
Hari ini adalah hari istimewa bagi calon mempelai, karena hari ini adalah hari pernikahan Alfan dengan Alfina yang akan dilangsungkan didalam ballroom hotel terkenal dikotanya. Tempat tersebut sudah dihias dengan bunga-bunga yang indah dan rapi khas pernikahan modern.
Saat ini Alfina sedang dirias oleh perias terbaik yang biasanya merias keluarga besar umi Laila dan abi Lukman. Alfina sangat cantik dengan polesan make up yang bisa membuat semua orang pangkling melihatnya. Karena Alfina biasanya hanya menggunakan polesan make up yang natural dan feminim sehingga ketika wajahnya dipoles dengan sedemikian rupa bisa berubah dengan sangat cantik. Alfina yang aslinya sudah cantik dan imut malah tambah cantik saat di make up seperti saat ini.
"Maa Syaa Allah kamu cantik sekali sayang". Ucap bunda Nila ketika memasuki kamar yang ditempati oleh Alfina
"Terimakasih bunda, bunda juga cantik sekali". Jawab Alfina sambil melihat kearah bundanya
"Bunda tidak menyangka kalau waktu bisa secepat ini, dulu kamu masih kecil tapi sekarang kamu sudah dewasa dan tinggal beberapa menit lagi calon suamimu akan mengucapkan akad atas namamu nak". Ucap bunda Nila sambil memandang Alfina dengan sayang
"Bunda Alfina rasanya tidak mau berpisah dengan bunda dan ayah". Kata Alfina sambil menunduk
"Sayang dengerin bunda, kamu berhak meraih kebahagiaan dengan imammu kelak nak. Bunda bahagia bila melihat kamu bahagia bersama dengan suamimu nanti. Percayalah nak laki-laki yang akan menjadi suamimu adalah seseorang yang berakhlak dan bertanggungjawab". Ucap bunda Nila
"Bunda berpesan samu kamu ya sayang, bila sudah menjadi seorang istri maka taat kepada suami adalah hal yang utama. Jadi istri yang baik dan berbakti kepada suamimu ya nak, layani dia dengan penuh keikhlasan dan kelembutan. Karena bila seorang perempuan yang sudah menikah ia wajib mentaati dan menuruti perintah suaminya selagi dalam ajaran agama Islam". Lanjut bunda Nila seraya mengelus pipi Alfina
Mata Alfina berkaca-kaca mendengar penuturan dari bunda Nila yang begitu tulus memberikan petuah kepada dirinya saat ia menjadi seorang istri nanti.
"Jangan menangis sayang, nanti make up nya luntur". Ucap bunda Nila
"Bunda terimakasih selama ini bunda dan ayah yang selalu merawat dan menjaga Alfina sampai Alfina bisa sedewasa ini". Ucap Alfina sedih
"Itu sudah menjadi kewajiban ayah dan bunda nak, kita sama-sama merawat dan menjaga kalian yang berada dipanti asuhan". Jawab bunda Nila
"Kamu jangan sedih ya sayang. Ini adalah hari kebahagiaan kamu sepanjang hidup yang akan mengawali kehidupan kamu bersama dengan suamimu nanti. Bunda selalu berdoa untuk kalian berdua". Kata bunda Nila
Alfina mengangguk "Terimakasih bunda".
"Sama-sama sayang". Jawab bunda Nila sambil tersenyum
Tok ... Tok ...
"Assalamualaikum". Salam seorang perempuan paruh baya yang wajahnya tetap cantik walau usianya sudah menginjak kepala empat
"Waalaikumussalam". Jawab bunda Nila dan Alfina
"Maa Syaa Allah cantik sekali kamu sayang". Kata umi Laila
"Terimakasih umi, umi juga sangat cantik". Jawab Alfina sambil tersenyum
Ya orang yang masuk kedalam kamar itu adalah umi Laila. Umi Laila sengaja menghampiri Alfina yang saat ini tengah didampingi bunda Nila juga. Karena diballroom acara akad akan segera dimulai.
"Sayang umi pangkling sama kamu nak, kamu cantik sekali dengan gaun akad ini. Pasti putra umi nanti terpesona sama istrinya". Kata umi Laila sambil mengelus kepala Alfina
"Umi bunda Alfina malu". Kata Alfina
"Jangan malu sayang tuh liat pipi kamu sudah memerah". Goda bunda Nila
"Sayang kamu cocok sekali bersanding dengan putra umi, yang satu cantik yang satunya tampan. Umi sangat bahagia nak". Ujar umi Laila
"Mbak apakah semua tamu sudah pada datang?". Tanya bunda Nila kepada umi Laila
__ADS_1
"Alhamdulillah semuanya sudah pada datang tepat waktu". Jawab umi Laila
"Alhamdulillah". Balas bunda Nila
"Bundaa". Rengek Alfina sedih karena dari tadi banyak yang menjahilinya
Bunda Nila tersenyum melihat Alfina yang merengek seperti anak kecil "Sayang kamu berdoa ya supaya calon suamimu dapat mengucapkan akad dengan baik dan lancar". Kata bunda Nila
"Alfina mengangguk "Ya bunda".
Ketiga perempuan berbeda usia itu menunggu akad diucapkan didalam kamar Alfina yang berada di hotel yang sudah dipersiapkan semuanya oleh Alfan dan anak buahnya.
***
Diballroom hotel terdapat beberapa laki-laki yang diantaranya ada Alfan, penghulu, wali, dan saksi didalam pernikahan sakral yang akan dilaksanakan saat ini.
Sebenarnya Alfan juga dilanda rasa deg-degan saat akad akan dimulai, tapi ia berusaha menutupinya dengan rasa tenang dan rileks supaya pengucapan lafal akadnya berjalan dengan baik dan lancar.
"Saudara Alfan apakah kamu sudah siap?". Tanya pak penghulu yang ada didepannya
"In Syaa Allah saya sudah siap pak". Jawabnya dengan tegas
Yang menjadi wali nikah Alfina adalah pamannya, adik dari alm ayah Alfina yang datang dari kota Surabaya. Beliau diberitahu oleh Alfina serta keluarga besar umi Laila dan abi Lukman. Beliau bersyukur karena keponakannya itu telah menemukan pendamping hidup yang berakhlak dan bertanggungjawab.
"Silahkan jabat tangan saya". Kata paman Alfina
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Muchammad Haidar Alfanani bin Lukman Fanani dengan Alfina Eliza Humaira binti alm Andi Kurniawan dengan maskawin berupa uang seratus juta rupiah dan seperangkat alat sholat dibayar tunai.” Ucapnya lantang
"Bagaimana para saksi?".
"Sah".
"Sah".
"Sah".
"Alhamdulillah, Barakallahu laka wa baraka'alaika wa jama‘a bainakuma fi khairin wal Alhamdulillahirobbil'alamin".
Alfan menangkupkan kedua tangannya diwajah setelah berhasil mengucapkan kalimat qabul dengan jelas dan tepat. Ia sangat bersyukur acara akad pernikahan pada hari ini diberi kelancaran dan semoga diberkahi oleh Allah SWT.
Sementara didalam kamar hotel nampaknya Alfina tengah menunduk dengan mata yang berkaca-kaca sambil mengenggam erat tangan bunda Nila dan umi Laila, karena mulai dari sekarang ia sudah resmi menjadi seorang istri.
"Alhamdulillah sayang proses ijab qabulnya berjalan dengan lancar, kamu sudah resmi menjadi seorang istri". Kata bunda Laila
"Selamat ya sayang, umi sangat bahagia sekali karena kamu sudah resmi menjadi istri dari putra tunggal umi. Semoga pernikahan kamu selalu diberikan keberkahan oleh Allah". Kata umi Laila sambil mengelus kepala Alfina
"Terimakasih bunda, umi". Jawab Alfina
"Ayo sayang kita kedepan, pasti suami kamu sudah menunggu kamu untuk hadir disampingnya saat ini". Ucap bunda Nila
"Ya bunda". Jawab Alfina
__ADS_1
Alfina berjalan kemeja akad didampingi oleh bunda Nila dan umi Laila. Semua mata memandang takjub kearah Alfina terutama pandangan Alfan yang hanya tertuju pada seorang perempuan yang kini sudah halal dengan dirinya.
Alfina menggunakan gaun akad modern bewarna putih panjang dengan bagian bawah bermodel rok yang lebar dan hijab syar'i nya yang selalu menutupi mahkotanya seperti putri dari kerajaan. Itulah yang membuat Alfan terpesona dan pangkling ketika melihat kecantikan Alfina yang saat ini sudah menjadi istrinya.
Alfina sudah duduk dikursi meja akad yang ada disebelah Alfan. Ia gugup dan malu ketika netranya tak sengaja berpapasan dengan netra milik Alfan yang tegas namun lembut. Meskipun kini sudah halal akan tetapi Alfina masih malu jika berdekatan dengan suaminya itu.
"Silahkan pasang cincin kalian berdua". Ucap pak penghulu
Alfan mengambil cincin yang ada dimeja kemudian memasangkannya dijari manis Alfina, namun ketika ia hendak meraih tangan istrinya ia malah memundurkannya dan menghindarinya, mungkin istrinya itu tidak pernah bersentuhan dengan seorang laki-laki akan tetapi sekarang ia sudah sah menjadi suaminya.
"Sayang sekarang nak Alfan adalah suamimu, halal bagimu bersentuhan dengannya". Kata paman Alfina yang gemas melihat keponakannya itu
Alfina mengangguk pelan, dengan hati-hati ia memajukan tangannya lagi kemudian Alfan segera memasangkan cincinnya dijari manis perempuan yang sudah halal untuk ia sentuh itu. Alfina juga memakaikan cincin yang satunya dijari manis milik Alfan dengan sempurna.
"Sayang cium tangan suami kamu nak". Ucap paman Alfina
Alfan menyodorkan tangannya kearah Alfina, dengan hati-hati ia meraih tangan suaminya untuk ia cium. Hati Alfan menghangat ketika sang istri mencium tangannya dengan takdzim sedangkan Alfina merasa kalau pipinya sudah memanas.
Setelah itu Alfan memegang kepala Alfina seraya berdoa "Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa‘alaih. Waa’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha'alaih."
Kemudian Alfan mencium kening Alfina dengan sayang seraya mengucap "Assalamualaikum istriku".
"Waalaikumussalam". Jawab Alfina pelan
Alfan menatap istrinya dengan dalam sementara Alfina yang ditatap seperti itu menunduk malu dan pipinya pasti sudah memerah.
Setelah acara akad, kedua mempelai lantas melakukan sungkeman kepada kedua orangtua masing-masing dengan perasaan haru dan bahagia.
"Bunda ayah maafin Alfina kalau selama ini Alfina belum bisa buat bunda dan ayah bahagia. Alfina berterimakasih kepada ayah dan bunda karena sudah merawat dan membesarkan Alfina dengan penuh kasih sayang selama ini". Kata Alfina sambil berkaca-kaca
"Sayang kamu sudah buat ayah dan bunda bahagia, bunda dan ayah bahagia sekali menyaksikan kamu menikah dengan seorang laki-laki yang In Syaa Allah akan membahagiakan kamu didunia dan akhiratnya". Ucap bunda Nila
"Terimakasih bunda". Jawab Alfina
Disisi lain ada Alfan yang tengah bersimpuh dengan umi dan abinya yang selama ini sudah membesarkannya dengan penuh kasih sayang.
"Umi abi terimakasih selama ini sudah membesarkan Alfan dengan kasih sayang yang berlimpah, terimakasih sudah mendidik Alfan hingga Alfan berhasil seperti saat ini". Kata Alfan
"Itu sudah menjadi kewajiban umi dan abi sayang. Umi bahagia sekali kamu menikah dengan seorang perempuan yang shalehah seperti Alfina". Jawab umi Laila
"Boy abi minta satu hal sama kamu. Bahagiakan dan cintai istri kamu seperti kamu mencintai umi kamu, Abi percaya kamu pasti sangat mencintai istrimu". Kata Abi Lukman
"Alfan sangat mencintainya bi". Jawab Alfan
Kemudian umi Laila bergegas menghampiri Alfina yang berdiri disamping ayah dan bundanya lalu memeluknya dengan erat.
"Sayang kamu jangan sedih nak, ini adalah hari kebahagiaan kamu. Umi dan abi sangat sayang kepadamu nak". Kata umi Laila
"Terimakasih umi sudah menerima kehadiran Alfina dengan baik. Alfina sayang banget sama umi". Jawab Alfina
"Sama-sama sayang". Jawab umi Laila sambil mencium kening Alfina
__ADS_1
Alfan yang menyaksikan kedua bidadarinya itu tersenyum manis karena sekarang ia sudah mempunyai seorang istri dan calon ibu dari anak-anaknya kelak. Alfan berharap semoga pernikahannya dengan Alfina dipenuhi dengan keberkahan dan keridhoan dari Allah SWT.