
Dirumah kedua orangtuanya sekarang tampaklah Alfan yang sedang sarapan pagi bersama dengan uminya. Tadi ia membantu uminya memasak dan membersihkan taman belakang rumahnya yang letaknya cukup luas. Selain pandai akan agama dan akademik, ia juga pandai memasak berbagai macam makanan apapun. Tentunya itu semua belajar secara otodidak waktu ia menempuh pendidikannya diluar negeri dahulu yang jauh dari orangtuanya. Tak heran jika banyak para perempuan yang mendambakan sosok seperti Alfan sudah tampan, mapan, pintar masak, dan yang terpenting taat beragama. Perempuan mana yang tidak terpesona pada Alfan.
"Sayang habis ini umi minta tolong ya?". Kata umi Laila pada putra kesayangannya
Dahi Alfan mengkerut "Minta tolong apa umi?". Tanya Alfan
"Tolong belikan beberapa keperluan rumah yang sudah habis di supermarket ya, kamu mau kan nak? Hitung-hitung buat belajar jadi suami yang baik kalau sudah punya istri nanti". Kata umi Laila seraya terkekeh menatap putranya
Alfan menatap uminya yang sedang membersihkan meja makan dan mengangkat piring kotor untuk diletakkan di tempat pencuciannya. Ia tidak bisa menolak ucapan uminya, karena pada dasarnya dari kecil ia sangat penurut kepada kedua orangtuanya. Ia begitu menghormati dan menyayangi keduanya sebagaimana kedua orangtuanya menyanyanginya sedari kecil.
"Baik umi, tolong list kan keperluan apa saja yang mau dibeli". Ucap Alfan pada uminya
"Tunggu sebentar nak". Jawab umi Laila sembari mengelap meja makan
Alfan segera bersiap ke dalam kamarnya untuk memenuhi perintah dari uminya tadi. Ia akan ganti baju terlebih dahulu sebelum berangkat belanja ke supermarket. Hari libur seperti ini Alfan akan menggunakan celana jeans panjang dan kaos putih polos serta sepatu sneakers bewarna putih. Setelah selesai berpakaian ia segera turun untuk menemui uminya.
"Sudah bersiap nak? Keperluannya sudah umi list kan dan sudah umi kirimkan ke whatsapp kamu ya?". Kata umi Laila
"Baik umi". Jawab Alfan singkat
"Ini kartu atm nya kamu bawa password nya tanggal pernikahan umi dan abi, kamu pasti tau kan?". Ucap umi Laila seraya menyodorkan kartu atm
"Tidak usah umi pakek punya Alfan saja, ini umi simpan". Jawab Alfan sembari mengambil kunci mobilnya di ruang keluarga
"Kalau gitu Alfan berangkat dulu, Assalamualaikum". Salam Alfan seraya mencium punggung tangan uminya
"Waalaikumussalam hati-hati nak". Jawab umi Laila
Saat sudah sampai di parkiran supermarket Alfan bergegas turun dari mobilnya kemudian masuk untuk membelanjakan keperluan yang diperlukan oleh uminya. Ia menyusuri rak bagian kebutuhan sabun dan pewangi kemudian mengambil salah satu yang sesuai dengan list an uminya tadi. Saat mendorong trolinya ia tidak sengaja melihat seorang perempuan bergamis yang tengah kesusahan mengambil barang yang letaknya di rak paling atas, lantas ia menghampirinya dan mengambilkan barang tersebut.
Alfan memberikan barang itu kepada gadis yang berada didepannya tersebut. Dengan refleks gadis itu mendongak dan menerima barang dari Alfan, Deg. Keduanya terdiam, Alfan tidak menyangka kalau gadis didepannya ini adalah Alfina mahasiswinya dikampus. Entah kebetulan atau takdir yang telah kembali mempertemukan mereka saat ini.
Alfina menunduk ketika menyadari keberadaan sang dosen disampingnya saat ini. Ia kaget akan bertemu lagi dengan dosennya itu. Apalagi ia melihat dosennya berpenampilan seperti anak muda zaman sekarang dengan memakai pakaian casual khas anak cowok, karena biasanya ia melihat dosennya berpenampilan formal ketika berada dikampus, tapi saat ini aishh, Alfina tidak bisa mendeskripsikan dengan apapun. Dosennya sungguh sangat tampan, pikir Alfina.
"Terimakasih pak sudah membantu saya". Ucap Alfina menunduk pada Alfan
"Sama-sama". Jawab Alfan singkat
"Bapak belanja juga disini?" Tanya Alfina berusaha untuk tidak gugup
"Seperti yang kamu lihat". Jawab Alfan seraya memasukkan kedua tangannya di saku celana jeansnya
"Pak Alfan sendirian?". Tanya Alfina lagi
"Memangnya kamu melihat ada seseorang lagi selain kamu yang berada disini?". Tukas Alfan melihat Alfina sekilas
Alfina terdiam mendengar jawaban dari dosennya, kenapa ia malah kepo dengan urusan dosennya itu. Alfina merutuki dirinya sendiri yang banyak bertanya kepada dosennya tersebut. Padahal niat awal Alfina hanya ingin memecahkan keheningan saja supaya suasana tidak akward. Tapi memang dosennya ini tipikal orang yang irit berbicara.
Saat Alfina akan berjalan kedepan menuju tempat kasir, ada seorang ibu-ibu yang tidak sengaja lewat didepannya yang akan mengambil barang belanjaannya di rak sebelah Alfan. Kemudian ibu-ibu itu berujar kepada Alfan.
__ADS_1
"Aduhh, itu istrinya ya mas, cantik sekali. Pasti pengantin baru jadi belanjanya bareng-bareng gini. Saya doakan semoga langgeng ya mas pernikahannya". Ujar ibu-ibu yang berada disamping Alfan
Alfan tersenyum tipis menanggapi pernyataan ibu-ibu itu. Ia melihat ke arah Alfina yang memalingkan wajahnya, mungkin ia malu akibat lontaran dari ibu-ibu tadi. Banyak yang mengira kalau mereka ini adalah pasangan suami istri, padahal hanya sebatas dosen dan mahasiswi saja.
"Ehm pak saya permisi duluan". Ujar Alfina menoleh kearah Alfan
Alfan mengangguk, sebenarnya ia juga akan kedepan untuk membayar dikasir karena list belanjaan uminya sudah ia selesaikan. Akhirnya Alfan menunggu antrian tepat dibelakang Alfina. Alfina yang sedari tadi didepan Alfan merasa tidak nyaman karena didepannya lagi ada lelaki yang menunggu antrean jadi ia berada ditengah-tengah lelaki itu.
"Bisa kamu agak geser kesana". Ucap Alfan tiba-tiba sembari menyuruh Alfina untuk geser ke kiri
"Ya pak". Jawab Alfina
Alfan paham karena ia melihat Alfina yang tidak nyaman berada pada posisi ditengah-tengah cowok akhirnya ia berinisiatif untuk berada disamping gadis itu. Dan tibalah mereka berdua untuk membayar belanjanya didepan kasir. Mereka berdua seperti pasangan suami istri yang sedang berbelanja kebutuhan rumah.
"Sekalian sama yang itu". Ucap Alfan memberikan blackcard nya sembari menunjuk kearah belanjaan Alfina
Alfina menggeleng "Tidak usah pak, saya bayar sendiri saja". Tolak Alfina dengan halus
Pegawai yang berada di kasir tersebut bingung hingga berucap "mas mbaknya ini pengantin baru ya, so sweet banget belanjanya barengan gini. Semoga samawa ya mbak mas". Kata pegawai kasir itu sembari tersenyum kepada mereka berdua.
Alfina syok kenapa setiap orang yang melihat mereka berdua selalu mengira kalau ia dan dosennya adalah pasangan suami istri. Ia malu jika bersitatap dengan Alfan karena ucapan-ucapan yang terlontar dari orang lain tadi. Tapi ia harus berterimakasih kepada dosennya karena sudah membayar belanjaannya tadi.
"Pa-pak terimakasih sudah membayar belanjaan saya". Ucap Alfina sopan sambil menenteng belanjaannya
"Sama-sama". Jawab Alfan singkat
"Lain kali kalau keluar ajak sahabat atau teman kamu". Ucap Alfan datar
"Kamu tidak melihat kejadian tadi, karena tidak semua lelaki bisa berbuat baik terhadap perempuan". Pungkas Alfan menjawab pertanyaan Alfina
"Baik pak. Maaf kalau saya sudah merepotkan bapak". Kata Alfina
"Saya permisi dulu, Assalamualaikum". Pamit Alfina
"Waalaikumussalam". Jawab Alfan lirih
***
Alfan baru saja meletakkan belanjaan uminya didapur. Ia segera pergi ke kamarnya untuk membuat laporan pekerjaannya besok, karena besok ia akan berangkat ke kantor terlebih dahulu sebelum berangkat menuju kampus tempatnya mengajar. Namun sebelum naik kearah tangga sang umi memanggil dirinya.
"Sayang ikut umi ketaman belakang ya, ada yang mau umi bicarakan sama kamu". Ucap umi Laila
"Baik umi". Jawab Alfan
Akhirnya ia mengikuti langkah uminya menuju taman belakang rumahnya. Disana ada sebuah kolam renang berukuran sedang serta taman bunga yang telah ditanam dan dirawat oleh sang umi. Memang uminya sangat menyukai tanaman, tidak heran bila dihalaman depan rumah juga ada taman bunga yang indah.
"Ada apa umi?". Tanya Alfan to the point
Umi Laila yang baru saja duduk di kursi sebelah taman lantas menoleh menatap putra kesayangannya yang langsung bertanya. Putranya memang tidak pernah berubah dari dulu, ia akan langsung bertanya kepada orang yang ingin mengutarakan sebuah pembicaraan dengan dirinya. Alfan adalah tipikal orang yang dingin, tegas, dan irit berbicara, padahal umi dan abinya adalah tipe orang yang ramah dan murah senyum.
__ADS_1
"Umur kamu sudah menginjak dua puluh tujuh tahun nak, apa kamu tidak menginginkan adanya sebuah janji suci pernikahan?" Kata umi Laila sambil menggenggam tangan Alfan
"Alfan belum punya calon istri umi". Jawab Alfan apa adanya
"Sayang kamu sekarang sudah mapan, sudah punya pekerjaan tetap, dan juga sudah punya rumah sendiri. Apa kamu tidak mau membangun sebuah rumah tangga dengan perempuan yang akan menjadi istrimu kelak?". Titah umi Laila
"Alfan belum kepikiran sampai situ umi". Balas Alfan seraya memeluk uminya
Alfan memang sangat dekat dengan uminya sedari kecil dulu. Ia akan mudah luluh jika bersama dengan uminya, tapi jangan harap bila dengan orang lain. Jika diluar ia akan bersikap dingin dan datar apalagi jika bersama dengan orang yang bukan mahramnya. Jika berada dirumah uminya, ia akan berubah menjadi orang yang lembut dan manja, tak heran bila ia sangat menyayangi uminya.
"Mau umi kenalkan dengan seseorang? Siapa tau dia cocok sama kamu". Ujar umi Laila sembari mengelus rambut Alfan
"Insya Allah dia perempuan baik-baik nak, dia juga berhijab seperti umi, dan yang terpenting akhlaknya juga baik". Lanjut umi Laila
"Terserah umi saja". Jawab Alfan
"Baiklah bila ada waktu luang umi akan mengenalkan dia dengan kamu". Ucap umi Laila
Alfan mengangguk menanggapi ucapan uminya, ia harus kembali ke kamarnya karena masih ada pekerjaan yang harus ia selesaikan. Jika tidak maka besok pagi akan keteteran dan itu sangat merepotkan, pikir Alfan.
"Alfan ke kamar dulu umi, ada suatu hal yang harus Alfan kerjakan". Ucap Alfan pada uminya
"Ya nak, kalau sudah selesai segera istirahat ya. Nanti makan siangnya biar umi antar kekamar kamu". Jawab umi Laila
"Ya umi". Balas Alfan
Diruangan kerjanya Alfan merenungi ucapan dari uminya. Memang sekarang usia Alfan sudah waktunya untuk menjalankan ibadah pernikahan, akan tetapi ia masih belum yakin untuk melangkah. Uminya juga bilang kalau ia akan dikenalkan dengan seorang perempuan, apakah nanti ia bisa menerima permintaan dari uminya itu. Sedangkan di satu sisi ia masih memperjuangkan seorang perempuan yang ia langitkan namanya pada setiap sepertiga malam. Entahlah Alfan tidak tau biarlah Allah yang mengatur siapa perempuan yang akan menjadi istrinya kelak.
Tak lama kemudian ia mendapat panggilan telfon dari abinya yang katanya hari ini akan kembali pulang dari kegiatannya diluar kota. Ia mengambil handphonenya dinakas dan mengangkat panggilannya.
"Assalamualaikum abi". Salam Alfan
"Waalaikumussalam boy". Jawab Abi Lukman
Sedari kecil Alfan selalu dipanggil dengan sebutan boy oleh sang abi. Katanya itu adalah panggilan kesayangan Alfan dari abinya.
"Ada apa bi?". Tanya Alfan
"Kamu sekarang lagi ada dirumah umi apa dirumahmu sendiri?". Tanya abi Lukman
"Dirumah umi bi". Jawab Alfan singkat
"Kemungkinan nanti malam abi sudah kembali pulang kerumah, kamu temani umimu dulu biar dia gak kesepian". Ucap abi Lukman
"Ya". Balas Alfan singkat
"Yasudah boy abi tutup dulu telfonnya, Assalamualaikum". Salam abi Lukman
"Waalaikumussalam". Jawab Alfan
__ADS_1
Setelah mendapat telfon dari abinya, ia melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi. Ia harus menyelesaikannya hari ini juga karena besok adalah hari Senin, dimana hari itu adalah hari paling sibuk bagi Alfan. Ia harus bisa membagi waktunya untuk kegiatan dikantor dan mengajar dikampus.