
Pagi harinya Alfina sudah bersiap untuk pergi ke kampus karena ia akan melakukan bimbingan skripsi dengan dosen pembimbingnya selain Alfan, dosen pembimbing kedua yang akan Alfina temui untuk melakukan bimbingan.
"Sayang diminum dulu susunya sebelum berangkat". Ucap Alfan pada Alfina
"Alfina sudah kenyang mas". Jawabnya dengan memelas
"Diminum dulu dek susunya. Kalau tidak mau minum, mas tidak akan mengizinkan adek untuk pergi ke kampus". Balas Alfan
"Kok gitu, Alfina kan mau bimbingan mas hari ini". Ucap Alfina
"Yasudah minum dulu susunya, biar dede bayinya sehat". Kata Alfan memerintah Alfina untuk segera meminum susunya
"Alfina masih kenyang mas, nanti kalau mual gimana?". Tanyanya sedikit takut dengan suaminya
"Insya Allah tidak adek". Balas Alfan
Alfina meraih gelas yang ada ditangan Alfan kemudian meminumnya dengan pelan, baru sekali tegukan ia sudah mual dan menutup mulutnya rapat-rapat sambil sebelah tangannya menaruh gelas tersebut diatas meja. Ia buru-buru masuk kedalam kamar mandi kemudian memuntahkan semua makanan yang masuk kedalam perutnya. Ia merasakan mual saat mencium bau susu ibu hamil yang sudah diminumnya tadi.
Alfan segera memijit tengkuk Alfina dengan pelan berharap mual dan muntah yang dialami oleh istrinya bisa berkurang. Namun sepertinya istrinya masih mual dan memuntahkan semua yang masuk kedalam perutnya. Ia tidak tega kalau misalnya harus meninggalkan istrinya dirumah sementara dirinya pergi bekerja.
"Sayang masih mual?". Tanya Alfan yang hanya dibalas anggukan oleh Alfina
Alfan jadi merasa bersalah ketika tadi memaksa istrinya untuk meminum susu hamilnya, karena baru pertama kali ini ia melihat Alfina yang sehabis minum susu langsung mual begitu saja dan memuntahkan semua makanan yang masuk kedalam perutnya.
Alfina membalikkan badannya ketika dirasa mualnya sedikit mereda, ia berjalan menuju kamar untuk mengistirahatkan tubuhnya sebentar. Alfan lantas bergegas menggandeng dan memapah istrinya dengan pelan menuju kamar yang ada dilantai bawah.
"Sayang kamu kenapa?". Tanya umi Laila ketika tau Alfina badannya lemas dan mukanya pucat
__ADS_1
"Istri Alfan habis mual muntah umi". Jawab Alfan
"Yasudah bawa istri kamu ke kamar nak biar istirahat, habis ini akan umi buatkan teh". Kata umi Laila
"Ya umi". Jawab Alfan
Alfan mendudukkan istrinya diranjang kemudian melepaskan hijab istrinya supaya tidak gerah lalu membaringkan tubuh istrinya keatas ranjang. Alfina hanya diam saja menyaksikan suaminya, padahal tadi ia sudah menolak susu yang diberi suaminya untuk ia minum. Ia tau kalo masih pagi dirinya meminum susu, akan berakhir mual dan muntah seperti pagi ini. Ia sedikit kesal dengan sikap suaminya yang terkesan memaksa kepada dirinya.
"Masih mual dek?". Tanya Alfan
Alfina menggeleng kemudian menarik selimutnya sedikit keatas kemudian memejamkan matanya pelan berharap rasa mualnya menghilang. Tak lama umi Laila masuk kedalam kamarnya sambil membawakan teh hangat untuk Alfina.
"Nak istrimu tadi kenapa kok bisa muntah-muntah?". Tanya umi Laila
"Tadi Alfan menyuruh istri Alfan untuk minum susu hamil umi, tapi setelah minum ia malah mual dan muntah". Jelas Alfan
Umi Laila cemas dan khawatir melihat kondisi Alfina, ia pun lantas mengelus kepala Alfina dengan pelan. Badannya sedikit panas mungkin dikarenakan mual dan muntah tadi.
"Umi keluar dulu ya nak, kasih teh nya buat istri kamu". Ucap umi Laila
"Baik umi". Jawabnya
Alfan memijit kepala istrinya dengan pelan, ia mungkin akan berangkat ke kampus agak telat mengingat istrinya masih membutuhkan dirinya didalam rumah. Ia khawatir terhadap kondisi kesehatan istri dan buah hatinya.
"Sayang minum teh nya dulu". Ucap Alfan saat Alfina membuka kedua matanya
Alfina meminum teh nya dengan pelan, kemudian kembali membaringkan tubuhnya untuk istirahat. Badannya lemas sehingga tidak bisa lama-lama duduk ataupun berdiri.
__ADS_1
"Sayang mas minta maaf sudah memaksa adek untuk meminum susunya. Mas benar-benar tidak tau kalau bakalan seperti ini". Kata Alfan sambil mengelus kepala Alfina
Alfina mengangguk menanggapi ucapan Alfan kemudian ia berkata "Tidak apa-apa". Lirihnya
Ia tau kalau suaminya memang sangat menjaga dirinya, akan tetapi jika sudah seperti ini tubuhnya akan lemas dan nafsu makannya bisa turun akibat muntah. Tadi pagi ia sudah berusaha memakan sarapan paginya dengan happy supaya tidak merasakan mual dan itu juga demi buah hatinya yang memerlukan asupan makanan dari dirinya.
Alfan resah karena istrinya mendiaminya akibat kejadian tadi, seharusnya ia tau kalau istrinya akan mual jika mencium bau susu dipagi hari. Ia harus bisa mengembalikan mood istrinya supaya mau berbicara dengan dirinya.
"Dek". Panggil Alfan
"Sekali lagi mas minta maaf atas kejadian tadi, maafin mas karena mas sudah memaksa adek untuk meminum susunya". Ucap Alfan pada Alfina
Alfina hanya mengangguk menanggapinya, kemudian ia memejamkan matanya. Ia jadi membatalkan bimbingan skripsi dengan dosen pembimbingnya dikampus, karena badannya yang tak memungkinkan untuk pergi dari rumah. Jadi sebaiknya ia istirahat sampai kondisinya benar-benar pulih dan tidak merasa mual.
Ceklek ...
"Nak kamu tidak berangkat ke kampus?". Tanya umi Laila
"Sepertinya Alfan hari ini tidak pergi kemana-mana umi, Alfan khawatir dengan kondisi Alfina". Jawabnya
"Kalau kamu ada kepentingan yang tidak bisa ditinggalkan, tidak apa-apa biar umi yang menjaga Alfina". Kata umi Laila
"Alhamdulillah hari ini tidak ada kepentingan apa-apa kok umi, hanya mengajar saja. Itu nanti biar Alfan serahkan pada asdos Alfan". Jawab Alfan pada uminya
"Baiklah kalau begitu nak, jaga istri kamu dengan baik ya. Kalau butuh sesuatu bilang saja sama umi". Kata umi Laila
Alfan mengangguk "Baik umi". Jawabnya
__ADS_1
Alfan pun segera mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih santai, kemudian naik ke atas ranjang menemani istrinya yang sedang istirahat. Ia pun mengelus kepala istrinya dengan lembut sambil mencium keningnya sedikit lama. Ia benar-benar merasa bersalah karena telah memaksa istrinya untuk meminum susu hamilnya disaat istrinya sangat sensitif bila mencium bau susu dipagi hari. Ia berharap mendapatkan maaf dari istrinya, karena baru pertama kali ini dirinya didiamkan oleh istrinya sendiri akibat perbuatannya tadi.