
Malam ini keluarga Alfan akan berangkat menuju panti asuhan dimana tempat tinggal Alfina berada. Ia akan ditemani abi dan uminya untuk menyampaikan i'tikad baiknya mengkhitbah Alfina sang gadis pujaan hatinya. Alfan sudah siap menggunakan celana hitam model kain dan baju batik serta tatanan rambut yang rapi membuat dirinya terlihat tampan berkali-kali lipat.
"Fan sudah siap sayang?". Tanya umi Laila ketika melihat Alfan yang sudah turun dari kamarnya
"In Syaa Allah siap umi". Jawab Alfan
Umi Laila tersenyum dihadapan putranya kemudian berkata "Kamu tampan sekali nak".
"Dari dulu umi". Jawabnya santai
"Boy sudah siap mengkhitbah sahabat kecilmu?". Tanya abi sambil tersenyum menggoda
"Memangnya kenapa bi?". Alfan malah balik bertanya
"Abi cuma tanya saja boy, kamu harus siap dan segera menghalalkan Alfina. Karena Abi yakin diluaran sana banyak laki-laki yang berusaha mendekatinya". Ucap abi Lukman
"In Syaa Allah Alfan akan segerakan bi". Jawabnya
Umi Laila melihat dua laki-laki kesayangannya itu lantas tersenyum manis, karena umi Laila masih tidak menyangka putranya akan mengkhitbah seorang gadis dan sebentar lagi ia akan menyaksikan putranya menikahi perempuan yang notabenenya adalah sahabat semasa kecilnya.
"Umi tidak menyangka kalau putra umi akan memulai perjalanan hidup baru bersama pasangannya. Rasanya waktu berputar sangat cepat, dulu umi selalu gendong kamu saat kamu masih bayi dan abi yang selalu jagain kamu ketika umi sedang tidur". Kata umi sambil memandang Alfan
Alfan yang mendengar uminya berkata seperti itu segera membawa sang umi kedalam pelukannya. Sungguh Alfan juga merasakan kesedihan bila uminya berkata demikian, karena sang umi adalah wanita kesayangannya.
"Alfan selalu disamping umi". Ucap Alfan
Setelah melepaskan pelukannya kemudian Alfan mencium kening uminya dengan sayang. Lihatkan bahwa Alfan itu sebenarnya laki-laki yang hangat dan romantis bila bersama dengan keluarganya. Akan tetapi kalau diluar ia akan bersikap dingin dan tegas.
"Boy abi berpesan jika kamu sudah menikah nanti, sayangi dan cintai istri kamu sebagaimana yang telah kamu lakukan pada umimu. Jadilah imam yang baik terhadap keluargamu nanti". Kata abi Lukman
"In Syaa Allah abi". Jawabnya
"Kalau sudah siap kita akan berangkat sekarang". Ucap sang abi
Umi Laila mengangguk "Ya bi". Jawabnya
Mereka pergi menggunakan mobil milik Alfan, keluarga tersebut juga membawa sebuah hantaran yang akan diberikan kepada Alfina calon istri Alfan. Didalam mobil pun terjadi percakapan antara umi, abi, dan juga Alfan. Perjalanan ke panti asuhan membutuhkan waktu tiga puluh menit jika jalanan dikota tidak ramai, bila ramai pasti agak macet dan memperpanjang waktu perjalanan.
"Fan dimana kamu bertemu dengan Alfina untuk pertama kalinya?". Tanya abi Lukman tiba-tiba
"Dikampus bi". Jawab Alfan
"Gimana kesan pertama kamu setelah bertemu Alfina untuk yang pertama kali?". Tanya sang abi lagi
"Alfan ngerasa ada yang beda". Jawabnya santai
__ADS_1
"Itu karna Alfina adalah sahabat semasa kecilmu. Walau kalian waktu itu berpisah dan tidak bertemu sama sekali. Sekalinya bertemu malah tidak tau kalau kalian adalah dua orang yang saling menyayangi". Kata abi Lukman
"Ya abi". Jawabnya
"Abi juga masih tidak menyangka kalau kamu bisa bertemu kembali dengan putri satu-satunya dari mendiang sahabat abi dan umi. Abi tau dari dulu kalau Alfina adalah gadis shalehah dan penurut. Dan abi juga bersyukur kalau dia yang akan menjadi menantu abi". Ucap abi Lukman panjang lebar
"Menantu umi juga abi". Koreksi umi Laila yang membuat abi Lukman spontan tertawa
"Haha, iya-iya umi menantu kita". Ucap abi Lukman membenarkan
"Fan besok kamu ada jadwal mengajar dikelasnya Alfina?". Tanya sang umi
"Ada umi". Jawabnya
"Umi tidak bisa membayangkan hari esok, kalau kamu akan selalu bertemu dengan calon istrimu dikampus". Kata umi sambil tertawa
"Ya umi". Jawabnya
"Fan walau kamu masih belum halal dengan Alfina, jangan berbuat macam-macam bila bertemu dengannya, awas aja kalau kamu sampai menggoda calon menantu kesayangan umi itu". Kata umi Laila sambil menatap putranya dengan serius yang sedang menyetir mobil
"Umi tenang saja, Alfan tidak akan macam-macam sebelum halal". Jawab Alfan tegas
"Baiklah nak, kamu pasti paham". Tambah umi Laila
Alfan yang mendengar ucapan abi dan uminya itu tersenyum, dia juga masih tidak menyangka kalau takdir kembali mempertemukan mereka seperti saat ini. Semoga niat baiknya untuk mengkhitbah Alfina diterima dengan baik dan lapang dada.
Sedangkan didalam rumah panti asuhan Alfina mendadak gugup dikamarnya, pasalnya bunda Nila bilang kepada dirinya kalau seseorang yang mengkhitbahnya sudah dalam perjalanan. Alfina berdoa dalam hati supaya ia selalu diberikan ketenangan.
"Assalamualaikum anak gadis bunda". Salam bunda Nila seraya memasuki kamar Alfina
"Waalaikumussalam bunda". Jawab Alfina
"Sayang kamu kenapa nak?". Tanya bunda Nila ketika mendapati Alfina yang hanya diam sedari tadi
"Alfina tidak apa-apa bunda". Jawabnya lirih
"Sayang bunda yakin lelaki yang akan mengkhitbah kamu adalah seseorang yang bertanggungjawab dan In Syaa Allah shaleh. Karena ia merupakan laki-laki lulusan pondok pesantren dan bunda sudah menjamin kalau dia adalah orang yang paham agama". Kata bunda Nila menenangkan
"Kenapa bunda bisa tau semuanya?". Tanya Alfina penasaran
"Sayang sebelum dia melamar kamu secara resmi seperti saat ini, dia sudah lebih dulu menemui bunda kesini, karena ia meminta izin terlebih dahulu kepada bunda untuk menjadikanmu istri nantinya". Ucap bunda Nila
"Siapa dia sebenarnya bunda?". Tanyanya lagi
"Maaf sayang bunda tidak bisa memberitahumu sekarang, biarlah nanti kamu yang akan mengetahuinya sendiri". Ucap bunda Nila
__ADS_1
"Kalau dikasih tau bukan surprise dong sayang namanya?". Lanjut bunda Nila seraya tersenyum pada Alfina
"Apakah dia laki-laki yang baik bunda?". Tanya Alfina ragu
"Sayang tadi bunda sudah bilangkan, dia adalah laki-laki baik dan bertanggung jawab. Dia pasti menyanyangi dan mencintai kamu dengan tulus nantinya". Jawab bunda Nila
"Apa sebelumnya Alfina pernah bertemu dengannya bunda?". Tanya Alfina
"In Syaa Allah kamu pernah bertemu dengannya, bahkan dia adalah salah satu seseorang yang selalu hinggap di hati kamu sejak kecil". Jawab bunda Nila
"Sejak kecil?". Tanyanya
"Ya, mungkin dia adalah seseorang yang sangat spesial dihidup kamu". Jawabnya
"Kenapa sayang apa ada yang kamu pikirkan?". Tanya bunda Nila
"Sebenarnya Alfina sudah menyimpan perasaan kepada seseorang, Alfina juga selalu mendoakannya bunda". Jawab Alfina dengan pelan
"Kalau boleh tau siapa seseorang yang sudah memikat hati anak gadis bunda ini?". Ujar bunda Nila
"Cerita sama bunda sayang, biar kamu tidak ada keraguan. Siapa tau seseorang yang telah kamu doakan itulah, yang akan mengkhitbah kamu malam ini". Sambung bunda Nila
Alfina menunduk kemudian mengatakan kepada bunda Nila "Dosen Alfina bunda". Cicitnya yang masih bisa didengar oleh bunda Nila
"Dosen, dosen yang mana sayang?". Tanya bunda Nila
"Pak Alfan bunda". Jawabnya lirih sambil menunduk
"Apa alasan kamu bisa mencintai dan mendoakan dia sayang?".
"Alfina tidak tau bunda, yang jelas semenjak Alfina kuliah dikelas pertamanya dan waktu itu Alfina juga bertemu beliau saat dimasjid kampus. Beliau melaksanakan shalat dan membaca Al Qur'an dengan suara merdunya. Beliau juga menjadi imam dalam shalat tersebut". Cerita Alfina
"Maa Syaa Allah, semoga kamu ditemukan dan dipersatukan dengan laki-laki yang shaleh seperti itu". Jawab bunda Nila
Alfina mengangguk "Aamiin bunda".
"Yasudah nanti kalau tamunya sudah datang bunda akan jemput kamu kesini". Kata bunda Nila
"Dandan yang cantik sayang". Lanjutnya
Alfina mengangguk seraya tersenyum "Baik bunda". Jawabnya
"Bunda keluar dulu ya sayang".
"Ya bunda".
__ADS_1
Bunda Nila lantas tersenyum lebar mendengarnya, ia tidak menduga kalau Alfina juga mencintai Alfan seorang dosen dikampusnya. Akan tetapi bunda Nila masih merahasiakan siapa seseorang yang akan mengkhitbah gadis kesayangannya itu. Biarlah Alfina tau dengan sendirinya kalau selama ini ia mengagumi dan mencintai seseorang yang dulunya adalah sahabat semasa kecilnya.