
Sikembar sekarang tampak asik menyantap makanan masing-masing karena Elsa yang tau anaknya kelelahan pun langsung membawa mereka kesebuah restauran, ia tak peduli beberapa pengunjung yang menoleh kearah meja mereka. Mungkin, mereka semua bingung melihatnya bersama tiga pria kembar yang begitu tampan tersebut.
"Nanti kita kemana lagi, Ma?" tanya Aldo sambil mengunyah makanan dimulutnya.
"Kita lihat-lihat dulu soalnya kita masih sedikit belanjanya,"kekeh Elsa sehingga putranya itu mengangguk paham, ia tau kalau masih banyak lagi belanjaan yang belum dibeli oleh Mamanya ditambah mereka baru di Indonesia saat ini.
Sudah pasti banyak barang-barang yang belum dibeli untuk keperluan dapur ataupun keperluan kamar mandi masing-masing.
Setelah selesai sarapan, mereka pun bergegas pergi untuk membeli keperluan dapur, si kembar benar-benar kagum dengan mall yang penuh dengan berbagai macam makanan yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.
"Mama, ditoko itu ada keperluan kamar mandi. ayo kesana!"ajak Aldi sehingga Elsa mengangguk dan mengikuti ketiga putranya menuju salah satu toko, disana mereka langsung membeli berbagai macam keperluan masing-masing.
Disisi lain,
Reyhan tampak begitu lahap memakan anak kecil yang ia tangkap, ia sengaja memakan manusia hari ini supaya nanti ditengah bulan purnama ia tak akan keluar, ia takut anak-anak nya mengikutinya secara diam-diam.
"Udah puas, Dek?" tanya Edward mendekat sehingga Reyhan menggeleng.
"Belum puas, Bang. Rey masih lapar dan ingin tiga lagi," pinta Reyhan tersenyum membuat Edward menghela nafas kasar.
"Dasar perut karet," ejek Edward lalu menoleh pada anak kecil yang tak jauh dari mereka.
Edward mengucapkan sesuatu sehingga anak malang itu mendekat dengan tatapan kosongnya, Reyhan hanya diam menatap kedua gadis kecil itu mendekat sambil memegangi boneka kecil ditangan mereka masing-masing.
"Duduklah," suruh Edward sehingga keduanya langsung mengangguk lalu duduk.
"Makan sepuas kamu dan kau pasti akan kenyang selama 4 hari," jelas Edward dengan entengnya membuat Reyhan mengangguk kecil.
Edward merasakan ada hawa negatif mulai terasa, ia menatap sekitar dan melihat sosok dengan kepala yang hampir putus tengah menatapnya. Edward merasa itu adalah sosok arwahnya Shakira seperti yang dikatakan Elsa padanya.
Edward menoleh pada Reyhan yabg asik sarapan, ia beranjak berdiri namun sosok itu malah menghilang dari sana membuat Edward menahan marahnya.
"Kau gak akan bisa membawa adik gue pergi," gumam Edward tersenyum miring.
"Awh!"
Edward sontak berbalik dan melihat sang Adik memegangi kepala. "Dek, kau kenapa?" panik Edward khawatir membuat Reyhan menggeleng pelan.
"Rey cuman pusing saja, Bang. entah kenapa, Rey merasa ada yang janggal dengan anak kecil itu!" tunjuk Reyhan sehingga Edward menoleh kearah anak kecil tersebut.
Ia langsung saja memegangi tangan anak itu dan sontak tersentak kaget, wajah Edward sontak memucat detik itu juga dan langsung membawa adiknya pergi dari sana.
"Abang, kenapa Abang bawa Reyhan pulang sih!?!" kesal Reyhan saat sampai di masion.
Edward hanya diam memikirkan bocah tadi.
"Ab-Abang mau pergi dulu, kau tunggu Elsa pulang," jelas Edward sehingga Reyhan menoleh dengan wajah kesalnya.
"Rey gak mau ditinggal sendiri di sini, kalau hantunya Shakira kesini, gimana? terus cekik Reyhan? terus bawa Reyhan pergi, gimana? Reyhan gak mau!" tolak Reyhan meletakkan kedua tangannya di depan dada dan tak lupa dengan wajah kesalnya.
"Kau bakalan aman kok, Reyhan!"
"Pokoknya Reyhan gak mau ditinggal sendiri disini, kalau Abang pergi juga. Reyhan bakalan ikut,"
__ADS_1
"Reyhan, kali ini nurut sama Abang,"
"Yasudah sana pergi dan jangan kembali kesini lagi!" kesal Reyhan bergegas menuju kamarnya membuat Edward menghela nafas kasar saat sang adik kembali ngambek padanya.
"Dek, jangan ngambek gini lah!"
Namun tak ada suara dari dalam kamar yang membuat Edward khawatir, hendak masuk tapi tangannya mendadak panas sekali buat memegang kenop pintu kamar adiknya.
"Adek, mau Abang beliin coklat yang.... awh!" ringis Edward memegangi kepalanya yang benar-benar sakit sekali.
Pria itu memegangi hidungnya yang sudah berdarah, ia lupa untuk beristirahat saat ini karena ia tak enak badan sejak beberapa tahun ini.
Cklek!
"Astaga, kenapa hidung Abang berdarah?" panik Reyhan yang tak sengaja mendengar suara rintihan abangnya tersebut. Edward berusaha bangkit sambil dibantu oleh Reyhan.
"Abang pusing banget," lirih Edward sehingga Reyhan bergegas membawa abangnya masuk dan membaringkannya di kasur.
"Abang pasti kecapekan saja, Abang tidur dulu biar Rey buatin sarapan,"
"Gak usah, Abang curiga kalau kamu gak bisa memasak,"
"Rey jago memasak ya, walau awalnya masak telur gosong," cicitnya membuat Edward tertawa pelan.
"Udah ah, Rey mau memasak bentar,".
Edward hanya terdiam setelah Reyhan pergi darinya membuat pemuda itu menghela nafas lalu menoleh kearah jendela kaca kamar, entah sampai kapan ia harus menyembunyikan masalah ini dari keluarganya.
Tak lama, Reyhan pun datang sambil membawakan nasi goreng tapi ia mendadak menghentikan langkahnya saat mendengar abangnya yang mengobrol dengan seseorang.
"Edward tau, setelah ini kalian membenci Reyhan karena yang ditubuh Reyhan bukanlah roh adik." jelas Edward membuat Reyhan terdiam mendengarnya saat ini.
'Ternyata mimpi Rey dulu memang benar, kalau Rey bukan adik kandung Abang,' batin Reyhan sedih sambil mengusap air matanya.
'Tapi, dimana Roh Reyhan yang aslinya?'.
Cklek!
Reyhan menoleh dan melihat Papa yang keluar dari kamar dengan wajah memerah menahan marah, ia langsung menghilang dari sana membuat Reyhan terdiam beberapa saat. Ia tau kalau Papanya itu tak akan lagi memeluknya ataupun bicara dengannya saat ini.
Pria itu masuk dan melihat Abangnya mengusap wajah kasar lalu mendadak bungkam saat menyadari kehadirannya saat ini.
"Rey buatin nasi goreng buat Abang," balas Reyhan berusaha terlihat ceria seperti sebelumnya membuat Edward terdiam.
"Kau mendengar obrolan Abang tadi?"
"Obrolan mana?" tanya Reyhan pura-pura tak tau.
"Jangan berbohong sama Abang, Reyhan!"
"Reyhan gak berbohong sama sekali," balas Reyhan tetap tak mau mengaku membuat Edward menghela nafas panjang.
"Kalau pun kau mendengarnya, jangan sedih! kau tetap adiknya Abang dan kamu gak boleh memikirkan apapun,"pasrah Edward membuat Reyhan terdiam beberapa saat.
__ADS_1
...****************...
"Mama, apa belanjaannya sudah selesai?" tanya Aldo sambil memasukkan semua belanjaan ke dalam bagasi mobil.
"Udah semuanya kok," balas Elsa tersenyum lalu memasukkan ponselnya kedalam tas nya.
"Tapi, Abang kenapa gak datang-datang ya?" bingung Aldo membuat Elsa baru menyadari kalau yang lain tak kunjung datang.
Disisi lain, Aldi tampak kesulitan mencari kembarannya yang hilang entah kemana. Padahal sudah jelas ia bersama dengan Abangnya mencari sesuatu ditoko.
"Bang Alda kemana sih?" panik Aldi bergegas mencari keberadaan saudaranya tersebut.
...****************...
Disebuah gudang, Alda mulai membuka matanya dan menatap sekitar gudang yabg sangat menyeramkan baginya. Ia berusaha mengingat saat ia dipukul dari belakang hingga ia pingsan.
"Kenapa tubuh gue dirantai seperti ini?" gumam Alda berusaha melepaskan borgol di kedua tangannya termasuk di tubuhnya tersebut.
"Akhirnya kau sudah bangun, anak muda!"
Alda menoleh dan melihat kedua pria yang mendekat yang membuatnya kebingungan.
'Mereka mengunakan bahasa Indonesia yang belum gue pahami, mana gue kagak paham apa yang dikatakannya,'batin Alda kesal.
"Dasar gila! Bocah itu orang Belanda dan gak bakalan paham dengan ucapan kau!" sinis pria lainnya membuat Alda menoleh.
"Lupa," ketus pria itu dingin.
"Kau pasti anak dari Mafia kejam itu, bukan? anak dari Elsa?"tanya pria itu lagi mengunakan bahasa Belanda.
"Kalau saya anak Mafia itu, kenapa? Lepasin saya sekarang!"kesal Alda membuat kedua pria itu bahagia bisa mendapatkan salah satu putra musuhnya.
"Wah, kita beruntung mendapatkan salah satu putra kembar musuh kita, sobat! Dengan begini kita bisa melenyapkan Elsa,"tawa mereka sehingga Alda mengumpat kesal.
"Bawa dia kedalam gudang es!"
"Baik, Bos!".
Alda berusaha memberontak tapi tenaganya tak sekuat ketiga pria berbadan kekar tersebut.
'Tolongin Alda,' batin Alda ketakutan sekali.
Brakh!
Semuanya menoleh termasuk Alda yang melihat kedatangan sosok berjubah hitam. Sosok itu tak kunjung memperlihatkan wajahnya membuat Alda penasaran siapa yang datang.
"Lepasin dia atau kalian semua habis di tempat ini?"
Deg!
Alda yang mendengar suara itu begitu kaget, kagetnya makin bertambah saat melihat sosok berjubah itu mulai mengangkat wajahnya dengan mata memerah seperti menahan amarahnya.
"Berani-beraninya kau mengusik keluargaku, kau punya nyawa berapa?" tanyanya dengan senyuman menakutkan yang tak pernah memudar diwajahnya.
__ADS_1
"Serang pria aneh tersebut!"
Bersambung.......