MENCINTAI SESEORANG IBLIS

MENCINTAI SESEORANG IBLIS
PART 30


__ADS_3

Si kembar tampak begitu tak mengerti belajar bahasa Indonesia, ketiganya hanya paham bahasa Belanda saat ini. Ditambah guru yang mengajar mereka begitu membosankan bagi mereka bertiga.


"Kau keluarlah dan biar saya yang ajarkan mereka,"


Semuanya menoleh pada pria berjubah membuat sikembar terdiam, mereka ingat sekali dengan suara tersebut. dimana saat Aldo kecelakaan, pria misterius itulah yang menolongnya. Seakan mengerti guru itu pun bergegas pergi sehingga sosok berjubah tersebut mendekat yang membuat si kembar ketakutan.


"Pencabut nyawa kah, anda?" tanya Aldo penasaran membuat pria berjubah tersebut memperlihatkan wajahnya, membuat si kembar bisa melihatnya dengan jelas sekali.


"Saya Edward dan saya adalah Abang nya Papa kalian," balas Edward dengan dinginnya lalu duduk di hadapan si kembar.


"Kenapa keluarga Papa muda semua? Apa kami anak angkat?"tanya Alda kebingungan yang membuat Edward terkekeh kecil.


"Kalau kalian anak angkat, kenapa wajah kalian hampir mirip dengan Papa kalian? kalian itu anak biologis nya, anak kandung," jawab Edward jujur.


"Tapi, kalau kau adalah paman kami. kenapa kau berpakaian aneh seperti malaikat pencabut nyawa?" selidik Aldi penasaran begitu juga dengan yang lain.


"Ini pakaian tradisi saya dan Papa kalian juga memakainya tapi karena dia sudah terbiasa memakai pakaian seperti kalian, kalian tak pernah melihatnya memakai jubah ini," balas Edward lagi.


"Jangan-jangan Paman adalah pengikut aliran sesad ya?"tuduh Aldo sehingga Edward menoleh lalu menggeleng pelan.


"Saya bukan pengikut aliran sesad," kesal Edward karena selalu di bilang aliran sesad. Apa ia salah memakai pakaian tradisinya?.


"Abang! Abang kapan sampainya?"Semuanya menoleh pada Reyhan yang mendekat membuat Edward tersenyum.


"Abang baru datang, gimana kabarnya?" tanya Edward saat Reyhan memeluknya seperti dulu.


"Rey baik-baik saja, dan mana Papa sama Mama?" tanya Reyhan penasaran.


"Mereka ada urusan dan kapan-kapan bakalan kesini,"


"Rey maunya mereka kesini hari ini, sejak si kembar lahir mereka tak pernah muncul untuk melihat sikembar yang sudah remaja," kesal Reyhan melepaskan pelukannya dari sang Abang.


"Mama dan Papa datang kok, Sayang!"


Reyhan dan yang lain pun menoleh pada pasangan yang baru datang membuat Reyhan tersenyum senang.


"Reyhan kangen kalian!" pekik Reyhan berlari dan memeluk kedua orang tuanya itu sedangkan si kembar jangan ditanyakan lagi.


Ketiganya benar-benar bingung dengan keluarga Papanya yang terlihat masih muda, harusnya sudah tua apalagi Kakek dan Neneknya itu termasuk Paman mereka. Apa mereka anak kandung?, pikir mereka.


Lain hal nya dengan Edward yang melihat Reyhan yang begitu senang, ada rasa beban yang selama ini bersarang di hatinya. ingn sekali ia membuka identitas adiknya itu tapi ia takut akan kehilangan Reyhan ataupun yang lainnya. Edward menghela nafas panjang, ia lebih baik menunggu waktu yang tepat untuk menjelaskannya pada orang tuanya khususnya Reyhan.


Ia tak ingin rasa bersalahnya menghantui hatinya terus-menerus.


"Abang kenapa diam?" tanya Reyhan bingung yang membuat Edward tersenyum lalu menggeleng.


"Abang gak papa kok," balas Edward berbohong.

__ADS_1


"Wah, Cucu kami udah besar saja," senyum Mama menoleh pada si kembar yang hanya diam sedari tadi. mereka hanya membalasnya dengan senyuman saja karena tak bisa berkata-kata lagi.


"Papa, kami ingin ke kamar bentar ya," senyum Aldi menarik kedua tangan saudaranya tersebut menuju lantai atas.


"Kenapa keluarga Papa semuanya muda? apa kita anak angkat?" tanya Aldi setelah menutup pintu kamar.


"Abang gak tau, yang dikatakan oleh Paman tadi memang benar, kalau kita bukan anak kandung Papa. kenapa kita mirip dengan Papa," timpal Alda jujur sehingga Aldi maupun Aldo terdiam beberapa saat.


"Kita harus cari siapa Papa sebenarnya, apalagi nanti malam Papa selalu keluar saat bulan purnama," usul Aldo membuat keduanya mengangguk setuju.


"Kita jangan sampai ketiduran nanti malam biar kita lihat apa yang dilakukan oleh Papa," peringat Aldi.


Tanpa mereka sadari, Reyhan tersenyum tipis di balik pintu mendengar percakapan ketiga anaknya tersebut, sebenarnya ia ingin mengajak anak-anak nya untuk menemani Elsa ke luar. setelah agak lama, Reyhan lalu mengetuk pintu sehingga Aldo membuka pintu kamar.


"Ada apa, Pa?"


"Kalian bisa temani Mama kalian belanja harian, gak? dia pasti kesulitan membawa barang-barang kalau tak ditemani," jelas Reyhan jujur.


"Baik, Pa! kami ambil jaket dulu," senyum Aldi bergegas menuju lemari untuk mengambil jaket sekaligus punya saudara-saudaranya sedangkan Reyhan memilih turun kebawah untuk berkumpul dengan keluarganya.


Tak lama, ketiganya langsung bergegas turun membuat semuanya menoleh.


"Ngapain pakai masker?" tanya Elsa penasaran membuat si kembar tertawa pelan.


"Kami bosan dikejar cewek terus, Mama. ayo kita pergi dan jangan lupa traktir kami makan hehehe," cengir Aldi sehingga Elsa terkekeh lalu mengajak ketiga anaknya pergi dari sana.


"Hati-hati," peringat Elsa langsung masuk yang disusul oleh yang lain, sedangkan Aldo dan Aldi langsung duduk tenang dibelakang karena tak sabar belanja puas-puas di mall nanti, ditambah ditraktir oleh sang Mama.


"Mama, Alda boleh minta sesuatu sama Mama, gak?"


"Apaan itu?"


"Alda ingin tes DNA, Alda selalu kepikiran kalau kami bukan anak kalian," lirih Alda yang dapat didengar oleh Elsa, membuat wanita itu bungkam sekali.


"Kalian itu anak kandung Mama dan Papa, bukannya Papa akan menjelaskannya saat kalian berumur 20 tahun nanti. kalian harus sabar ya," senyum Elsa supaya anak-anak nya itu tak memikirkan masalah ini terus.


"Mama, menunggu 3 tahun itu lama sekali. Aldi capek di bilang anak yatim-piatu sama teman-teman sekolah kami dulu. mereka gak percaya kalau Mama dan Papa adalah orang tua kami melainkan mereka bilang kalian adalah saudara kami,"jelas Aldi jujur.


Elsa langsung mengeluarkan sebuah ponselnya dan memperlihatkan foto dimana ia terbaring lemah dengan si kembar yang masih tertidur lelap di baby box.


"Ini foto Mama waktu siap melahirkan kalian," jelas Elsa memberikan ponsel tersebut pada Aldi.


"Wah, iya! waktu Mama lagi hamil juga ada. apalagi hasil pemeriksaan sekaligus foto kami yang digendong oleh Papa dan Mama," kagum Aldo membuat Elsa tersenyum bahagia.


"Kalian itu anak kandung kami, kalian harus sabar menunggu usia kalian 20 tahun ya,"


"Baik, Ma." balas mereka tersenyum manis, sedangkan Aldi maupun Aldo asik melihat foto mereka waktu lahir dan beberapa foto Mamanya waktu bekerja di restauran.

__ADS_1


"Mama, ini foto Mama dengan siapa?" tanya Aldi sehingga Elsa menoleh dan melihat foto tersebut.


"Wanita itu yang namanya Shakira, dia dulu teman Mama dan pura-pura baik saat bersama Papa kalian. bisa dibilang kalau wanita itu adalah istri pertama Papa kalian,"


"Istri pertama?" kaget mereka yang tak menyangka kalau Papanya sudah menikah sebelum menikah dengan Mama mereka.


"Iya, awalnya wanita itu baik dan manjain Papa kalian. saat mengetahui siapa Papa kalian, wanita itu menjauhi Reyhan dan menceraikannya secara tiba-tiba. karena Reyhan sakit hati, dia lalu dekat dengan Mama membuat wanita itu dendam, saat Papa kalian ingin ajak Mama jalan-jalan buat kencan pertama, wanita itu langsung menculik Reyhan...,"


"Tak hanya itu, Papa kalian dikurung dikamar dan disiksa baik batin maupun fisiknya," jelas Elsa membuat Sikembar iba dengan Papanya.


"Apa karena itu Papa gak mau ditinggalin sendiri, Ma?" tanya Aldo sehingga Elsa mengangguk.


"Papa kalian itu selalu nangis kalau Mama tinggalin, walau kedapur pun dia bakalan tetap nangis. kalau sekarang, dia bersama keluarganya sehingga Papa kalian gak bakalan nangis lagi," balas Elsa dengan entengnya membuat ketiganya mengangguk paham.


"Umur Papa sekarang berapa, Ma?"


"376 tahun,"


"AP-APA?!" pekik ketiganya bersamaan dengan Alda yang mengerem mendadak sehingga Elsa sontak kaget.


"Parah amat umur Papa, Ma? Mama pasti bohong!" tuduh Alda membuat Elsa menoleh.


"Astaga, Alda! kalau mau rem mobil jangan mendadak," panik Elsa membuat Alda terkekeh kecil.


"Mama sih, masa umur Papa segitu," cengir Alda membuat Elsa mengusap dada pelan.


"Lupakan itu sekarang, ayo ke mall sekarang sebelum Papa kalian ngamuk dan ngambek sama Mama, bujuknya bakalan lama," pinta Elsa sehingga Alda langsung melajukan mobil tersebut menuju Mall yang di tunjuk oleh Mamanya.


***


Elsa tampak memilih sayur-sayuran sekaligus daging untuk dibuat soup nanti sore sedangkan Si kembar tengah asik memilih buah untuk dibuat jus nanti.


Brukh!


"Awh," ringis Aldi saat tak sengaja menabrak seseorang. Ia menoleh dan melihat seorang wanita yang juga terduduk dihadapannya.


"Lo kalau jalan hati-hati dong! berantakan belanjaan gue!"kesal wanita itu sedangkan Aldi yang tak mengerti bahasanya pun hanya diam membuat wanita itu menoleh.


"Bukannya minta maaf malah diam, dasar bisu!" umpatnya.


'Dia ngomong apaan?' batin Aldi tak mengerti.


"Abang, Abang gak papa?" tanya Aldo mendekat sambil membantu Abangnya berdiri, ia lalu melirik kearah wanita yang memungut belanjaan yang berserakan tersebut.


"Gak Papa, ayo pergi dari sini!" ajak Aldi membuat sang wanita menoleh.


"Pantesan diam, ternyata bule toh!" sinis nya bergegas membayar belanjaan nya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2