
Pagi ini Alfina sudah rapi menggunakan baju tunik polos bewarna senja dipadukan dengan rok hitam serta jilbab hitam syar,i yang membuat dirinya nampak cantik dan anggun. Alfina selalu berpakaian tertutup karena sebagai seorang perempuan wajib untuk menutup aurat.
Ia berangkat ke kampus menggunakan motor milik bunda Nila. Sesampainya dikampus ia bertemu dengan Amel sahabatnya yang juga baru saja turun dari motornya. Hari ini Amel menggunakan motor matic miliknya karena ia ingin menikmati kesejukan ketika perjalanan menuju kampus.
"Assalamualaikum Amel". Salam Alfina pada Amel
"Waalaikumussalam Na". Jawab Amel seraya memeluk sahabatnya itu
"Na kamu harus cerita sama aku tentang proses khitbahan kamu kemarin malam. Andai saja aku tidak ada acara aku pasti akan datang kepanti untuk menyaksikan kamu dilamar sama seseorang". Cerocos Amel tiba-tiba
"In Syaa Allah nanti aku ceritain selesai matkul". Balas Alfina
"Janji ya?". Ucapnya
"Ya". Jawab Alfina
"Yaudah kita masuk kelas ya takut dosennya keburu masuk". Kata Amel
"Ya ayo". Jawab Alfina sambil menggandeng tangan sahabatnya
Alfina dan Amel memang kerap disapa anak kembar karena mereka berdua selalu bersama entah pergi kekampus, kemall, main berdua ataupun yang lainnya. Mereka berdua sudah seperti saudara kandung sendiri sehingga terkadang saling bergantung satu sama lain.
Ketika memasuki kelasnya Alfina dan Amel segera duduk paling depan karena bangku tengah dan belakang sudah pada diisi oleh mahasiswa yang sudah datang duluan. Jadilah mereka berdua duduk di bangku depan dekat dengan meja dosen.
"Na kamu disini ya, aku takut kalau bangkunya berhadapan pas sama meja dosen kayak gini. Apalagi kan pagi ini dosennya pak Alfan yang datar itu". Kata Amel
Alfina mengangguk "Yasudah gapapa".
Sebenarnya Alfina juga takut jika ia harus berhadapan dengan sang dosen, namun semua bangku yang ada dikelasnya hari ini hanya tersisa pada bagian depan saja. Jadi mau tak mau ia harus duduk dibangku yang berhadapan pas dengan meja dosen.
"Na hari ini gak ada tugas kan dari pak Alfan?". Tanya Amel
"In Syaa Allah gak ada Mel". Jawab Alfina
Keduanya pun terdiam ketika sang dosen memasuki kelas mereka dengan sikap dingin andalannya. Mereka yang ada dikelas hari ini tidak ada yang bersuara karena dosen mereka ini adalah tipe orang yang disiplin.
"Assalamualaikum semua". Salam Alfan pada mahasiswanya
"Waalaikumussalam pak". Jawab mereka
"Bagaimana kabar kalian hari ini?". Tanyanya
"Alhamdulillah baik pak". Jawabnya
"Oke kita mulai perkuliahan pada hari ini. Silahkan bagi kelompok selanjutnya untuk presentasi kedepan". Kata Alfan tegas
"Baik pak". Jawab mahasiswa yang bersiap akan maju kedepan untuk presentasi
Alfan yang duduk dimejanya tak sengaja melihat Alfina yang hari ini duduk dibangku yang jaraknya lumayan dekat dengannya, karena bangku tersebut berada paling depan. Ia tau biasanya Alfina menduduki bangku yang berada ditengah dan bangku paling belakang.
Saat Alfina hendak mengeluarkan buku catatannya ia tak sengaja melihat kedepan dan deg .. lagi dan lagi netranya berpapasan dengan netra tajam milik Alfan yang juga sedang melihat kearahnya. Alfina dengan buru-buru mengalihkan pandangannya karena ia malu jika harus bertatapan dengan dosennya itu, apalagi ia masih teringat tentang acara khitbah kemarin malam. Alfan begitu tampan pikirnya.
"Astaghfirullahaladzim". Lirih Alfina
Alfan yang sadar pun lantas mengalihkan pandangannya kesembarang tempat, ia tau calon istrinya itu pasti sedang malu dan gugup ketika berada didekatnya. Alfan tersenyum sangat tipis kala mengingat acara lamaran pada kemarin malam. Ia melihat Alfina begitu cantik dengan baju batik yang senada dengannya.
__ADS_1
"Silahkan dimulai". Titah Alfan pada mahasiswa yang hari ini bertugas presentasi
Saat temannya presentasi didepan kelas, Alfina selalu memperhatikan dan mendengarkan serta mencatat poin-poin penting yang nantinya akan berguna dan selalu dibutuhkan. Karena menurutnya kuliah itu mencari ilmu dan pengalaman sebanyak-banyaknya baik itu dari mata kuliah, acara organisasi, mengikuti kegiatan webinar atau seminar, dan kegiatan lainnya yang bisa membawa manfaat. Alfina bersyukur diberi kenikmatan bisa menyelesaikan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi seperti saat ini.
"Baiklah karena presentasi telah selesai, kita akhiri perkuliahan pada mata kuliah hari ini. Sampai jumpa besok dan jangan lupa belajar. Assalamualaikum". Ucap Alfan mengakhiri kelasnya dan beranjak keluar
"Na kamu harus cerita lho sekarang". Ucap Amel tiba-tiba
"Astaghfirullah, ya nanti kita ke kantin sambil aku ceritain". Jawab Alfina
"Oke yuk". Jawabnya
Mereka berdua akhirnya pergi menuju kantin kampus untuk makan siang. Mungkin setelah makan siang Alfina akan berangkat menuju tempat kerjanya dan Amel akan kembali pulang kerumahnya.
***
"Na aku kekamar mandi sebentar ya, kamu tungguin aku dikantin saja tidak apa-apa". Ucap Amel
"Mau aku anterin?". Tanya Alfina
Amel menggeleng "Tidak usah Na, kamu cari tempat duduk saja dikantin biar kita kebagian tempat duduknya. Nanti aku langsung kesana". Jawabnya
"Baiklah, kalau sudah langsung kesana ya?". Kata Alfina
"Ya bestie". Balas Amel
Alfina pun segera menuju kantin, karena jam makan siang biasanya kantin akan penuh dengan mahasiswa maupun dosen yang sedang makan dan istirahat. Terkadang sampai tidak dapat tempat duduk saat makan siang seperti saat ini.
Brukk ...
Karena terlalu cepat ingin sampai ke kantin, Alfina tidak sengaja menabrak seseorang dari arah yang berlawanan. Ia merutuki dirinya sendiri yang selalu ceroboh bila tergesa-gesa seperti saat ini.
"Ma-maaf pak saya tidak sengaja". Ucapnya sambil menunduk dalam
"Kenapa kamu suka sekali menabrak saya". Kata Alfan
"Sekali lagi maaf pak, saya benar-benar tidak sengaja". Ucapnya lagi memohon maaf
"Mau kemana kamu?". Tanya Alfan tegas
"Sa-saya mau ke kantin pak". Jawab Alfina
"Mumpung kamu ada disini, saya mau menyampaikan bahwa nanti malam kamu disuruh umi datang kerumah". Ucapnya
"Memangnya ada acara apa pak?". Tanya Alfina
"Saya kurang tau, mungkin kamu diajak makan malam bersama dengan keluarga saya". Kata Alfan
"Apakah kamu sibuk?". Tanya Alfan
Alfina menggeleng "In Syaa Allah saya akan datang setelah pulang dari bekerja pak". Jawab Alfina
"Baiklah, biar nanti sopir abi yang jemput kamu ditoko umi". Ujarnya
"Tidak usah pak hari ini saya bawa motor". Jawabnya dengan sopan
__ADS_1
"Keselamatan kamu yang penting, karena kamu adalah calon istri saya". Kata Alfan penuh penekanan tapi terkesan lembut
Alfina yang mendengar Alfan menyebut dirinya sebagai calon istrinya lantas kedua pipinya mulai memerah. Alfina bisa merasakannya bahwa ia malu dan gugup.
"Baik pak". Jawabnya sambil meremas kedua ujung bajunya
"Saya pamit ke kantin dulu pak, Assalamualaikum". Ucapnya
"Waalaikumussalam". Jawab Alfan sembari tersenyum tipis
Alfina sudah duduk dikursi bagian pojok kantin, karena kantin sudah mulai penuh dengan mahasiswa yang akan makan siang. Ia masih deg-degan atas kejadian tadi saat ia bertemu lagi dengan dosennya itu.
"Assalamualaikum Na". Salam Amel ketika sudah menghampiri Alfina dimejanya
"Waalaikumussalam". Jawabnya
"Kamu sudah pesan belum?". Tanya Amel
"Belum karena aku nungguin kamu Mel". Jawab Alfina
"Baiklah biar aku yang pesan, kamu mau pesan apa?".
"Samain saja sama punya kamu". Balas Alfina
"Oke tunggu ya". Katanya
Saat ini mereka berdua berbincang-bincang mengenai acara khitbahan Alfina kemarin. Amel yang terlanjur kepo langsung menanyakan kepada sahabatnya. Seseorang seperti apa yang sudah melamar sahabatnya itu
"Na jadi siapa yang sudah mengkhitbah kamu kemarin malam?". Tanya Amel kepo
"Aku akan menceritakan semua sama kamu. Tapi aku minta tolong, jangan kamu ceritakan ke siapa-siapa dulu ya?". Kata Alfina
"Ya na aku akan selalu menjaga cerita dan rahasia kamu, karena kamu adalah sahabat aku sedari dulu". Jawabnya
"Kemarin malam aku dikhitbah sama seorang dosen". Ucap Alfina pelan yang masih bisa didengar oleh Amel
"Dosen, siapa dosennya na?". Tanya Amel to the point
"Aku juga tidak menyangka kalau ada seorang laki-laki shaleh yang mengkhitbah aku kemarin malam. Beliau yang bisa menerima aku apa adanya, serta ayah Norman dan bunda Nila juga sudah merestui kami berdua untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih serius". Jelas Alfina
"Jangan-jangan dosen itu adalah pak Alfan na?". Tebak Amel sambil tersenyum manis pada Alfina
Alfina mendadak diam, kenapa sahabatnya itu selalu tau tentang dirinya. Alfina menghela nafas mungkin karena ia dan Amel memiliki ikatan batin yang lumayan dekat mangkanya sahabatnya itu selalu tau tentang dirinya.
Alfina mengangguk pelan "Ya Mel". Jawabnya
"BENERAN?". Ucapnya dengan sedikit keras
"Shutt, jangan keras-keras nanti ada yang dengar". Peringat Alfina
"Hehe ya maaf, aq selalu heboh setiap dengar cerita dari kamu". Jawabnya
"Alhamdulillah kalau pak Alfan yang akan menjadi suami kamu Na. Aku bahagia ketika melihat kamu bahagia, aku selalu berdoa agar kamu dan aku senantiasa menjadi sahabat yang saling mengingatkan dalam hal kebaikan dan In Syaa Allah sampai ke Syurga-Nya kelak". Kata Amel bijak
"Maa Syaa Allah terimakasih Mel sudah mau bersahabat dengan aku selama ini. Aku juga selalu mendoakan yang terbaik buat kamu. Semoga persahabatan kita sampai menuju Jannah-Nya kelak, Aamiin". Balas Alfina
__ADS_1
"Aamiin". Kata Amel
Mereka berdua akhirnya memulai kegiatan makannya dengan tenang sesekali ada candaan dari Amel untuk Alfina. Amel yang jahil dan Alfina yang pendiam. Lengkap sudah karakter mereka jika berdua seperti ini. Persahabatan antara mereka berdua cukup kuat sehingga masing-masing bisa merasakan apa yang sedang dirasakan. Mereka berdua berharap suatu saat nanti bisa memiliki pasangan yang shaleh dan taat akan ilmu agama.