
Pukul 13.30 Alfina sudah bersiap untuk berangkat ke tempat kerjanya. Ia akan berangkat menggunakan motor milik bunda Nila, karena mulai sekarang ia sudah diizinkan untuk membawa kendaraan sendiri. Alfina bersyukur karena hal itu.
Ia segera menghampiri bundanya yang berada didapur, karena tadi ia dan adik-adik panti melakukan makan siang bersama.
"Bunda Alfina berangkat kerja dulu ya?". Pamit Alfina seraya mengulurkan tangannya pada bunda Nila
"Ya sayang hati-hati, jangan ngebut bawa motornya. Bunda gak mau kamu kenapa-kenapa". Kata bunda Nila
Alfina lantas mengangguk sambil berkata "Ya bunda Alfina akan hati-hati kok bawa motornya".
"Ya sayang". Balas sang bunda
"Kalau begitu Alfina pamit dulu, Assalamualaikum".
"Waalaikumussalam nak".
Kurang lebih lima belas menit perjalanan dari panti ke tempat kerjanya kini Alfina bergegas masuk ke dalam tempat kerjanya dan tak lupa menyapa beberapa teman kerjanya disana.
"Assalamualaikum mbak". Salam Alfina ketika melihat Aini teman kerjanya yang sedang menata barang-barang
"Waalaikumussalam na". Jawabnya
"Gimana kabar kamu na?". Tanya Aini
"Alhamdulillah sehat mbak, Alfina kangen sama mbak karna kemarin Alfina gak masuk kerja". Kata Alfina
"Kalau kangen sini peluk mbak". Pinta Aini yang sudah menganggap Alfina sebagai adik kandungnya sendiri
Mendengar pernyataan seperti itu, lantas Alfina segera memeluk aini yang berada didepannya dengan erat seolah-olah tidak pernah bertemu lama. Padahal baru kemarin Alfina izin untuk tidak masuk bekerja.
"Makasih ya mbak". Ucap Alfina
"Sama-sama na, udah sekarang kamu siap-siap bantu mbak buat menata barang ini". Kata Aini
"Siap mbak". Jawab Alfina
Keduanya pun menata dan merapikan baju-baju yang akan dipajang didalam toko karena nanti malam akan ada pemiliknya yang berkunjung kemari untuk mengecek hasil kinerja para karyawan dan memberikan gaji pada bulan ini.
"Na nanti malam bu Laila akan berkunjung kesini lho". Ujar Aini
"Beneran mbak? Bisa ketemu dong sama umi Laila". Kata Alfina antusias
"Ya beneran mbak gak bohong, tadi mbak dikasih tau sama temen mbak. Nanti kamu bisa bertemu lagi sama bu Laila". Balas Aini
"Ya mbak terimakasih ya informasinya". Kata Alfina
"Sama-sama na". Jawab Aini
Tepat pada jam tujuh malam pemilik toko baju muslimah yang tak lain adalah umi Laila datang ke tempat kerja mereka bersama dengan putranya Alfan.
Semua karyawan toko tampak menyambut kedatangan bos ya itu. Semuanya mengulurkan tangannya berniat untuk salim dengan umi Laila. Dengan senang hati umi Laila membalasnya.
"Gimana kabarnya semua?". Tanya umi Laila
"Alhamdulillah kita semua sehat umi". Jawab Aini salah satu karyawan dari mereka
"Alhamdulillah". Sahut umi Laila
"Oh ya kenalin ini putra tunggal umi, kalian pasti sudah tau kan?". Ujar umi Laila
__ADS_1
"Ya umi". Jawab mereka semua
"Kalian semua sudah makan malam?". Tanya umi Laila
"Alhamdulillah sudah umi". Jawab salah satu dari mereka
Disaat semua sudah menemui umi Laila, tinggalah Alfina yang belum menyambut kedatangan umi Laila. Sebelumnya ia sudah berpesan kepada Aini kalau ia akan melaksanakan shalat isya' terlebih dahulu setelah makan malam tadi.
"Assalamualaikum umi". Suara salam yang begitu lembut masuk pada indera pendengaran mereka semua, sontak semuanya menatap kedatangan Alfina yang baru saja selesai shalat
"Waalaikumussalam sayang". Jawab umi Laila sambil menerima uluran tangan Alfina untuk salim
"Kamu habis darimana nak?". Tanya umi Laila
"Maaf umi, tadi Alfina baru selesai shalat isya". Jawab Alfina dengan sopan
"Maa Syaa Allah tidak apa-apa nak. Kamu sudah makan?". Tanyanya
"Alhamdulillah sudah umi". Balas Alfina seraya tersenyum
Alfan yang melihat Alfina tersenyum dengan uminya tersebut lantas berdehem pelan untuk menetralkan detak jantungnya yang berpacu dengan cepat bila berhadapan dengan salah satu mahasiswinya tersebut.
Alfina yang sadar, tak sengaja menoleh ke samping tempat umi Laila berdiri dari hadapannya. Ia baru tau kalau dosennya ikut sang umi untuk berkunjung mengecek para karyawannya di toko baju muslimah itu. Lantas ia mengucap salam kepada sang dosen untuk menghormatinya.
"Assalamualaikum pak Alfan". Salam Alfina dengan menunduk
"Waalaikumussalam". Jawab Alfan singkat
Umi Laila memperhatikan keduanya, sehingga beliau menyadari raut wajah Alfina yang nampak berbeda dari sebelumnya.
"Sayang kamu kenapa?". Goda umi Laila seraya tersenyum pada Alfina
"Ti - tidak apa-apa umi". Jawab Alfina gugup
"Yasudah silahkan semuanya kembali pada aktivitas masing-masing ya, kalau mencari saya ada diruang biasanya. Saya akan kembali pulang bersama dengan kalian nanti". Ucap umi Laila ramah
"Baik umi". Jawab mereka semua
***
Hari menunjukkan pukul 20.30 WIB, kini saatnya Alfina beserta teman kerjanya akan kembali pulang kerumah masing-masing. Saat ini ia akan berpamitan dengan umi Laila dan teman-temannya yang masih belum pulang. Ia segera menghampiri umi Laila yang sedang duduk disofa pada bagian kasir.
"Umi Alfina pamit pulang dulu". Ucap Alfina sambil menyalami tangan umi Laila dengan takdzim
"Kamu pulang dengan siapa nak?". Tanya umi Laila
"Alfina tadi bawa motor umi". Jawab Alfina dengan sopan
"Kamu hati-hati ya sayang pulangnya, bawa motornya jangan ngebut. Sebenernya umi khawatir kalau kamu pulang sendirian apalagi malam-malam seperti ini nak. Kamu bareng sama umi saja ya pulangnya?". Kata umi Laila
"Ya umi Alfina bakalan hati-hati kok, umi tenang saja Alfina akan jaga diri baik-baik". Jawab Alfina menenangkan umi Laila
"Kalau sudah sampai rumah kabari umi ya sayang". Ucap umi Laila sembari berdiri untuk memeluk Alfina
"Baik umi". Jawab Alfina seraya membalas pelukan umi Laila
Alfan yang sedang duduk di sofa samping uminya lantas berbicara ketika melihat Alfina akan pergi meninggalkan tempat kerjanya.
"Kamu pulang bersama kita saja". Ucap Alfan tiba-tiba
__ADS_1
"Ma-maaf pak tapi saya tadi bawa motor". Jawab Alfina seraya menunduk
"Motor kamu bisa dititipkan disini". Balas Alfan datar
Alfina yang bingung pun lantas menoleh menghadap umi Laila untuk meminta pendapat dari perintah putra semata wayangnya itu. Ia hanya tidak enak kalau harus merepotkan mereka.
"Apa yang dibilang sama putra umi benar nak, kamu pulang bersama dengan kami ya. Kamu tenang saja kan ada umi". Ujar umi Laila sambil memegang tangan Alfina
"Memangnya tidak merepotkan umi?". Tanya Alfina ragu
Umi Laila menggeleng "Kamu tidak pernah merepotkan umi nak, justru umi senang kalau kamu mau ikut pulang bersama kami. Karena ini sudah malam, kamu juga anak perempuan. Umi khawatir kalau sampai terjadi apa-apa sama kamu". Jelas umi Laila
"Baiklah umi, terimakasih". Jawab Alfina
Akhirnya Alfina diantar pulang bersama dengan Alfan dan umi Laila. Awalnya Alfina ragu tapi ia merasa tidak enak kalau harus menolak permintaan dari umi Laila dan dosennya itu. Alhasil Alfina ikut pulang bersama dengan mereka.
Dalam perjalanan pulang ia terus diajak bicara dengan umi Laila. Entah mengapa umi Laila akan merasa nyaman bila mengobrol dengan Alfina. Sedangkan Alfina akan senang hati menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan oleh umi Laila.
"Sayang besok kamu kuliah?". Tanya umi Laila
Alfina mengangguk "Ya umi besok Alfina kuliah".
"Siapa sayang dosennya besok?". Tanyanya sambil tersenyum menghadap Alfina
"Be - besok dosennya pak Alfan umi". Jawab Alfina seraya menunduk
"Oh putra umi yang kebetulan dosennya besok"?. Kata umi Laila
"Ya umi". Balas Alfina
Alfan yang mendengar dua perempuan yang sedang mengobrol dibelakangnya pun hanya diam saja. Ia membiarkan uminya bercengkrama dengan Alfina. Alfan tau uminya itu sangat senang sekali bila ia bertemu dengan salah satu mahasiswinya tersebut. Oleh karena itu ia hanya menyimak saja sambil menyetir mobil.
"Sayang umi boleh bertanya sesuatu tidak sama kamu?". Ujar umi Laila
"Silahkan umi". Jawab Alfina seraya tersenyum kepada umi Laila
"Maaf ya nak bila pertanyaan umi nanti kurang berkenan sama kamu". Kata umi Laila
"In Syaa Allah tidak kok umi, memangnya umi mau bertanya apa sama Alfina?". Tanya Alfina penasaran
"Apa kamu sudah ada yang mengkhitbah nak?". Tanya umi Laila
"Maaf maksutnya umi apa?". Balas Alfina
"Maksut umi, apa kamu sudah punya calon suami nak?". Kata umi Laila
"Ehm be - belum umi". Jawab Alfina gugup
"Beneran sayang?". Tanyanya lagi
Alfina mengangguk "Ya umi, saat ini Alfina mau fokus ke kuliah dulu, apalagi habis ini Alfina akan menyusun skripsi jadi Alfina belum memikirkan soal itu". Jawab Alfina dengan sopan
"Bagaimana kalau ada yang mengkhitbah kamu dalam waktu dekat sayang?". Tanya umi Laila lagi
"Maksut umi, bila ada seorang laki-laki shaleh yang menginginkan kamu menjadi calon istrinya dalam proses perkuliahanmu seperti saat ini, apa kamu akan bersedia menerimanya sayang? umi hanya ingin tau saja". Lanjut umi Laila
"In Syaa Allah Alfina pertimbangkan umi, Alfina juga akan meminta petunjuk sama Allah melalui shalat istikharah. Jika beliau benar-benar jodoh yang Allah kirimkan buat Alfina In Syaa Allah akan Alfina terima lamarannya. Sebab Alfina juga menginginkan seorang suami yang faham dalam hal agama, supaya bisa membimbing Alfina menjadi lebih baik lagi". Jelas Alfina
"Maa Syaa Allah kamu memang perempuan shalehah nak". Kata umi Laila sambil tersenyum
__ADS_1
"Alhamdulillah terimakasih umi". Balas Alfina
Alfan yang mendengar jawaban dari Alfina itu lantas tersenyum tipis, bahkan tidak ada yang mengetahui kalau ia sedang tersenyum. Ia begitu takjub mendengar jawaban dari salah satu mahasiswinya tersebut. Ternyata Alfina memiliki wawasan yang sangat luas sehingga ia mampu memahami dalam berbagai persoalan, termasuk persoalan tentang calon imamnya kelak.