usir dia dari sini,” ucap perawat dengan nada dingin.
“Diam kamu!” teriak John dengan keras. Suaranya cukup membuat perawat muda ini tercengang.
“Kak Arief.” John maju selangkah dan berkata dengan hormat. “Kak Arief. Maaf, perawat ini tidak mengenali Anda ….”
Arief mengerutkan keningnya, Dia tidak mengenal John yang di depan mata ini, kenapa dia memanggil dirinya Kak Arief?
Sebenarnya wajar Arief tidak mengenalnya. Orang yang menghadiri pernikahan terlalu banyak, karakter kecil seperti John tidak punya hak untuk berbicara.
“Arief?”
Saat ini, terdengar suara yang lembut.
Saat berbalik, dia melihat seorang dokter wanita cantik berdiri di sana dan menatapnya dengan tatapan aneh.
Walaupun dia sudah memakai jubah dokter, tubuhnya yang seksi juga tidak bisa tertutupi.
Dokter wanita ini terlihat sedikit familier, bukankah dia adalah dokter wanita genius yang berada di pernikahan Yanto? Lisa!
Betul, Lisa dijuluki dokter genius wanita. Namun, saat berada di acara pernikahan, dia tidak bisa menyelamatkan Novia dengan keterampilan medisnya. Lalu, Arief justru bisa menyadarkan Novia.
Kejadian itu telah berlalu beberapa hari, Lisa tetap merasa penasaran dengan pria ini.
Lisa juga menyadari Ayahnya Arief yang jelas terkena serangan jantung berbaring di sana.
Saat ini, beberapa orang juga ikut mengerumuni dan salah dua dari mereka juga mengenali Arief.
“Bukankah orang ini adalah menantu Keluarga Kimberly?”
“Kedua orang di sampingnya itu adalah orang tuanya?”
“Ckck, Ayahnya sudah seperti itu, tetapi dia tidak sanggup membayar biaya rumah sakit. Huh ….”
“Sudahlah, mereka juga sangat kasihan.”
“Hehe. Orang yang kasihan pasti karena dibenci.”
Ekspresi Arief terlihat marah, tetapi dia tidak memedulikan semua ucapan basa basi itu. Dia melihat ke arah Lisa dan bertanya, “Dokter Lisa, bagaimana dengan kondisi Ayahku?”
“Kondisi pasien tidak stabil dan harus segera dioperasi,” jawab Lisa dengan ekspresi serius setelah memeriksa kondisinya.
Arief langsung panik. “Kalau begitu, mohon bantuan Dokter Lisa.”
Lisa mengiyakan, kemudian menyuruh perawat di samping untuk mendorong pasien ke dalam ruangan operasi.
“Dokter Lisa, dia masih belum bayar,” ucap perawat itu karena tidak bisa menahan diri. Dia memperhatikan Arief dari atas ke bawah dengan tatapan sinis.
Kenapa orang miskin ini bisa mengenal Dokter Lisa? Tidak tahu bagaimana cara dia menyakinkan Dokter Lisa untuk menyelamatkan orang tanpa melakukan pembayaran dulu.
__ADS_1