
Setelah pembelajaran selesai, semuanya langsung membereskan buku-buku kedalam tas begitu juga dengan si kembar.
"Hei, boleh bareng ke kantin?"
Si kembar menoleh pada kedua wanita itu membuat si kembar sangat risi menatap penampilan kedua wanita itu. Ketiganya langsung mendekati Celine tanpa membalas perkataan kedua wanita itu.
"Celine, kami lapar!" pinta Aldo tersenyum manis karena Celine membawakan mereka sarapan.
"Bentar ya," Celine langsung mengeluarkan empat kotak bekal dan memberikannya pada si kembar.
"Kami boleh gabung, gak?" tanya beberapa siswi mendekat.
"Boleh, mendingan kita duduk di lantai aja biar ramai," ajak Alda sehingga semuanya mengangguk lalu menghindarkan beberapa bangku maupun meja supaya bisa duduk bersama-sama.
Sedangkan kedua siswi baru itu menatap kesal karena tak ada satupun si kembar yang mau berteman dengan mereka. keduanya langsung pergi dari sana tanpa dihiraukan sama yang lain karena tak penting.
Brak!
Semuanya langsung menoleh pada sekumpulan kakak kelas dari kelas IPS, membuat semuanya kebingungan saat ini.
"Mana yang berani patahkan tangan adik gua?!" bentak salah satunya membuat si kembar menoleh.
"Yang mana adik nya Abang? kami banyak patahkan tangan orang," balas Aldi dengan entengnya sambil memakan sarapannya tersebut, sesekali melirik makanannya supaya tak ada kacang atau udang.
"Kalian!"
Si kembar lalu berdiri dan mendekati Kakak kelasnya itu.
"Apa? mau pukul kami?" tanya Alda dengan tenangnya membuat pria itu emosi saat ini.
Bugh!
Semuanya menoleh pada pria itu tersungkur saat sebuah tendangan kuat di perutnya, si kembar lalu menoleh pada Celine yang menatap dingin kearah pria itu.
"Berani-beraninya kau ingin menyakiti si kembar!" sinis Celine dingin, karena pria itu hendak memukul Aldi kuat.
"Aldo langsung mendorong Celine dan mendudukkan wanita itu di sebuah bangku, ia juga mengikat tubuh Celine mengunakan tali Pramuka di dalam laci tersebut.
"Mereka urusan kami," balas Aldo dengan entengnya lalu pergi.
"Kalian berhenti!"
__ADS_1
Semuanya menoleh pada guru yang dayang karena mendengar keributan sejak tadi.
"Kenapa ada kelas IPS disini?" tanya guru itu bingung melihat sekumpulan anak IPS di kelas IPA.
"Mereka patahkan tangan adik saya, Buk! saya tak terima,"jelas pria itu berusaha bangkit sambil memegangi perutnya yang sakit sekali akibat tendangan Celine tadi.
Guru itu menghela nafas panjang karena tau siapa si kembar, ketiganya itu tak akan memandang status kalau sudah marah. siapapun mereka lawan. mungkin, polisi pun langsung mereka musnahkan.
"Kalian kembali ke gedung IPS dan soal patah tulang biar pihak sekolah yang bayar," jelas guru itu mendorong pria-pria itu buat pergi dari sana.
Semuanya lalu kembali melanjutkan makan mereka sedangkan Celine menatap kesal kearah Aldo yang mengikatnya, langsung saja Aldo melepaskan ikatan di tubuh Celine.
"Setelah ini kamu berobat dan jangan takut dengan suntik,"bisik Aldo membuat Celine kaget.
Sedangkan si kembar tersenyum lalu menuju tempat duduknya untuk sarapan karena lapar sekali saat ini.
'Kenapa mereka tau? ah, gue lupa kalau mereka bisa baca pikiran gue,' batin Celine kembali menuju tempat duduknya.
Tin!
Alda mengeluarkan ponselnya dan melihat sebuah pesan dari nomor asing yang tak ia kenal sama sekali, orang itu menyuruh mereka bertiga buat bertemu di tempat yang sama sekali tak ia kenal.
"Aldi, Aldo! ikut Abang sekarang!" pinta Alda menarik tangan kedua adiknya sehingga semuanya kebingungan saat ini.
"Ada urusan penting!" balas Alda menarik kedua adiknya buat pergi sedangkan Aldo masih sempat-sempatnya membawa sepotong ayam goreng karena masih lapar sekali saat ini.
"Abang, kita mau kemana?" tanya Aldi penasaran.
"Betul, padahal Aldo masih lapar soalnya masakan Celine enak banget!" timpal Aldo sambil memakan ayam tersebut.
Sesampai di sebuah jalan yang sepi, ketiganya lalu menghilang di balik tembok dan muncul di sebuah hutan yang terlihat begitu sepi sekaligus menyeramkan saat ini.
"Kita ngapain disini? Seram amat tempatnya?" cicit Aldi maupun Aldo ketakutan, keduanya sampai berpelukan karena ketakutan sekali saat ini.
"Akhirnya kalian datang juga,"
Semuanya menoleh dan kaget melihat Elsa yang berdiri tak jauh dari mereka saat ini, wanita itu tampak masih muda kembali. ketiganya juga kaget melihat Papa mereka mendekati sang Mama.
"Gak mau peluk Mama?" senyum Elsa membuat si kembar langsung bergegas memeluk Mama mereka sedangkan Reyhan hanya tersenyum tipis melihat ketiga putranya menangis memeluk Elsa.
"Mama gak boleh pisah sama Papa hiks!" tangis mereka membuat Elsa terkekeh kecil.
__ADS_1
"Kami bakalan baikan kok," balas Reyhan membuat si kembar menoleh.
"Kami gak percaya, kiss Mama dulu!" suruh Aldo membuat yang lain mengangguk sambil menatap Mama dan Papanya itu.
"Ayo cepat! jangan-jangan kalian bohong," tuduh si kembar serempak membuat pasangan itu salah tingkah.
"Mama kiss dimana?" tanya Elsa membuat Reyhan menoleh karena kaget.
"Bibir!"
Deg!
Pasangan itu makin kaget dengan permintaan si kembar.
"Mama belum mandi, apalagi Mama belum gosok gigi," cengir Elsa membuat si kembar bingung.
"Harus gosok gigi dulu ya?" tanya Alda dengan polosnya membuat Elsa menganggukkan kepalanya.
"Kalau gitu kita pulang aja biar Mama mandi dulu, baru kiss Papa!" usul Aldi membuat Elsa menepuk jidat dengan usul Aldi barusan. Reyhan memegang pundak Elsa sehingga keduanya menghilang tanpa diketahui oleh ketiga putranya tersebut.
"Lah? mereka malah kabur," kesal ketiganya karena Mama dan Papanya sudah kabur dari mereka.
...----------------...
Si kembar berjalan menuju kelasnya dan tak melihat siapapun kecuali murid baru tadi. ketiganya bingung karena tak melihat Celine, yang mereka anggap sebagai saudara mereka karena mereka tak diperbolehkan berpacaran.
"Bolehkah kita berkenalan?"
Si kembar menoleh pada kedua wanita itu dengan tatapan dingin.
"Gak perlu," ketus Alda dingin sambil menuju bangku mereka bertiga.
Tap!
Tap!
"Alda, Celine masuk rumah sakit!" jelas salah satu siswi mendekat membuat si kembar kaget sekali.
"Kenapa bisa?" tanya Aldi penasaran.
"Gak tau, tiba-tiba dia muntah darah banyak banget, dia dirumah sakit pelita indah".
__ADS_1
Si kembar langsung bergegas menuju parkiran untuk menyusul Celine ke rumah sakit pelita indah. untung saja mereka kenal dengan nama rumah sakit tersebut sehingga mereka gak kesulitan buat mencarinya.
Bersambung.....