
Alfina kini bersiap berangkat menuju tempat kerjanya, ia masih menggunakan motor milik bunda Nila. Sesampainya ditempat kerja ia segera mengganti bajunya kemudian membantu Aini memajang berbagai baju yang ada di toko tersebut.
"Na boleh aku tanya sama kamu". Kata Aini sambil menatap Alfina
"Boleh mbak silahkan". Jawab Alfina
"Kamu kenal dengan putranya umi Laila?". Ucapnya
"Maksut mbak pak Alfan?". Tebak Alfina
"Ya na". Jawabnya
"Pak Alfan itu dosen aku dikampus mbak". Kata Alfina
"Serius, demi apa?". Jawabnya setengah berteriak
Alfina mengangguk "Alfina serius mbak, beliau memang dosen Alfina dikampus".
"Berarti setiap hari kamu cuci mata, melihat ketampanan putra umi Laila". Katanya
"Astaghfirullah, enggak mbak. Aku kekampus niatnya kuliah bukan yang lain". Balas Alfina
"Ya memang, seandainya aku kuliah ditempat kamu pasti setiap hari melihat putra kesayangan umi Laila". Titah Aini lagi
Alfina tertawa, Aini memang tidak berubah dari dulu. Setiap ia melihat laki-laki yang tampan ia selalu heboh dan menghayal. Contohnya seperti sekarang ini.
"Eh na aku kasih tau ya, kayaknya putra umi Laila itu suka deh sama kamu". Kata Aini santai
Alfina yang mendengar itupun lantas menatap Aini didepannya dengan bingung.
"Gak mungkin mbak, Pak Alfan itu seorang dosen dan juga presdir. Mustahil kalau beliau suka sama aku. Aku hanya orang biasa mbak sedangkan pak Alfan beliau orang terpandang.
"Tapi kalau memang dia benar suka sama kamu gimana?". Ucap Aini
"Alfina nggak tau mbak". Jawab Alfina
"Untuk sekarang Alfina hanya mau fokus kuliah dan bekerja mbak. Alfina harus membantu bunda Nila buat ngurus adik-adik panti. Karena dari dulu sampai sekarang bunda Nila lah yang merawat Alfina". Kata Alfina lirih
Aini yang melihat perubahan dari Alfina pun merasa bersalah, ia seharusnya tidak mengatakan kalimat yang tadi. Tapi Aini merasa yakin kalau putra dari bosnya bekerja itu sepertinya ada perasaan dengan Alfina. Aini tau saat beliau ikut kesini bersama sang umi ia begitu memperhatikan Alfina.
"Maafin mbak ya udah bilang aneh-aneh sama kamu". Sesal Aini
"Mbak gak salah kok, Alfina aja yang suka mellow". Jawab Alfina seraya. tersenyum
"Sini peluk mbak". Ujar Aini
Dengan segera Alfina memeluk Aini dengan erat, ia sudah seperti saudara jika bersama dengan Aini. Selain bunda Nila, sahabatnya Amel, Aini juga lah yang selalu menyemangati dirinya setiap waktu.
"Oh ya na, nanti kita makan malam bareng yuk dicafe depan". Ajak Aini
"Nanti mbak yang traktir kamu, karena hari ini mbak lagi bahagia banget". Lanjut Aini
Alfina mengangguk sambil berkata "Oke mbak, nanti sepulang dari bekerja kita makan malam bareng"
__ADS_1
"Oke". Jawab Aini sambil tersenyum lebar
Saat ini Alfina melaksanakan shalat Maghrib di masjid yang letaknya disamping kiri tempat kerjanya. Ia shalat begitu khusyuk dan tepat waktu. Alfina adalah gadis yang shalehah yang senantiasa berkata lembut dan sopan. Sehingga tidak sedikit laki-laki yang berusaha mendekatinya. Akan tetapi ia tidak mau bila diajak pacaran, ia begitu mentaati perintah dari Allah dan menjauhi segala larangan-nya.
"Alhamdulillah". Lirihnya setelah selesai shalat
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, ia segera bersiap pulang. Tapi sesuai kesepakatan tadi bahwa ia dan Aini akan makan malam bersama di cafe yang letaknya pas di depan tempatnya bekerja.
"Na udah selesai berberes?". Tanya Aini sambil menghampiri Alfina
"Alhamdulillah sudah mbak". Jawabnya
"Yaudah kita kesana sekarang ya?". Ucap Aini
"Ya mbak ayo kita berangkat". Ajak Alfina
Keduanya pun memasuki cafe dan memilih tempat duduk dipojok karena pengunjung dicafe malam ini sangat banyak sekali. Maklumlah cafe tempat anak muda nongkrong dan bersantai bersama dengan temannya.
"Na kamu mau pesan apa?". Tanya Aini pada Alfina
"Samain aja sama mbak". Jawabnya
"Beneran?". Tanyanya lagi
Alfina mengangguk "Ya mbak".
"Oke"
Setelah makan malam dengan Aini, Alfina akan kembali pulang kerumah panti karena hari sudah mulai malam dan ia tidak boleh pulang sampai larut, pasti bunda Nila akan khawatir jika dirinya belum pulang dari bekerja.
"Mbak Alfina pamit pulang dulu ya, terimakasih sudah mengajak Alfina makan malam bersama dengan mbak disini, Alfina sayang sama mbak". Kata Alfina seraya memeluk Aini
"Sama-sama dek, Hati-hati ya pulangnya". Balas Aini
"Ya mbak". Jawabnya
"Assalamualaikum".
"Waalaikumussalam".
***
Diruang keluarga kediaman abi Lukman dan umi Laila saat ini sudah ada Alfan putranya yang duduk disamping uminya. Karena kemarin malam sang umi meminta dirinya untuk pulang kerumahnya jadilah sekarang ia sudah berada ditengah-tengah mereka.
"Ada apa bi mi?". Tanya Alfan to the point
"Boy abi dan umi ingin bicara serius dengan kamu". Kata abinya
"Silahkan bi". Jawab Alfan
"Nak, umi ingin bertanya dengan kamu. Apa kamu ada perasaan dengan Alfina?". Tanya uminya
"Jawab jujur boy, abi tau kamu dari dulu". Sambung abinya
__ADS_1
Alfan mengangguk "Memangnya kenapa bi mi?".
"Nak bila kamu memang benar-benar mencintai Alfina, segera halalkan gadis itu nak. Umi dan abi sangat merestui bila Alfina yang akan menjadi istri kamu. Umi tau kalau Alfina adalah gadis yang bisa meluluhkan hati kamu". Kata umi Laila
"Boy sudah saatnya kamu membina rumah tangga bersama istrimu nanti. Kamu sudah mapan, punya pekerjaan dan sudah punya rumah". Kata abi Lukman
Sepertinya benar perkataan dari umi dan abinya, sudah saatnya ia melangsungkan akad suci pernikahan dan membangun rumah tangga bersama dengan istrinya nanti.
"Sebenarnya Alfan sudah mendapat petunjuk". Kata Alfan
"In Syaa Allah akan Alfan segerakan". Lanjutnya
"Alhamdulillah". Ucap uminya
"Asal kamu tau nak, sejak umi bertemu dan kenal dengan Alfina, umi merasa yakin dan terus mendoakan kamu supaya kamu bisa mendapat jodoh seperti Alfina. Dia itu anaknya sopan, baik, lemah lembut itulah yang membuat umi suka dan kagum sayang". Jelas uminya
"Benar apa kata umimu fan. In Syaa Allah dia adalah gadis yang bisa menjadi penyemangat hidup kamu seperti saat masa lalu dulu". Kata abi Lukman ambigu
Alfan mendongak menatap abinya dengan pandangan yang sulit diartikan. Apa maksut dari perkataan abinya itu, kenapa abinya membawa kisah masa lalunya kembali disaat ia akan meminang seorang gadis.
"Apa maksud abi?". Tanyanya menuntut
Abi Lukman tersenyum, mungkin memang seharusnya putranya itu tau dari sekarang. Ia akan menceritakan semuanya kepada putra satu-satunya itu. Ia berharap putranya akan bahagia setelah menikah dengan calon istrinya nanti.
"Abi akan kasih tau satu hal sama kamu". Ucap abi Lukman dengan serius
Alfan menatap abinya dengan pandangan yang seksama dan siap mendengarkan setiap perkataan dari abinya.
"Kamu tentunya masih ingat dengan alm ayah Andi dan almh bunda Ana sahabat umi dan abi. Beliau terjadi kecelakaan saat hendak berlibur ke pantai bersama dengan putri kecilnya yang saat itu masih berusia delapan tahun. Waktu itu kita sekeluarga pindah ke kota Surabaya karena nenek kamu sedang sakit. Dan kamu tau fan, dari dulu kamu mencari sosok putri dari sahabat abi yang waktu itu adalah sahabat dekat kamu juga".
"Ternyata sahabat kecil kamu itu adalah Alfina, gadis yang akan kamu nikahi. Abi tau ini semua dari bu Nila, abi punya keinginan kuat untuk mencari informasi tentang Alfina, dan Alhamdulillah abi berhasil menemukannya. Alfina adalah putri dari sahabat abi teman kecil kamu". Jelas abi Lukman
Alfan yang mendengar setiap ucapan abinya menjadi syok dan terdiam saat tau kenyataan bahwa Alfina adalah sahabat kecilnya yang selama ini ia cari. Ia dipisahkan bertahun-tahun oleh keadaan dan dipertemukan kembali setelah keadaan yang sudah sangat berbeda.
"Fan kamu kenapa nak?". Tanya uminya
"Tidak apa-apa umi". Jawabnya
"Alfina itu gadis kecil yang dulu selalu main sama kamu sayang, awalnya umi juga kaget namun mendengar penjelasan dari abimu kemarin umi jadi percaya dan buktinya juga sudah ada". Kata umi Laila
"Nana". Ucap Alfan lirih namun masih bisa didengar oleh umi dan abinya
"Ya sayang dia adalah Nana dan kamu adalah Kak Al kalau Alfina menyebutnya". Ujar umi Laila
Alfan mengangguk mantap "Akan Alfan segerakan khitbah dan akadnya mi bi". Ucapnya
"Baiklah nak abi dan umi siap mengantarkan kamu untuk menemui gadis pujaan hati kamu".
"Dan juga cinta pertama kamu selain umi". Goda sang Abi
"Baik abi umi terimakasih". Ucapnya
"Sama-sama nak". Jawab mereka
__ADS_1