MENCINTAI SESEORANG IBLIS

MENCINTAI SESEORANG IBLIS
PART 36


__ADS_3

Alda sudah siap mandi sedangkan Aldi baru saja masuk kamar mandi untuk membersihkan diri. Alda menghela nafas panjang lalu menuju kaca dan kaget melihat iris matanya berwarna merah, ia berusaha mengusap matanya dan tetap saja berwarna merah.


"Aku gak mungkin pakai pakai pewarna mata," gumam Alda mengusap matanya lagi, tetap saja matanya berwarna merah seperti mata Papa nya waktu itu.


"Huwa! Abang!"


Alda yang mendengar teriakan Aldi pun langsung membuka pintu kamar mandi dan melihat Aldi terduduk di lantai sambil menutupi wajahnya.


"Dek, kau kenapa?" panik Alda sehingga Aldi menoleh dengan mata yang juga berwarna merah.


"Hiks mata Aldo berwarna seperti Aldo,"


"Abang juga berwarna merah, tap...," perkataan Alda terhenti saat melihat kaca bertulisan dengan sebuah darah, membuat keduanya bingung dengan maksud tulisan tersebut.


"Iblis?" gumam Alda bingung sekali, ia memegangi kepalanya yang mendadak sakit sekali.


"Kalian kenapa?" keduanya menoleh pada Reyhan yang mendekat.


"Iblis," lirih mereka membuat Reyhan bungkam mendengarnya ditambah mata kedua anaknya juga merah, ia lalu melirik kearah kaca yang masih tertulis kata iblis.


"Baby! mata Aldo merah!"


Reyhan mengusap wajahnya kasar, ia tau kalau kekuatan anaknya itu mulai muncul. terpaksa ia akan bilang yang sebenarnya saat ini.


"Ayo ikut Papa keruang tamu dan kau Aldi, pakai bajumu lagi!"suruh Reyhan sehingga mereka mengangguk pelan.


Ketiganya lalu keluar dari sana menuju ruang tamu dan melihat Elsa yang memeluk Aldo yang menangis.


"Kenapa dia nangis?" tanya Reyhan khawatir.


"Dia teriak karena karena melihat matanya memerah terus ada tulisan di kaca kamar," jelas Elsa lalu menoleh pada kedua anaknya yang juga matanya sama-sama merah saat ini.


"Elsa, apa Rey harus ceritain semuanya pada si kembar?"


"Ta-Tapi, Baby! apa mereka sanggup menerima kehadiran kamu?"Reyhan menoleh kearah anak-anak nya.


"Bagaimanapun mereka anak kandung Rey, Rey takut mereka bakalan ketakutan kalau kekuatan mereka tiba-tiba muncul,"jelas Reyhan membuat si kembar kaget.


"Kekuatan?" beo ketiganya.


"Papa sebenarnya bukan manusia,"


"H-Ha?" kaget si kembar sedangkan Elsa terdiam.


"Papa sebenarnya iblis sedangkan Mama kalian adalah manusia, kenapa kami masih muda karena Papa tak bisa tua dan Papa juga membuat Mama kalian juga muda. sebenarnya, kekuatan Papa saat ini tak sekuat dulu. kekuatan Papa pindah sama kalian bertiga," lirih Reyhan jujur membuat si kembar terdiam beberapa saat.


"Papa gak bohong?" tanya Aldo penasaran.


"Papa kalian gak bohong, kaum iblis ada di dunia ini dan bergaul bersama Manusia." jelas Elsa membuka suara membuat si kembar kembali bungkam.


"Kalian mau menerima kehadiran Papa kalian yang seorang iblis?".


Drep!


Reyhan kaget saat ketiganya memeluknya erat, membuat Elsa tersenyum bahagia.


"Bagaimanapun, Papa adalah Papa kandung kami," senyum mereka sehingga Reyhan memeluk ketiga putranya tersebut.


Disisi lain, Edward menatap langit yang begitu mendung. perlahan, ia mengusap air matanya yang mengalir deras secara tiba-tiba. entah kenapa ia sangat merindukan putrinya yang dibawa pergi oleh Alya, wanita yang sebenarnya adalah dalang dari kematian adiknya.


Ia begitu penasaran seperti apa rupa anak nya saat ini karena sudah lama tak bertemu.

__ADS_1


"Edward!"


Edward menoleh dan melihat kedua orang tuanya yang mendekat, membuatnya kembali menoleh kearah tebing yang cukup tinggi tersebut.


"Papa udah dengar semuanya, bukan? kalau Edward gak memasukkan roh manusia ke tubuh adik, kalian gak bakalan bisa melihat pertumbuhan Reyhan! dan sekarang, kalian gak bakalan bisa bertemu dengan Reyhan lagi," jelas Edward.


"Edward juga sudah menuruti perkataan kalian, kita gak saling kenal,".


Edward lalu menghilang dari sana membuat kedua orang itu terdiam beberapa saat.


Kini Edward muncul disebuah batu besar sambil menghela nafas panjang, ia sangat ingin bertemu dengan putrinya dan membawa putrinya kabur menjauhi wanita yang berani-beraninya membohonginya selama ini.


"Papa?"


Edward menoleh dan melihat seorang gadis berjubah tak jauh darinya, ia bingung lalu menatap sekitarnya dan tak ada orang lain kecuali dirinya.


"Apa itu Papa? suaminya Mama Alya?" tanya gadis itu lagi membuat Edward terdiam lalu mengangguk pelan. Gadis itu berlari dan memeluk erat Edward.


"Hiks aku ini putri Papa!" tangis nya membuat Edward kaget lalu menoleh.


"Kamu beneran putri Papa? Papa gak menyangka kalau kamu sudah sebesar ini," senang Edward membalas pelukan anaknya itu karena anaknya di bawa saat gadis ini berumur 5 tahun.


"Iya, Pa! ini Karen, Karen sudah lama mencari Papa di sekitar hutan ini karena Mama selalu mengurung Karen," ungkap Karen jujur.


"Sekarang ikut Papa, kamu tinggal bareng Papa dimasion adiknya Papa,"


"Selama ini Papa tinggal dimana?"


Edward sontak terdiam, tak mungkin ia jujur kalau ia hanya menyendiri di hutan dan tidur dibawah pohon beringin.


"Papa tinggal dimasion adiknya Papa," senyum Edward sehingga Karen mengangguk dan menghilang bersama Papanya.


"Waw, Paman bisa hilang-muncul," kagum mereka syok.


"Eh, kalian gak takut?" gagap Edward sehingga ketiganya menggeleng tak takut.


"Papa udah jelasin tadi, itu siapa Paman?" tanya Alda penasaran.


"Ini anaknya Paman, namanya Karen!"


"Wah, kami punya sepupu. hai Karen!" sapa Aldo tersenyum kecuali Alda dan Aldi yang menatap dingin.


"Hai juga," balas Karen tersenyum canggung.


"Itu anaknya adik Papa, mereka kembar tiga," senyum Edward sehingga Karen mengangguk paham.


"Eh, Abang." Edward menoleh pada Reyhan yang keluar dari kamar.


"Dek, Abang ama putri Abang tinggal disini, boleh?" tanya Edward penasaran.


"Boleh, Bang. lagian kamar di masion ini banyak," senyum Reyhan lalu menoleh pada gadis di samping Edward.


"Wah, anak Abang udah besar saja,".


"Hehe iya," balas Edward.


"Ayo sarapan bareng, aku udah masak banyak kok," ajak Elsa yang baru keluar dari kamar setelah membantu suaminya mengerjakan berkas kantor yang menumpuk.


"Ayo, bang!" ajak Reyhan menarik tangan Abangnya tersebut.


Selama sarapan, hanya terdengar suara Reyhan yang asik berbicara kecuali si kembar tiga. mereka bertiga belum terbiasa dengan orang baru terlebih orang itu adalah wanita.

__ADS_1


"Mama, kami kenyang! kami mau ke kamar," jelas Alda menarik tangan Aldo yang asik memakan sarapannya.


"Abang, sarapan aku belum habis," kesal Aldo sehingga kedua abangnya itu langsung mengangkat tubuh sang adik untuk ke kamar.


"Mereka kenapa?" tanya Edward kebingungan.


"Tau aja, mereka belum terbiasa dengan orang baru. kalau sudah sering bertemu mereka bakalan heboh," balas Elsa tertawa sehingga Edward mengerti kenapa sejak tadi si kembar terdiam.


Disisi lain,


"Abang jahat! Aldo masih lapar kenapa sih bawa Aldo ke kamar," cemberutnya sambil duduk di atas kasur sedangkan Aldi langsung mengambilkan banyak cemilan supaya adiknya itu gak cemberut terus.


"Nih, makan semuanya! Abang mau main game dulu," balas Aldi sambil menuju komputer nya sedangkan Alda asik mengotak-atik komputer, karena di kamar mereka terdapat 3 komputer sekaligus 3 laptop. Apapun harus tiga, kalau ada satu langsung dibuang oleh si kembar karena tak adil.


...****************...


Malam harinya, si kembar tampak asik menonton film horor di kamar sambil memakan cemilan masing-masing. Soal mata batinnya sudah ditutup oleh Edward tadi sore karena bosan lihat hal-hal mistis terus.


"Ahh!"


Si kembar menoleh kearah balkon lalu beranjak kesana, ia menatap rumah itu gelap.


"Abang, lihat itu!" tunjuk Aldo sehingga yang lain menoleh kearah jendela yang terbuka dan menampilkan sesuatu yang tak boleh di lihat si kembar yang polos tersebut.


"Kenapa mereka gak pake baju?" bingung Aldi.


"Kenapa cewe itu berlonjak di pangkuan pria itu? Ih, udah gede masih *****," sinis Alda ngeri.


Tiba-tiba mata ketiganya di tutup oleh seseorang.


"Mata anak gue ternodai, kenapa kalian lihat begitu?" kesal Elsa sedangkan Reyhan tak menoleh kesana melainkan menarik kedua putranya menjauhi balkon.


"Mama, mereka kenapa gak pake baju?" tanya mereka penasaran sehingga Reyhan menoleh kearah balkon sehingga pintu tertutup begitu juga dengan gorden kamar.


"Mereka sangat meresahkan, Baby. jaga si kembar aku ada urusan kesana," jelas Elsa bergegas pergi, ia sudah tak bisa menahan kesabaran saat ini karena otak anaknya bisa ternodai lama-lama.


"Papa, kenapa mereka gak pake baju terus bilang ahh?" tanya Aldi penasaran sehingga Reyhan menoleh.


"Papa juga gak tau," balas Reyhan dengan entengnya.


Dor!


Dor!


Dor!


Dor!


"Wah, pasti Mama udah ngamuk," gumam si kembar menoleh kearah balkon yang sudah tertutup tersebut, ia hendak menoleh pada Papanya tapi Reyhan sudah tak ada di samping mereka.


"Lah? Papa ngilang, pasti Papa nyusul Mama," jelas Alda langsung menuju balkon yang diikuti kedua adiknya. Setelah membuka pintu, mereka melihat Mamanya yang menyeret mayat orang-orang itu dan dibantu oleh Reyhan yang sudah ada disana.


"Mama kalau udah marah pasti ada nyawa yang hilang,"kagum Aldi.


"Tapi, apa orang-orang itu gak kedinginan kalau gak pake baju kayak tadi?".


"Gak tau," balas Alda dan Aldo serempak.


Bersambung.....


Sukai juga halaman Saya

__ADS_1


__ADS_2