
"Baby, kenapa kamu selalu melamun?"
Reyhan hanya diam tak bersuara sambil menatap cahaya bulan yang sudah bersinar terang di gelapnya malam.
"Elsa, Rey capek. Rey pengen mati aja," lirih Reyhan membuat Elsa menoleh menatap bingung pada suaminya itu.
'Apa dia tau kalau gue selingkuh darinya? kayaknya gak mungkin,' batin Elsa yakin.
"Kenapa kamu bilang kayak gitu?"
"Apa kau mencintaiku?"
Hening.
Reyhan tersenyum miris lalu kembali menoleh keluar jendela, ia sudah tau maksud diam istrinya itu.
"Tentu saja aku mencintaimu, kenapa bertanya seperti itu?"tanya Elsa penasaran sambil memeluk tubuh suaminya itu, supaya Reyhan tak curiga padanya. entah kenapa ia sudah tak mencintai suaminya itu, ia hanya menginginkan harta milik suaminya itu saja.
"Papa! ayo tidul baleng Mama balu!" rengek Alia berlari mendekati Reyhan membuat Reyhan mengendong Alia.
"Mama baru?" tanya Elsa bingung.
"Bukan apa-apa, dia menyebut Amina sebagai Mama kedua,"balas Reyhan lalu membawa Amina pergi yang membuat Elsa penasaran lalu mengikuti suaminya tersebut.
Ia menatap Reyhan yang tersenyum pada Amina yang baru saja membuka pintu kamar. Ia mengepalkan tangan melihat suaminya mencubit gemes pipi Amina membuat Elsa mendekati pasangan tersebut.
"Baby, aku gak suka kamu sentuh wanita lain!"
Reyhan sontak menoleh pada Elsa setelah memberikan Alia pada Amina.
"Kenapa? Rey bakalan jujur sama kamu sekarang, Amina adalah istri baru Rey dan kau bilang, kau gak suka lihat aku menyentuh wanita lain, bukan? terus kau malah memberikan tubuh kamu pada pria lain dan mengatakan kamu jijik mengurusi aku!" sentak Reyhan menahan tangisnya.
"Rey capek bersikap biasa-biasa saja seolah Rey gak tau apa-apa,".
Elsa menatap tajam kearah Amina yang menunduk ketakutan, langsung saja Elsa membuka laci di sampingnya dan menodongkan pistol kearah Amina yang membuat Reyhan kaget.
"Kau jangan macam-macam, Elsa!"
"Aku akan membunuhnya!"
"Jangan menyakiti nya, dia gak ada urusannya dengan masalah kita!"
__ADS_1
"Aku akan membunuh nya, dia pelakor!"
"Mendingan kau bunuh saja aku, kau membenci aku, bukan? bunuh aku sekarang!" bentak Reyhan melindungi Amina dan Alia dibelakang tubuhnya. Elsa menatap tajam kearah Reyhan lalu tersenyum miring.
Dor!
"Papa!"
"Reyhan!" panik Amina saat Reyhan ambruk dengan darah yang mengalir di dadanya.
"Ja-Jangan menangis, per-pergilah dan ja-jaga putriku," lirih Reyhan memejamkan mata. Amina menangis sambil memeluk tubuh suaminya itu.
Dor!
Dor!
Amina maupun Alia ambruk dengan peluru yang bersarang di dadanya. Elsa benar-benar tak memiliki rasa iba sedikitpun dan tega membunuh anaknya sendiri demi keegoisannya.
"Akhirnya masalah selesai dan aku bisa menikah dengan orang yang aku cintai," smirk Elsa lalu memanggil bodyguard nya untuk membuang mayat-mayat orang-orang itu.
"Kasihan Tuan Reyhan dan anaknya dibunuh oleh wanita iblis itu," lirih bodyguard itu sedih. Mereka sebenarnya ingin memberitahu rahasia Elsa yang ingin merencanakan sesuatu yang buruk pada Reyhan tapi semuanya sudah sia-sia, apalagi mereka diancam kalau seandainya mereka membocorkan rahasia Elsa.
"Queen, kami lapar!"
Queen yang lagi enak-enakan tidur pun membuka matanya dan melihat si kembar yang mencoba membangunkan nya karena lapar sekali.
"Ini udah malam, lapar banget?" tanya Queen sehingga si kembar mengangguk pelan membuat Queen beranjak duduk sehingga si kembar senang sekali.
"Abang, Aldo merasa ada sesuatu sama keadaan Papa. kita ke kota ya, malam ini," pinta Aldi membuat semuanya menoleh.
"Tapi, Papa larang kita kesana dan mungkin saja itu perasaan kamu saja," balas Alda membuat Aldi terdiam lalu mengangguk pelan.
Queen lalu mengajak si kembar untuk membuat sarapan untuk ketiga suaminya itu, si kembar selalu terjaga tengah malam akibat terbiasa makan malam.
...***...
Edward memegangi dadanya yang tiba-tiba sakit sekali, membuat pria itu terbangun dari tidurnya.
"Abang kenapa?"
"Reyhan, Abang mau ketempat Reyhan bentar," Edward langsung menghilang dan kaget melihat tiga orang yang terkapar tak bernyawa disebuah ruangan kosong.
__ADS_1
"Siapa kau?"
Edward langsung menoleh yang membuat beberapa bodyguard itu kaget saat melihat kedatangan Abang nya Reyhan.
"Siapa yang bikin adek saya kayak begini?" tanya Edward menahan marah sambil memegangi dadanya yang benar-benar sesak sekali.
"Nyonya Elsa, dia yang membunuh adik anda dan maafkan kami yang tak bisa berbuat apa-apa," lirih mereka yang membuat Edward emosi.
"Culik 3 orang dan ambil darahnya buat saya sekarang!"
"Baik, Tuan!" balas mereka bergegas pergi dari sana.
"Reyhan!" tangis Edward memeluk adiknya itu, ia benar-benar ketakutan sekali kehilangan adiknya untuk kedua kalinya. Wajah adiknya itu sudah benar-benar pucat sekaligus kaku plus dingin.
"Kau benar-benar, Elsa. kau berurusan denganku sekarang,"
"Tenanglah, dia urusan aku!"
Edward menoleh pada wanita yang mendekat.
"Aira, bu-bukannya kau sudah..," gagap Edward sehingga Aira tersenyum.
"Aku sudah gak ada tapi, aku harus menyelesaikan tugas aku untuk membalas semuanya pada Elsa. aku gak bakalan tenang kalau wanita itu bahagia diatas penderitaan Reyhan, aku juga suka wanita itu menjadi istrinya Reyhan dan wanita idaman,"jelas Aira jujur.
"Terserah kau saja," balas Edward sambil mengusap lembut kepala adiknya itu, ia benar-benar ketakutan sekali karena tak ingin kehilangan adik kesayangannya tersebut.
Aira tersenyum lalu menghilang dari sana.
"Reyhan, kamu bertahan ya," lirih Edward lalu menoleh pada Alia maupun Amina yang sudah tak bernyawa. Edward benar-benar tak mengerti dengan Elsa yang tega membunuh suami dan anaknya sendiri.
Tak lama, tiga bodyguard datang sambil membawakan darah segar sehingga Edward menerimanya. pria itu langsung menuangkan darah di dada Reyhan berserta Amina dan Alia.
Edward berusaha mengeluarkan kekuatannya untuk menyembuhkan luka ketiga orang itu.
"Dek, ayo buka mata kamu," isak Edward berusaha membangunkan adiknya tersebut.
Beberapa pria kekar itu menundukkan kepala mereka karena tau perasaan rasa kehilangan tersebut.
"Kalia...,"
Bersambung.....
__ADS_1