Menantu Yang Menyembunyikan Identitas

Menantu Yang Menyembunyikan Identitas
Bab 53 Kamu Bahkan Berani Datang Ke Tempat ini


__ADS_3

“Plak! Plak! Plak!”


Setiap kali Arief menampar, semua orang di sekitar ketakutan. Seluruh vila Keluarga Kimberly menjadi sunyi.


Akhirnya, dua mobil polisi berhenti di gerbang vila.


Debora, yang mengenakan seragam polisi, turun dari mobil bersama beberapa petugas polisi.


Memasuki pintu, Debora mengerutkan kening saat melihat pemandangan di depannya.


“Berhenti!” ucap seorang polisi sambil melangkah maju.


Arief menghentikan tamparannya, berdiri perlahan, dan menggerakkan pergelangan tangannya.


Melihat itu Arief, Debora melangkah maju.


“Siapa yang lapor polisi tadi?” tanya polisi itu sambil mengeluarkan buku catatan dan melihat sekeliling.


Nita yang baru sadar segera berjalan mendekat, “Ya … aku yang lapor polisi.”


“Kamu bilang ada yang memukuli suamimu? Apakah ini suamimu yang tergeletak di lantai?” tanya polisi sambil membuat catatan. Polisi itu menunjuk Lukas yang tergeletak di lantai dan dipukul hingga tak bisa dikenali.


“Tidak tidak, dia ... dia bukan suamiku.”


Nita cepat-cepat menggelengkan kepalanya, lalu melirik Arief, dan berbisik, “Dia ….”


Setelah itu, Nita langsung menundukkan kepala dengan wajah yang memerah.


Melihat Nita mengakui dirinya sebagai suami di hadapan orang-orang, Arief merasa sangat senang.


Polisi itu menelan ludah dan memperhatikan Arief diam-diam.


Pria ini … sanggup memukuli Lukas dan membuatnya tidak berdaya?


Pada saat ini, Lukas yang terbaring di lantai langsung berteriak, “Pak Polisi, kalian harus membantuku. Bocah ini sudah gila ….”


Lukas yang dipukuli oleh seorang menantu tidak berguna sudah merasa sedih. Ketika melihat polisi datang, dia segera mengeluarkan semua kekesalannya.


Debora memelototinya dan berkata, “Sudah. Ikut aku pulang untuk membuat catatan.”


Lukas langsung menutup mulutnya dan menatap Arief dengan kesal.


“Kamu tinggal dan kumpulkan kesaksian semua orang yang hadir,” kata Debora kepada petugas polisi yang sedang mencatat. Kemudian, dia berbalik dan menatap Arief, “Kamu juga ikut kami.”


Arief mengangguk.


Wajah Nita berubah, dia menatap Arief dengan cemas, dan berkata dengan lembut, “Aku ikut denganmu.”


Arief tertawa dan menggelengkan kepalanya, “Jangan khawatir, aku baik-baik saja. Aku yakin Ibu Debora juga akan menegakkan hukum dengan tidak memihak.”


Mendengar itu, Nita sedikit lega.


Di luar vila, Arief masuk ke mobil polisi dengan hanya dia dan Debora di dalam mobil. Debora sedang mengemudi, tapi arah tujuannya bukan ke kantor polisi.

__ADS_1


“Bukankah kita akan merekam kesaksian?” tanya Arief.


Debora meliriknya dan berkata perlahan, “Lukas selalu bertindak dengan cara yang menonjol, dan dia terbiasa sombong dan mendominasi. Kita tidak perlu menebak kalau itu pasti salahnya. Aku akan menyuruh bawahanku untuk mengambil rekaman kamera pengawas, setelah itu semuanya akan jelas.”


Arief tersenyum dan mengangguk, “Kapten Debora benar-benar cerdas.”


Debora melirik ke arahnya dan berkata dengan marah,, “Jangan bercanda denganku, aku baru saja melihatnya, kamu sekarang seorang kultivator, ‘kan?”


Arief tidak menyembunyikannya dan mengangguk, “Tingkat Guru kedua.”


Debora tiba-tiba menjadi tertarik.


Bisa menjadi kultivator dalam beberapa hari, kemudian mencapai Tingkat Guru kedua, pasti karena bertemu sesuatu yang istimewa.


“Arief, jujur kepadaku. Apakah kamu masih memiliki Pil Dewa yang kamu berikan sebelumnya?” tanya Debora.


Arief tersenyum dan berkata, “Kapten Debora, aku sudah memberikan satu kepadamu. Aku juga ingat, ketika aku memberikan Pil Dewa kepadamu, kamu juga memberi tahu bahwa, jangan sembarangan memberikan Pil Dewa ini kepada orang lain.”


Wajah Debora menjadi merah. “Itu … itu karena aku tidak menyangka Pil Dewa begitu hebat. Aku punya seorang teman yang juga berhenti di Tingkat Guru kelima dalam waktu yang lama. Kalau kamu masih punya, apakah kamu boleh memberikan satu kepadaku?”


Arief merenggangkan tubuhnya dan berkata dengan santai, “Apa hubungan temanmu denganku?”


Meskipun Pil Dewa ini, pemurniannya sangat sederhana, Arief tidak bisa memberikannya begitu saja. Perlu diketahui, Arief menjual Pil Dewa senilai 4 triliun dan satu cincin ibu jari antik kepada Guntur.


Melihat penolakan Arief, Debora menggigit bibirnya dan terlihat tidak senang.


Sebagai polisi cantik yang terkenal di kantor polisi, dan kapten tim investigasi kriminal, semua pria selalu menurutinya.


Namun, Arief ini sungguh berbeda, dia memiliki Pil Dewa, lalu mencapai Tingkat Guru kedua dalam waktu singkat.


Sambil berpikir dalam hatinya, nada suara Debora menjadi lebih lembut, “Bagaimana agar kamu mau memberikannya kepadaku?”


Saat itu Debora mengenakan seragam polisi, tetapi sulit untuk menyembunyikan sosok cantiknya. Arief tersenyum dan berkata, “Nah, katakan padaku sesuatu yang baik dan pujilah aku. Mungkin aku akan memberikannya kepadamu setelah aku merasa bahagia, tetapi kamu harus tulus dan tidak asal bicara.”


Tubuh Debora bergetar.


Arief benar-benar keterlaluan!


Sifat Debora tidak rendah hati atau sombong, kapan dia pernah memohon kepada orang lain?


Debora memperlambat laju mobil dan menggigit bibirnya erat-erat.


Setelah beberapa detik, Debora akhirnya mengalah. “Arief, kamu … kamu adalah pria paling tampan yang pernah aku lihat. Tolong berikan satu lagi kepadaku, boleh?”


Arief tertawa terbahak-bahak. Tidak bisa dipungkiri, wanita cantik dan sombong seperti Debora, terlihat sangat menggoda ketika bersikap lembut.


Bahkan Arief juga tidak bisa menahan diri.


“Baik, baik. Ini satu lagi untukmu.”


Pada saat ini, Arief merasa sangat senang. Dia mengeluarkan sebutir Pil Dewa.


“Terima kasih,” ucap Debora yang terlihat senang ketika menerima Pil Dewa itu. Dia segera menghubungi sebuah nomor.

__ADS_1


“Halo, aku sudah mendapatkan Pil Dewa yang kamu mau,” ucap Debora. “Apa kamu akan datang mengambilnya?”


Tidak tahu apa yang diucapkan oleh orang di seberang telepon. Debora hanya mengangguk dan memutuskan teleponnya.


“Arief, temanku ada di Hotel Royal. Bagaimana kalau kita mencarinya?” kata Debora. “Biarkan dia mengucapkan terima kasih secara langsung.”


"Oke." Arief mengangguk.


Sampai di Hotel Royal, Debora membawa Arief dan langsung menuju ke ruangan mewah di lantai dua.


Di dalam ruangan itu, ada beberapa pasangan, dan Arief pernah melihat beberapa pria itu. Mereka adalah penduduk lokal generasi kedua yang kaya di Kota Malang, mereka pernah menghadiri pertemuan tahunan bisnis Keluarga Kimberly. Meski berlatar belakang keluarga lebih unggul, beberapa generasi kedua yang kaya tidak memiliki pekerjaan dan merupakan pria hidung belang.


Ketika Debora masuk, seorang pria di dalam ruangan berdiri dan tertawa. “Ayo, izinkan aku memperkenalkan kepada kalian, ini pacarku, Debora. Dia membawa Pil Dewa hari ini, yang akan memungkinkan aku untuk naik ke Tingkat Jenderal!”


Apa? Arief tercengang.


Sialan! Debora menginginkan Pil Dewa untuk bocah ini? Apakah bocah ini pacar Debora?


Sialan, bocah ini bernama Hendry. Dia adalah Tuan Muda dari Grup Damai Sentosa. Walaupun keluarganya kaya, dia adalah seorang bocah keras kepala.


Seorang wanita cantik seperti Debora, kenapa bisa menemukan pacar seperti dia?


Pada saat ini, Hendry hendak memegang tangan Debora, tetapi dia dengan lembut menepisnya: "Hendry, ada banyak orang di sini, jangan tarik, itu tidak akan memengaruhimu dengan baik."


Hendry tersenyum dan berkata kepada semua orang, “Teman-teman, pacarku memang seperti ini. Biasanya hanya membiarkanku berpegangan tangan, bahkan tidak boleh berciuman. Dia hanya akan memberikan dirinya kepadaku setelah menikah. Jangan menertawakanku. Hahaha!”


“Kak Hendry, Kakar ipar benar-benar hebat.” pada saat ini, beberapa orang di sekitar berkata, “Kakak ipar sangat cantik dan juga lembut. Kak Hendry, kamu sangat beruntung. Haha!”


Suasana di dalam ruangan sangat ramai. Sehingga tidak tahu siapa yang tiba-tiba berkata.


“Sialan! Bukankah itu menantu tidak berguna dari Keluarga Kimberly?”


Ucapan itu membuat semua orang menatap ke Arief.


“Kenapa sampah ini berada di sini?”


“Iya, kenapa sampah seperti dia bisa datang ke tempat ini?”


Beberapa pria terus berbicara, bahkan Hendry juga mengerutkan keningnya. “Ternyata memang menantu tidak berguna itu. Arief, kamu salah jalan, kan? Cepat pergi dari sini. Tempat ini adalah Hotel Royal, orang sepertimu tidak boleh datang ke sini.”


Betul, bocah ini adalah menantu tidak berguna. Sekarang, Keluarga Kimberly akan segera bangkrut. Mereka sudah menjual setengah dari aset mereka. Apa bocah ini sanggup makan di sini?


Pada saat ini, Debora benar-benar tidak bisa menahan diri lagi. “Hendry, kamu jangan begitu. Dia datang bersamaku, dia adalah temanku.”


Hah?


Orang ini temannya Debora?


Semua orang di dalam ruangan tercengang dan mengira diri mereka salah dengar.


Debora adalah kapten Tim Reserse Kriminal Kota Malang. Arief ini adalah sampah yang tidak berguna. Bagaimana dua orang bisa berteman?


Satunya wanita cantik dan satunya lagi orang tidak berguna.

__ADS_1


__ADS_2