MENCINTAI SESEORANG IBLIS

MENCINTAI SESEORANG IBLIS
PART 28


__ADS_3

"MAMA! ABANG AMBIL CEMILAN ALDO!" teriak Aldo sambil menarik cemilannya yang di rebut oleh Alda maupun Aldi.


"Minta dikit!" kesal kedua pria itu menarik cemilan milik adik bungsunya tersebut.


"Alda, Aldi! jangan rebut makanan adik kalian. kalian juga punya cemilan masing-masing," kesal Elsa karena ketiga anaknya tak pernah akur. kalaupun ada, itu pun mungkin hidayah kebetulan.


"Mau minta sedikit, adik pelit!" kesal Aldi merebut cemilan tersebut.


Brukh!


"Awh!" ringis Aldo memegangi kepalanya yang membentur sudut meja, membuat semuanya kaget.


"Aldo!" panik Elsa mendekati si bungsu yang menundukkan kepalanya sambil memegangi kepalanya yang sangat sakit sekali.


Alda dan Aldi yang merasa bersalah pun langsung membuang cemilan tersebut lalu mendekati adik mereka tersebut.


"Maafin kami!" panik Alda memegangi tangan adiknya itu sehingga Aldo menoleh.


Kedua pria itu sontak terdiam saat melihat mata adiknya yang awalnya berwarna hitam sekarang berwarna merah, tak hanya itu. mereka juga kaget melihat darah segar mengalir di wajah sang adik.


"Aldo gak papa kok," balas Aldo sedangkan Elsa menutup mata putra bungsunya tersebut.


Wanita itu langsung memeluk Aldi dan membawa Aldo pergi dari sana untuk mengobati luka sang anak.


"Kau lihat mata si adek, Bang?" tanya Aldi membuat Alda mengangguk pelan, ia masih bingung melihat mata adiknya berwarna merah.


"Kenapa mata Aldo berwarna merah kayak gitu?" gumam Alda langsung menuju kamar untuk mengikuti Mamanya yang mengobati luka sang adik.


"Mama, kenapa mata adik berwarna merah?".Elsa yang mengobati luka Aldo pun terdiam.


"Mungkin kalian salah lihat, terlebih kepala Aldi berdarah karena itu terkena matanya," kekeh Elsa berbohong sedangkan Aldo kebingungan.


"Mata merah? Mata Aldo warna hitam kan, Ma?" tanya Aldo sehingga Elsa mengangguk pelan.


Tin!


Tin!


"Papa pasti bawa banyak cemilan!" senang Aldi bergegas berlari mendekati Papa nya yang baru pulang dan disusul oleh Alda.


"Aldo pengen ikut sama Abang," pinta Aldo memohon.


"Gak usah, nanti Mama beliin cemilan," senyum Elsa memeluk Aldo sehingga pemuda yang berumur 17 tahun tersebut tersenyum.


Cklek!


"Elsa!"Elsa menoleh pada Reyhan yang menatap kesal padanya.


"Apa lagi?" tanya Elsa sehingga Reyhan mendekat dan langsung menarik Elsa buat jauhi Aldo.


"Pelukan kamu hanya untuk Rey!" cemberutnya sambil memeluk Elsa erat.


"Aldo juga pengen dipeluk sama Mama!" kesal Aldo menarik tangan Mamanya membuat Elsa pasrah.


"Gak boleh, kau pasti sudah puas peluk istri Papa!"


"Huwaa! Aldo belum puas peluk Mama!" tangis Aldo.


"Eh, kepala kamu kenapa di perban gitu?" tanya Reyhan memegangi perban di kepala putranya itu, Elsa langsung membisikkan sesuatu membuat Reyhan kaget.


"Kalian bisik apaan?" bingung Aldo menatap kedua orang tuanya yang saling berbisik-bisik.

__ADS_1


"Gak papa kok," senyum Elsa melepaskan pelukan suaminya itu dan mendekati Aldo.


"Sekarang kamu istirahat biar kamu cepat sembuh,".


Sedangkan Reyhan hanya diam sambil mengusap kepalanya, ia bingung buat memikirkan cara untuk menjelaskan semuanya pada ketiga putranya.


"Papa!"Reyhan menoleh pada kedua anaknya yang mendekatinya.


"Ada apa?" tanya Reyhan bingung membuat Alda maupun Aldi saling menyenggol lengan masing-masing.


"Ehm, Ap-Apakah kami bertiga anak kandung kalian?" tanya Alda hati-hati. membuat Reyhan terdiam begitu juga dengan Elsa yang tak bisa berkata-kata lagi.


"Kalian anak kandung Papa kok,"


"Kenapa kalian masih muda?" tanya Aldo ikut nimbrung.


"Papa belum bisa bilang sampai umur kalian sampai 20 tahun," jawab Reyhan jujur, membuat si kembar terdiam.


"Bereskan barang-barang kalian karena besok pagi kita pindah,".


Reyhan langsung pergi yang disusul oleh Elsa, sehingga sikembar mendadak diam.


"Papa kayak sembunyiin sesuatu," jelas Aldi jujur sehingga kedua saudaranya mengangguk pelan.


"Mendingan kita bereskan barang-barang kita biar tinggal berangkat saja besok," ajak Alda sehingga diikuti oleh Aldi dan Aldo.


Reyhan duduk di tepi tempat tidur sambil melonggarkan dasi yang melilit lehernya.


"Mereka pasti curiga sama kamu, Baby!" senyum Elsa duduk di samping Reyhan membuat pria itu langsung memeluk Elsa.


"Mereka gak bakalan curiga, Rey bakalan hapus ingatan mereka tentang masalah ini," senyum Reyhan sehingga Elsa mengangguk pelan.


"Mandiin aku lagi, tangan Rey capek otak-atik komputer terus,"cemberutnya memperlihatkan jari-jarinya pada sang istri.


"Dasar! ayo aku mandiin, awas aja nakal!" omel Elsa mencubit hidung Reyhan gemes.


"Nakal dikit gak papa," senyum Reyhan bergegas mengambil handuk yang diikuti oleh Elsa.


Disisi lain, si kembar tampak asik memakan cemilan masing-masing setelah membereskan pakaian mereka ke koper masing-masing.


"Abang, ayo jalan-jalan sebelum kita ninggalin kota ini!" ajak Aldo sambil mengunyah makanannya.


"Ide bagus tuh! tapi, apa kau masih bisa membawa motor dalam kondisi kepala diperban tersebut?" tanya Alda khawatir karena ulahnya sang adik terluka.


"Gak papa kok, Bang. ayo pergi!" ajak Aldo mengambil kunci motor sekaligus jaketnya sehingga yang lain ikut mengambil kunci motornya masing-masing.


Ketiganya tampak hati-hati menuruni tangga supaya tak diketahui oleh Mamanya, bisa-bisa kunci motor mereka kena ambil lagi kayak 1 minggu yang lalu gara-gara dipenjara selama 2 hari karena balapan liar di jalanan umum.


Setelah situasinya aman, langsung saja ketiganya bergegas menuju garasi untuk mengambil motor masing-masing dan mendorongnya meninggalkan masion supaya tak didengar oleh orang tuanya lagi.


2 menit kemudian...


BRUM!!!


BRUUUMMMM!


Aldo melajukan motornya dengan kecepatan tinggi dan disusul oleh abang-abang tanpa menghiraukan orang-orang yang mengumpatnya.


"AYO KEJAR ALDO, BANG!" teriak Aldo membuat kedua saudaranya melajukan motor mereka dengan kecepatan tinggi membuat Aldo mendengus kesal saat menyadari keduanya meninggalkannya.


"Eh, itu siapa?" gumam Aldo melihat sosok dibawah pohon yang tengah memandanginya.

__ADS_1


Tin!


Deg!


Bruak!


Mendengar suara tabrakan, Alda maupun Aldi menghentikan laju motornya dan kaget melihat adiknya terbaring di aspal sedangkan mobil tersebut sudah kabur.


"ALDO!" panik mereka turun dari motor dan bergegas berlari mendekati Aldo, keduanya mendadak bingung melihat seseorang berjubah mendekati adik mereka yang terkapar lemas.


"Aldo, kamu gak papa?" panik Alda memeluk adik bungsunya yang sudah berdarah-darah tersebut.


"Dasar bodoh! apa kalian punya nyawa cadangan main ngebut-ngebutan, hah?!" bentak sosok itu sehingga ketiganya menoleh pada pria yang wajahnya tertutupi tersebut.


"Ka-Kau siapa?" lirih Aldo yang kesakitan.


orang itu hanya diam lalu memegangi tangan Aldo membuat luka tersebut perlahan menghilang dengan sendirinya membuat si kembar kaget.


"Kalian belum cukup umur buat ngebut-ngebutan, kalian bertiga masih muda dan kamu, Alda. jangan sampai kelalaian kamu membuat kedua adikmu terluka," setelah mengatakan itu sosok itu pergi dari sana tanpa berniat memperlihatkan wajahnya.


"Kenapa dia tau nama gue," gumam Alda kebingungan sekali.


"Motor kesayangan aku rusak," cicit Aldo sambil melepaskan pelukan abangnya itu.


"Tabungan Abang masih ada, pas di Indonesia saja kita beli yang baru," jelas Aldi sehingga Aldo terdiam.


"Aldo beli pakai tabungan Aldo aja," senyum Aldo sedangkan Alda masih saja kebingungan tentang sosok misterius tadi.


Kenapa tau namanya?


Kenapa luka adiknya tiba-tiba menghilang begitu saja saat disentuh oleh orang itu?


...****************...


Malam harinya, ketiga pria itu tampak berdiri di dekat dinding dengan kepala yang diletakkan beberapa buku tebal. ketiganya ketauan pulang larut malam dan entah darimana kedua orang tuanya tau kalau mereka balapan lagi.


"Enak jatuh dari motor?" tanya Elsa mendekati Aldo membuat Aldo terdiam.


"Jangan sampai bukunya jatuh!".


"Mama, ampuni kami!" pinta Alda memohon.


"Kalau diampuni kalian bakalan tetap bandel juga," sinis Reyhan yang asik ngemil membuat si kembar memanyunkan bibir masing-masing karena kesal.


"Kami janji gak bakalan pulang larut dan gak bakalan ugal-ugalan lagi," senyum Aldi.


"Lagian ini ide si adek!"


"Waw, kamu bohong!" kesal Aldo.


"Adek!" kesal Alda dan Aldi yang membuat Aldo terdiam.


"Ini ide Aldo, Mama ku sayang! bukan salah Abang," senyum Aldo dengan polosnya.


"Jangan sebut istri Papa Sayang!" kesal Reyhan tak terima.


"KAMU IRI, RASAIN!" ejek ketiganya membuat Reyhan kesal.


"ANAK LUCNUT!" pekik Reyhan sehingga semuanya tertawa begitu juga dengan Elsa yang tak paham dengan sikap suaminya yang tak ada ubah-ubah nya, padahal sudah punya anak. Tingkahnya masih saja layaknya anak-anak.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2