MENCINTAI SESEORANG IBLIS

MENCINTAI SESEORANG IBLIS
PART 24


__ADS_3

Waktu berlalu, Reyhan beranjak berbaring di pangkuan Elsa sambil mengusap perut rata wanita itu. Ia tak henti-hentinya mencium perut Elsa sehingga wanita tersebut menoleh padanya.


"Jangan cium terus, aku yang kegelian," jelas Elsa mencubit gemes pipi Reyhan sehingga Reyhan menoleh.


"Reyhan senang aja karena Reyhan berhasil bikin dedek, sehingga Abang gak bakalan katain aku...,"


"Bayi!"


kedua orang itu menoleh pada Edward yang mendekat membuat Reyhan memanyunkan bibirnya kesal, baru saja ia mau bilang eh abangnya malah manggil bayi lagi.


"Kau baik-baik saja, Bayi besar? mana yang sakit? soalnya semalam Abang hanya ketemu sebentar sama kamu," jelas Edward dengan tenangnya sehingga Reyhan beranjak duduk.


"Berhenti panggil aku bayi! Rey udah besar, Abang!"


"Udah besar? tapi tetap manja, kau tetap bayi nya Abang,"balas Edward sehingga Reyhan langsung berhamburan menarik rambut hitam abangnya itu untuk meluapkan kemarahannya saat ini.


"Berhenti bilang Rey bayi!"


"Argh! ampun, lepasin Abang!" ringis Edward kesakitan sambil berusaha melepaskan jambakan sang adik yang sangat kuat.


"Rey gak bakalan lepasin Abang kalau Abang masih panggil Rey, Bayi! lama-lama Rey makan juga nih Abang!" kesal Reyhan menjambak rambut abangnya itu sehingga Edward kesakitan sekali, membuat Elsa terkekeh lalu menahan tangan Reyhan tersebut.


"Baby, hentikan! kasihan Abang kamu yang kesakitan,"peringat Elsa.


"Abang nya nakal, Elsa! Rey terus dibilang bayi," lapor Reyhan memeluk Elsa membuat Edward mengusap kepalanya yang benar-benar sakit sekali, seakan mau copot rambut hingga akar-akarnya.


"Hadeh, kepala Abang rasanya mau copot," kesal Edward sedangkan si pelaku hanya diam tak merasa bersalah sedikitpun.


"Kalau copot, tanam!"


"Kau ini!" kali ini Edward yang menjewer telinga Reyhan membuat pria lugu itu meringis kesakitan sekali.


"Huwa, Elsa bantuin aku!" tangis Reyhan berusaha menarik tangan Elsa buat menolongnya.


"Berani-beraninya nyuruh Abang tanam kepala, kalau kepala kamu Abang tanam, mau?" omel Edward sehingga Reyhan langsung menggeleng.


Sedangkan Elsa hanya terkekeh kecil menatap kedua kakak-beradik itu berkelahi, satu bandelnya kelewatan dan satu lagi pemarah. walau saling berantem, keduanya sama-sama saling menyayangi dan tak ingin ada yang menyakiti salah satu dari mereka.


Bugh!


Edward meringis memegangi perutnya yang terkena bogeman dari sang adik, membuat Edward menatap tajam kearah Reyhan yang sudah ketakutan sekali.


"Salahkan tangan Rey yang bandel," polosnya membuat Edward mengigit bibir untuk menahan tawanya saat ini, padahal ia ingin sekali memarahi adik bungsunya itu tapi malah dibalas dengan penuturan polosnya.


"Kau mengemaskan sekali," tawa Edward pelan lalu menghilang.


Reyhan langsung memeluk Elsa erat, sehingga wanita itu langsung mengusap lembut kepala Reyhan.

__ADS_1


"Abang jahat ya," jelas Reyhan membuat Elsa tertawa pelan mendengarnya.


"Kau juga kelewatan bandel juga,"


"Siapa suruh bilang aku bayi,"


"Kau memang bayi,"


"Bayi nya Elsa," senyum Reyhan yang langsung dibalas cubitan gemes di hidung mancung Reyhan.


"Kau benar-benar mengemaskan, aku sangat menyukainya,"kekeh Elsa membalas pelukan Reyhan tersebut, Reyhan hanya memejamkan mata menikmati pelukan hangat Elsa saat ini.


"Elsa, Reyhan lapar lagi. Reyhan pamit sebentar ya," jelas Reyhan sehingga Elsa menoleh.


"Semalam kau sudah makan dengan puas, kenap...," perkataan Elsa terhenti saat melihat warna mata Reyhan sudah memerah.


"Si-Silahkan,".


Reyhan tersenyum lalu menghilang dari pelukan Elsa, ia begitu lapar karena sudah lama tak bangun dan sejak itu ia tak makan manusia lagi sehingga ia sangat kelaparan saat ini.


Pemuda itu muncul di sebuah pohon dan menatap tajam kearah sepasang kekasih yang asik berduaan dibawah pohon yang tak jauh darinya, ia hanya tersenyum miring lalu menatap sekitar yang terlihat sangatlah sepi. Reyhan sangat senang saat mendapatkan makanan dua orang sekaligus saat ini.


"Argh! kenapa tubuh gue gak bisa bergerak!" pekik seorang wanita begitu juga dengan pria tersebut, membuat Reyhan tersenyum puas dan berhenti di hadapan keduanya.


"Ka-Kau siapa?"


"Ini dunia Modern, mana ada iblis disini!" tawa pria tersebut, membuat Reyhan mencengkram kuat bahu nya sehingga pria itu kesakitan sekali, seakan bahunya akan remuk detik itu juga.


"Dunia ini memang modern tapi, beberapa makhluk masih misteri dan tak terjamah oleh manusia seperti kalian," jelas Reyhan menarik kasar tangan sang wanita.


"ARGH! SAKITTT!"


Reyhan menatap potongan tangan tersebut lalu memakannya dengan lahap yang membuat pria itu ketakutan sekali saat ini. Ia tak menyangka akan berakhir mengenaskan hari ini menjadi santapannya iblis.


"Bayi besar!"


mendengar panggilan tersebut Reyhan langsung menoleh dengan tatapan dinginnya membuat Edward terkekeh pelan.


"Abang berhenti panggil Rey Bayi besar! Rey udah besar dan bukan bayi!" kesal Reyhan sambil memakan lengan wanita itu sedangkan Edward menarik tangan korban itu dan juga ikut memakannya karena juga lapar sekali.


"Huwa, jangan dimakan! mereka milik Rey!" kesal Reyhan hendak merebut makanan itu tapi Edward menghindar sambil tertawa membuat Reyhan cemberut, ia sudah tak mood buat makan saat ini karena Abangnya.


"Kau kena...,"


Reyhan langsung menghilang dari sana yang membuat Edward kebingungan, ia juga tak berselera buat makan dan langsung memusnahkan kedua orang itu, lalu mengikuti kemana perginya Reyhan.


"Dek, kau kenapa?" tanya Edward duduk di samping Reyhan yang hanya diam menatap Danau yang begitu tenang dan damai sekali.

__ADS_1


"Abang bisa diam gak sih? Rey capek di panggil bayi besar terus dan capek di jailin terus, Rey pengen tenang!" Edward terdiam karena tau maksud adiknya itu.


"Kau ingin Abang menjauh dari kehidupan kamu?" tanya Edward pelan sehingga Reyhan menoleh lalu kembali menatap Danau tersebut. Edward kembali menghela nafas panjang lalu tersenyum.


"Abang pergi dulu dan Abang sekarang gak bisa temani kamu lagi saat kamu kesulitan lagi, jaga diri baik-baik," senyum Edward lalu pergi dari sana.


Reyhan mengacak rambutnya kasar. Ia merasa ada yang aneh terhadap dirinya saat ini, Ia ingin sekali hidup tenang dan damai.


Apa ini efek dari kehamilan istrinya?


Atau, dirinya belum terbebas betul dari kekuatan kutukan dari sosok waktu itu.


"Abang, muncul lah lagi!"


Reyhan menatap sekitarnya dan tak menemukan tanda-tanda kedatangan Abangnya itu sehingga Ia bergegas mengambil ranting yang cukup besar.


"Abang muncul atau Rey nekat?"


Lagi-lagi tak ada balasan dari abangnya tersebut.


Jleb!


Jleb!


Reyhan menusukkan ranting itu secara bruntal ke tubuhnya, membuat darah segar keluar dari mulutnya.


Brukh!


Perlahan, matanya mulai terpejam bersamaan dengan sosok yang tersenyum sinis padanya. Sosok itu tampak kesenangan akan tindakannya saat ini setelah itu Reyhan tak ingat lagi.


...****************...


Elsa tak henti-hentinya memikirkan Reyhan diluar sana, entah kenapa ia begitu mengawatirkan pria lugu tersebut. ia juga mulai memegangi perutnya yang mulai panas seakan ada api di perut ratanya


"Aku harus mencari Reyhan," gumam Elsa bergegas mengambil kunci mobil, belum sempat ia membuka pintu. Tiba-tiba seseorang datang membawakan Reyhan yang sudah berdarah-darah.


"Reyhan!" panik Elsa memeluk tubuh Reyhan.


"Saya menemukan dia di tepi Danau, tolong cari keluarganya dan keluarkan kekuatan jahat ditubuhnya saat ini. tak hanya itu, ada sosok iblis yang menginginkan kematian Reyhan saat ini."jelas sosok tersebut membuat Elsa kaget.


"Ma-Makasih, kau siapa?" tanya Elsa penasaran membuat sosok itu menoleh sekilas pada nya.


"Sahabat kecil, Reyhan!" ungkapnya dingin lalu menghilang dari hadapan Elsa, wanita itu terdiam lalu langsung membawa Reyhan menuju kamar tamu.


"Aku harus memanggil Abangnya, hanya Abangnya yang bisa mengeluarkan kekuatan jahat tersebut," gumam Elsa memanggil Edward, berharap lelaki itu muncul dan bisa mengobati Reyhan.


"Ada ap... REYHAN!"

__ADS_1


Bersambung.......


__ADS_2