MENCINTAI SESEORANG IBLIS

MENCINTAI SESEORANG IBLIS
PART 10


__ADS_3

Drep!


Shakira menoleh pada Reyhan yang tiba-tiba memeluk nya erat, ia tau kalau Reyhan sangat membenci matahari seperti saat ini. sekarang mereka tampak bersantai-santai dibawah pohon yang rimbun karena cuaca yang tiba-tiba panas sekali.


Ia lalu menoleh pada Reyhan yang tampak menghindari kakinya dari cahaya matahari.


"Shakira, kulit Rey serasa mau terbakar," lirih Reyhan memeluk Shakira lagi sambil menyembunyikan tangannya kedalam bajunya sendiri.


"Terus, gimana? kamu sanggup buat lari ke kosan?"


"Rey gak sanggup," lirih nya jujur membuat Shakira menghela nafas kesal.


"Kamu itu sebenarnya siapa? kenapa takut matahari?"


"Rey manusia kok, sama seperti Shakira," senyum Reyhan dengan wajah mengemaskan nya.


"Gak sembunyikan apa-apa dari aku, kan?"


"Enggak, kenapa?"


"Gak papa, ayo ke kosan karena cuaca udah gak panas lagi,"jelas Shakira sehingga Reyhan mengangguk sambil mengandeng tangan istrinya itu. keduanya lalu berlari menuju kosan yang tak jauh dari mereka.


Sesampai di kosan, Reyhan langsung berhamburan di sofa sambil melihat kedua tangannya yang sudah memerah menahan sakit.


"Huwa, tangan Rey dah merah-merah!" lapor Reyhan beranjak duduk lalu memperlihatkan kedua tangannya yang memerah pada Shakira.


"Nanti sembuh kok," senyum Shakira mengusap kedua tangan suaminya itu pelan, membuat Reyhan terkekeh kecil lalu memeluk wanita itu gemes.


"Rey sayang sama Shakira, jangan tinggalin Rey kalau suatu saat Shakira kecewa sama Rey," jelas Reyhan memeluk istrinya itu.


"Kecewa kenapa?"


"Pokoknya kecewa sama Rey, terus Shakira ninggalin Rey sendiri disini," ungkapnya membuat Shakira makin bingung dengan penuturan Reyhan barusan terhadapnya.


Entah kenapa, ia merasa kalau Reyhan menyembunyikan sesuatu padanya. tapi apa?.


"Kamu jujur sama aku sekarang,"Reyhan lalu menoleh pada Shakira sambil tersenyum tipis.


"Rey ngantuk ya," lirih Reyhan sambil mengusap kedua matanya yang benar-benar berat, sedangkan Shakira mengusap lembut punggung Reyhan supaya pria itu nyaman saat tidur.


Malam harinya, Reyhan tampak asik memakan lengan mangsanya dengan tangan kiri yang masih menarik kaki seorang anak kecil. Reyhan benar-benar menyukai daging anak kecil seperti saat ini.


"Reyhan!"


"Huwa! Abang ngagetin Reyhan aja!" pekik Reyhan membuat Edward menahan tawanya saat ini.


"Maafin, Abang. kau ngapain keluar malam-malam gini?"


"Abang gak lihat kalau Rey asik makan, jadi kotor dagingnya,"kesal Reyhan duduk di jalan membuat Edward merasa bersalah karena sudah membuat adiknya kaget. entah kenapa adiknya itu suka sekali kaget saat ia muncul.

__ADS_1


"Yaudah, Abang cariin anak-anak kayak gitu lagi,"


"Huwa, Rey gak mau! Padahal, Rey udah capek-capek ngejar nih bocah dan sekarang malah kotor!" tangis Reyhan.


"Kalau gitu cuci lagi aja,"


"Hiks kata Mama gak boleh makan-makanan kotor, nanti sakit," isak Reyhan menangis membuat Edward memijat kening nya yang pusing dengan tingkah adik bungsunya itu.


"Nah, itu ada cewek yang keluar malam-malam," tunjuk Edward sehingga Reyhan menoleh sambil mengusap air matanya pelan.


"Hiks itu gak enak hiks, Rey maunya bocil yang keluar malam hiks!" tangis Reyhan lagi, sedangkan Edward kebingungan buat menenangkan adiknya itu.


"Reyhan, kenapa nangis?"Reyhan maupun Edward menoleh pada Mama mereka yang muncul.


"Hiks Mama! Abang ngagetin Rey hiks terus makanan Rey kotor," tangis Reyhan beranjak berdiri dan langsung memeluk Mamanya itu erat.


"Udah, jangan nangis lagi! sekarang kamu pulang sebelum ketauan sama istri kamu," bujuk Mama lembut.


"Hiks hukum Abang,"


"Iya-iya, nanti Mama hukum Abang," senyum Mama mengusap kepala putra bungsunya itu lembut. Reyhan mengangguk lalu menghilang dari sana.


"Gini amat punya adik bungsu yang manja," kesal Edward yang membuat Mama terkekeh kecil.


"Bukannya dulu pengen punya adik, pas udah ada kenapa kesal gitu?"


"Yang penting kamu sayang sama Reyhan,"


"Iya, Ma!" balas Edward tersenyum manis. walau ia kesal dengan sikap manja adiknya itu, ia tetap menyayangi adik bungsunya itu.


Disisi lain, Reyhan tampak hati-hati melewati Shakira yang masih menonton. Ia tak ingin kena omel oleh Shakira karena keluar malam-malam.


"Darimana, Reyhan?"Reyhan sontak menoleh pada Shakira yang menatapnya tajam sekali.


"Tadi Rey mau cari jajan diluar. tapi, gak ada satupun yang jualan," bohongnya sambil tersenyum manis.


"Ini sudah jam 12 malam, Reyhan. mana ada yang jualan jam segini? cemilan kamu juga banyak dikamar, aku gak suka kalau kamu keluar malam kayak gini!" omel Shakira sehingga Reyhan menunduk saat Shakira mendekat.


"Ini darah apaan di mulut kamu?".Reyhan langsung mengusap bibirnya yang membuat Shakira menatap tajam.


"Sekarang jawab dengan jujur! tadi kamu kemana dan itu darah apa di mulut kamu?" tanya Shakira penasaran.


"It-Itu cuman saos, Rey tadi minta cemilan Abang,"


"Jangan berbohong, Sayang! itu pasti darah karena baunya amis,"


"Hiks Shakira udah gak percaya sama Rey lagi?" tangisnya pecah karena tak sanggup menahan air matanya lagi. Ia paling tak suka di introgasi seperti ini terus.


"Bukan aku tak percaya, kamu itu selalu bohong sama aku,"ucap Shakira mengusap air mata Reyhan yang terus mengalir di pipinya.

__ADS_1


"Hiks kalau Rey jujur sekarang, Shakira pasti cari suami baru, kan?" tangis Reyhan sambil mengusap air matanya sendiri.


"Gak bakalan kok, sekarang kamu jujur sama aku," bujuk Shakira memeluk Reyhan membuat pria itu terdiam beberapa saat.


"Rey bukan manusia seperti Shakira,"


Deg!


Shakira sontak melepaskan pelukannya dari Reyhan sehingga pria itu menoleh.


"Rey adalah iblis, Rey suka memakan manusia," ungkap Reyhan jujur yang membuat Shakira kaget sekali, ia tak menyangka mempunyai suami seorang iblis. Ia sama sekali tak bisa berkata-kata lagi untuk membalas penuturan suaminya itu.


Reyhan hendak menyentuh tangan Shakira tapi wanita itu langsung mundur, membuat Reyhan makin sedih.


"Rey udah gak dibutuhkan lagi ya? Rey udah ikhlas," lirih Reyhan lalu menghilang dari hadapan Shakira sedangkan wanita itu hanya diam tak merespon kepergian Reyhan.


***


"Dek, tumben kesini? nanti dicariin sama istri kamu," jelas Edward yang asik ngemil diruang tamu sehingga Reyhan menoleh sekilas.


"Rey mau tinggal disini," balas Reyhan bergegas menuju kamar yang membuat Edward kebingungan sekali.


Ia langsung menuju kamar sang adik dan melihat Reyhan yang duduk di tepi tempat tidur dengan tatapan kosong, ia juga kesulitan buat membaca masalah yang dihadapi adiknya itu karena Reyhan begitu pintar menyembunyikan masalah.


"Dek, kamu kenapa? kamu ada masalah?"


"Rey gak papa kok, Bang. owh iya, besok kalian mau pindah dari kota ini, bukan? Rey mau ikut," pinta Reyhan menoleh.


"Dek, kau harus jujur sama Abang, kamu kenapa?"


"Rey gak papa kok, Bang. Rey mau tidur dulu," jelas Reyhan lalu membaringkan tubuhnya di kasur membuat Edward terdiam menatap adiknya yabg sudah tertidur tersebut.


Kekuatannya tak sekuat Reyhan sehingga ia kesulitan buat membaca masalah pribadi adiknya itu apalagi Mama dan Papa mereka juga kesulitan menyeimbangkan kekuatan mereka dengan Reyhan.


"Tidur yang nyenyak," pasrah Edward mengusap lembut kepala adik bungsunya itu dan bergegas keluar dari kamar tersebut. karena besok adalah keberangkatan mereka untuk melindungi diri dari musuh mereka.


"Kenapa adik kamu cemberut gitu?"Edward menoleh pada Papanya yang mendekat.


"Gak tau, Pa. aku gak bisa baca masalahnya," ungkap Edward jujur sehingga Papa menghela nafas panjang.


"Adikmu itu selalu menyembunyikan masalahnya terus, apa salahnya jujur sama kita,"


"Apa ini ada hubungannya dengan istrinya, Pa? soalnya Reyhan juga ingin ikut kita buat pindah dari kota ini," jelas Edward yakin.


"Sepertinya gitu, kau tidurlah dan besok pagi kita berangkat,"Edward mengangguk lalu menuju kamarnya untuk beristirahat.


apalagi besok adalah perjalanan yang panjang buat menghindari kejaran musuh yang menginginkan kekuatan yang dimiliki keluarganya, khususnya Reyhan.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2