MENCINTAI SESEORANG IBLIS

MENCINTAI SESEORANG IBLIS
PART 40


__ADS_3

Si kembar tampak asik berjalan menulusuri jalanan sepi, karena ketiganya bosan berada di rumah terus ditambah kedua orang tuanya baru saja pergi ke Mall buat membeli cemilan.


"Abang, ada mangsa tuh!" senang Aldo membuat kedua abangnya menoleh dan benar saja, terdapat seorang gadis berseragam SMA tengah berdiri sendiri. Wanita itu tampak sibuk melihat-lihat ponsel dan seperti menunggu seseorang saat ini.


"Biar Aldi aja," balas Aldi berjalan menuju wanita itu dari belakang karena kebetulan ia membawa tongkat bisbol untuk berjaga-jaga, kalau seandainya mangsa mereka memberontak. Apalagi kondisi mereka masih lemah akibat baru sadar, sehingga mereka tak segesit dulu lagi.


Bugh!


Aldi tersenyum miring saat wanita itu pingsan akibat pukulan kuatnya di bagian pundak wanita tersebut, langsung saja ia mengangkat wanita itu menuju suatu tempat dan dibantu oleh adik sekaligus Abangnya.


"Tubuhnya berat, pasti rakus saat makan," kesal Aldo mengangkat lengan kanan wanita bernama Aulia tersebut.


"Apa bedanya sama kamu, Dek?" tanya Alda yang mengangkat kedua kaki wanita tersebut, membuat Aldo kesal.


"Walau Aldi rakus, tetap saja tubuh Aldo ringan!" cemberutnya kesal membuat yang lain tertawa dan langsung saja mengikat wanita itu di sebuah pohon, sedangkan Aldo mengeluarkan pisau yang ada di dalam jaketnya. Ia sudah tak sabar menyayat tubuh mangsanya karena belum puas membunuh orang saat di Belanda.


Sreek!


"Awh!" ringis Aulia membuka matanya dan kaget melihat tiga pria yang mirip di hadapannya saat ini.


"Ka-Kalian siapa dan jangan menyentuh ku!".


Aldi yang hendak menorehkan pisau di tangan wanita itu pun terhenti, ia langsung menoleh dengan tampang tak berdosanya.


"Aku tak menyentuh kamu, hanya saja pisau ini yang menyentuh kamu," jelas Aldi dengan polosnya saat ini.


Sreekk!


"Argh!"


"Wah, darahnya banyak!" kagum Aldo saat menyayat lengan Aulia dengan sekuat tenaga membuat wanita itu tak bisa menahan rasa sakitnya saat ini.


"Ja-Jangan bunuh aku atau aku teriak?" Ketiganya langsung menoleh.


"Kalau mulut Kakak di robek, apa bisa berteriak?" tanya Alda penasaran begitu juga dengan kedua saudaranya tersebut.


"Sebaiknya aku robek ya, Kak!"


Sreekk!


Aulia tampak begitu kesakitan akibat sayatan dari ketiga pria itu, ia hanya pasrah akan takdirnya. Ia menyesal menunggu kekasihnya di hutan seperti ini ditambah suasana sudah sore sekali.


Sedangkan si kembar tampak asik melakukan aktivitas masing-masing tanpa menghiraukan tangisan dari Aurel yang kesakitan.


Tak lama,


Si kembar mengusap wajah mereka yang terkena cipratan darah segar, langsung saja ia membawa Aulia dan meletakkannya ke jalanan tadi. ketiganya benar-benar puas melihat hasil karya masing-masing saat ini.


"Abang,"


"Hm?"


"Jalan pulang kemana?" cicit Aldo menatap suasana sudah mulai gelap, membuat suasana makin menakutkan saat ini. ditambah pohon-pohon menjulang tinggi dan bergerak-gerak akibat terkena angin kencang.


"Kalau gak salah disana!" tunjuk Aldi.


"Bukan kesana, tapi di sana!" kesal Alda membuat Aldo kebingungan dengan kedua abangnya yang sudah pasti tak tau jalan saat ini.


"Yang pasti aja, Bang!" kesal Aldo membuat kedua abangnya itu terdiam memikirkan jalan sekarang, ia begitu bingung arah pulang saat ini. Aldo lalu menatap sekitar nya untuk mencari jalan buat pulang karena ia benar-benar lupa arah pulang. Apalagi, mereka bertiga tak membawa ponsel saat ini.


"Kayaknya kita tersesat deh," gumam Alda takut.

__ADS_1


"Abang!" tangis Aldo dan Aldi ketakutan, mereka ingin pulang karena tak ingin tersesat saat ini. Sedangkan Alda terus saja memikirkan jalan pulang lalu menarik tangan kedua adiknya yang sudah menangis, walau ia takut juga karena tempat ini masih baru. ia tak ingin adik-adik menangis seperti ini.


"Hei! ngapain nangis?"


Ketiganya menoleh dan sontak menangis kencang, ketiganya langsung memeluk wanita yang mendekati mereka.


"Hiks kami takut tersesat!" tangis ketiganya membuat Elsa terkekeh kecil, ia sudah tau kalau si kembar bakalan kabur sehingga Reyhan langsung menunjukkan lokasi di kembar walau kekuatan Reyhan saat ini tak baik-baik saja, sehingga Reyhan tak bisa melakukan apapun mengunakan kekuatannya.


"Makanya, jangan keluar! kalian itu masih baru disini," omel Elsa memeluk ketiga putranya tersebut.


"Hiks kami minta maaf," isak mereka yang masih menangis ketakutan, mereka takut kalau tak ditemukan dan bakalan tidur di hutan yang gelap.


Kalau ada kucing mengemaskan versi jumbonya, gimana?


Nanti mereka bakalan di mamam sama kucing garong, gimana?


Nanti Mamanya nangis, gimana?


Elsa mengusap air mata ketiga anaknya tersebut.


"Sekarang kita pulang dan jangan keluar rumah dulu saat kondisi lemah seperti ini," bujuk Elsa tersenyum manis.


"Hiks iya," isak mereka lalu mengikuti Mamanya untuk pulang, ketiganya juga tak mau melepaskan genggamannya masing-masing karena takut ditinggal.


Sesampai di masion, Elsa langsung menyuruh ketiga putranya itu untuk membersihkan tubuh mereka. karena malam ini akan makan malam di luar.


"Elsa, jadikan kita makan malam diluar?" tanya Reyhan penasaran sambil mengeringkan rambutnya mengunakan handuk kecil.


"Tentu, Baby! kenapa gak pakai baju bagus, mu? kita akan berangkat, si kembar juga sudah aku suruh,".


"Baiklah," pasrah Reyhan lalu kembali ke kamar yang diikuti oleh istrinya tersebut.


1 jam kemudian...


"Maaf, kami telat!"


Pria paruh baya tersebut menoleh bersama istri dan anak perempuan nya, sedangkan wanita itu menatap kagum melihat 4 pria tampan layaknya malaikat.


"Gak papa, Tuan Reyhan! silahkan duduk," senyum pria itu sehingga semuanya langsung duduk. sedangkan si kembar melirik wanita yang tampak tersenyum sendiri layaknya wanita kurang akal.


"Owh iya, kenalkan ini istri saya namanya Fani sekaligus putri saya namanya Gina,".


Reyhan menoleh pada gadis bernama Gina itu tengah senyum-senyum sendiri, membuatnya ngeri.


"Owh, salam kenal," senyum Reyhan sehingga kedua wanita itu mengangguk.


"Kenalkan juga, ini istri saya namanya Elsa dan ini putra kandung saya, Alda, Aldi dan Aldo,".


"Wh-What?"


Semuanya menoleh pada Gina yang berteriak karena syok sekali, berbeda dengan Tuan Adi yang sudah tau kalau Reyhan memiliki tiga putra kandung yang sudah remaja.


"Gina, jaga sikapnya!" kesal Fani membuat Gina terkekeh kecil.


"Kenapa kalian masih muda kalau mempunyai putra sebesar ini? atau, mereka anak angkat?" tanya Gina asal ceplos saja.


"Gina!" kesal Tuan Adi memperingati putrinya tu supaya tak macam-macam, ia takut menyinggung rekan kerjanya sehingga perusahaannya bisa bangkrut dalam hitungan detik.


"Mereka anak kandung kami dan jangan berani mengatakan mereka anak angkat," kesal Elsa yang tak suka anak kandungnya dibilang anak angkat, mereka itu jelas-jelas dari rahimnya.


"Ma-Maafkan putri kami, Tuan-Nyonya. mulutnya memang suka asal ceplos," gagap Tuan Adi sedangkan Reyhan hanya diam saat ini.

__ADS_1


"Gak papa, mungkin kami terlihat masih muda sehingga dikira kami belum punya anak," balas Reyhan tersenyum tipis sedangkan Gina menunduk karena di tatap tajam oleh Fani.


...****************...


Selama makan malam, si kembar tampak tak memperdulikan tatapan Gina pada mereka. mereka menganggap wanita itu melihat kebelakang mereka yang kebetulan tempat ngumpul para cowok-cowok.


"Mama, Alda mau ketoilet bentar,"


"Baiklah, hati-hati," senyum Elsa sehingga Alda beranjak pergi.


"Aldi juga ikut sama Abang," balas Aldi bergegas pergi mengikuti abangnya membuat Elsa menoleh pada si bungsu yang ditinggal.


"Aldo gak ikut kok, Ma. Aldo lagi lapar," jelas Aldo yang tau maksud tatapan dari sang Mama, membuat Elsa terkekeh dan mengusap kepala anaknya itu.


"Dia yang paling bungsu, ya?"


"Iya, dia paling bungsu," balas Elsa jujur, membuat Fani mengangguk paham.


Sedangkan disisi lain, Alda tengah duduk di sebuah bangku taman yang diikuti oleh Aldi.


"Abang kenapa?"


"Gak papa, cuman Abang ngerasa aneh saja dengan malam ini. apalagi ini malam purnama," jelas Alda sehingga Aldi menatap bulan yang begitu indah menyinari kegelapan malam.


"Aldi ngerasa gitu, kayak pengen makan sesuatu yang belum Aldi coba," balas Aldi jujur membuat Alda menoleh.


"Makanan apaan?"


"Kayak daging tapi daging manusia,"


"Ihhh! Canibal!" ejek Alda membuat Aldi kesal.


"Aldi normal ya, Bang!" kesal Aldi membuat Alda tertawa melihat wajah kesal adiknya itu.


"Tolong!"


Si kembar menoleh pada seorang wanita yang berlari.


"Abang ayo kita bantu!" ajak Aldi menarik tangan abangnya tersebut, Alda mengangguk lalu mencegat wanita tersebut.


"Kau kenapa?" tanya Alda penasaran.


"Hiks, Ak-Aku mau dilecehkan hiks,"


"Apa itu dilecehkan?" tanya si kembar penasaran sekali.


'Malah dapat pria polos, mana bisa bantuin gue saat ini,' batin wanita itu ketakutan sekali.


"Akhirnya ketemu juga nih cewek,"Wanita itu langsung bersembunyi di belakang si kembar.


"Berikan cewe itu pada kami sekarang!".


"Abang, dia ngomong apaan? Aldi gak paham kalau dia ngomong cepat-cepat," kesal Aldi membuat Alda juga bingung.


"Apa mereka jahat?" tanya Alda sehingga wanita itu mengangguk, langsung saja Alda mendekati kedua orang tersebut yang diikuti oleh Aldi. Wanita itu melongo saat kedua pria polos itu menghajar orang-orang tersebut secara bruntal dan lebih parahnya, kedua preman tersebut tewas dengan beberapa anggota tubuh yang sudah terlepas.Si kembar lalu mendekati wanita itu.


"Orang jahatnya sudah bobo, kami pergi dulu," balas Alda lalu pergi bersama Aldi.


"Buset, polos-polos menyeramkan. mana tuh preman udah turu abadi," gumam wanita itu ngeri sekali, lalu menoleh pada si kembar yang sudah menjauh darinya.


"Astaga, gue lupa minta makasih sama mereka. kapan-kapan saja dah,".

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2