
Malam harinya, mereka semua tampak asik menyantap makanan masing-masing sambil mengobrol kecil. sedangkan si kembar menatap tak suka pada Queen yang selalu menertawakan mereka karena mereka di kejar-kejar sambil menakuti mereka menggunakan cicak.
Walau hewan itu tak menakutkan tapi mereka hanya geli saja melihatnya.
"Kalian kenapa cemberut gitu wajahnya?" tanya Elsa penasaran membuat si kembar menoleh.
"Queen kerjain kami mengunakan cicak terus kejar kami ampe masuk kolam," lapor Alda jujur.
Elsa yang mendengar itu sontak menahan tawanya yang membuat si kembar memanyunkan bibir mereka karena kesal, sekarang malah Mama yang menertawakan mereka. Reyhan juga terlihat menahan tawanya juga.
"Anak Mama takut sama cicak rupanya, sini Mama peluk,"kekeh Elsa sehingga si kembar beranjak dari kursi dan bergegas memeluk Elsa membuat Elsa terkekeh pelan dengan ketiga putranya, ia masih teringat dengan mimpi buruknya yang membuatnya trauma berat.
"Baby, mereka bertiga sangat mirip dengan kamu," jelas Elsa sehingga Reyhan yang menyuapi Alia pun menoleh.
"Karena mereka anak kandungku, makanya mirip," balas Reyhan dengan entengnya.
"Nah betul!" balas si kembar tersenyum.
"Lanjuti makan kalian dan gak usah peluk-peluk istrinya Papa,"kesal Reyhan membuat si kembar mempererat pelukan mereka pada Elsa.
"Peluk Mama itu enak," balas Alda dengan polosnya membuat Reyhan benar-benar kesal sekali.
"Lepasin istri Papa atau Papa hukum kalian?" ancam Reyhan membuat si kembar langsung menuju kursi masing-masing karena takut dihukum sama Papa mereka.
'Benar-Benar kelurga unik, apa orang tua si kembar melakukan perawatan sehingga mereka muda?' batin Queen bingung, sedangkan Reyhan yang mendengar kata hati Queen hanya memilih diam dan kembali melanjutkan sarapannya.
"Queen, apa kamu sanggup memiliki tiga suami sekaligus? soalnya, si kembar gak suka dipisahin kalau dipilih salah satu dari mereka." jelas Elsa lembut membuat Queen terdiam lalu menoleh pada si kembar.
"Kalau bisa milih tiga, ngapain satu, Tante. kalau soal sanggup, aku sih sanggup-sanggupin aja," kekeh Queen membuat Elsa tersenyum tipis, ia bukannya tak mau menerima Queen, tapi mengingat ketiga putranya itu polos dan bandel, apa sanggup merawat si kembar yang terkenal akan tingkahnya.
"Elsa, dia pasti bisa merawat si kembar kok. percaya sama Rey," senyum Reyhan yang tau apa dipikirkan oleh istrinya tersebut, Elsa hanya mengangguk pelan dan kembali melanjutkan sarapannya.
Setelah sarapan, mereka semua langsung menuju ruang keluarga buat beristirahat setelah kenyang.
"Abang! rambut Aldo jangan diikat!" kesal Aldo sehingga semuanya menoleh pada Aldi dan Alda yang tengah asik mengikat rambut adiknya jadi kuncir dua, sedangkan si pelaku hanya tertawa melihat adiknya yang mengemaskan tersebut.
"Kalian jail banget," kekeh Elsa membuat Alda dan Aldi bergegas memeluk Mamanya yang sedang memangku Alia yang asik makan kue.
"Kalau enggak jail, itu bukan kami namanya," balas Aldi dengan entengnya sedangkan Queen membantu Aldo membuka kunciran di kepala Aldo karena pria itu kesusahan buat membukanya.
"Huh! Abang jahat!" kesal Aldo langsung menuju kamar membuat kedua abangnya menoleh.
"Maafin kami, Dek!" panik mereka bergegas menuju lantai atas sedangkan semua yang ada diruang tamu hanya menggeleng kepala dengan tingkah si kembar tiga.
"Kamu tidur di ruang tamu saja ya," suruh Reyhan sehingga Queen mengangguk dan melihat Reyhan maupun Elsa menuju kamar sambil membawa Alia.
Queen menghela nafas panjang, ia merasa tak pantas berada di dalam keluarga kaya seperti keluarga si kembar. ia hanyalah wanita miskin, ia takut sebagai bahan gunjingan karena berani-beraninya memasuki kawasan orang kaya.
Ia lalu menuju kamar tamu sambil memikirkan sesuatu supaya bisa kabur tapi ia juga tak ingin berdosa karena melanggar sumpahnya.
Disisi lain.
"Dek, maafin kami ya!" pinta Alda maupun Aldi yang berusaha membujuk adiknya itu supaya tak ngambek lagi. sedangkan Aldo tak membalasnya melainkan memilih tidur karena kesal dengan kedua abangnya selalu menjaili nya. Sekarang ia akan mendiamkan kedua Abangnya itu sampai puas.
"Dek, kau mau apa? biar Abang beliin!" bujuk Aldi namun Aldo menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya membuat Alda dan Aldi dilanda kepanikan.
__ADS_1
"Maafin kami, Dek!" bujuk Alfa menarik selimut adiknya itu. namun, Aldo malah menahannya membuat kedua pria itu benar-benar merasa bersalah sekali.
Alda dan Aldi langsung memeluk adiknya itu supaya bangun lalu memaafkan mereka tapi tak ada reaksi dari adik mereka tersebut.
"Dek, maafin Abang ya! nanti Abang beliin cokelat yang banyak eh kayaknya gak usah cokelat. nanti sakit gigi," gumam Aldi yang baru ingat.
"Adek! Maafin kami!" tangis Alda membangunkan adiknya tersebut.
"Aldo, kamu sudah bobo?".
Keesokan harinya, Alda maupun Aldi masih saja mencoba membujuk adiknya itu yang masih saja ngambek pada mereka berdua.
Sedangkan yang lain menahan tawa melihat perjuangan Alda dan Aldi untuk meminta maaf pada Aldo yang sejak tadi hanya diam tak merespon kedua Abangnya.
"Dek, maafin kami! ini cemilan kesukaan Abang," jelas Alda memberikan setumpuk cemilan kesukaannya pada sang adik tapi Aldo tak menyentuhnya sama sekali.
"Mama hiks bujuk Adek!" tangis keduanya memohon sedangkan Elsa menoleh pada Aldo yang sangatlah dingin tanpa ada berniat menunjukkan mimik wajah selain datar.
"Aldo, maafin Abang kamu ya! mereka juga cuman bercanda,"bujuk Elsa lembut membuat Aldo menoleh sekilas dan kembali menyantap makanannya. Sedangkan Queen benar-benar gemes dengan tingkah ketiganya yang terlewat mengemaskan sekali saat ini.
"Gak mau!" tolak Aldo.
Reyhan beranjak dari kursi lalu membawa kedua putranya itu buat pergi dari sana sehingga Aldo menoleh kearah kedua Abangnya yang sudah pergi.
"Papa, adek gak mau maafin kami," isak Aldi menangis.
"Udah, jangan nangis lagi. mendingan temani Papa di kantor dan Aldo bakalan merasa kehilangan lalu bakalan maafin kalian nantinya," senyum Reyhan melajukan mobilnya meninggalkan masion.
"Be-Benarkah?" tanya mereka serempak sambil mengusap air mata mereka yang terus mengalir deras.
"Papa, tapi kami belum sarapan,"
"Nanti Papa suruh orang buat beliin kalian sarapan,"
Alda maupun Aldi kembali terdiam.
2 jam berlalu...
Aldo tampak bingung karena kedua Abangnya tak datang-datang sejak tadi, ia takut kedua abangnya dijual terus injal mereka dijual terus otaknya ditukar, gimana?.
"Rasain, Abang nya di bawa pergi," ejek Queen membuat Aldo menoleh.
"Huwaa! Mama!" tangis Aldo membuat Elsa mendekati putranya yang sudah menangis.
"Ada apa?" panik Elsa.
"Hiks Papa bawa Abang kemana? Kenapa Abang gak datang-datang sejak tadi," tangis Aldo membuat Elsa terkekeh kecil.
"Mama gak tau," balas Elsa dengan entengnya membuat Queen menahan senyumnya melihat Aldo yang sudah menangis.
"Hiks Aldo mau Bang Alda sama Bang Aldi! hiks panggil mereka sekarang!" tangis Aldo memohon.
"Mama!"
"Mama pergi dulu ya, soalnya putri Mama sendirian di kamar,"kekeh Elsa bergegas pergi membuat Aldo menangis.
__ADS_1
"Rasain, jangan-jangan Abang kamu dijual,"
Deg!
Aldo yang mendengar itu sontak kaget.
"Papa baik, gak mungkin jual Abang hiks!" tangis Aldo makin keras.
"Kalau dijual, gimana?"
"Jangan doain Abang aku dijual!" tangis Aldo lagi membuat Queen gemes mengerjai calon suaminya itu tapi ia harus ingat karena membujuk si kembar yang lagi ngambek sangatlah lama.
...***...
"Papa, mau kami bantuin gak buat selesaikan berkas Papa?"tawar Aldi sehingga Reyhan menoleh lalu mengangguk dan memberikan berkas-berkas yang sedikit menumpuk.
Aldi langsung membawa berkas itu pada Abangnya yang lagi santai-santai karena kekenyangan sehabis sarapan tadi.
"Abang, ayo bantuin!"
Alda menoleh lalu mematikan ponselnya dan menerima berkas-berkas Papanya itu. Langsung saja keduanya bergegas menyelesaikan pekerjaan Papa mereka supaya tak membuat sang Papa lembur gara-gara berkas yang belum selesai tersebut.
Mereka bisa saja mengunakan kekuatan mereka tapi mereka lebih suka mengunakan tangan mereka karena bisa mengusir rasa bosan. daripada langsung siap eh malah gak ada kerjaan lagi setelahnya.
Lebih baik mengerjakan dengan usaha sendiri daripada mengunakan kekuatan mereka.
Tok!
Tok!
"Masuk!"
Cklek!
Si kembar menoleh pada karyawan berpakaian kekurangan bahan masuk, membuat si kembar jijik melihat wanita itu. Sedangkan Reyhan tak menghiraukannya karena sama sekali tak tertarik dengan wanita lain.
"Pak, berkas ini harus ditandatangani," jelas wanita itu dengan suara lembut membuat si kembar gemas buat melempar wanita itu dari lantai seribu.
"Pik, birkis ini hiris ditinditingini," ejek Aldi yang membuat Alda tertawa sehingga wanita itu menoleh kearah si kembar. "Abang, Abang tau gak p3lak0r cap naga merajalela sekarang,".
"Enggak,"
"Kayaknya Mama wajib tau kalau di kantor ini banyak pelakor kekurangan kasih sayang. Apalagi mau goda Papa kita dengan pakaian kayak badut gitu,"
Wajah wanita itu memerah menahan malu sekaligus marah, apalagi ia dihina secara terang-terangan walau tak ditujukan padanya.
"Nih, tolong antar!"
"Baik, Pak. saya permisi dulu," jelas wanita itu sehingga Reyhan mengangguk pelan. Sedangkan si kembar menoleh pada wanita itu yang sudah pergi dari ruangan Papa mereka.
"Papa, kenapa gak pecat aja tuh orang?" tanya mereka penasaran.
"Kalau itu urusan Mama kalian, Papa gak ikut campur masalah gituan," balas Reyhan dengan entengnya sehingga si kembar mengangguk paham.
Pantesan Papa mereka biasa-biasa saja sejak tadi.
__ADS_1
Bersambung...