Mencintaimu Dalam Doa

Mencintaimu Dalam Doa
Part 55


__ADS_3

Hari ini Alfan dan Alfina sudah sampai di pelataran kampus, Alfan akan mengajar sedangkan Alfina akan melakukan bimbingan skripsi kepada dosen pembimbing satunya selain Alfan. Ia berusaha bersungguh-sungguh supaya cepat menyelesaikan skripsinya dan dinyatakan lulus sebagai sarjana, karena itulah impiannya dari dulu.


"Mas Alfina temui Amel dulu ya, dia sedang ada dikantin". Ucap Alfina pada suaminya


"Ya hati-hati, kalau ada apa-apa langsung hubungin mas". Balas Alfan sambil mengusap kepala Alfina dengan sayang


Alfina mengangguk "Baik mas". Jawabnya


Alfina mencium tangan Alfan dengan lembut kemudian Alfan memberikan kecupan dikening Alfina dengan sayang. Ia tersenyum lembut menatap istrinya yang juga tersenyum menatap dirinya. Baginya senyum yang ditampilkan oleh istrinya adalah salah satu penyemangatnya, ia berkali-kali bersyukur ditakdirkan dengan sahabat semasa kecilnya dahulu.


"Assalamualaikum mas". Salam Alfina kemudian meninggalkan Alfan


"Waalaikumussalam". Jawab Alfan tersenyum tipis


Sesampainya dikantin Alfina menghampiri sahabatnya yang sudah duduk manis di salah satu kursi yang berada paling pojok tempat favoritnya ketika dikantin kampus. Ia tersenyum ramah kepada temannya yang menyapa dirinya, Alfina memang anak yang humble, ramah, dan mudah akrab. Jadi tidak heran bila Alfina mempunyai banyak teman perempuan dan ia juga banyak disukai oleh laki-laki sehingga mereka ingin menjadikan Alfina sebagai pendamping hidupnya.


"Assalamualaikum Mel". Salam Alfina kepada sahabatnya


"Waalaikumussalam, ALFINA". Jawab Amel sedikit keras karena terkejut dengan kehadiran sahabatnya


"Shutt, jangan keras-keras Mel itu gak baik". Peringat Alfina kemudian duduk dihadapan sahabatnya


"Hehe, maaf na aku selalu senang dengan kehadiran kamu". Jawab Amel sedikit cengengesan


"Ya tapi jangan diulangi lagi". Ucap Alfina kepada sahabatnya yang sedikit bar-bar itu


Amel mengangguk "Baik bu dosen, hehe kan kamu istrinya pak dosen Alfan jadi aku panggilnya bu dosen aja". Kata Amel sambil menggoda Alfina


Kedua pipi Alfina memerah ketika mendengar nama Alfan disebut oleh sahabatnya. Sahabatnya itu selalu terang-terangan ketika berbicara dengan dirinya, akan tetapi walau begitu ia menyanyangi Amel sebagai sahabatnya yang dari dulu selalu menemaninya. Sedangkan Amel sudah tersenyum jahil menatap sahabatnya yang salah tingkah ketika nama suaminya disebutkan, Amel terkekeh melihat Alfina dengan wajah yang memerah.


"Ciee salting nih sahabat aku". Kata Amel dengan tertawa


Alfina dengan spontan menutup wajahnya dengan menggunakan kedua tangannya karena malu digoda oleh sahabatnya mengenai suaminya. Ia juga tersenyum ketika mengingat sang suami yang selalu perhatian dan tulus kepada dirinya.


"Oh ya Na habis ini kita langsung bimbingan saja ya?". Kata Amel pada sahabatnya


"Ya Mel". Jawab Alfina singkat

__ADS_1


Mereka berdua menuju ruangan dosen pembimbing masing-masing untuk melakukan bimbingan skripsi, Alfina berharap skripsinya di acc oleh dosen pembimbingnya begitu juga dengan Amel yang berharap sama dengan sahabatnya itu. Keduanya berharap bisa lulus bersama dan wisuda bersama.


Setelah melakukan bimbingan mereka berdua pergi ke taman untuk merilekskan pikiran dan tenaganya. Sungguh menjadi seseorang yang berpendidikan itu tidaklah mudah, kita harus berjuang, berusaha, dan berdoa agar bisa mencapai tahap akhir sampai diwisuda dan dinyatakan sebagai seorang sarjana.


"Na kita jalan-jalan yuk ke mall sambil makan siang disana". Ucap Amel pada Alfina


"Aku coba minta izin dulu ya sama mas Alfan". Jawab Alfina


"Ya kamu minta izin saja dulu na biar pak Alfan gak marah sama kamu". Balas Amel pada Alfina


Alfina mengangguk "Ya na". Jawab Alfina


Alfina pergi keruangan suaminya untuk meminta izin pergi bersama dengan Amel sahabatnya. Ia berharap bisa diizinkan karena ia juga bosan kalau berada dirumah terus apalagi mengerjakan skripsi butuh pikiran yang fresh dan hati yang tenang. Akhirnya ia pun pergi keruangan suaminya untuk meminta izin.


Tok ... Tok ...


"Masuk". Kata seseorang didalam ruangan tersebut


"Assalamualaikum". Salam Alfina sembari membuka pintu ruangan Alfan yang tertutup


"Sudah selesai?". Tanya Alfan kepada Alfina


Alfina mengangguk "Alhamdulillah sudah mas dan sudah di acc juga". Jawab Alfina sambil tersenyum manis


Alfan mengangguk seraya tersenyum menatap istrinya, ia bangkit dari duduknya kemudian mendekat kearah pintu dan menguncinya. Alfina terheran kenapa suaminya itu malah mengunci pintu ruangannya, ia jadi takut kalau begini apalagi berada diruangan dan hanya berdua saja dengan suaminya. Pikiran Alfina sudah mulai tak enak saat matanya bertubrukan dengan mata suaminya yang terus menatapnya dengan intens.


Alfan kembali duduk dikursinya kemudian memanggil Alfina


"Sini dek, duduk dipangkuan mas". Kata Alfan yang membuat Alfina melototkan kedua matanya yang malah membuat Alfan gemas


"Hah?". Respon Alfina


"Sini dek". Panggil Alfan sekali lagi sambil tangannya menepuk-nepuk kedua pahanya mengisyaratkan istrinya agar duduk di pangkuannya


Alfina menggeleng menatap suaminya, ia bahkan belum pernah duduk dipangkuan suaminya selama ini. Ia juga malu dan akan salah tingkah jika suaminya berlaku seperti itu, ditatap saja rasanya ketar-ketir apalagi disuruh duduk dipangkuannya. Alfina yang membayangkannya saja sudah dipastikan bahwa pipinya sudah memerah karena blushing. Sedangkan Alfan masih setia menatap istrinya dengan tatapan yang lebih intens membuat Alfina kikuk berada dihadapannya.


"Kalau gak kesini mas gak bakalan kasih izin adek buat pergi". Kata Alfan yang membuat Alfina terkejut

__ADS_1


"Gak usah kaget, karena mas bisa baca pikiran orang apalagi pikiran adek istri mas sendiri". Lanjut Alfan dengan santainya


Alfina yang tidak mau berlama-lama akhirnya menghampiri Alfan dan duduk di pangkuan suaminya dengan ragu, Alfan yang melihat istrinya malu-malu dengan segera merapatkan duduknya dan memeluk pinggang ramping Alfina dengan mesra sambil mencium pipi Alfina. Alfina yang diperlakukan seperti itu lantas membuat ia gugup dan tidak nyaman, ia sedikit takut karena berada pada posisi sedekat itu dengan suaminya.


"M-mas Alfina mau minta izin buat keluar bersama dengan Amel ya?". Kata Alfina to the point


"Kemana?". Tanya Alfan singkat


"Ehm ke mall sambil makan siang disana". Jawab Alfina dengan tenang dan bersikap biasa saja


"Adek tega meninggalkan mas sendiri disini dan belum makan siang, sementara adek mau pergi bersama dengan sahabat adek?". Ucap Alfan yang membuat Alfina merasa bersalah karena tidak memperhatikan makan suaminya


Alfina menundukkan kepalanya sambil berkata


"Maaf mas, Alfina tidak bermaksud seperti itu. Tadi Alfina diajak oleh Amel dan Alfina kesini mau meminta izin sama mas, tapi kalau mas tidak mengizinkan tidak apa-apa kok. Alfina bisa membelikan makan siang untuk mas". Jawab Alfina merasa tak enak dengan suaminya


Alfina jadi takut kalau meminta izin kepada suaminya, tapi mau bagaimana lagi seorang istri wajib meminta izin kepada suaminya jika ingin pergi atau keluar. Ia juga merasa bersalah karena tidak memperhatikan makan suaminya, kalau tau seperti ini sebaiknya tadi ia menolak ajakan dari sahabatnya itu.


"Tidak apa-apa mas tidak akan marah, yang penting adek jangan lupa makan sama istirahat. Mas akan mengizinkan adek jika adek mau pergi dengan sahabat adek, tapi adek harus selalu ingat dengan pesan mas tadi". Ucap Alfan panjang lebar kepada istrinya


Alfina mengangguk "Ya mas". Jawabnya


Tak lama kemudian ada telfon dari Amel, ia mengatakan kepada Alfina bahwa tidak jadi pergi keluar bersamanya karena ia diberi kabar oleh mamanya kalau neneknya masuk rumah sakit, alhasil rencana makan siang mereka menjadi batal.


"Kenapa dek?". Tanya Alfan kepada Alfina


"Kita tidak jadi pergi keluar mas, karena nenek Amel masuk rumah sakit jadi Amel disuruh kesana dengan mamanya". Jawab Alfina


"Yasudah nanti makan siang bersama dengan mas saja". Ujar Alfan sambil mengelus kepala Alfina dengan lembut


"Mas tidak sibuk?". Tanya Alfina


"Kalau siang ada jadwal break dan istirahat dek, jadi mas gunakan untuk shalat dan makan siang. Jam tiga sore nanti pekerjaan mas sudah selesai dan kita bisa pulang bersama". Kata Alfan


"Baiklah mas". Balas Alfina


Akhirnya setelah melaksanakan shalat dhuhur berjamaah diruangan suaminya, Alfan mengajak istrinya makan siang bersama di salah satu restoran sebelum kembali pulang ke rumah. Ia harus memastikan istrinya makan tepat waktu supaya tidak sampai sakit, karena saat ini ia terus mengontrol kesehatan istrinya yang sedang mengerjakan skripsi.

__ADS_1


__ADS_2