
Alda melajukan motornya dengan kecepatan sedang karena Aldo berada di belakangnya, ia harus cepat-cepat sampai di rumah mengingat adiknya mendadak lemah sehingga ia minta izin buat mengantar adiknya pulang dulu.
"Mama!" teriak Alda sehingga Elsa yang asik membersihkan kebun bunga pun menoleh dan bergegas mendekati putranya tersebut.
"Adik kamu kenapa pucat gini?" panik Elsa membantu Aldo turun.
"Laila bawakan kami sarapan dari Tante Tia. tapi, Laila mengisi bekal kami mengunakan kacang sekaligus udang dalam bentuk halus, Adek gak sengaja memakannya," jelas Alda jujur yang membuat Elsa panik sekali.
"Sekarang kamu balik ke sekolah biar Aldo bersama Mama,"jelas Elsa sehingga Alda memberikan kunci motor adiknya itu karena ia ingin memesan taksi.
Elsa lalu membawa putranya itu ke kamar tamu dan membaringkannya.
"Mama, perut Aldo sakit," lirih Aldo membuat Elsa makin khawatir.
"Tahan ya, Mama panggil Papa bentar," jelas Elsa bergegas menuju kamarnya sedangkan Aldo benar-benar lemas sekali saat ini.
Cklek!
Aldo menoleh pada Papanya yang mendekat lalu duduk disampingnya.
"Mana yang sakit?" tanya Reyhan penasaran sehingga Aldo memegangi perutnya, langsung saja Reyhan mengurut bagian perut putranya itu pelan.
"Kamu harusnya hati-hati kalau makan," jelas Reyhan kesal.
"Maaf.." lirih Aldo yang masih kesakitan saat Papa menekan perutnya yang sakit.
"Gimana, Baby?"
"Aldo baik-baik saja kok, untung saja dia gak banyak makan kacang," balas Reyhan menyelimuti tubuh anaknya itu.
"Rey mau kerjain berkas dulu ya,".
"Iya-iya, aku mau nemani Aldo dulu biar cepat tidur,"
"Gak boleh peluk Aldo,"
"Baby!"
"Eh, boleh kok tapi jangan lama-lama," senyum Reyhan lalu bergegas pergi sedangkan Elsa berbaring di sebelah putra bungsunya.
"Udah sehat perutnya?" tanya Elsa memeluk putranya itu.
"Udah, Ma. cuman kepala Aldo pusing banget," lirih Aldo memeluk Mama tersebut.
"Sekarang pejamkan matanya biar cepat hilang pusingnya,"senyum Elsa sehingga Aldo memejamkan matanya untuk tidur karena mengantuk sekali.
Disisi lain, Alda menghentikan taksi dan bergegas menuju kelasnya setelah membayarnya. ia takut ketinggalan jam pelajaran. sesampai di kelas, ia menghela nafas karena belum ada guru yang masuk.
"Abang, gimana adek?"
"Udah sama Mama, jamkos?"
"Iya, Bang. gurunya sakit," balas Aldi jujur membuat Alda mengerti.
"Mendingan kita ke kantin aja," ajak Alda sehingga Aldi mengikuti saudaranya itu karena bosan dikelilingi cewek terus sejak kepergian abangnya tadi.
__ADS_1
"Hai! boleh kenalan?" tanya sekumpulan cewek mendekati si kembar.
Alda langsung menarik tangan saudaranya untuk bergegas pergi dari sana.
"Kenapa kita yang dikejar terus ya? padahal, disekolah ini banyak cowok," jelas Aldi kebingungan.
"Abang gak tau," balas Alda yang tak paham dengan cewek-cewek tersebut.
"Hei! tunggu!"Keduanya menoleh pada Laila yang mendekati mereka.
"Ada apa lagi? belum puas bikin adek gue terbaring lemah di kasur, ha? mendingan lo pergi jauh-jauh," ketus Alda dingin.
"Gue mau minta maaf, gue gak tau kalau kalian gak suka kacang," lirih Laila merasa bersalah sekali.
"Gue gak bakalan maafin lo, ingat perkataan gue tadi," jelas Alda tajam membuat Laila benar-benar merasa bersalah sekali.
"Kalau lo bukan anak teman Mama gue, gue habisi lo sekarang!" tekan Aldi tajam dan langsung saja memasuki kantin bersama abangnya.
"Gue harus telpon Mama, hanya Mama yang bisa bantu aku,"gumam Laila mengeluarkan ponselnya tersebut.
{Ada apa, Laila? gimana, si kembar menyukai sarapan dari Mama?}
"Ma, si kembar marah banget sama aku saat ini!"
{Kenapa?}
"Laila gak sengaja masukin kacang ama udang hiks terus adik bungsu mereka langsung sakit,"
{Astaga, Laila! ngapain kamu kasih makanan pantangan mereka?! aduh! Mama gak tau harus bicara apalagi saat ini. Rasanya Mama pengen mati aja kalau sudah kayak gini hiks}
Tut!
Laila tak mengerti saat ini, entah kenapa Mamanya sampai menangis seperti itu. Tak lama, ia melirik ponselnya dan melihat nomor dari Papanya. langsung saja ia mengangkatnya.
{Pulang sekarang! Papa tunggu!}
Tut!
Wanita itu langsung bergegas pulang saat ini, ia ak tau apa yang akan di bilangin papanya saat ia sampai dirumahnya nanti.
10 menit kemudian...
Plak!
Laila meringis saat sebuah tamparan mendarat di pipinya, padahal ia baru sampai di rumah.
"Berani-beraninya kamu memasukkan kacang ke bekal si kembar, kau sanggup berurusan dengan keluarga mereka, hah?" bentak Fadli yang sudah tersulut emosi.
"Mama sama Papa kenapa sih, belain mereka itu sampai segitunya? apa karena Mama mereka Mafia sampai kalian takut?" tangis Laila sambil memegangi pipinya yang memanas akibat tamparan Papanya.
"Lagian Papa juga mantan Mafia seperti Mama mereka!".
"Papa memang mantan Mafia dan malahan Papa rekan dari Mama mereka. tapi, kalau sudah berurusan dengan Papa mereka. Papa takut! begitu juga dengan Mama yang tak ingin berurusan dengan Reyhan. dan sekarang, kamu malah membuat putranya terbaring," sentak Fadli tajam.
"Mas, aku sudah siap. ayo berangkat ke tempat orang tuanya si kembar buat minta maaf, Aku sudah pasrah kalau Reyhan marah atau membunuh kita," jelas Tia pasrah sehingga Fadli menoleh.
__ADS_1
"Ayo ikut Papa sekarang,"
Laila hanya mengangguk pasrah, ia juga bingung dengan kedua orang tuanya yang ketakutan dengan Papanya sikembar.
...****************...
Siang harinya, si kembar sudah pulang dari sekolah dan bergegas menuju ruang tamu. ia menatap dingin kearah Laila yang duduk di samping Mama mereka.
"Mama, gimana keadaan adek?" tanya Alda sehingga semuanya menoleh.
"Adik kalian sudah baikan kok," senyum Elsa.
"Owh iya, salam dulu sama Tante Tia sama suaminya,".
Si kembar langsung menyalami kedua orang tersebut dan menatap tajam kearah Laila, membuat wanita itu makin bersalah. Si kembar lalu bergegas menuju kamar mereka untuk berganti pakaian.
"Baby, mau kemana?"
"Ke kamar Aldo, Rey ngerasa Aldo menangis kesakitan," balas Reyhan bergegas ke kamar tamu untuk melihat putranya dan benar saja, anaknya itu menangis sesenggukan. semuanya langsung bergegas ke kamar tamu.
"Rey, biar Aldo dibawa ke rumah sakit saja. biar gue yang urus biayanya," pinta Fadli.
"Gak usah, gue bisa sembuhkan anak gue sendiri," ketus Reyhan lalu membantu putranya itu buat duduk.
"Apa yang sakit?" tanya Reyhan penasaran.
"Hiks perut aku sakit banget, Pa!" tangis Aldo membuat Reyhan kebingungan.
"Biar Abang yang sembuhkan,"Semuanya menoleh pada pria berjubah mendekat.
"Abang, tolongin putra bungsu Rey," pinta Reyhan sehingga Edward membuka penutup kepalanya dan mengusap perut Aldo.
"Setelah ini jangan makan kacang lagi ya, kau berserta abang-abang kamu itu gak boleh makan kacang," jelas Edward.
"Hiks Aldo gak teliti tadi, Paman hiks. perut Aldo sakit banget,"isak Aldo kesakitan sekali. Edward lalu menekan perut Aldo pelan sehingga pemuda itu kesakitan sekali.
Hukk!
Semuanya kaget saat Aldo muntah darah sedangkan Edward biasa-biasa saja.
"Muntahkan lagi, jangan ditahan!" pinta Edward.
Huweekk!
Brukh!
Aldo langsung pingsan membuat Reyhan panik.
"Tenanglah, dia bakalan sembuh kok. biarkan dia istirahat, Elsa tolong ganti bajunya," suruh Edward sehingga Elsa mengganguk kecil.
Edward lalu menoleh kearah Laila dan mendekati gadis itu.
"Candaan anda gak lucu, kalau kau melakukan ini lagi. matahari tak akan kau lihat lagi," peringat Edward membuat Laila takut.
"Kalian berdua jangan takut, gue hanya mengingatkan saja sama anak kalian," balas Edward tersenyum lalu pergi dari sana.
__ADS_1
Bersambung......