
Reyhan mengusap matanya yang benar-benar berat sekali, ia kembali menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.
"Reyhan, ayo bangun! katanya mau ngerjain mereka," jelas Elsa mendekat lalu menarik selimut yang menutupi tubuh Reyhan, pria itu mengantuk akibat kebanyakan makan.
"Rey pengen bobo dulu," kesalnya bergegas memeluk guling membuat Elsa terkekeh gemes dengan sikap calon suaminya itu.
"Ayo bangun!" kesal Elsa berlompatan di kasur membuat Reyhan membuka mata karena terganggu oleh Elsa, ditambah tubuhnya ikutan bergerak akibat Elsa yang melompat.
"Berhenti! kepala Reyhan pusing," kesal Reyhan beranjak duduk sehingga Elsa langsung berhamburan memeluk Reyhan sehingga pemuda itu kembali terbaring.
"Ayo kerjain mereka mengunakan kekuatan kamu," ajak Elsa mencium pipi Reyhan gemes.
"Nanti ya, Rey masih ngantuk dan lagian masih jam 6 sore,"jelas nya menatap kearah jam yang ada di atas meja kamar.
"Pokoknya harus bangun, Baby! mau aku mandiin?" tawar Elsa membuat Reyhan menoleh lalu mengangguk pelan.
Elsa langsung membangunkan pria itu sehingga Reyhan senang, ia lalu mengikuti Elsa menuju kamar mandi sambil menggenggam erat tangan Elsa.
Wanita itu langsung membuka semua pakaian Reyhan kecuali celana boxer hitam pemuda itu, setelah itu ia langsung memasukkan semua pakaian itu kedalam mesin cuci. Sedangkan Reyhan langsung masuk kebathub sambil menguyur tubuh nya mengunakan air.
"Elsa, ayo mandi bareng!"
"Aku sudah mandi, sekarang kamu aja," jelas Elsa sambil menuangkan sampo ke rambut Reyhan sehingga pria itu menurut dan membiarkan Elsa yang memijat kepalanya tersebut.
"Hahaha, geli!" tawa Reyhan saat Elsa mengusap leher belakangnya membuat Elsa makin mengusapnya.
"Hahaha ampun," tawa Reyhan menggeliat kecil karena kegelian sekali.
"Udah gede tapi suka geli,"
"Biarin," balas Reyhan lalu mencuci wajahnya mengunakan sabun yang digunakan oleh Elsa tadi, ia juga penasaran dengan manfaat mencuci wajah mengunakan produk tersebut.
"Jangan dipakai!"
"Rey mau pakai, kembalikan!"
"Nanti gak cocok diwajah kamu, Baby! nanti wajah kamu merah-merah," peringat Elsa sehingga Reyhan memanyunkan bibirnya kesal.
"Elsa pelit sama Rey, huh!"
"Yasudah, coba aja," pasrah Elsa yang membuat pria itu senang sekali dan menuangkan sedikit sabun ke telapak tangannya. Langsung saja ia mengusap seluruh wajahnya cepat membuat Elsa tertawa dengan tingkah mengemaskan Reyhan.
"Kenapa sabun nya dikit?" bingungnya mengusap wajahnya kesal.
"Kamu itu salah gunainnya," kekeh Elsa sehingga Reyhan menoleh dan melihat Elsa yang kembali menuangkan beberapa tetes sabun cair, dan memberikan sedikit air lalu mengusapkan kedua tangannya membuat Reyhan bingung.
__ADS_1
"Sekarang usap ke wajah kamu." suruh Elsa sehingga Reyhan menurut.
Ia langsung mengusap wajahnya pelan seperti yang ditunjukkan oleh Elsa barusan, ia tersenyum saat wajahnya penuh sama sabun membuatnya senang sekali.
Sedangkan Elsa kembali mengusap tubuh Reyhan mengunakan sabun dan menyuruh pria itu untuk berdiri, Reyhan hanya menurut dan membiarkan Elsa yang mengusap kedua kakinya lembut.
Ia lebih asik mengusap wajah sambil membuat balon dari sabun yang ada di tangannya, udah seperti bocah saja.
Setelah memandikannya, Elsa mengambil handuk sehingga Reyhan langsung melilit pinggangnya mengunakan handuk sedangkan Elsa langsung keluar kamar yang diikuti oleh Reyhan yang sudah kedinginan sekali.
"Pakai baju kamu dan kita langsung sarapan,"
"Ba-Baik,"
"Ututu kedinginan banget ya, nanti aku buatin susu hangat,"senyum Elsa mencium pipi Reyhan sekilas.
5 menit kemudian,
Mereka berdua langsung ke lantai bawah buat sarapan dan melihat Maid yang asik menghidangkan makanan di meja.
"Duduk dulu," bujuk Elsa sehingga Reyhan menurut dan menoleh ke cangkir yang ada di dekatnya, ia sudah yakin minuman tersebut dicampur obat sakit perut.
Langsung saja ia menukar gelas tersebut ke gelas lain supaya senjata makan tuan. Reyhan tersenyum lalu menoleh pada Elsa yang asik membuatkan susu buatnya.
"Mau susu coklat atau putih,"
"Gak boleh, kalau cuaca panas baru boleh pakai ice," jelas Elsa membuat Reyhan mengangguk paham dan menoleh pada dua wanita yang duduk di hadapannya, lebih tetap nya Vania duduk dihadapannya dengan pakaian dengan dada rendah tersebut.
"Baby, ini susunya,"
Reyhan langsung menerima susu dari Elsa dengan mata tak lepas menatap Vania yang tersenyum padanya. Ia lalu menoleh pada Elsa yang hanya memakai daster yang menutupi lekuk tubuhnya.
"Elsa,"
"Ada apa, Baby?" tanya Elsa menoleh pada Reyhan.
"Elsa duduk di depan Rey, ya!"
"Hah?" Elsa mendadak bingung dengan permintaan Reyhan barusan, kalau ia duduk di hadapan Reyhan otomatis wanita itu bakalan pindah ke samping Reyhan.
"Soalnya Abang Reyhan bakalan datang, biar Abang duduk di samping Reyhan," jelas Reyhan membuat Elsa lega sekali mendengarnya.
"Sana minggir!" usir Elsa membuat Vania mendengus kesal, wanita itu mencoba sabar karena sebentar lagi akan mengambil posisi Saudara tirinya itu.
"Reyhan!"
__ADS_1
Reyhan menoleh dan melihat abangnya yang mendekat sambil tersenyum, pria itu mendapatkan pesan batin dari adiknya yang terlihat risi.
"Abang tinggal disini ya, Reyhan takut," jelas Reyhan saat Edward duduk di sampingnya membuat Edward bingung.
"Takut kenapa? Elsa menelan kamu? atau memakan kamu? atau mencelakai kamu?"
"Tutup mulut anda, Tuan! Fitnah lebih kejam daripada saus cabe!" kesal Elsa yang tak terima di tuduh seenak jidatnya. Sedangkan Reyhan hanya tertawa mendengar penuturan Elsa barusan.
"Itu salah, Elsa!"
"Terus?"
"Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan,"
"Aku kira fitnah lebih kejam dari pada kentut kudanil," kekeh Elsa yang membuat Reyhan tertawa sedangkan Edward hanya menahan tawa melihat keakraban adiknya bersama Elsa.
"Elsa bodoh!" tawa Reyhan membuat Elsa menodongkan garpu membuat Edward menatap tajam.
"Mau diapain tuh garpu? mau lukai adik saya?" tanya Edward membuat Elsa menoleh dengan tatapan dinginnya.
"Mau aku kandangin tuh anak, gemesnya minta ditendang,"balas Elsa membuat Edward menatap malas.
Edward menoleh pada Vania yang sedari diam, ia merasa ada yang janggal dengan aura wanita itu. tak butuh lama, ia paham sekarang kalau wanita itu menyukai adik bungsunya. Ia tak akan membiarkan orang itu mendekati adiknya.
"Abang huwa! Reyhan di cium terus sama Elsa!"Edward menoleh pada Elsa yang memeluk adiknya dan selalu mencium wajah Reyhan yang sudah memerah.
"Abang, tolongin!" pinta Reyhan sedangkan Edward hanya terkekeh pelan melihat penderitaan adiknya itu.
"Siapa suruh gemes banget, hm?" kesal Elsa mengigit pipi Reyhan.
"Abang! Tolong adikmu ini!" pekik Reyhan yang hampir menangis.
"Udah, jangan buat adik gue nangis!" peringat Edward sehingga Elsa melepaskan pelukannya sedangkan Reyhan sudah terisak kecil.
"Dek, besok malam Abang mau nikah jadi Abang gak bisa terlalu lama disini ya," jelas Edward sehingga Reyhan menoleh.
"Hiks mana kakak ipar ku? Cantik, gak? pasti modal makeup aja, kan? hiks pasti matre," isak Reyhan sedangkan Elsa menahan tawa lalu melirik kearah Vania yang merasa seperti disindir oleh Reyhan. Padahal, bukan dirinya yang disindir.
"Cantik kok, kapan-kapan Abang kenalin,"
Reyhan hanya mengangguk sehingga Edward mengusap air mata adiknya itu dan tak lupa mengusap pipi Reyhan yang memerah kena gigit.
"Kau menggigit nya keras ya?" tanya Edward pada Elsa yang minum tersebut.
"Mana mau gue gigit keras," balas Elsa lalu memeluk Reyhan gemes.
__ADS_1
Bersambung......