Mencintaimu Dalam Doa

Mencintaimu Dalam Doa
Part 92


__ADS_3

Keesokan harinya Alfina bangun lebih awal karena merasakan perutnya yang sedikit sakit. Ia berharap semoga buah hatinya yang dinanti cepat hadir didunia ini. Sekarang ia duduk ditepi ranjang sambil memegangi perutnya seraya melihat suaminya yang masih tertidur karena waktu menunjukkan pukul tiga pagi.


Tak lama kemudian Alfan bangun dari tidurnya kemudian melihat sang istri yang sedang memegangi perutnya sambil meringis pelan. Lantas ia bangun dan mendekati istrinya lalu mengusap kepalanya dengan lembut.


"Sayang kamu kenapa?". Tanya Alfan khawatir


"Alfina enggak apa-apa kok mas, perut Alfina sedikit sakit tadi mangkanya Alfina bangun. Maaf menganggu tidurnya mas". Jawab Alfina sambil menatap suaminya


"Sama sekali tidak menganggu sayang". Balas Alfan


"Masih sakit perutnya?". Tanya Alfan lagi


Alfina menggeleng "Sudah enggak kok mas". Jawab Alfina


"Mungkin itu kontraksi ringan dek, kamu sudah mau melahirkan baby kita". Ucap Alfan seraya memeluk Alfina


"Ya mas, aku berharap semoga persalinannya nanti lancar dan baby nya juga sehat". Jawab Alfina


"Aamiin mas selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua". Balas Alfan kemudian mencium kening Alfina dengan lembut


Suara adzan shubuh terdengar, Alfan segera membersihkan tubuhnya karena hendak berangkat ke masjid untuk melaksanakan shalat shubuh berjamaah. Sedangkan Alfina akan shalat didalam kamarnya.


"Sayang mas berangkat ke masjid dulu ya?". Ujar Alfan pada Alfina


"Ya mas hati-hati". Jawab Alfina seraya tersenyum kepada suaminya


Alfina segera shalat karena ia juga harus membantu sang umi yang sedang memasak untuk sarapan pagi. Ia berhati-hati dalam berjalan karena pada saat-saat ini dirinya akan melakukan proses persalinan, jadi sebisa mungkin ia menjaga kandungannya dengan baik.


"Assalamualaikum umi, bibi". Salam Alfina saat langkahnya sampai didapur


"Waalaikumussalam nak". Jawab mereka bersamaan


"Sayang kamu duduk aja ya, umi khawatir sama kamu sebentar lagi kamu akan melahirkan nak". Kata umi Laila


"Ya umi, tadi waktu bangun perut Alfina sempat sakit tapi cuman sebentar". Ucap Alfina


"Sekarang masih sakit nak?". Tanya umi Laila


"Tidak umi". Jawab Alfina


"Yasudah tunggu disitu saja ya sayang sambil menunggu suamimu". Ujar umi Laila


Alfina mengangguk "Baik umi". Jawabnya


Beberapa menit kemudian terdengar derap langkah seseorang yaitu Alfan dan abi Lukman yang baru saja pulang dari masjid. Alfina segera mengambil tangan suaminya untuk ia cium yang dibalas kecupan di kening oleh Alfan.

__ADS_1


Umi Laila, abi Lukman, dan bibi yang melihat kemesraan mereka berdua pun lantas tersenyum manis. Umi Laila bersyukur sekali karena Alfan sangat menyayangi dan mencintai istrinya dengan tulus. Begitu juga dengan Alfina yang dulunya mereka adalah sahabat semasa kecil.


"Masya Allah pagi-pagi sudah romantis saja kamu boy". Celetuk abi Lukman menggoda mereka berdua


"Abi juga barusan nglekauin hal yang sama dengan umi". Jawab Alfan menatap abi nya


"Nak istrimu jangan disuruh ngapa-ngapain ya, biarkan dia fokus sama kehamilannya dulu. Umi khawatir sama istrimu sayang". Ucap umi pada Alfan


"Ya umi, Alfan akan jaga istri Alfan dengan baik". Jawab Alfan dengan yakin


"Kalau gitu sebentar ya sayang, masakan umi sedikit lagi selesai". Ucap umi Laila


Alfina mengangguk "Ya umi, Alfina minta maaf karena tidak membantu umi memasak". Jawab Alfina tak enak kepada umi Laila


"Tak apa sayang, ini demi kebaikan kamu". Balas umi Laila seraya tersenyum kepada Alfina


Kini mereka sedang melakukan sarapan bersama dengan tenang, Alfina yang selalu disuapi oleh suaminya ketika makan membuatnya malu ketika ditatap oleh umi maupun abinya. Sudah ia pastikan kalau malu maka pipinya akan memerah bak kepiting rebus akibat perlakuan manis yang diberikan oleh suaminya.


Selesai memakan sarapan paginya, Alfan mengajak istrinya untuk bersantai terlebih dahulu dikursi dekat kolam renang rumahnya. Ia harus membuat suasana yang menyenangkan untuk istrinya agar hatinya juga selalu senang dan bahagia.


"Sayang bagaimana keadaan baby kita sekarang?". Tanya Alfan sambil mengelus perut Alfina


"Alhamdulillah tidak apa-apa mas, mungkin karena mau menuju persalinan jadi kadang-kadang sakit perutnya". Jawab Alfina kepada suaminya


"Ya papa". Balas Alfina menirukan suara anak kecil


Alfan mengajak sang istri masuk kedalam rumah ketika keadaan sudah siang dan tentunya juga panas. Ia akan menemani sang istri untuk istirahat setelah melakukan shalat dhuhur berjamaah bersama dengan dirinya.


Alfan selalu menjaga Alfina setiap saat, oleh karena itu ia memindahkan semua pekerjaannya dikantor untuk dikerjakan dirumah sambil menemani istrinya. Betapa beruntungnya Alfina dimiliki oleh seorang laki-laki yang sangat tulus menyayangi dan mencintanya.


"Alhamdulillah sudah tertidur". Lirih Alfan ketika melihat Alfina yang sudah terlelap dalam tidur siangnya.


Alfan mulai mengerjakan pekerjaannya diatas ranjang sebelah Alfina, sebisa mungkin ia menjaga dan melindungi istrinya dengan baik karena hari sudah memasuki kelahiran buah hatinya.


Sore telah datang, dua jam ia menyelesaikan pekerjaannya didalam kamar sambil menemani sang istri. Ia menutup laptopnya kemudian menatap Alfina yang masih tertidur dengan nyenyak diatas ranjang. Istrinya itu selalu tenang ketika tidur siang hingga sore, akan tetapi akan sulit jika tidur dimalam hari.


Ia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan mengambil air wudhu kemudian melaksanakan shalat ashar setelah membangunkan istrinya. Ia rasa tidur istrinya sudah cukup sehingga harus dibangunkan untuk melaksanakan shalat.


"Sayang". Panggil Alfan kepada istrinya


"Bangun dulu sayang". Ucap Alfan sambil mengelus lengan Alfina dengan lembut


Alfina menggeliat kemudian membuka matanya dan melihat sang suami yang sudah rapi menggunakan baju koko dan sarungnya. Ia menatap suaminya sehingga membuat Alfan merasa gemas melihat sang istri yang bermuka bantal itu.


"Kenapa hmm?". Tanya Alfan sambil mengelus kepala Alfina

__ADS_1


Alfina menggeleng sambil mengalihkan pandangannya dari suaminya, ia selalu malu jika ditatap sedekat itu oleh sang suami. Sedangkan Alfan sudah terkekeh melihat Alfina yang masih malu-malu. Bumil memang menggemaskan, pikir Alfan.


"Mandi dulu ya dek, air nya sudah mas siapin. Habis mandi langsung shalat. Mas mau ke masjid dulu buat shalat berjamaah". Kata Alfan pada Alfina


"Ya mas hati-hati". Jawab Alfina


Malam harinya setelah makan malam, Alfina merasakan sakit pada area perutnya, ia merintih sambil memegangi perutnya yang terasa mulas. Alfan yang mengetahui istrinya seperti itu segera mendudukkannya disofa sambil ikut mengelus perut istrinya.


"Mas". Panggil Alfina terbata-bata


"Perut Alfina sakit banget". Ucap Alfina seraya meneteskan air matanya


"Astaghfirullah sayang kamu pasti mau melahirkan, sekarang kita ke dokter". Ucap Alfan sambil mengangkat tubuh istrinya menuju mobil


"Fan biar umi yang mengambil perlengkapan istrimu dikamar". Ujar umi Laila sedikit panik dan khawatir


"Baik umi". Jawab Alfan


Alfan menggendong istrinya kedalam mobil, ia mendengar rintihan dari istrinya karena sakit pada perutnya. Alfina memegangi perutnya terus-menerus, sedangkan Alfan sudah menciumi wajah istrinya berusaha menenangkannya walau rasa sakit masih saja menerjang istrinya.


"Ayo pak jalan". Ucap umi Laila ketika sudah memasuki mobil karena saat ini yang menyetir mobilnya adalah sopir pribadi keluarganya.


"Baik bu". Jawab sang sopir


Umi Laila tidak tega melihat sang menantu yang merintih kesakitan, ia khawatir jika terjadi sesuatu dengan istri putranya itu. Sedangkan Alfan sudah melafalkan doa dalam hati berharap istrinya bisa bertahan sampai rumah sakit dan proses persalinannya berjalan dengan lancar.


.


.


.


.


.


Jangan lupa like, coment, follow, gift


.


.


.


Thankyou gaes 🤗

__ADS_1


__ADS_2