
Setelah selesai menjalankan ibadah shalat maghrib bersama dengan umi Laila, Alfina bergegas kembali ke dapur untuk menuangkan rendang daging yang masih diatas kompor agar dipindahkan ke dalam wadah lalu meletakkannya diatas meja makan.
Kini semua makanan sudah tersaji diatas meja makan dengan rapi, tinggal menunggu dua orang laki-laki yang belum pulang dari kerjanya. Mungkin sekarang masih dalam perjalanan pulang karena biasanya kedua orang tersebut akan kembali pulang kerumah sesudah shalat maghrib.
"Sayang duduk disini nak disamping umi, kita tunggu suami dan juga putra umi pulang ya?". Kata umi Laila
"Ya umi". Jawab Alfina
Setelah lima belas menit menunggu, akhirnya kedua laki-laki tersebut sudah sampai rumah dengan wajah yang nampak lelah. Ya laki-laki itu adalah abi Lukman suami dari umi Laila dan juga Alfan yang merupakan putra satu-satunya mereka.
"Loh Alfan kemana bi, dia gak ikut pulang?". Tanya umi Laila kepada suaminya dengan wajah yang cemas
Sementara Alfina yang mendengar umi Laila menyebut nama Alfan sontak ia kaget dan kembali teringat dengan salah satu nama dosennya dikampus. Tapi Alfina segera menepis ingatannya itu. Tidak mungkin, batin Alfina
"Dia pulang bersama abi, sekarang dia sudah naik keatas duluan buat bersih-bersih badan sebelum bertemu dengan umi". Jelas abi Lukman lembut
"Oh syukurlah". Ucap umi Laila
"Dia siapa umi?". Tanya abi Lukman saat melihat ada seorang gadis yang duduk disebelah istrinya
"Oh ya abi, ini yang kemarin umi ceritakan sama abi. Dia Alfina, gadis yang kemarin nolongin dan ngantar umi pulang saat umi tidak enak badan. Sayang kenalin nak ini suami umi namanya abi Lukman". Terang umi Laila seraya memperkenalkan Alfina kepada suaminya tersebut
"Ya umi, perkenalkan saya Alfina om". Ucapnya dengan sopan sembari menangkupkan kedua tangannya didepan dada
"Ya nak, saya suaminya umi Laila. Kamu bisa panggil saya dengan sebutan abi saja ya?". Kata Abi Lukman pada Alfina
"Baik om - eh maksutnya a - abi". Jawab Alfina canggung
Ketiganya sudah duduk dikursi meja makan sembari menunggu kedatangan satu orang laki-laki yang merupakan anak satu-satunya dikeluarga ini. Umi Laila dan abi Lukman mengobrol ringan dengan Alfina. Mereka akan mulai makan malam ketika anggota keluarga sudah lengkap. Sudah menjadi rutinitas bagi mereka.
Tak lama kemudian ada seseorang yang berjalan kearah meja makan mereka, ya orang itu adalah Alfan. Anak laki-laki semata wayang dari umi Laila dan abi Lukman. Alfan berjalan kearah uminya untuk salim dan mencium pipi uminya singkat.
"Maaf umi abi sudah menunggu Alfan daritadi". Ucapnya
"Tidak apa-apa sayang". Jawab umi Laila
Alfina yang sedari tadi menunduk kini mendongak ketika seseorang yang ditunggu bersama umi Laila dan abi Lukman sudah datang ke meja makan.
Deg ...
Alfina syok dan kaget saat netranya bertemu pandang dengan netra milik Alfan. Begitu juga dengan Alfan yang sempat kaget saat ada salah satu mahasiswinya yang berada dirumah umi abinya.
"Apa mungkin pak Alfan adalah putra dari umi dan abi?". Tanya Alfina dalam hati
"Sayang kenalin nak, ini putra satu-satunya umi dan abi. Namanya Alfan". Ucap umi Laila pada Alfina
"I - iya umi". Balas Alfina dengan terbata-bata
"Alfan kenalin nak, ini Alfina yang kemarin sempat umi ceritakan sama kamu ditaman belakang. Dia ini gadis yang sudah menolong dan mengantarkan umi pulang saat umi tidak enak badan sehabis dari belanja". Terang umi Laila pada Alfan
Alfan kembali kaget saat uminya tersebut menjelaskannya, ternyata yang menolong uminya adalah mahasiswinya sendiri. Berarti, apa yang dibilang mahasiswinya dulu itu benar, dia terlambat karena harus menolong seseorang dan seseorang itu adalah uminya. Pikir Alfan.
Alfan mengangguk "ya umi, dia mahasiswinya Alfan". Jawab Alfan sambil melirik singkat kearah Alfina
"Maa Syaa Allah beneran nak, berarti putra umi ini dosennya kamu ya sayang?". Tanya umi Laila girang sembari menatap Alfina
Alfina mengangguk sambil berkata "ya umi, pak Alfan dosen Alfina dikampus". Jawab Alfina sambil menunduk
"Berarti kalian sudah saling kenal dong, oh ya nak Alfina ini adalah perempuan yang mau umi kenalkan sama kamu. Ternyata kamu sudah kenal". Ucap umi Laila kepada Alfan
Alfan sudah menduga kalau mahasiswinya inilah yang akan uminya kenalkan kepada dirinya. Awalnya agak kaget akan tetapi Alfan bisa mengkondisikan dengan baik maksut dari uminya itu.
"Ya umi". Balas Alfan singkat
__ADS_1
"Yasudah kita makan malam dulu, ngobrolnya dilanjut nanti saja". Ujar abi Lukman
"Ya bi". Jawab umi Laila
Mereka berempat memulai makan malamnya dengan khidmat, hingga suara sang umi yang kembali terdengar ditengah keheningan mereka.
"Fan itu yang masak rendang daging kesukaan kamu Alfina lho, gimana rasanya sayang? Enakkan?". Kata umi Laila
"Enak". Kata Alfan santai
Uhuk .. uhuk ..
Alfina tersedak karena kaget mendengar lontaran dari dosennya itu.
"Kamu gapapa sayang?". Tanya umi Laila khawatir sambil memberikan segelas air pada Alfina
"Maaf umi, Alfina gapapa kok". Jawab Alfina kemudian meminum air yang diberikan oleh umi Laila tadi
Alfan menatap kearah Alfina sejenak. Alfina yang tau ketika diperhatikan oleh dosennya pun mendadak gugup dan berusaha untuk tetap biasa saja.
"Makan nya hati-hati ya sayang". Ucap umi Laila sambil mengelus kepala Alfina yang tertutup hijab syar'i nya
"Alfina mengangguk "ya umi". Jawab Alfina
***
Setelah makan malam dan shalat isya' dirumah umi Laila kini Alfina akan meminta izin untuk pulang kepada keluarga umi Laila. Karena waktu sudah mulai malam dan ia harus kembali ke rumah panti.
"Umi Alfina pamit pulang dulu ya?". Ucap Alfina dengan sopan meminta izin kepada umi Laila
"Biar diantar sama putra umi ya sayang?". Ucap umi Laila
"Maaf tidak perlu umi, Alfina pulang sendiri saja tidak apa-apa". Jawab Alfina
"Percaya sama umi, putra umi baik kok orangnya. Kalau dia macam-macam sama kamu nanti bilang saja sama umi biar umi marahi dia". Lanjut umi Laila yang mengerti tentang keraguan Alfina
Alfina merasa tidak enak kalau menolak permintaan dari umi Laila itu. Akhirnya Alfina menuruti permintaan dari umi Laila tersebut agar dirinya diantar pulang dengan salah satu dosennya dikampus itu.
Alfina mengangguk "Baik umi, Alfina biar diantar pulang sama putra umi". Jawab Alfina halus
"Alhamdulillah". Balas umi Laila
"Fan tolong anterin Alfina pulang ya". Pinta umi Laila menatap putra semata wayangnya itu
Alfan yang dipanggil sang umi lantas menoleh "Ya umi". Jawabnya
"Baiklah, umi percaya sama kalian berdua". Kata umi Laila
Akhirnya Alfina pulang diantar oleh Alfan menggunakan mobilnya. Alfina bingung ia harus duduk didepan apa duduk dibelakang. Jikalau duduk didepan ia takut karena terlalu dekat dengan Alfan, tapi kalau duduk dibelakang ia tidak sopan karena Alfan bukan supirnya melainkan dosennya.
"Kalau kamu tidak nyaman, kamu bisa duduk dibelakang". Kata Alfan yang mengerti pada Alfina
"Memangnya tidak apa-apa pak?". Tanya Alfina
"Tidak ada yang melarang kamu". Ucap Alfan
"Didepan dibelakang sama saja". Sambung Alfan
Alfina yang mendengar jawaban dari Alfan memilih untuk duduk dibelakang saja, karena ia takut kalau terlalu berdekatan dengan dosennya itu. Dirinya takut karna bukan mahram. Jadi sebaiknya ia duduknya dibelakang saja.
"Saya duduk dibelakang saja pak". Kata Alfina
"Hmm". Respon Alfan kemudian membuka pintu bagian kemudi
__ADS_1
Dalam perjalanan mereka berdua diam, tidak ada yang membuka obrolan. Sampai suara Alfan terdengar membuat Alfina memandang kedepan yang tadinya ia memperhatikan jalanan dari kaca jendela mobil samping.
"Jadi dulu kamu yang antar umi saya pulang?". Ujar Alfan datar
"Ya pak, saya yang mengantar umi Laila pulang karena waktu itu umi Laila kepalanya pusing dan wajahnya pucat". Jawab Alfina sambil menunduk
"Maaf kalau dulu saya sempat memarahimu". Kata Alfan
"Tidak apa-apa pak, saya juga salah waktu itu". Balas Alfina
"Terimakasih". Ucap Alfan
Alfina tersenyum "Sama-sama pak".
Alfina kembali memandang jendela mobil disampingnya guna menutupi kegugupannya bila ia bersama dengan dosennya ini. Alfina juga baru mengetahui bahwa umi Laila memiliki satu putra laki-laki yang sudah dewasa yang kini menjadi salah satu dosennya dikampus.
"Saya turun didepan gang saja pak". Ucap Alfina
"Saya akan mengantarkanmu sampai dengan tujuan, ini atas permintaan umi saya". Jawab Alfan
"Baik pak". Balas Alfina
Alfina tidak berani membantah permintaan dari dosennya itu. Ia terlalu takut dan ragu bila harus kembali menolak.
"Tunjukkan saja rumahmu". Kata Alfan singkat
Alfina mengangguk "Didepan ada pagar warna putih pak, tolong berhenti disitu". Kata Alfina dengan sopan
"Si-silahkan kalau pak Alfan mau mampir dulu?". Ucap Alfina sambil menunduk
"Ya". Jawab Alfan singkat
Alfan melihat bahwa rumah yang dimaksud mahasiswinya itu adalah sebuah panti asuhan yang sering ia kunjungi bersama dengan orangtuanya.
"Apakah mahasiswinya itu tinggal disini"?. Tanya Alfan dalam hati
Alfan yang penasaran lantas bertanya kepada Alfina yang sudah turun dan berdiri disamping mobilnya.
"Kamu tinggal disini?". Tanya Alfan datar
"Ya pak, saya tinggal disini dipanti asuhan kasih bunda". Jawab Alfina tanpa menatap Alfan
"Assalamualaikum". Salam Alfina ketika memasuki panti
"Waalaikumussalam sayang". Jawab bunda Nila
Alfina segera mengulurkan tangannya kepada bunda Nila untuk salim sedangkan Alfan hanya menangkupkan kedua tangannya didepan dada.
"Nak Alfan?". Kata bunda Nila
"Ya bu saya Alfan dosennya Alfina". Jelas Alfan
"Silahkan duduk dulu nak". Pinta bunda Nila
Bunda Nila, Alfina, dan Alfan akhirnya duduk di kursi ruang tamu yang berada didalam panti.
"Bunda kenal dengan pak Alfan?". Tanya Alfina penasaran
Alfan yang mendengar Alfina menyebut bu Nila dengan sebutan bunda kembali berpikir, apakah bu Nila ini orangtuanya? Karna setau Alfan bu Nila ini tidak mempunyai seorang anak. Beliaulah yang meneruskan panti ini semenjak kedua orangtuanya meninggal dunia.
"Sayang nak Alfan ini adalah salah satu dermawan yang setiap bulan datang kesini untuk membantu kita dalam mengelola panti asuhan ini. Beliau juga yang mencukupi kebutuhan adik-adik dipanti ini". Jelas bunda Nila
Alfina tentu saja terkejut dengan penjelasan bu Nila, ia tidak menyangka bahwa dosennya ini adalah orang yang baik dan dermawan. Dibalik sikap dingin dan datar nya beliau begitu mengayomi dan menyanyangi anak yatim piatu yang berada dipanti ini.
__ADS_1
"Maa Syaa Allah". Lirih Alfina