MENCINTAI SESEORANG IBLIS

MENCINTAI SESEORANG IBLIS
PART 25


__ADS_3

Edward mendekati tempat tidur, pria itu benar-benar kaget melihat tubuh adik bungsunya berlumuran darah segar.


"Bang, keluarkan kekuatan jahat dari tubuhnya." pinta Elsa memohon sehingga Edward langsung merobek pakaian adiknya itu dan menatap luka di perut adiknya.


Ia langsung mengusap luka tersebut pelan dan tak lama, luka tusukan itu mulai pulih membuat Edward tersenyum lega.


Setelah pengobatan itu selesai, ia langsung memegangi kepala Reyhan dan membacakan sesuatu membuat Reyhan menggelinjang hebat dengan darah berwarna biru mulai keluar.


Tak lama, Reyhan mulai membuka matanya membuat Edward benar-benar lega sekali saat ini.


"Ma-Maafkan Rey-Reyhan, Bang," lirih Reyhan membuat Edward tersenyum dan mengusap lembut kepala adiknya tersebut.


"Buat apaan minta maaf, kau gak salah hanya saja Abang gak peka kalau kau masih terpengaruh makanya bersikap seperti itu. kau harus banyak istirahat sekarang," bujuk Edward membuat Reyhan mengangguk pelan.


"Di-Dia datang, Bang. dia tersenyum menyeramkan, Reyhan takut," lirih Reyhan terisak membuat Edward khawatir dengan keselamatan adiknya sekarang.


"Elsa, kau temani Reyhan dan jangan tinggalkan dia sendirian, gue harus menghadapi iblis itu,".


"Baik, Bang!"


Edward langsung menghilang sehingga Elsa mendekati Reyhan yang masih ketakutan sekali.


"Jangan nangis, Baby!" bujuk Elsa berbaring di sebelah Reyhan membuat pria itu langsung memeluk erat tubuh Elsa.


"Rey takut banget, Elsa. dia itu menyeramkan," lirih Reyhan terisak membuat Elsa mengusap lembut kepala Reyhan dan sesekali mengusap air mata Reyhan.


"Ada aku, kamu jangan takut!" senyum Elsa sehingga Reyhan mengangguk sambil memejamkan matanya untuk beristirahat.


"Jangan tinggalkan Rey sendiri,"


"Gak bakalan kok," senyum Elsa menarik selimut untuk menyelimuti tubuh Reyhan supaya lebih hangat, ia ingin Reyhan merasa aman saat bersamanya saat ini.


Disisi lain, Edward mendekati sosok berjubah hitam yang sama sepertinya. sosok itu tampak duduk tenang sambil memainkan ranting ditangannya.


"Kau... Kau ada urusan apaan dengan adikku sehingga kau menginginkan kematian nya?"


Sosok itu menoleh sekilas yang membuat Edward bungkam saat ini, sosok dihadapannya adalah cinta pertamanya yang sudah ratusan tahun menghilang darinya dan sekarang wanita itu sudah berada di hadapannya.


"Karena aku ingin dia mati, karena apa? karena yang berhak memiliki kekuatan tersebut adalah aku, bukan Reyhan! Reyhan itu bukanlah iblis yang terpilih, dia itu hanya beruntung!" tekan wanita itu membuat Edward tak bisa berkata-kata lagi.


"Aku mohon, jangan pernah menyakiti adik kandungku!"


"Adik kandung kau itu sudah lama meninggal, Edward!"

__ADS_1


Degh!


Edward yang mendengar itu bungkam beberapa saat.


"Kalau adik kandungku sudah meninggal, apa harus kau ingin memusnahkan Reyhan, hah? kau itu tamak akan kekuatan!"bentak Edward mencengkram kuat leher wanita itu, ia tak suka ada yang menyakiti adiknya.


"Kau memang pernah aku sukai tapi sekarang, kau harus ku musnahkan sebelum kau membuka kebenaran identitas Reyhan," smirk Edward mematahkan tulang leher iblis tersebut dan menghempaskan tubuhnya kuat ke tanah, tak hanya itu Edward juga mengucapkan sesuatu dan menginjakkan kakinya ke tanah dengan sekuat tenaga.


"Maafkan Abang, Reyhan. kau memang bukan adik kandungku, tapi kamu sudah Abang anggap sebagai adik kandungku," lirih Edward mengusap air matanya pelan. Ia tak ingin rahasia besarnya terbongkar dan diketahui oleh Mama dan Papanya khususnya Reyhan.


Edward tak ingin rahasia kematian adik kandungnya terbongkar dan hanya ia yang boleh tau. Ia posesif terhadap Reyhan karena ia takut kehilangan adiknya yang kedua kalinya, ia benar-benar tak sanggup kehilangan Reyhan yang kedua kalinya.


Edward kembali memegangi kepalanya yang kembali sakit sekali, ia langsung terduduk sambil mengerang kesakitan. Ingatan tentang adik nya kembali terbayang di kepalanya.


"Bang, Abang kenapa?"


Edward menoleh pada istrinya yang mendekat dengan wajah khawatir sekali.


"Abang gak papa," balas Edward berusaha menahan sakit di kepalanya. Ia tak ingin Alya tau masalah ini.


"Ayo kita ketempat Reyhan,"


"Baiklah," balas Alya langsung membantu Edward buat pergi dari sana, ia juga bingung menatap suaminya yang kesakitan sekali. Ia merasa kalau ada yang di sembunyikan oleh Edward karena melihat gelagat suaminya yang terlihat sedikit aneh tersebut.


-


"Kau mengemaskan sekali, sih!" gumam Elsa mencium pipi Reyhan lembut.


"Elsa, jangan ganggu Rey tidur!" kesal Reyhan yang terganggu akibat aktivitas Elsa barusan.


Reyhan lalu membuka matanya dan menatap Elsa yang tersenyum manis padanya.


"Aku pengen ganggu kamu terus,"


"Jangan ganggu, nanti aku nangis?" ancamnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Dasar cengeng!" ejek Elsa memeluk suaminya itu membuat Reyhan tersenyum sambil membalas pelukan wanitanya itu.


"Reyhan!"


Reyhan melepaskan pelukannya dan menoleh pada Abangnya sehingga Elsa beranjak duduk lalu membantu Reyhan duduk. Sedangkan Edward langsung memeluk Reyhan sambil menangis, yang membuat Reyhan kebingungan saat ini.


"Abang kenapa nangis? Rey udah gak papa kok,"

__ADS_1


"Hiks Abang takut kau kenapa-napa," tangis Edward membuat Reyhan menoleh pada sang Abang.


"Abang tumben nangis? udah ratusan tahun Rey gak pernah lihat Abang nangis,"


Edward sontak menghapus air matanya membuat Reyhan tertawa lepas.


"Abang cengeng hahaha!" tawa Reyhan membuat wajah Edward memerah menahan malu nya saat ini.


"Jangan ketawa!"


"Hahaha Abang cengeng! Hahmph!" tawa Reyhan terhenti saat Edward menyumbat mulut sang adik mengunakan kue, membuat kedua wanita itu tertawa pelan melihat wajah kesal Reyhan.


"Apa? mau marah?"


"Enggak kok, Bang! kuenya enak," balasnya sambil mengunyah kue yang ada dimulutnya tersebut, membuat Elsa geleng-geleng kepala dengan tingkah Reyhan saat ini.


...****************...


Reyhan menatap indahnya sore hari sambil menikmati cemilan yang ada di pangkuannya, ia menatap awan-awan berwarna oranye sudah mulai terlihat membuat kesan menawan.


"Bagi!"


Pemuda itu menoleh pada Elsa yang duduk di pangkuannya sambil memakan cemilannya.


"Ih! Elsa jangan makan cemilan Rey terus," cemberutnya membuat Elsa tertawa kecil.


"Soalnya aku lapar banget,"


"Kan ada cemilan di lantai bawah,"


"Aku pengennya makan cemilan kamu, soalnya enak," balas Elsa dengan entengnya sehingga Reyhan menarik Elsa untuk bersandar di tubuhnya saat ini.


"Reyhan nyaman banget peluk Elsa terus, semoga saja kita terus bersama ya dan gak ada lagi halangan,"


"Kalau ada halangan, biar aku yang bereskan," jawab Elsa yang membuat Reyhan tertawa kecil mendengar nya.


"Elsa, Rey pengen kerja kayak manusia lainnya, boleh?" tanya Reyhan memohon karena pengen sekali bekerja layaknya manusia umumnya yang pergi pagi dan pulang sore.


"Beneran mau kerja?'


"Iya, Reyhan pengen kerja,"


"Kamu kerja di perusahaan aku saja, besok-besok aku ajarkan,"

__ADS_1


"Makasih, Elsa!" senang Reyhan memeluk tubuh Elsa lagi, ia bahagia bisa bekerja saat ini.


Bersambung........


__ADS_2