
Keluarga Alfan sudah tiba di panti asuhan kasih bunda tempat Alfina tinggal selama ini. Umi, abi, dan Alfan segera turun dari mobil kemudian mengambil hantaran dan berjalan masuk kedalam pintu utama panti tersebut.
Alfan yang masih berdiri disamping mobil berusaha untuk menetralkan jantungnya karena malam ini ia akan mengkhitbah seorang gadis kecil di masa lalunya. Semoga ia mendapat jawaban terbaik saat proses khitbah nanti.
"Assalamualaikum". Salam umi Laila dan abi Lukman serta Alfan
"Waalaikumussalam". Jawab bunda Nila yang sudah berdiri didepan pintu menyambut kedatangan Alfan dan keluarganya
"Silahkan masuk pak, bu, nak Alfan". Ucap bunda Nila mempersilahkan mereka masuk
"Terimakasih bu". Jawab umi Laila
Mereka bersalaman dengan khidmat dan sopan saat berada diruang tamu. Bunda Nila tidak sendiri ia ditemani suaminya karena kemarin baru saja pulang dari bekerja di luar kota. Mereka adalah orangtua yang mengasuh Alfina sedari kecil sejak ayah bundanya mengalami kecelakaan.
"Bagaimana kabarnya pak bu?". Tanya bunda Nila
"Alhamdulillah kabar kami baik bu". Jawab umi Laila
"Nak Alfan gimana kabarnya hari ini?". Tanya bunda Nila kepada Alfan dengan tersenyum manis
"Alhamdulillah baik bu". Jawabnya
"Panggil kami berdua ayah dan bunda ya nak, karna sebentar lagi kamu juga anaknya bunda sama ayah". Kata bunda Nila
Alfan mengangguk "Baik bunda".
Bunda Nila tersenyum melihat Alfan yang selalu berwibawa dan sopan. Ia sangat bersyukur putri asuhnya akan dinikahi oleh laki-laki yang taat dalam beribadah seperti Alfan. Karena sejatinya seorang laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan.
"Tunggu sebentar ya biar saya panggil Alfina dulu dikamarnya". Izin bunda Nila
"Silahkan bu, saya sudah rindu dengan Alfina". Jawab umi Laila sambil tersenyum kearah bunda Nila
"Baiklah bu anak gadis saya itu memang selalu dirindukan dan ngangenin, iya nggak nak Alfan?". Goda bunda Nila
Alfan mengangguk "Iya bunda". Jawabnya
Mereka diruang tamu tersenyum manis melihat Alfan yang sangat bahagia bisa dipertemukan kembali dengan sahabat kecilnya. Apalagi ini adalah awal perjalanan dan perjuangan mereka berdua menuju halal.
Bunda Nila memasuki kamar Alfina yang pintunya dibuka setengah, lantas bunda Nila terlebih dahulu mengucapkan salam sebelum masuk kamar anak gadisnya itu.
"Assalamualaikum nak". Salamnya
"Waalaikumussalam bunda". Jawabnya
"Gimana sudah siap bertemu dengan keluarga dan calon suamimu nak?". Tanya bunda Nila
"Alfina takut bunda". Jawabnya lirih
__ADS_1
"Gak usah takut nak, kan ada bunda dan ayah yang menemani kamu". Kata bunda Nila menenangkan kegelisahan Alfina
"Bun apa mereka bisa menerima Alfina apa adanya?". Tanyanya
"In Syaa Allah mereka akan menerima kamu dengan baik". Jawab bunda Nila
"Yasudah ayo ikut bunda keluar, gak boleh sedih ya kan ada bunda sama ayah yang menemani". Lanjut bunda Nila sembari memeluk Alfina
Alfina mengangguk dalam dekapan bunda Nila seraya berkata "Baik bunda".
Akhirnya bunda Nila membawa Alfina kedepan yakni keruang tamu yang sudah ditunggu oleh keluarga calon suami dari Alfina. Alfina sampai dibuat deg-degan ketika berjalan menuju ruang tamu.
Ketika ia sudah sampai diruang tamu ia melihat seorang yang tidak asing dan Alfina rasa ia sangat mengenalnya. Alfina mulai mendekat dan sebelum duduk ia melihat ada umi Laila dan abi Lukman yang tersenyum melihat kedatangannya.
Alfina kaget dibuatnya kenapa orangtua dari dosennya itu berada didalam panti asuhan pada malam ini. Alfina mencoba berpikir positif dan tenang.
"Assalamualaikum umi abi". Salamnya kemudian Alfina menangkupkan kedua tangannya kepada abi Lukman lalu ia mengulurkan tangannya kepada umi Laila
"Waalaikumussalam sayang". Jawab umi Laila dan abi Lukman
Sebelum duduk ia dipeluk erat oleh umi Laila, dengan senang hati ia membalasnya sambil berkata "Bagaimana kabar umi dan abi?". Tanyanya
Umi Laila melepaskan pelukannya kemudian menjawab "Kabar umi dan abi baik sayang".
"Alhamdulillah". Balas Alfina
"Kamu bagaimana sayang kabarnya?". Tanya umi Laila sambil mengelus kedua pipi Alfina dengan sayang
"Alhamdulillah". Balas umi Laila
Kemudian Alfina duduk diantara ayah dan bundanya yang berarti ia berada ditengah-tengah mereka. Alfina sudah menganggap orangtua asuhnya seperti orangtuanya sendiri. Mereka sudah begitu sayang dengan dirinya. Alfina bersyukur akan hal itu.
***
"Dimana putra anda bu?".
"Dia keluar sebentar karena ada telfon dari temannya, sebentar lagi pasti dia akan kesini". Jawab umi Laila
Bunda Laila mengangguk "Ya bu". Jawabnya
Alfan yang mendengarnya pun mengerutkan dahinya, apa ia tidak salah dengar bunda Nila menyebut putra anda kepada umi Laila. Apa yang dimaksud itu adalah dosennya, karena setau Alfina umi Laila dan abi Lukman hanya mempunyai satu anak laki-laki.
"Maaf sudah menunggu". Kata seseorang yang kembali masuk kedalam ruang tamu dengan gaya coolnya
Alfina yang tidak asing mendengar suara orang tersebut lantas mendongakkan kepalanya dan melihat siapa orang itu.
Deg ... ...
__ADS_1
Nafas Alfina berhenti sesaat ketika netra indahnya tak sengaja bertabrakan dengan netra tajam milik Alfan. Apa ia sedang berhalusinasi kenapa orangtua dan juga dosennya itu berada dipanti malam ini. Alfina mulai resah dan tidak tenang.
Alfina dengan segera menundukkan kepalanya ketika ia sadar kalau ia sudah memandang laki-laki yang bukan mahramnya. Apalagi dosennya itu memakai pakaian batik yang senada dengannya, ia jadi gelisah karena malam ini.
"Alfina mereka datang kesini ingin menyampaikan niat baiknya kepada kamu, ayah harap kamu menerimanya ya nak?". Kata ayah Norman sambil menatap Alfina
Ayah Norman adalah suami dari bunda Nila yang selama ini bekerja diluar kota. Pasangan suami istri itu tidak memiliki anak sehingga ia menganggap Alfina sebagai anak kandungnya sendiri. Ayah Norman dan bunda Nila juga sangat menyayangi anak asuhnya yang lain yang berada dipanti ini.
"Maksud ayah apa?". Tanya Alfina kepada ayah Norman
"Biar mereka sayang yang menjelaskan". Ucapnya
Abi Lukman tersenyum kepada Alfina kemudian berkata "Nak kami datang kesini karena ada satu hal yang ingin kami katakan kepada kamu untuk menyampaikan niat baik putra abi yang akan mengkhitbah kamu". Kata Abi Lukman
"Boy sampaikan niat baikmu kepada Alfina dan juga kedua orangtuanya". Perintah abi Lukman kepada Alfina
"Baik abi". Jawabnya
"Ayah bunda saya datang kesini bersama dengan abi dan umi karena ingin menyampaikan i'tikad baik saya untuk mengkhitbah Alfina Eliza Humaira agar menjadi pendamping hidup saya dan ibu dari anak-anak saya kelak". Ucap Alfan serius
"Kami terima niat baikmu nak, tapi untuk jawaban ayah serahkan semuanya kepada anak gadis ayah". Jawabnya
Alfina yang mendengar dosennya menyampaikan niat baik untuk melamar dirinya lantas menggenggam kedua tangan bunda Nila dengan erat. Ia masih bingung dihadapkan dengan situasi seperti ini. Dalam hati ia merasa bahagia karena orang yang selalu ia doakan dalam sujud sepertiga malamnya kini berada dihadapannya untuk melamarnya.
"Sayang umi bahagia sekali karena putra umi sudah memilih kamu untuk menjadi istrinya sehingga ia datang kesini untuk melamar kamu nak". Kata umi Laila
"Mungkin ini terlalu mendadak untuk kamu, saya siap menerima jawaban dari kamu kapanpun. Saya akan menunggunya". Ucap Alfan tiba-tiba
Ia melihat Alfan yang menatap dirinya singkat kemudian mengalihkan pandangannya kearah lain. Karena Alfan tau saat ini Alfina masih belum halal dengan dirinya jadi sebisa mungkin ia menjaga pandangannya dengan baik agar terhindar dari dosa dan zina.
Alfina menoleh melihat bunda Nila yang mengangguk tanda ia setuju dengan lamaran ini, ia hanya berharap Alfina bisa merasakan kebahagiaan yang hakiki bersama dengan pasangannya. Kemudian ia juga menoleh menatap ayah Norman yang ada disampingnya beliau juga mengangguk mantap bahwa ia juga setuju menerima Alfan sebagai calon suami dari putri asuhnya itu.
Alfina menunduk kemudian mengucapkan kalimat yang bisa membuat semua orang yang ada disitu terasa bahagia dan lega karena jawaban dari Alfina.
"Baiklah Alfina akan memberi jawaban atas niat baik yang sudah pak Alfan sampaikan".
Semua menatap Alfina dengan intens, begitu juga dengan Alfan. Namun Alfan kemudian menunduk, ia siap mendengarkan jawaban dari seorang perempuan yang saat ini ia khitbah dihadapan orangtua asuhnya juga dihadapan umi abinya.
"Bismillahirrahmanirrahim, Atas izin Allah Alfina menerima khitbah ini". Ucapnya pelan
Semua orang yang ada diruang tamu bersorak bahagia dengan hati yang membuncah. Semua mengucap syukur karena sebentar lagi akan dibentuklah sebuah perjalanan panjang rumah tangga antara Alfan dengan Alfina.
"Alhamdulillah". Lirih Alfan
Umi yang mendengar jawaban dari Alfina lantas berdiri dan menghampiri Alfina kemudian memeluknya dengan erat, karena mulai saat ini Alfina adalah menantu dan juga anak perempuan kesayangannya.
"Alhamdulillah, terimakasih sayang sudah menerima lamaran dari putra umi dan abi. Kamu adalah menantu dan anak perempuan kesayangan umi". Kata umi Laila terharu
__ADS_1
Alfina tersenyum "Sama-sama umi". Jawabnya kemudian memeluk umi Laila lagi
Alfan yang melihat kedekatan umi dan calon istrinya itu lantas tersenyum tipis. Ia bersyukur karena telah diberikan dua orang perempuan kesayangan dalam hidupnya. Alfan bahagia karena proses lamarannya telah diterima oleh sang sahabat semasa kecilnya.