
Saat malam hari mereka berdua sudah berada didalam kamar usai makan malam bersama dengan umi Laila dan abi Lukman tadi. Alfan mengajak istrinya untuk istirahat, pasalnya sepulang dari kantornya tadi istrinya bilang kalau kepalanya sedikit pusing. Tentu saja Alfan sebagai suami khawatir, akhirnya dengan segera ia mengajak istrinya makan malam kemudian mengajaknya istirahat dikamar.
"Masih pusing?". Tanya Alfan pada istrinya sambil mengelus kepalanya dengan lembut
"Masih sedikit mas". Jawab Alfina dengan pelan
"Yasudah sekarang tidur ya dek, mas pijitin kepalanya". Kata Alfan pada istrinya
"Mas enggak capek?". Tanya Alfina
"In Syaa Allah enggak sayang, mas akan lakuin apapun demi kesehatan adek". Jawab Alfan pada istrinya
Alfina tersenyum "Terimakasih mas". Balas Alfina
"Sama-sama sayang". Ucap Alfan
Alfan memijit kepala Alfina dengan pelan sambil sesekali meniupnya dengan lembut. Ia tentu khawatir jika melihat bidadarinya sakit apalagi sekarang sedang dalam proses menyusun skripsi. Walaupun tinggal sedikit akan tetapi Alfan harus tetap menjaga dan mengontrol kesehatan istrinya dengan baik.
Setelah beberapa menit Alfan melihat istrinya sudah tertidur dalam dekapannya. Ia mengelus rambut Alfina kemudian mencium keningnya lama. Sungguh Alfan dibuat berkali-kali terpesona melihat kecantikan alami yang dimiliki oleh istrinya. Tidak hanya cantik Alfina juga pandai dalam hal akademik dan pintar memasak.
"Alhamdulillah sudah tertidur". Lirih Alfan sambil menatap Alfina dengan intens
Alfan dengan santai mulai memejamkan matanya menyusul istrinya memasuki alam mimpi. Ia berharap besok kepala istrinya sudah tidak pusing sehingga ia bisa lebih tenang dalam bekerja. Ia sangat mencintai dan menyayangi perempuan yang berada didalam dekapannya saat ini serta calon ibu bagi anak-anaknya kelak.
Pukul tiga pagi Alfan terbangun dari tidurnya, ia melihat sang istri yang masih nyenyak dalam tidurnya. Ia jadi tidak tega untuk membangunkannya mengingat kemarin Alfina sempat mengeluh pusing pada kepalanya, jadi ia membiarkan istrinya untuk istirahat. Ia akan membangunkannya saat shalat shubuh tiba nanti. Ia berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat tahajud yang sudah menjadi rutinitasnya.
Ketika selesai shalat, Alfan duduk disamping istrinya diatas ranjang sambil membawa Al Qur'an kemudian membacanya dengan pelan supaya tidak menganggu istrinya yang masih tertidur. Ia melihat kearah Alfina sejenak kemudian melanjutkan bacaan Al Qurannya. Ia menyelesaikan membaca Al Qur'annya ketika terdengar suara adzan shubuh kemudian membangunkan istrinya karena waktu menunjukkan sudah pagi.
"Sayang bangun dulu, sudah shubuh". Kata Alfan sambil mengelus lengan istrinya dengan lembut
Alfina membuka matanya dan melihat suaminya yang sudah rapi menggunakan pakaian shalatnya. Suaminya itu selalu shalat berjamaah di masjid sedangkan dirinya akan shalat dirumah berjamaah dengan umi Laila. Alfan tersenyum melihat wajah istrinya yang masih sayu dan rambut yang sedikit berantakan, akan tetapi hal itu semua membuat Alfan gemas dibuatnya.
Tak lama kemudian Alfina menutup mulutnya menggunakan sebelah tangannya dan berlari masuk kedalam kamar mandi. Ia merasakan mual dan muntah secara bersamaan serta pusing dikepalanya. Akan tetapi yang keluar hanyalah cairan bening saja yang membuat dirinya lemas padahal masih pagi hari dan ia juga baru saja bangun dari tidurnya.
Hoek .. Hoek ..
"Kamu kenapa sayang?". Tanya Alfan sambil memijat tengkuk istrinya dengan lembut
Alfina menggeleng menanggapi ucapan dari suaminya, ia masih lemas dan kaget kenapa dirinya bisa seperti ini. Padahal kemarin ia juga tidak memakan makanan yang aneh-aneh, akan tetapi dirinya malah seperti ini. Alfan begitu khawatir melihat kondisi istrinya, ia dengan segera membopong tubuh istrinya menuju ke ranjang.
"Sayang apa yang kamu rasakan sekarang?". Tanya Alfan pada sang istri seraya mengusap bibir Alfina dengan lembut
"Mas kepala aku pusing banget, terus kenapa aku juga mual". Jawab Alfina sambil memegang lengan suaminya
"Sabar ya sayang, nanti kita ke dokter untuk memeriksakan kesehatan kamu. Mas khawatir sama kamu". Kata Alfan menenangkan Alfina
"Alfina enggak mau kedokter mas, aku takut". Jawab Alfina sambil menggelengkan kepalanya
__ADS_1
"Kenapa takut sayang, hanya diperiksa doang. Mas lebih takut kalau kamu sampai kenapa-kenapa". Balas Alfan
"Alfina enggak mau mas". Jawab Alfina sambil berkaca-kaca
"Ternyata adek tidak berubah dari dulu, selalu menolak kalau diajak periksa ke dokter". Kata Alfan sambil memeluk Alfina
"Yasudah sekarang kita shalat shubuh berjamaah dulu ya, habis itu adek istirahat lagi. Mas tidak mengizinkan adek untuk bersih-bersih rumah ataupun memasak, paham?". Titah Alfan sambil melihat Alfina
Alfina mengangguk lemas. "Iya mas". Jawabnya
Akhirnya mereka berdua melaksanakan shalat shubuh berjamaah didalam kamar, dikarenakan kondisi Alfina yang tidak memungkinkan maka dari itu Alfan shalat shubuh dirumahnya bersama dengan sang istri. Selesai shalat ia membalikkan badannya menatap Alfina dan Alfina mencium punggung tangan Alfan dengan lembut, sedangkan Alfan mengecup kening sang istri seraya mengusap kepalanya dengan pelan.
"Masih pusing dek?". Tanya Alfan pada sang istri
Alfina mengangguk "Masih mas". Jawabnya dengan lemas
"Yasudah sekarang adek istirahat saja ya, nanti selesai sarapan mas akan bawa adek ke dokter". Kata Alfan pada Alfina
Alfan membiarkan istrinya rebahan diatas ranjang dan tidak memperbolehkannya melakukan aktivitas apapun. Ia turun menuju lantai bawah untuk membuatkan teh hangat sekaligus memberi tau sang umi kalau sang istri sedang tidak enak badan. Ia melihat uminya didapur bersama dengan bibi Marta yang sedang memasak menyiapkan makanan sarapan pagi.
"Assalamualaikum umi bibi". Salam Alfan kepada mereka berdua
"Waalaikumussalam nak". Jawab umi dan bibi bebarengan
"Kamu mau ngapain sayang?". Tanya umi Laila kepada putranya
"Alfan mau membuatkan teh hangat untuk istri Alfan umi". Kata Alfan pada uminya
Alfan mengangguk "Ya umi". Jawabnya
"Ya Allah nak kok bisa sakit, pasti istrimu kecapekan. Sudah biar umi saja yang buatin teh nya, sekalian nanti biar umi bawa ke kamar kalian. Umi mau melihat keadaan istrimu". Ucap umi Laila
"Baiklah umi". Jawab Alfan
Ceklek ...
"Assalamualaikum". Salam umi Laila memasuki kamar mereka
"Waalaikumussalam umi". Jawab Alfan dan Alfina bebarengan
"Kamu kenapa sayang?". Tanya umi Laila pada Alfina
"Alfina gak papa kok umi, cuman tadi Alfina mual sekali". Jawab Alfina pada sang umi
"Minum dulu sayang biar hangat badannya". Ucap umi Laila sambil menyodorkan segelas teh hangat pada Alfina
"Terimakasih umi". Jawab Alfina sedikit lemas
__ADS_1
Umi Laila tersenyum sambil mengelus kepala Alfina dengan sayang kemudian berkata "Sama-sama sayang". Jawabnya
"Kamu jangan ngapa-ngapain ya sayang, nanti umi akan bawakan sarapan pagi untuk kamu". Kata umi Laila
"Fan nanti kamu telfon dokter yang biasanya menangani keluarga kita ya?". Lanjut umi Laila
"Sudah Alfan telfon umi". Jawab Alfan
"Syukurlah kalau gitu". Balas umi Laila
"Sayang umi kebawah dulu sebentar ya, nanti umi kesini lagi". Kata umi Laila pada Alfina seraya mengelus rambut Alfina dengan sayang
Alfina mengangguk "Ya umi". Jawabnya
Setelah sarapan pagi dokter yang biasa menjadi langganan keluarga abi Lukman sudah datang dan sekarang sedang berada didalam kamar Alfan. Dokter tersebut perempuan jadi Alfan tidak khawatir karena istrinya diperiksa langsung oleh dokter Ika yang usianya sudah memasuki kepala tiga karena beliau sudah menikah dan memiliki anak.
Selesai memeriksa tubuh Alfina, dokter Mila tersenyum manis menatap Alfina. Sedangkan Alfan ia sudah khawatir bila terjadi apa-apa dengan istrinya. Ia menatap wajah sang istri yang pucat dan lemas kemudian bertanya kepada dokter Ika mengenai keadaan istrinya.
"Dok apakah istri saya baik-baik saja?". Tanya Alfan khawatir
"Istri kamu tidak apa-apa, ini hal yang lumrah dan wajar saat perempuan sedang mengandung". Jawab dokter Ika
"Selamat istri kamu sedang hamil, dan usia kehamilannya berjalan sekitar delapan minggu". Lanjut dokter Ika
"Alhamdulillah, terimakasih sayang. Allah telah mengabulkan doa-doa kita". Kata Alfan sambil mencium kening Alfina dengan lembut
"Selamat sayang sebentar lagi kalian berdua akan menjadi orangtua, umi dan abi akan segera memiliki seorang cucu". Ucap umi Laila sambil mengelus rambut Alfina dengan sayang
"Terimakasih dok, sudah memeriksa istri saya". Ucap Alfan
"Sama-sama fan, jangan formal-formal kalau bicara sama tante". Kata dokter Ika pada Alfan. Karena dokter Ika dulunya juga adik kelas dari umi Laila
"Oh ya tante berpesan sama kamu, tolong jaga istri kamu dengan baik ya. Jaga pola makan dan istirahatnya, karena ibu hamil tidak boleh sampai kecapekan. Turuti semua keinginan istri kamu selagi kamu bisa, karena mood ibu hamil itu berubah-ubah. Jadi kamu harus selalu bersabar dan jangan sampai memarahi istri kamu". Pesan dokter Ika pada Alfan
Alfan mengangguk mantap "Baik tante". Jawab Alfan
Alfina tersenyum manis melihat keluarganya bahagia karena sebentar lagi dirinya akan mempunyai anak, buah hati dari ia dan suaminya. Alfan menatap istrinya dengan tatapan penuh cinta dan sayang diusapnya kedua pipi istrinya yang sedikit berisi itu.
"Sayang kamu harus banyak istirahat ya, jangan melakukan aktivitas apapun didalam rumah. Biar mas saja yang mencuci pakaian kita sehari-hari, karena mas tidak mau kalau sampai adek dan calon anak kita kenapa-kenapa. Paham?". Ucap Alfan pada Alfina
Alfina mengangguk "Ya mas". Jawab Alfina pasrah
Umi Laila tersenyum menatap keharmonisan antara Alfan dan Alfina, ia begitu terharu karena sebentar lagi mereka akan menjadi orangtua sedangkan dirinya akan menjadi seorang nenek dan kakek.
"Sayang umi kebawah dulu ya, nanti umi akan menyuruh suamimu untuk membelikan susu ibu hamil dan beberap camilan kesukaan kamu untuk stok dirumah". Kata umi Laila
"Terimakasih banyak umi". Ucap Alfina
__ADS_1
"Sama-sama sayang, pokonya kamu tidak boleh melakukan pekerjaan rumah yang berat. Umi tidak akan mengizinkan, jadi kamu harus banyak istirahat dan makan makanan yang bergizi supaya ibu dan janinnya selalu sehat". Titah umi Laila penuh perhatian kepada Alfina
Alfina mengangguk "Baik umi". Jawabnya