MENCINTAI SESEORANG IBLIS

MENCINTAI SESEORANG IBLIS
PART 26


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian...


Kini usia kandungan Elsa sudah menginjak usia sembilan bulan sehingga Reyhan selalu ada di samping istrinya itu dan tak hanya itu, ia juga belum berniat ke kantor karena tak ingin meninggalkan Elsa yang sedang hamil anaknya itu.


Terpaksa ia mengerjakan tugas kantor di rumah dan di temani oleh Elsa, yang ikut membantunya mengerjakan tugas kantor.


"Permisi, Tuan!"


Reyhan maupun Elsa pun menoleh pada sekretaris pribadi Reyhan yang mendekat dengan sopannya, pria itu yang selalu menjemput berkas yang akan di gunakan nanti siang.


"Anton, tolong minta Pak Satria buat menandatangani berkas ini dan jangan lupa kamu suruh dia untuk membuat surat pemecatan Elin," pinta Reyhan menyodorkan berkas-berkas tersebut.


"Baik, Tuan. saya permisi dulu,".


Reyhan hanya mengangguk sehingga Elsa menoleh pada Reyhan.


"Kenapa kamu memecat orang tiap harinya? kemarin ada sepuluh orang yang kau pecat," jelas Elsa sehingga Reyhan memeluk Elsa lembut.


"Di kantor banyak sekali yang curang. makanya Rey pecat daripada perusahaan milik Elsa bankrut," jelas Reyhan jujur, membuat Elsa tersenyum.


"Itu perusahaan kamu juga, Baby!"


"Bukan, itu perusahaan Elsa dan Reyhan cuman kerja aja,"jawabnya dengan wajah mengemaskan membuat Elsa tak tahan buat mengigit pipi suaminya itu.


sedangkan Reyhan membiarkan istrinya itu mengigit pipinya daripada Elsa ngambek padanya.


"Pengen aku peluk kamu erat-erat, tapi perut aku terlalu besar," kekeh Elsa sehingga Reyhan menyentuh perut Elsa lembut.


"Dedeknya gak mau, Papanya di peluk terus," jawab Reyhan membuat Elsa memanyunkan bibirnya kesal.


"Tapi yang sering minta di peluk?"


"Tentulah wajib, Elsa harus peluk Rey terus!"


"Heleh!"


Sedangkan pria itu hanya tertawa kecil membuat Elsa gemes dengan sikap pria itu yang kelewat manis dan mengemaskan.


"Kenapa? Elsa gak mau peluk Rey lagi?" tanya Reyhan dengan wajah yang dibuat sesedih mungkin.


"Baby! kau mengemaskan sekali!" pekik Elsa memeluk Reyhan tanpa menghiraukan kondisinya yang lagi hamil besar tersebut.


"Elsa jangan dorong Rey, nanti dedek kembarnya kenapa-napa, gimana? Rey gak mau kehilangan dedek kembarnya," omel Reyhan membalas pelukan sang istri membuat Elsa tersadar dan mengusap perut nya tersebut lembut.


"Maafin Mama kalian yang barbar ini ya," kekeh Elsa mengusap perutnya dan merasakan tendangan kecil dari dalam sana.


"Habisnya, Papa kalian mengemaskan sekali sih," sambungnya sedangkan Reyhan ikut mengusap perut Elsa lembut.


"Elsa!"


Elsa menoleh dan kaget melihat kedatangan Papanya dari luar negeri.


"Tumben Papa datang?" tanya Elsa penasaran sehingga pria paruh baya itu menatap bingung pada Reyhan.


"Papa sudah hampir satu tahun ini tak mendengar keberadaan Vania dan istri Papa, kemana mereka? dan, siapa pria itu?"

__ADS_1


"Vania udah pergi bawa sertifikat hotel milik aku sedangkan Mama, wanita itu hamil anak pria lain dan kabur juga," bohong Elsa sehingga Reyhan menoleh pada Elsa.


"Owh iya, kenalkan ini adalah suamiku. Namanya Reyhan, aku juga sudah bilang sama Mama buat bilangin kalau aku mau nikah, apa Mama udah bilang?".


"Dia gak bilang sama sekali sama Papa, benar-benar wanita ular dia." gerutu Papa kesal sekali.


"Memangnya ada wanita ular ya?" tanya Reyhan tiba-tiba membuat Papa dan Elsa menoleh pada Reyhan yang kebingungan sekali.


"Baby, kamu lebih baik diam saja!" kesal Elsa sehingga Reyhan cemberut.


"Kamu lagi hamil, Nak?" tanya Papa tiba-tiba sehingga Elsa mengangguk.


"Iya, Pa. Aku hamil cucu yang selama ini Papa inginkan, bukan? coba tebak aku hamil kembar berapa," kekeh Elsa membuat pria paruh baya itu amat senang sekali karena akhirnya memiliki cucu.


"Jenis kelaminnya laki-laki, bukan? Papa ingin cucu laki-laki,"jelas Papa bersemangat.


"Baby, calon anak kita laki-laki atau perempuan?"


"Laki-laki," balas Reyhan membuat Papa melongo.


"Laki-laki? Astaga! sebentar, Papa mau beli kado buat cucu Papa! mereka kembar berapa?" tanya Papa bersemangat mendapatkan Cucu laki-laki saat ini.


"Tiga,"


"AP-APA?!" kaget Papa membuat Elsa tertawa.


"Papa harus suruh orang buat beli mainan buat calon cucu Papa nantinya," jelas Papa membuang kopernya sembarangan dan bergegas pergi membuat Elsa terkekeh dengan tingkah Papa yabg kelewat bahagia mendapatkan cucu impian.


"Papa Elsa kelihatan galak sekali,"


"Rey melihat kalau Papa Elsa, benar-benar sayang sama Elsa khususnya si kembar," jawab Reyhan membuat Elsa tersenyum bahagia mendengarnya. Otomatis, Papanya sudah mulai berubah ke lebih baik saat ini.


"Awh, perutku sa-sakit sekali,"


"Astaga, Elsa mau lahiran sekarang!" panik Reyhan lalu membantu Elsa berdiri dan berusaha membawa istrinya itu menuju mobil di luar.


"Sa-Sakit banget, Rey hiks!"


"Tahan, Rey bakalan antar Elsa!"


Reyhan langsung menuju bangku kemudi setelah mendudukkan Elsa di bangku depan, setelah itu ia langsung menancap gas menuju rumah sakit terdekat supaya istrinya tak kesakitan lagi.


...****************...


"Argh! sakit!"


"Elsa, kamu harus kuat!" bujuk Reyhan menggenggam erat tangan Elsa yang tengah berjuang melahirkan buah hati mereka.


"Baby, aku gak tahan hiks,"


"Kamu kuat, kamu bukan wanita lemah!" senyum Reyhan membuat Elsa tersenyum lalu kembali berusaha mengeluarkan buah hatinya lagi sesuai instruksi dari Dokter tersebut.


Oeeeekk!


Oeeekk!

__ADS_1


Elsa tampak kesakitan dan sekarang ia benar-benar lega setelah melahirkan buah hatinya yang ketiga.


"Elsa, mereka tampan sekali," senyum Reyhan mengusap keringat di wajah istrinya tersebut.


Wanita pucat itu menoleh pada beberapa suster yang mengendong putranya yang hendak di mandikan.


15 menit kemudian..


Elsa menoleh kearah baby box yang ada di samping brankar nya saat ini, ia benar-benar bahagia bisa melihat ketiga bayi kembarnya yang tertidur lelap didalam boxs tersebut.


Cklek!


Reyhan maupun Elsa menoleh pada Papa yabg datang dengan nafas tak teratur.


"Gimana keadaan kamu, Nak? terus cucu kembar Papa, gimana?" tanya Papa mendekat.


"Aku baik-baik saja kok, Pa. si kembar juga sehat kok," senyum Elsa sedangkan Reyhan hanya diam sambil mengusap lembut lengan Elsa, pemuda itu tak ingin menjauhi Elsa yang masih membutuhkannya padahal ia ingin melihat putra kecilnya.


Cklek!


Semuanya menoleh sedangkan Papa kaget melihat sekumpulan orang-orang berjubah hitam layaknya malaikat pencabut nyawa.


"Mama!" senang Reyhan langsung memeluk Mamanya erat.


"Selamat ya, Sayang. udah jadi Papa sekarang," senyum Mama sehingga Reyhan tersenyum.


"Apa kabar, Tuan Bram?"


"Ka-Kau?"


"Iya, Saya adalah Tristan," jelas Papanya Reyhan sambil membuka penutup kepala yang menampilkan bekas sayatan di pipi hingga leher pria tersebut. Bram langsung memeluk Tristan membuat semuanya kebingungan sekali.


"Papa mengenal Papanya Reyhan?" tanya Elsa lemah membuat Tuan Bram menoleh sambil melepaskan pelukannya.


"Papa kenal banget sama Tuan Tristan, saat Papa bayi dulu, dia yang selalu temani Papa," tutur Tuan Bram jujur.


"Wah, gak nyangka. ternyata menantu saya adalah putri dari manusia gendut seperti kamu, Bram," tawa Tuan Tristan membuat Tuan Bram terdiam sedangkan yang lain tertawa kecil.


"Papa sama saja sama Abang, ejek orang terus," ketus Reyhan.


"Diamlah, bayi besar! kamu itu masih kecil dan gak boleh ikut urusan orang tua," ejek Edward membuat Reyhan menoleh.


"Reyhan udah besar dan udah bisa bikin dedek, jangan ejek Reyhan terus!" kesal Reyhan membuat semuanya tertawa dengan tingkah Reyhan.


"Elsa, Abang jahat!"


Reyhan langsung memeluk Elsa sambil terisak.


"Baby, kamu itu sekarang udah jadi Papa. gak boleh cengeng lagi," peringat Elsa membuat Reyhan mengusap air matanya pelan.


"Hiks tapi Abang bilang aku bayi besar terus, aku udah gede,"isak Reyhan kembali menangis.


"Udah biarin aja nanti dia yang capek ngomong kok," bujuk Elsa sehingga Reyhan mengangguk pelan. yang lain hanya tertawa kecil melihat Reyhan yang menangis layaknya anak kecil.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2