
Setelah kelasnya selesai Alfina segera pergi menuju ruangan suaminya karena tadi Alfan memberitahu dari chat bahwa ia disuruh keruangannya setelah mata kuliahnya selesai.
Brukk ...
"Astaghfirullahaladzim". Ucap Alfina pelan
Buku yang dibawa Alfina jatuh karena bertabrakan dengan seseorang. Alfina berdiri setelah mengambil buku-bukunya kemudian melihat siapa laki-laki yang ada dihadapannya saat ini.
"Kamu gakpapa na?". Tanyanya
"Maaf aku tidak sengaja". Lanjutnya
Alfina menggeleng "Aku gakpapa kok". Jawab Alfina sembari menundukkan kepalanya
Laki-laki itu adalah Irfan, seorang mahasiswa sekelas Alfina yang tadi sempat bertanya soal status Alfina dengan Alfan dosennya.
"Na apa kamu bahagia menikah dengan pak Alfan?". Tanyanya tiba-tiba
"Kenapa kamu tanya seperti itu?" Tanya Alfina balik
"Aku hanya ingin tau na". Balasnya
"Baiklah, tentu aku bahagia menikah dengan pak Alfan karena beliau mau menerima aku yang apa adanya ini. In Syaa Allah dialah orang yang ditakdirkan untuk menjadi pendamping hidup aku di dunia dan diakhirat kelak". Jawab Alfina dengan yakin
Irfan terdiam mendengar jawaban dari Alfina, ia sebenarnya mengagumi Alfina sejak dari awal bertemu saat masuk perkuliahan dulu. Ia sangat kagum dengan akhlak dan paras dari perempuan yang ada dihadapannya saat ini, tapi apalah daya kini wanita yang ia harapkan menjadi pendamping hidupnya sudah menikah dan milik orang lain.
"Semoga pernikahan kamu dengan pak Alfan menjadi pernikahan yang sakinah, mawaddah, warrahmah dan semoga kamu selalu dilimpahkan dengan kebahagiaan". Ucap Irfan
"Aamiin terimakasih atas doanya, semoga kamu juga selalu diberikan kebahagiaan oleh Allah". Balas Alfina sambil menunduk
"Aku permisi dulu, Assalamualaikum". Pamit Alfina
"Waalaikumussalam". Jawab Irfan lirih
Irfan masih menaruh rasa kepada Alfina, mungkin ia terlalu berharap kepada manusia sehingga ia diliputkan rasa kepahitan dan kekecewaan karena berharap kepada selain Allah. Cinta memang fitrah, tapi jangan sampai cintamu kepada manusia melebihi cintamu kepada sang Pencipta. Jadi cintailah seseorang dengan sewajarnya saja, karena hal yang berlebihan itu tidak baik.
"Mulai sekarang aku harus mengikhlaskan perempuan yang dulunya sempat aku harapkan menjadi istriku kelak". Monolog Alfan dalam hati
"Dia sudah menjadi milik orang lain dan bahagia bersamanya". Lanjut Irfan dalam hati
Akhirnya Irfan melanjutkan langkahnya menuju parkiran untuk mengambil motornya dan bergegas pulang karena hari ini ia akan mengantarkan sang mama ke kantor papanya.
Tok ... Tok ...
"Assalamualaikum". Salam Alfina saat tepat berada pada pintu ruangan Alfan
__ADS_1
"Waalaikumussalam masuk". Jawab Alfan dari dalam
Alfina masuk kedalam ruangan Alfan, kemudian menghampiri suaminya yang saat ini sedang duduk dikursi kebesarannya. Ia menyodorkan tangannya meminta salim sebagai tanda baktinya menjadi seorang istri. Dengan senang hati Alfan menerimanya kemudian mencium kening Alfina singkat.
"Habis bertemu siapa dek?". Tanya Alfan pada Alfina
Alfina mengerutkan keningnya "Maksudnya mas?".
"Kamu tidak mau menjelaskan sesuatu sama mas?". Ucap Alfan sambil melihat Alfina
Alfina berpikir keras mencerna ucapan dari suaminya itu, ia harus menjelaskan apa kepada suaminya kalau perihalnya saja tidak tau.
"Sesuatu apa mas?". Tanya Alfina dengan hati-hati
"Tadi kamu bertemu dengan Irfan kan?". Tebak Alfan tepat sasaran
Alfina mengangguk "Ya tadi aku tidak sengaja bertemu dengan Irfan". Jawab Alfina
"Terus kalian ngobrollin apa?". Tanya Alfan dengan nada datar
Alfina yang melihat perubahan dari suaminya itu menghela nafas panjang, ia harus menceritakan semuanya supaya tidak ada kesalahpahaman. Ia juga akan berkata jujur kepada suaminya itu.
"Tadi dia cuman tanya sama Alfina kata Irfan, apa Alfina bahagia menikah dengan mas. Terus Alfina jelasin kalau alfina bahagia sekali menikah dengan mas". Jawab Alfina pelan
"Seperti itu". Imbuh Alfina
"Ya mas". Balas Alfina
"Yasudah yang penting kamu jangan dekat-dekat dengan laki-laki itu, mas tidak suka". Ucap Alfan menatap Alfina dengan serius
"In Syaa Allah mas". Jawab Alfina sedikit takut melihat raut wajah tegas dari Alfan
Alfina menunduk sambil meremas ujung gamisnya dengan kuat, walaupun suaminya tidak memarahinya akan tetapi melihat raut wajah dari Alfan membuat nyalinya sedikit takut jadi lebih ia diam dan tidak membantah ucapan dari suaminya.
"Habis ini kita makan siang diluar". Kata Alfan
"Setelah itu adek ikut mas ke kantor". Lanjut Alfan
"Baik mas". Jawab Alfina
Alfan keluar dari ruangannya diikuti Alfina disampingnya untuk menuju parkiran khusus dosen dimana mobil Alfan berada disana. Alfan mengenggam tangan Alfina dengan erat sembari berjalan dan menyamai langkah Alfina yang kecil.
Hati Alfina berdebar kala diperlakukan seperti itu oleh suaminya. Ia begitu dijaga dan disayangi dengan tulus sampai-sampai Alfan tidak mau kalau dirinya berdekatan dengan teman laki-laki nya dikampus. Alfan tergolong laki-laki yang posesif kepada pasangannya. Itulah pikir Alfina
"Masuk dek". Ucap Alfan ketika sudah membukakan pintu mobil untuk Alfina
__ADS_1
"Terimakasih mas". Jawab Alfina dengan tersenyum
"Sama-sama". Balas Alfan tersenyum tipis
Alfan mengemudikan mobilnya menuju restoran yang dekat dengan kantornya. Ia akan mengajak istrinya makan siang bersama diluar karena hari ini ia ada meeting penting bersama dengan Angga sahabatnya.
Ketika sudah sampai ditempat Alfan dan Alfina segera turun kemudian berjalan memasuki restoran yang hari ini banyak sekali pengunjungnya, mungkin mereka juga melakukan hal yang sama untuk makan siang bersama dengan para teman kerja, pasangan, atau orang terdekat mereka.
Alfan memundurkan kursi yang akan diduduki oleh Alfina sambil berkata "Duduk dek".
Alfina menatap suaminya kemudian duduk dikursi yang sudah disiapkan olehnya, sedangkan Alfan duduk tepat dihadapan Alfina. Alfan memanggil pelayan kemudian bertanya kepada istrinya.
"Adek mau makan apa?". Tanya Alfan
"Samain aja sama mas". Jawab Alfina
Alfan mengangguk kemudian memesankan makanan yang sama dengan istrinya. Sambil menunggu pesanannya datang ia memperhatikan Alfina yang melihat suasana restoran pada siang ini dimana banyak sekali orang yang datang dan berlalu lalang didalamnya.
"Silahkan pak bu". Ucap seorang waiters
"Terimakasih". Ucap Alfan dengan singkat
Alfina memakannya dengan tenang dan pelan, sementara Alfan yang sedari tadi menguyah makanannya sambil melihat istrinya. Alfina yang sadar oleh kelakuan suaminya yang dari tadi memperhatikan dirinya makan kemudian bertanya.
"Ma-mas kenapa lihatin aku kayak gitu?". Tanyanya sedikit gugup
"Kenapa?". Alfan malah balik bertanya
"Gapapa". Jawab Alfina kemudian memakan makanannya lagi
Alfina mendongak memastikan suaminya dan ternyata masih saja menatap dirinya dengan intens, lama-lama Alfina dibuat malu karenanya. Ia yakin pasti pipinya sudah memerah dengan sendirinya.
Tiba-tiba Alfan mengusap sudut bibirnya dengan lembut kemudian berkata "Kamu masih kayak anak kecil dek". Ucapnya
Alfina menatap suaminya tak percaya, apa katanya tadi dia bilang dirinya masih seperti anak kecil. Lalu kenapa kalau masih kecil ia sudah dinikahi olehnya. Alfina kesal dengan suaminya itu.
Alfan tersenyum tipis melihat Alfina yang cemberut karena ucapannya. Lantas Alfan memegang tangan Alfina yang berada diatas meja kemudian mengusap pipinya dengan lembut. Menurut Alfan istrinya itu sangat menggemaskan jika sedang kesal seperti ini.
"Jangan cemberut dek gak baik apalagi didepan suami". Kata Alfan seraya tersenyum tipis
"Maaf mas". Jawab Alfina dengan pelan
"Yaudah lanjutin makannya habis itu kita ke kantor". Ucap Alfan pada Alfina
Alfina mengangguk "Ya mas".
__ADS_1
Selesai makan siang mereka berdua bergegas menuju kantor. Alfina mengikuti suaminya kemanapun suaminya pergi, ia diminta Alfan untuk menunggunya dikantor dikala ia meeting nanti. Alfina mengiyakan permintaan dari suaminya itu, karena pada dasarnya seorang istri harus menuruti kemauan seorang suami asalkan perintah itu baik dan tidak melanggar ajaran agama Islam.