
Reyhan menoleh pada putranya sehingga Alda mendadak tak sadarkan diri di tempat, ia tak ingin putranya ketakutan saat tau siapa dirinya. langsung saja ia mengulurkan tangannya membuat orang-orang itu terangkat, sambil memegangi leher masing-masing karena seperti di cekik sesuatu.
Brakh!
Reyhan tersenyum puas saat melihat semua orang itu terkapar dengan tubuh yang sudah hancur akibat hempasan kuat Reyhan, pria itu langsung mendekati Alda yang pingsan dan membuka rantai tersebut.
Ia lalu mengendong Alda buat pergi dari sana sebelum kesadaran putranya pulih tiba-tiba. Reyhan langsung menghilang dan muncul di sebuah pohon dekat masionnya, langsung saja ia bergegas memasuki masion yang membuat Elsa bergegas mendekat.
"Kamu menemukannya dimana?"
"Disekap di gedung tua dekat hutan,"
"Ayo bawa dia keruang tamu," ajak Elsa sehingga Reyhan mengangguk dan langsung masuk lalu membaringkan Alda disofa, membuat Aldi maupun Aldo mendekat.
"Abang, bangun!" pinta si kembar membuat Alda mulai membuka matanya dan melihat kedua adik kembarnya.
"Loh? bukannya Alda disekap? Papa gak papa?" tanya Alda sontak duduk sehingga Reyhan terkekeh kecil.
"Papa gak papa kok, cuman pegal aja berkelahi," bohongnya membuat Alda mencoba mengingat kejadian dimana Papanya datang tapi tak ada satupun yang ia ingat.
"Masa Papa bisa kalahin belasan pria berbadan besar dari Papa? mereka bersenjata loh!" jelas Alda membuat semuanya menoleh pada Reyhan yang terlihat kebingungan mencari alasan.
"Sudah, sana istirahat ke kamar!"
"Baik, Ma!" balas Alda beranjak dari sofa yang diikuti oleh saudara kembarnya itu.
"Baby, kamu gak papa, kan?" tanya Elsa penasaran sambil merapikan rambut suaminya itu.
"Gak papa kok, aku kekamar dulu," balas Reyhan langsung menuju kamar yang membuat Elsa kebingungan dengan sifat suaminya itu, entah kenapa ada yang ditutupi oleh suaminya itu.
Didalam kamar Reyhan hanya diam sambil mengusap air matanya, sebelum ia menjemput putranya. Ia sempat menyapa orang tuanya tapi tak ada reaksi sedikitpun dari orang tuanya tersebut, seakan ia tak ada disana sedikitpun.
"Dek,"Reyhan lalu menoleh pada Abangnya yang muncul, membuat Reyhan menghapus air matanya tersebut.
"Jangan nangis, ini semua salah Abang," lirih Edward duduk di samping Reyhan membuat Reyhan terdiam.
"Rey udah gak papa kok, Bang. Rey udah kehilangan semuanya saat ini," balas Reyhan membuat Edward makin bersalah.
"Dek, kau tetap anak kandungnya Mama dan Papa tap...,"
"Tapi roh nya berbeda, Rey sudah tak pedulikan itu semua lagi. Rey sudah ikhlas," potong Reyhan sambil menatap kearah jendela kamarnya.
"Rey bakalan cari roh Reyhan yang asli sampai ketemu,".
"Reyhan, Roh yang asli sudah tak ada. kalau kami berpisah dengan tubuh kamu saat ini, Abang gak bisa lagi bertemu dengan kamu lagi," isak Edward membuat Reyhan terdiam cukup lama, Reyhan menatap lurus kearah jendela kamarnya tersebut.
"Reyhan capek, Bang. Reyhan mau tidur dan gak akan bangun lagi," lirih Reyhan lalu ambruk yang disambut oleh Edward yang sudah menangis.
"Dek, bangun! jangan mengutuk dirimu sendiri seperti ini hiks! Abang gak mau kehilangan adik Abang yang kedua kalinya!"tangis Edward memeluk tubuh adiknya tersebut.
__ADS_1
Cklek!
Mendengar suara tangisan dari dalam kamar, Elsa langsung masuk dan melihat suaminya tak sadarkan diri di pelukan Edward.
"Baby!" panik Elsa mengambil alih suaminya itu.
"Dek, bangun! Abang gak mau kehilangan kamu yang kedua kalinya!" tangis Edward menggoyang lengan adiknya itu dan tetap saja tak ada reaksi sedikitpun dari sang adik.
"Sayang, ayo buka mata kamu! kamu kenapa?" panik Elsa mengusap pipi suaminya tersebut, ia benar-benar bingung suaminya tak kunjung bangun.
"Reyhan! lepaskan kutukan kamu! jangan tidur buat selamanya! hukum Abang yang sudah menyembunyikan fakta kamu hiks!"
"Ku-kutukan?"
"Reyhan mengutuk dirinya sendiri untuk tidak akan bangun lagi hiks, ini semua salah gue!" tangis Edward membuat Elsa kaget sekali lalu menoleh kearah Reyhan yang masih setia memejamkan mata.
"Mama, Papa kenapa?"Sikembar mendekat karena penasaran mendengar suara tangisan.
"Papa, Papa kenapa, Ma?" tanya mereka sedangkan Elsa tak bisa berkata-kata lagi. Wanita itu menangis dan mencoba menepuk-nepuk pipi suami kesayangannya tersebut.
"Reyhan, kamu pasti dengar aku! ayo bangun! kamu punya masalah bilang sama aku, jangan memendamnya sendiri seperti ini," bujuk Elsa memeluk erat suaminya itu.
Namun Reyhan tak kunjung membuka matanya membuat semuanya khawatir sekali.
"Rey, dengarin Abang! kamu adalah kesayangan Mama dan Papa, mereka hanya kecewa karena kelalaiannya Abang. Ayo bangun! Abang bakalan hilangkan semua ingatan kamu tentang masalah ini, ayo bangun!" bujuk Edward menggenggam erat tangan adiknya itu..
"Ayo bangun! walau kamu gak dianggap oleh mereka lagi, Abang selalu ada di sisi kamu!".
Hukk!
Hukk!
"Berikan dia pada gue," pinta Edward sehingga Elsa memberikan Reyhan pada Edward. Edward memeluk adiknya yang lemah, langsung saja ia mengusap kepala Reyhan membuat Reyhan memejamkan mata.
Tak lama, Edward membaringkan Reyhan di kasur dan menyelimuti tubuh adiknya itu.
"Reyhan biarkan istirahat dulu," peringat Edward.
"Dia masih ingat kami, kan?" tanya Elsa penasaran sehingga Edward mengangguk.
"Reyhan hanya melupakan orang tuanya saja, gue menghapus ingatan Reyhan sehingga Reyhan gak bakalan ingat siapa orang tuanya," lirih Edward jujur membuat Elsa bungkam.
Sedangkan si kembar hanya diam karena kedua orang tersebut memakai bahasa Indonesia, membuat ketiganya kesulitan buat memahami obrolan Mama bersama dengan Paman mereka tersebut. Edward lalu pergi dari sana sehingga Elsa menoleh pada Reyhan yang memejamkan mata.
"Mama, tadi Mama ngomong apaan sama Paman? terus kenapa Papa gak bangun tadi?" tanya Aldo penasaran.
"Mama cuman kaget saja lihat Papa pingsan," bohongnya.
"Papa pingsan karena tadi nolongin Alda ya, Ma?" tanya Alda penasaran membuat Elsa menoleh.
__ADS_1
"Papa cuman kecapekan saja, sekarang kalian ke kamar sana!"
"Baik, Ma!" balas mereka langsung berlari pergi dari kamar orang tuanya tersebut.
"Baby, jangan nekat seperti tadi! aku gak mau ditinggal tidur oleh kamu," lirih Elsa mencium seluruh wajah Reyhan dan memeluk suami kesayangannya tersebut erat.
"Apapun masalah kamu, baik itu berat atau ringannya. kamu harus bilang sama aku,".
Tiba-tiba Reyhan mulai membuka matanya membuat Elsa tersenyum.
"Si gantengnya aku dah bangun, lapar? haus? atau mau aku peluk?" tanya Elsa seolah-olah tak terjadi apa-apa, sedangkan Reyhan tersenyum tipis lalu langsung memeluk Elsa membuat wanita itu terkekeh kecil.
"Selalu saja manja, gak ingat umur!".
"Biarin," balas Reyhan pelan, pria itu sama sekali tak mengingat masalah yang dihadapinya saat ini dan hanya mengingat kalau ia sakit.
"Elsa, Abang mana?".
"Abang kamu pulang, habisnya kamu tertidur,"
"Padahal, Rey mau minta coklat sama Bang Edward,"cemberutnya membuat Elsa terkekeh pelan.
"Mendingan kamu tidur dulu biar cepat sembuh," bujuk Elsa sehingga Reyhan mengangguk lalu memejamkan mata menikmati sentuhan istrinya tersebut.
...****************...
"Abang, gimana kita sekolah dipercepat aja. Aldo pengen banget sekolah terus bully orang," tutur Aldo sambil bermain game online nya tersebut.
"Emangnya kau sudah paham bahasa Indonesia? Abang aja kagak paham sama sekali," ketus Alda sehingga Aldi mengangguk setuju, ia juga tak paham dengan bahasa Indonesia.
"Padahal kepengen sekolah," kesal Aldo cemberut.
"Abang juga kepengennya sekolah juga. tapi, Abang juga gak paham bahasa disini. siapa tau mereka ejek-ejek kita sedangkan kita hanya diam karena tak paham," jelas Aldi jujur.
"Iya juga sih," gumam Aldo sedangkan Alda tengah asik menonton di tabletnya sambil memakan cemilan kripik singkongnya.
"Bang, saat Papa selamatkan Abang, Abang gak lihat sesuatu yang mencurigakan?" tanya Aldi penasaran membuat Alda menghentikan aktivitas mengunyahnya.
"Abang lihat mata Papa merah seperti mata Aldo waktu itu, selebihnya Abang gak ingat. Papa waktu itu menoleh sehingga kepala Abang terasa berat lalu pingsan," jelas Alda jujur membuat Aldi terdiam.
"Mata Aldo warna hitam, bukan merah ya!" kesal Aldo membuat kedua abangnya menoleh.
"Emang kau bisa lihat mata sendiri waktu itu?" sinis Aldi dingin.
"Gak bisa sih," balasnya dengan tampang polosnya.
"SAYANG! MANA ****** ABANG?!"
Si kembar menoleh kearah balkon saat mendengar teriakan tetangganya tersebut. mungkin, tetangga mereka itu belum tau kalau di masion sudah dihuni oleh pemiliknya lagi. sehingga tanpa rasa malu berteriak seperti itu.
__ADS_1
"Apa itu ******?" gumam ketiganya bingung, walau belum bisa bahasa Indonesia. mereka hanya bisa mengerti sedikit-sedikit kata-kata yang didengar oleh mereka.
Bersambung......