
Kini Alfina membantu sang umi memasak didapur untuk makan malam nanti. Sebenarnya tadi sang umi sudah melarang Alfina untuk ikut membantunya memasak, akan tetapi Alfina tetap keukeh dan ingin membantu menyiapkan makan malam keluarga mereka. Alhasil umi Laila mengiyakan saja.
"Sayang kalau kamu capek kamu bisa istirahat". Ucap umi Laila
"Alfina tidak capek kok umi". Jawab Alfina dengan sopan
"Yasudah kalau kamu capek langsung istirahat ya sayang, umi tidak mau kalau kamu kenapa-kenapa". Balas umi Laila
"Ya umi". Jawab Alfina sambil tersenyum
Umi Laila dan Alfina melanjutkan acara masaknya sambil dibantu juga dengan bi marta yang sudah menjadi art di keluarga umi Laila sedari dulu semenjak Alfan masih kecil.
"Sayang udah nak biar umi yang angkat". Kata umi Laila ketika melihat Alfina yang akan mengangkat sayur sop yang masih panas
"Ya umi". Jawab Alfina
Acara masak pun telah selesai, ia dan umi Laila memasak makanan khas menu rumahan yang tentunya lebih higienis dan lezat. Kini ia akan kelantai atas untuk melaksanakan shalat maghrib dikamar suaminya kemudian nanti akan makan malam bersama keluarganya.
"Umi Alfina ke kamar dulu ya?". Kata Alfina pada umi Laila
"Ya sayang". Balas umi Laila sambil mengelus kepala Alfina
Alfina melangkahkan kakinya menuju kamar suaminya untuk melaksanakan shalat maghrib. Mungkin sekarang suaminya sedang bersiap diri untuk shalat maghrib di masjid bersama dengan sang abi yang sudah menunggu dilantai bawah.
Ceklek ...
"Assalamualaikum". Salam Alfina ketika memasuki kamar
"Waalaikumussalam". Jawab Alfan yang sedang memakai baju kokonya
Alfan melihat Alfina yang saat ini duduk diranjang kamarnya sambil melepaskan hijab instannya di nakas samping tempat tidur. Alfan menghampirinya kemudian mengelus rambut Alfina yang tergerai dengan lembut.
"Capek hmm?". Tanya Alfan
Alfina menggeleng "Alfina tidak capek kok". Jawab Alfina
"Habis ini adek shalat maghrib ya, mas mau ke masjid dulu". Kata Alfan pada Alfina
"Ya mas hati-hati". Jawab Alfina
__ADS_1
"Mas berangkat, Assalamualaikum". Salamnya
"Waalaikumussalam". Jawabnya
Setelah itu Alfina menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu kemudian melaksanakan shalat maghrib bersama sang umi dilantai bawah. Selesai shalat ia mencium tangan umi Laila yang selama ini sudah ia anggap seperti ibu kandungnya sendiri.
Umi Laila tersenyum simpul melihat Alfina yang begitu dekat dengannya. Ia bersyukur karena putranya telah menikahi perempuan yang baik agamanya, akhlaknya, dan tutur katanya. Ia sudah menganggap Alfina seperti anak kandungnya sendiri.
"Sayang kita ke meja makan dulu saja sambil menunggu kedatangan abi dan suami kamu". Ucap umi Laila
Alfina mengangguk "Baik umi". Jawabnya
Kedua perempuan itu menuju meja makan sambil membuatkan teh untuk sang abi, karena Alfan tidak menyukai minuman teh alhasil Alfina mengambilkan segelas air putih dingin dikulkas kemudian ia letakkan dimeja makan.
"Assalamualaikum". Salam seorang laki-laki bebarengan
"Waalaikumussalam". Jawab umi Laila dan Alfina
Umi Laila dan Alfina bergegas menghampiri suaminya masing-masing untuk menyambutnya dan meminta salim. Alfina tersenyum melihat kedatangan Alfan kemudian suaminya itu mencium kening dan kedua pipinya secara bergantian.
Alfina malu dibuatnya, karena disitu ada abi dan umi yang juga menyaksikan keromantisan dari Alfan. Abi dan umi tersenyum manis melihat pemandangan didepannya, karena sang putra yang begitu menyanyangi dan mencintai istrinya dengan tulus.
Semuanya mengangguk kemudian berjalan menuju meja makan dan duduk dikursi masing-masing. Umi Laila mengambilkan abi Lukman makanan kedalam piringnya, begitu pun dengan Alfina yang mengambilkan makan terlebih dahulu untuk suaminya.
"Terimakasih dek". Ucapnya
"Sama-sama mas". Jawabnya
Selesai makan malam Alfan dan Alfina pamit untuk istirahat ke lantai atas karena besok ia akan pergi lagi menuju kantor setelah mengantarkan sang istri menuju kampusnya. Ia akan berusaha untuk menjaga dan melindungi Alfina dimanapun dan kapanpun selama ia selalu berada didekatnya. Karena Alfina adalah istrinya tanggungjawabnya.
"Shalat isya' dulu dek". Ujar Alfan yang melihat Alfina duduk diatas ranjang sambil meluruskan kakinya
"Mas ambil wudhu dulu saja". Kata Alfina dengan sopan
Alfan mengangguk kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu lalu melaksanakan shalat isya' berjamaah dengan istrinya. Alfina bangkit dari duduknya ketika melihat suaminya sudah keluar dari kamar mandi, ia bergegas mengambil air wudhu juga lalu shalat isya' bersama dengan suaminya.
"Sudah?". Tanya Alfan ketika melihat Alfina yang sudah memakai mukenanya
Alfina mengangguk "Sudah mas". Jawabnya
__ADS_1
Alfan menjadi imam dalam shalat isya' malam ini bersama dengan sang istri sebagai makmumnya. Hati Alfina bergetar mendengarkan bacaan surah dari suaminya, ia begitu bersyukur memiliki seorang suami yang pandai dalam beragama.
"Assalamualaikum". Salam Alfan mengakhiri kegiatan shalatnya
Alfan lantas berbalik menghadap Alfina kemudian menyodorkan tangannya agar dicium oleh sang istri. Alfina dengan senang hati menerimanya lalu ia pun mengecup punggung tangan suaminya dengan takdzim kemudian Alfan mencium kening Alfina sedikit lama.
Mereka berdoa meminta agar rumah tangganya diberikan keberkahan dan keridhoan dari Allah serta semoga keluarga kecilnya yang saat ini ia bangun menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warrahmah.
Alfan melihat Alfina yang masih duduk diatas sajadah, ia dengan segera mendekati istrinya lalu memegang tangannya dan menatapnya intens. Alfina yang diperhatikan seperti itu lantas menunduk malu dan sudah ia pastikan kalau pipinya sudah memerah.
"Dek". Panggil Alfan dengan lembut
Alfina mendongak menatap Alfan kemudian mengatakan "Ya mas".
Alfina dibuat ketar-ketir oleh tatapan suaminya, ia rasa tatapan suaminya kali ini berbeda dari sebelumnya. Alfan mengelus pipi Alfina dengan lembut menggunakan sebelah tangannya kemudian mengutarakan sebuah ucapan yang selama ini sudah ia simpan selama mereka sudah halal.
"Boleh mas meminta hak mas malam ini sama adek?". Kata Alfan to the point
Alfina mematung ditempatnya, ia masih mencerna ucapan dari suaminya itu Setelah ia paham dan mengerti maksud dari suaminya lantas ia menganggukkan kepalanya dengan pelan. Ia akan menjadi istri yang berbakti kepada suaminya, apabila suaminya itu menginginkan dirinya maka ia tidak boleh menolaknya dan ia harus melayani suaminya dengan hati yang ikhlas.
"Boleh?". Tanyanya lagi untuk memastikan
Alfina mengangguk "Ya mas". Jawab Alfina sambil menundukkan kepalanya
Alfan yang mendengar jawaban dari istrinya dengan segera ia meminta izin untuk melepaskan mukena yang masih melekat ditubuh Alfina. Ia akan selalu meminta izin terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu dengan istrinya, karena baginya menghormati seorang perempuan adalah diharuskan apalagi perempuan tersebut adalah istrinya sendiri.
"Biar mas yang melepaskan mukena adek". Ucap Alfan yang dibalas anggukan oleh Alfina
Ketika mukena sudah terlepas dengan sempurna, Alfan mengecup kening Alfina dan mengelus rambut Alfina dengan sayang. Ia suka wangi rambut istrinya yang begitu harum bila ia cium dan elus. Setelahnya Alfan menggendong Alfina kemudian meletakkannya di tengah-tengah ranjang king size nya lalu mematikan lampu utama diganti dengan lampu tidur yang hanya menghasilkan cahaya tidak terlalu terang dsn tidak terlalu padam.
Alfan dibuat deg-degan ketika sang suami sudah berada diatas tubuhnya. Malam ini ia menggunakan pakaian tidur bermodel dress dengan lengan pendek dan panjangnya hanya sampai lutut. Alfina sudah yakin karena Alfan adalah suaminya dan ia berhak atas dirinya penuh.
"Jangan takut mas akan melakukannya dengan lembut dan hati-hati yang In Syaa Allah tidak akan menyakiti adek". Kata Alfan sambil melihat raut wajah Alfina dari bawah
Alfina hanya mengangguk karena ia diliputi oleh rasa malu dan berdebar secara bersamaan. Ini adalah pertama kali dalam hidupnya bersama dengan suaminya, jadi ia harus bisa membuat suaminya itu ridho kepadanya.
Alfan mulai menjalankan aktivitasnya diatas tubuh Alfina, ia menggenggam kedua tangan Alfina dari sisi kanan dan sisi kiri dengan erat. Mereka saat ini sudah berada dalam satu selimut yang sama dengan keadaan yang sudah tidak memakai pakaian masing-masing. Alfan sudah melucuti semua pakaian yang dipakai oleh istrinya tadi, kemudian menggantikannya dengan selimut untuk menutupi kedua tubuhnya yang sama-sama telanjang.
Alfan membacakan doa kemudian mengecup kening, hidung, kedua pipi Alfina, dan terakhir ia mengecup bibir istrinya dengan lembut. Ini adalah first kiss mereka selama ini setelah mereka menikah. Alfan bisa merasakan kalau bibir pink milik istrinya tersebut rasanya manis, dengan segera ia menempelkannya lagi lalu ********** dengan lembut sambil mengelus pipi istrinya. Dan setelah itu Alfan menjalankan aktivitasnya yang lain bersama dengan istrinya yang nantinya akan mendapatkan pahala dan berharap membuahkan hasil berupa keturunan yang shaleh dan shalehah.
__ADS_1