MENCINTAI SESEORANG IBLIS

MENCINTAI SESEORANG IBLIS
PART 72


__ADS_3

"Reyhan, mendingan kau menikah lagi!"


Reyhan sontak menoleh pada Abangnya yang duduk di hadapannya.


"Bang, Rey bukan tipe pria yang suka mendua," lirih Reyhan membuat Edward terdiam beberapa saat.


"Kau memang tipe pria gak suka selingkuh tapi kau diselingkuhi oleh istrimu sendiri. kau bisa membalasnya tapi dengan menikahi wanita iblis yang terkenal akan setianya,"jelas Edward membuat Reyhan terdiam beberapa saat.


"Kami mau Papa menikah lagi!"


Deg!


Reyhan menoleh pada si kembar yang membuat Reyhan kaget sekali.


"Papa, Aldo bisa tau apa yang Papa sembunyikan. Papa berhenti menyakiti perasaan Papa demi kami, kami ingin Papa bahagia bukan tersiksa," jelas Aldo jujur.


"Tapi ..."


"Papa, kami mau Papa menikah dengan wanita yang mau memahami Papa dan tak mau duain Papa." potong Alda jujur.


"Mereka juga setuju, Rey. sudah cukup kamu menahan beban selama ini, kalian itu sudah tak sepemikiran lagi," jelas Edward supaya adiknya itu paham.


"Kamu tenang saja, Abang sudah mencarikan kamu calon istri dan Abang juga sudah mencari identitas nya sedetil mungkin supaya kamu tak disakiti. dia wanita baik dan sedikit pemalu sekaligus pendiam. mungkin, polos seperti kamu Rey," kekeh Edward jujur.


"Papa mau aja ya, kami bakalan dukung!" senyum si kembar membuat Reyhan tersenyum lalu mengangguk pelan.


"Nah, gitu dong! kau berhak bahagia," senyum Edward.


"Kembar! sarapan kalian belum habis!"


"Iya, bentar!" teriak Aldi.


"Titip adik kalian, soalnya Papa kalian bakalan nikah hari ini juga. gak baik kalau pacaran dulu," jelas Edward sehingga Aldo mengendong Alia.


Edward maupun Reyhan menghilang sehingga si kembar kembali masuk untuk melanjutkan sarapan mereka lagi.


"Loh? kenapa ada Alia?" bingung Queen.


"Papa ada urusan bentar, makanya Alia dititipkan pada kami,"bohong mereka sedangkan Alia hanya diam sambil menyembunyikan wajahnya di dada sang Abang karena takut dengan Queen.


"Matanya merah, apa itu asli?" tanya Queen penasaran saat si kembar mulai sarapan.

__ADS_1


"Asli," balas ketiganya jujur.


Queen benar-benar kagum dengan adik suaminya itu, sangat mengemaskan sekali.


"Mau bermain sama Kakak? Kakak orangnya baik kok,"senyum Queen membuat Alia ragu lalu mengulurkan kedua tangannya sehingga Queen mengendongnya.


"Mengemaskan sekali!" jerit Queen mencubit gemes pipi Alia, membuat bocah itu tersenyum manis.


Sedangkan di kembar melanjutkan sarapannya karena sudah lapar sekali tanpa menghiraukan Queen yang asik bermain dengan adik mereka.


Setelah sarapan, si kembar mengajak adiknya buat bermain dihalaman supaya mendapatkan cahaya matahari pagi.


Beberapa warga yang sudah berlalu lalang pun menatap bingung kearah mereka karena baru disini. si kembar menoleh lalu menyapa ramah orang-orang tersebut supaya lebih akrab dengan beberapa warga kampung.


"Kalian siapa? kenapa baru kami lihat disini?"


"Kami baru tadi malam pindah kesini, Buk. Supaya tak ada kesalahpahaman, kami juga sudah menikah," senyum Queen membuat beberapa ibu-ibu itu kaget.


"Berati suami kamu, ketiganya?" kaget mereka.


"Iya dong, Buk. nanggung pilih satu, apalagi ketiganya juga gak suka dipisahin. otomatis pilih ketiganya," jelas Queen dengan bangganya membuat ibu-ibu itu melongo.


"Sanggup lah, lagian ketiga suami saya polos. sehingga saya yang berkuasa," kekeh Queen sedangkan si kembar tak tau apa yang dibahas oleh istri mereka bersama warga desa itu.


"Apaan yang sanggup?" tanya Alda penasaran membuat Queen menoleh.


"Itu, mereka nanya apa aku sanggup buat cuci baju kalian. apalagi kalian bertiga," kekeh Queen.


"Owh, kalau soal baju. kami bisa cuci sendiri kok," balas ketiganya dengan polosnya membuat beberapa wanita paruh baya itu terkekeh kecil dengan kepolosan si kembar.


"Ada yang lucu? kenapa kalian ketawa?" tanya Aldo penasaran, sehingga semuanya menggeleng membuat si kembar tiga menatap dingin.


"Aneh," sinis si kembar ketus.


"Alia, sini sama Abang!" pinta Alda sehingga Alia berlarian sehingga Alda mengendong Alia membuat bocah itu kesenangan sekali.


Disisi lain, Reyhan menggenggam tangan wanita yang baru saja ia nikahi. wanita berjubah itu tampak menundukkan kepalanya. Ia benar-benar kagum dengan aura positif dari istri barunya tersebut.


"Amina, kamu beneran gak pa-pa jadi yang kedua?" tanya Reyhan sekali lagi.


"Ga-gak pa-pa kok," lirih Amina pelan.

__ADS_1


"Sudah siap bertemu dengan keempat anakku?"


Amina hanya mengangguk, sehingga mereka langsung menghilang dari sana. Sedangkan Edward tersenyum melihat kepergian adiknya tersebut.


"Semoga kalian rukun dan gak ada lagi yang namanya penghianat," senyum Edward lalu menghilang dari sana.


...***...


"Papa!"


Semuanya menoleh kearah Alia yang berlari kearah Reyhan yang mendekat bersama seorang wanita yang berjalan disamping Reyhan, Reyhan langsung mengendong Alia menbuat bocah itu kesenangan sekali.


"Papa, apa ini Mama baru?" tanya si kembar mendekat. sedangkan Queen kebingungan mendengar kata Mama baru.


"Iya, panggil saja Mama Amina," senyum Reyhan.


"Hallo, Mama baru!" sapa si kembar sehingga Amina tersenyum manis.


"Aura Mama baru sejuk banget, sama sekali tak ada aura negatifnya," kekeh Aldo senang.


"Bolehkah, Mama tau nama kalian?" tanya Amina hati-hati, ia sedikit belum terbiasa bertemu dengan orang baru.


"Aku Alda, ini adik tengah aku namanya Aldi dan itu Aldo. sedangkan wanita itu namanya Queen, istri kami bertiga," jelas Alda jujur.


"Istri?" kaget Amina sehingga si kembar mengangguk.


"Mama, gendong!"


Amina menoleh sambil tersenyum lalu mengendong Alia hati-hati, membuat bocah itu menoel-noel pipi Amina karena penasaran. Sedangkan Reyhan terkekeh kecil sambil mengusap lembut kepala putri kecilnya itu.


"Kami akan berangkat ke kota lagi dan kalian harus mandiri disini ya! Ini, uang buat kebutuhan kalian selama disini!" tutur Reyhan menyodorkan uang sebanyak 2 juta.


"Makasih, Pa. owh iya, Papa mau bawa Mama Amina ke masion kah?" tanya mereka penasaran.


"Enggak, untuk sementara dia tinggal di hotel dan Papa bakalan sering ke hotel kok,"


"Baguslah kalau begitu, jangan sampai Mama curiga,"


"Iya-iya, Papa berangkat dulu," pamit Reyhan lalu pergi menuju mobil yang terparkir tak jauh dari mereka.


Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2