
Setelah makan malam bersama dengan keluarga calon suaminya, kini Alfina sudah berada dipanti asuhan. Tadi ia diantar pulang oleh dosennya itu, Alfan tau kalau hari ini Alfina masih sedikit sedih karena calon istrinya tersebut kembali teringat dengan kematian kedua orangtuanya yang wafat akibat kecelakaan.
Ia sudah berada dikamar untuk mengistirahatkan tubuhnya setelah ia selesai mandi, ganti baju, lalu shalat. Ia masih teringat dengan alm ayah dan almh bundanya yang lebih dulu menghadap sang pencipta. Tanpa sengaja air matanya kembali menetes kala ia mengingat saat dirinya berpelukan dengan kedua orangtuanya.
"Ayah bunda Alfina rindu". Kata Alfina lirih
Memang rindu yang paling menyakitkan adalah merindukan seseorang yang telah tiada. Apalagi ketika merindukan kedua orangtua yang lebih dulu dipanggil oleh tuhan untuk selama-lamanya. Dan itu memang menyesakkan.
Tok ... Tok ...
Suara ketukan pintu yang memberhentikan isakan Alfina akibat menangis dalam diam. Ia menoleh kala melihat bunda Nila yang datang kekamarnya sambil membawa air putih dingin minuman favoritnya. Ia duduk diranjang samping Alfina sambil memberikan minumnya.
"Minum dulu sayang". Perintah bunda Nila
Alfina mengangguk kemudian meminumnya hingga tandas. Sebenarnya ia haus tapi ia lupa untuk mengambil minum didapur. Sampai akhirnya bunda Nila lah yang membawakannya kekamar.
"Sayang kenapa mata kamu sembab, kamu habis menangis?". Tanya bunda Nila khawatir
"Cerita sama bunda sayang". Kata bunda Nila sambil mengelus kepala Alfina
"Alfina rindu ayah dan bunda". Kata Alfina pelan sembari memeluk bunda Nila
Bunda Nila langsung mendekap Alfina dengan erat, tadi ia juga diberitahu oleh umi Laila bahwa Alfina tidak baik-baik saja. Umi Laila juga bercerita kepada bunda Nila kalau tadi Alfina sempat menangis didalam pelukannya karena ia begitu merindukan ayah dan bundanya yang sudah menghadap sang pencipta.
"Sayang jangan sedih lagi, kan disini sudah ada bunda dan ayah ada adik-adik juga". Kata bunda Nila
"Bunda tau kamu pasti sangat merindukan alm ayah dan almh bunda kamu. Kamu harus terus mendoakan beliau ya sayang. Beliau disana juga pasti bangga karena melihat putrinya yang sudah dewasa, pintar, dan shalehah. Sebentar lagi juga akan menikah dan menjadi istri dari dosen tampan". Lanjut bunda Nila sambil menggoda Alfina
"Bunda". Rengek Alfina
"Benarkan apa yang dibilang sama bunda, sebentar lagi putri bunda yang satu ini akan menikah dan mengarungi bahtera rumah tangga bersama dengan seorang laki-laki yang saat ini menjadi dosen kamu dikampus". Ucap bunda Nila sambil tersenyum
"Bunda besok Alfina diajak fitting baju pernikahan dengan pak Alfan". Ucap Alfina memberitahu sang bunda
"Ya sayang besok juga ditemani sama umi Laila". Jawab bunda Nila
Alfina mengangguk "Ya bunda". Balasnya
"Sayang gimana tadi makan malamnya dengan calon suami kamu?". Tanya bunda Nila
"Makanan yang dimasak sama umi Laila rasanya selalu enak dan lezat sama dengan masakan yang selalu dimasak oleh bunda". Katanya sambil melihat bunda Nila
"Benarkah sayang?". Tanyanya
"Ya bunda". Jawabnya
"Bunda mau tanya, kamu tau gak makanan kesukaan calon suami kamu?". Tanya bunda tersenyum jahil kepada Alfina
__ADS_1
"Bunda jangan aneh-aneh". Jawabnya sambil menyender dibagi bundanya
"Bunda kan cuma tanya sayang, ini juga untuk masa depan kamu lho. Kamu harus tau makanan kesukaan suami kamu. Nanti kalau sekiranya kamu belum pernah memasaknya kamu bisa belajar sama bunda". Kata bunda Nila
"Alfina sudah tau kok bunda, kemarin waktu masak bersama dengan umi Laila beliau bilang kalau makanan kesukaan putranya itu rendang daging". Jawabnya pelan
"Oh putri bunda sudah tau, bisa kan sayang masaknya. Kan kita sudah pernah masak makanan rendang daging". Ujarnya
Alfina mengangguk "Ya bunda Alhamdulillah Alfina sudah bisa kok". Jawabnya
"Alhamdulillah kalau masih ada yang belum mengerti, bisa belajar sama bunda. Bunda akan selalu mengajari dan menyanyangimu sayang". Kata bunda Nila
"Terimakasih bunda sudah merawat dan menjaga Alfina sedari kecil. Maafkan Alfina yang belum bisa buat bunda bahagia". Ucapnya sedih
"Sayang kamu dan adik-adik adalah bagian dari kebahagian bunda. Jika kalian semua bahagia bunda dan ayah juga ikut bahagia. Apalagi kamu yang akan menikah, perasaan bunda tenang dan bahagia sekali karena ada seseorang yang akan selalu menemani dan melindungi kamu". Jawab bunda Nila sambil mengelus pipi Alfina
"Alfina sayang banget sama bunda". Kata Alfina
"Yasudah kamu istirahat ya sayang, besok kamu harus fitting baju pernikahan kan?". Ucap bunda Nila
"Ya bunda". Jawabnya
Sebelum keluar dari kamar Alfina, bunda Nila menyempatkan mencium kening dan kedua pipi Alfina sebagai tanda kasih sayang beliau terhadap putrinya itu.
***
"Boy hari ini kamu ke kantor?". Tanya sang Abi yang sudah duduk dimeja makan
"Ya abi". Jawabnya
"Sayang nanti jangan lupa ada acara fitting baju pernikahan dengan Alfina ya, nanti umi juga ikut kesana menemani kalian". Kata umi Laila
"Ya umi". Jawab Alfan
"Yasudah kalian sarapan pagi dulu". Ucap umi Laila sembari meletakkan piring yang sudah berisi nasi dan lauk dihadapan suami dan putranya.
"Terimakasih sayang". Ucap abi Lukman kepada umi Laila dengan mesra
"Terimakasih umi". Ucap Alfan juga
"Sama-sama". Jawab umi Laila sambil tersenyum
Setelah selesai sarapan bersama, kini Alfan pamit untuk segera pergi ke kantornya karena ada meeting yang harus ia hadiri tepat waktu. Mungkin selesai meeting ia akan menjemput calon istrinya dikampus untuk mengajaknya melakukan fitting baju pernikahan bersama dengan uminya.
"Abi umi Alfan pamit dulu, Assalamualaikum". Ucapnya sembari menyalami tangan abi dan uminya
"Waalaikumussalam hati-hati sayang". Jawabnya
__ADS_1
Alfan dengan segera melajukan mobilnya menuju kantornya. Sampai dikantor ia disapa oleh beberapa karyawan dan pegawainya dengan sopan yang dibalas Alfan dengan anggukan dan tersenyum tipis.
"Hai bro, gimana persiapan pernikahannya?". Tanya Angga sang sahabat ketika berpapasan dengan Alfan
"90%". Jawab Alfan singkat
"Cepat sekali lo persiapin semuanya. Pasti lo cinta banget sama calon istri lo kan, bisa sampai sat set gini". Tanyanya pada Alfan
"Berisik". Kata Alfan datar
"Awas aja lo sampai bicara yang datar dan dingin sama istri lo nanti, secarakan calon istri lo seperti bidadari surga". Canda Angga
Alfan menatap tajam sahabatnya itu yang telah sengaja memuji calon istrinya.
"Santai bro, gua selalu dukung keputusan lo". Jawabnya
"Berkas meeting udah lo siapin semua?". Tanya Alfan pada Angga sahabatnya
"Lo tenang aja, sudah gua persiapkan semuanya dari kemarin tinggal berangkat doang ketempat meeting". Jawab Angga
Alfan mengangguk "Oke". Ujarnya
Alfan melakukan meeting selama dua jam lebih dikantornya. Ia akan melaksanakan shalat dhuhur terlebih dahulu kemudian ia akan menjemput Alfina dikampus. Ia tidak mungkin membiarkan calon istrinya berangkat sendiri ketempat fitting, karena sebagai calon suami Alfan harus memastikan keadaan istrinya baik-baik saja terlebih saat bersama dengan dirinya.
"*Assalamualaikum". Salam Alfan ketika ia menelpon Alfina untuk memberinya kabar
"Waalaikumussalam". Jawab Alfina diseberang telepon
"Sudah selesai kuliah kamu?". Tanya Alfan to the point
"Alhamdulillah sudah pak". Jawab Alfina pada Alfan
"Baiklah tunggu sebentar lagi. Saya akan shalat terlebih dahulu setelah itu akan menjemputmu dikampus". Kata Alfan
"Dan kamu jangan kemana-mana sampai saya datang". Lanjut Alfan
"Ba-baik pak". Jawab Alfina takut-takut
"Apakah kamu sudah shalat?". Tanya Alfan
"Sudah pak tadi bersama dengan Amel dimasjid kampus". Jawab Alfina deg-degan
"Baiklah saya matikan dulu, Assalamualaikum". Ucapnya
"Waalaikumussalam". Jawabnya
Ia juga sudah mengabari umi Laila bahwa setelah menjemput Alfina ke kampusnya ia akan segera berangkat menuju butik tempat mereka melakukan fitting baju pernikahan. Butik itu adalah milik dari sahabat sang umi yang sudah dipercaya oleh keluarganya agar dibuatkan baju pernikahan yang elegan untuk Alfan dan Alfina.
__ADS_1