
Byur!
"Hahahaha!"
Semuanya tertawa puas melihat Alda menguyur tubuh Sara mengunakan air yang sudah dicampur beberapa telur busuk, Sara terlihat begitu syok saat salah satu pria kembar itu mengguyurnya dengan air bau di depan umum.
"Nikmat?" tanya Alda dengan tatapan tajamnya, sedangkan kedua adiknya juga menatap dingin kearah Sara yang bungkam sambil menunduk.
"Ini masih kecil, saya pernah membully orang sampai masuk UGD, kamu mau coba?" sambung Alda dengan tenangnya.
Beberapa guru tampak tak bisa berkata-kata lagi melihat tindakan Alda barusan, karena yang salah duluan adalah Sara.
Wanita itu benar-benar tak mau malu dan dengan entengnya memeluk Aldi dengan alasan di dorong. Tetapi, yang sebenarnya tak ada satupun yang mendorong Sara.
Sara benar-benar malu sekali ditambah ia di lihat satu kelas maupun adik-adik kelasnya saat ini. Apalagi, beberapa guru juga menatapnya.
Plak!
Sebuah tamparan kuat mengenai pipi Alda, membuat pria itu menggigit bibir menahan rasa pedih yang menjalar. ia lalu menoleh kearah wanita berseragam guru tersebut.
Langsung saja Alda menarik tangan guru tersebut dan mematahkan nya, membuat semuanya menatap ngeri sekaligus takut.
"Saya akan menghormati anda kalau anda bersikap sopan juga," tekan Alda tak menghiraukan wanita berstatus guru tersebut menangis karena tangannya patah akibat ulah Alda.
Aldi langsung menjambak rambut guru itu dengan kuat.
"Masih ingin bermain? itu masih patahan kecil, saya bisa mematahkan leher anda," bisik Aldi tersenyum miring.
"Orang jahat bakalan berakhir tragis," tawa Aldo lalu menarik kedua Abangnya itu untuk pergi dari sana, karena sebentar lagi akan masuk jam pembelajaran ketiga.
"Seram juga kalau murid baru itu marah," jelas yang lain membuat semua mengangguk.
"Polos tapi kalau sudah marah bikin nyawa melayang," timpal yang lain ngeri.
Alda menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap semuanya.
"Kalian gak masuk ke kelas? bentar lagi masuk, loh! nanti kalian bodoh!" peringat Alda membuat semuanya langsung bergegas pergi menuju kelas masing-masing.
Walau si kembar terkenal kejam di sekolahnya dulu, mereka masih saja bersikap baik pada orang yang juga baik pada mereka. Ketiganya langsung menuju kelas dan melihat di meja mereka penuh dengan aneka cemilan.
"Buat yang ngasih cemilan ini, thanks ya!" jelas Alda mengambil salah satu cemilan.
"Sama-sama!" balas beberapa wanita yang kesenangan karena pemberian mereka di terima oleh si kembar. Ketiga nya tampak asik makan cemilan yang ada di atas meja.
"Alda, Aldi, Aldo! dipanggil kepsek ke kantor!" jelas pria paruh baya tersebut, membuat si kembar menoleh kearah pintu.
"Titip cemilannya ya, cantik!" senyum Aldo membuat beberapa siswi mengangguk sehingga si kembar langsung menuju ruang Kepsek di lantai bawah.
Sesampai disana, mereka sudah mendapat tatapan tajam dari kepsek karena mereka membully Sara-anaknya Kepsek.
"Kenapa kalian membully putri saya dan mematahkan tangan keponakan saya?!" bentak kepsek itu tajam sedangkan si kembar hanya terkekeh pelan.
"Itu cocok buat wanita centil tersebut dan soal guru itu, siapa suruh menampar saya," balas Alda dengan entengnya.
Brak!
Semua yang ada di ruangan tersebut kaget sekali.
"Kalian saya keluarkan dari sekolah ini!" bentak Kepsek tersebut tajam, membuat si kembar tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Mengeluarkan kami? kau tak mengenal kami, Tuan? kami anak dari pemilik sekolah ini, anak dari Elsa Safira," balas Aldi tenang membuat Kepsek tersebut bungkam sekali.
Pria itu sama sekali tak menyangka kalau si kembar adalah anak dari wanita yang amat ditakuti di kota, tentara, polisi maupun TNI pun berada dibawah kekuasaan Elsa.
"Ma-Maaf kan saya, saya tak tau kalau kalian pemilik sekolah ini,"
"Kau dipecat dan guru kepsek baru bakalan datang besok,"balas si kembar lalu pergi dari sana membuat Kepsek itu bungkam, sedangkan si kembar kembali menuju kelasnya dan memakan cemilan tersebut karena masih lapar sekali.
Tak lama, guru yang mengajar pun datang sehingga si kembar menyembunyikan cemilannya kedalam laci meja, karena takut kena marah oleh gurunya.
"Apa kau akan mengajar tentang ******** orang lagi? itu benar-benar menjijikkan," tanya Aldi pada Guru Biologi nya tersebut.
Mendengar perkataan si kembar, satu kelas tertawa. rasa takut mereka hilang karena mendengar kepolosan si kembar. mereka sudah tau, kalau mereka tak menganggu si kembar maka mereka akan baik-baik saja dan malah seperti ini dikelas.
"Namanya juga pelajaran biologi!" teriak salah satu siswa membuat si kembar menoleh.
"Kau gak malu, ranting kalian di pajang di buku?" sinis Aldi penasaran.
"Mana kecil lagi,".
"Hahaha!"Satu kelas tertawa membuat si kembar kebingungan saat ini.
"Apa kalian gak capek ketawa Mulu?" sinis ketiganya kesal.
"Kalau begitu, jam olahraga saja di duluan,"
"Gak bisa, Buk! nanti kulit kami gosong!" tolak Aldo menggeleng tak mau.
Brak!
"Olahraga saja, Buk!"
"Udah! si kembar kaget tuh!" teriak salah satu siswa sehingga yang mengebrak meja tadi menoleh.
"Eh, sorry bro!" kekeh pria itu membuat si kembar menatap kesal.
"Silahkan tukar baju masing-masing dan buat kalian bertiga, ambil baju olahraga di koperasi sekolah," jelas Guru itu sehingga si kembar mengangguk lalu pergi menuju koperasi buat tukar baju.
...----------------...
Sekarang si kembar menatap pakaian masing-masing karena mendapatkan baju yang sedikit kebesaran, mereka benar-benar terlihat mengemaskan saat ini.
"Bajunya gede," cemberut ketiganya kesal.
"Ayo kita ke lapangan aja, Bang. bajunya gak besar-besar amat kok," ajak Aldi menarik tangan adik sekaligus Abangnya itu buat pergi.
Selama berjalan ke lapangan, ketiganya menjadi pusat perhatian Kakak kelasnya karena wajah mengemaskan mereka ditambah mereka berlari tergesa-gesa menuju lapangan olahraga.
Sesampai disana, mereka dihadang oleh tiga wanita.
"Kalian mau make kalung ini, gak? biar kami satu kali kelas tak kesulitan membedakan kalian," senyum salah satu wanita sehingga si kembar mengangguk pelan dan menerima kalung tersebut, ketiganya begitu senang saat si kembar menerima kalung pemberian mereka.
"Makasih, kalungnya bagus," senyum mereka lalu bergegas pergi.
"Senyumannya buat gue mau pingsan," jerit salah satunya gemes dengan senyuman si kembar.
Langsung saja mereka bergegas menuju barisan untuk pemanasan sebelum olahraga dimulai, sedangkan si kembar menoleh kearah sekumpulan kakak kelas yang mendekat.
"Owh iya, ibu lupa bilang kalau kita bakalan olahraga dengan kelas 12 IPA ¹," ungkap Guru olahraga.
__ADS_1
Semuanya mengangguk sehingga beberapa Kakak kelas tersebut ikut berbaris di samping si kembar. Si kembar tak menghiraukan tatapan meremehkan kakak kelasnya itu.
"Cupu kek gini mau lawan kita main basket?"
Alda yang mendengar itu pun menoleh.
"Enak aja bilang cupu, kau aja yang cupu!" sinis Alda dingin membuat teman sekelasnya menoleh kearah Alda.
"Alda, kamu diam saja dan sabar," bujuk Guru itu supaya tak ada pertumpahan darah disini, bisa-bisa murid kelas 12 itu berakhir di rumah sakit nantinya.
"Dia bilang kami bertiga cupu, Pak! apa boleh kami pukul?"tanya Aldi membuat semuanya menggeleng sehingga si kembar menurut.
"Kalian akan kalah melawan kami," bisik salah satu Kakak kelasnya itu sehingga si kembar menoleh dengan tatapan sinis.
"Kalau kelas kami yang menang, kau harus traktir kami semua. kalau kami kalah, aku yang bayarin permintaan kalian," kesal Aldo sehingga langsung di setujui oleh mereka. Si kembar hanya tersenyum tipis dan kembali mendengarkan penjelasan sang guru.
Tak lama, si kembar langsung mengambil posisi buat basket karena ingin mengalahkan Kakak kelas sombongnya itu. selama permainan, semuanya tampak asik meneriaki tim masing-masing. Beberapa kali Kakak kelasnya itu mencetak angka, membuat si kembar kesal.
"Hahaha! pria cupu kayak kalian gak bakalan menang!" tawa mereka sehingga Alda tersenyum miring, ia mendapatkan kelemahan kakak kelasnya itu karena ia sengaja memerhatikan permainan orang sombong tersebut sejak tadi.
Permainan kembali di mulai sehingga semuanya melongo saat tim si kembar membalikkan keadaan, semuanya bersorak bahagia saat tim si kembar menang dan disatu sisi, mereka bakalan puas jajan tanpa dibayar.
"Kalian kalah, kalian harus traktir kami semua," senyum Aldi mendekat, membuat Bara menahan marah sekaligus malu. ia tak menyangka akan dikalahkan oleh pria cupu dihadapannya dan ia sebenarnya adalah kapten basket populer di sekolah ini.
Alda langsung menahan tangan Bara yang hendak memukuli adiknya.
"Jangan bermain kasar terhadap adik aku," jelas Alda menggenggam erat tangan Bara sehingga pria itu kesakitan.
"Tepati janji kalian, kalau nolak. aku gak segan-segan memindahkan jantung kalian ke otak,".
"GUYS, AYO JAJAN DI KANTIN. MUMPUNG GRATIS!" teriak Aldo sehingga teman sekelasnya berhamburan ke kantin.
"Tunggu apa lagi, Pak! ayo!" sambung Aldo menarik tangan guru olahraga nya tersebut dan diikuti oleh Aldi. Alda menghempaskan tangan Bara lalu pergi dari sana tanpa menghiraukan Kakak kelasnya itu kesal.
...----------------...
Suasana kantin begitu heboh sedangkan si kembar asik menyantap bakso di sudut kantin. berbeda dengan Bara yang sudah kebingungan saat ini, ia hanya membawa uang satu juta untuk nongkrong nanti. masa iya, ia harus membayarkan belanjaan adik kelasnya itu semua.
"Boleh gabung, gak?"
Ketiganya menoleh pada sekumpulan cewe yang besar kemungkinan adalah Kakak kelasnya.
"Gak mau," balas sikembar enteng dan kembali menyantap sarapan mereka lagi.
Dengan tak tau malunya, ke tiga wanita itu duduk di dekat si kembar membuat ketiga pria mengemaskan itu menoleh dengan tatapan dingin.
"Kami udah nolak, kenapa Kakak masih duduk? mau kami usir dengan kekerasan?" tanya Aldo kesal. yang ada di kantin itu hanya diam menunggu kemarahan si kembar yang sudah di ganggu, entah apa masih ketiga gadis centil tersebut nanti.
"Mengemaskan sekali sih, siapa nama kamu?" tanya salah satunya mencubit gemes pipi Aldi, membuat pria itu menatap tajam. begitu juga yang lain ikut mencubit pipi Alda maupun Aldo.
Byur!
Prang!
"Argh! panas!" teriak ketiganya saat si kembar menguyur wajah ketiga wanita itu mengunakan kuah bakso mereka yang kebetulan masih panas. semuanya sontak menelan saliva susah payah.
"Kami gak suka ada yang pegang pipi kami," kesal si kembar kembali duduk.
"Bibi, pesan tiga mangkok lagi ya. soalnya udah ke buang ke tong sampah hidup," senyum Aldo sehingga wanita paruh baya itu mengangguk cepat.
__ADS_1
Bersambung.....