
Malam ini diadakan resepsi diballroom hotel yang tadi digunakan untuk melangsungkan akad pernikahan. Alfina sudah cantik menggunakan gaun syar'inya yang bewarna soft orange, karena ia sangat suka dengan warna senja. Begitu juga dengan Alfan yang sudah tampan dengan balutan pakaian formal berwarna hitam. Mereka sangat serasi cantik dan tampan yang saat ini berdiri ditengah pelaminan.
"Assalamualaikum Alfinaa". Salam seorang perempuan muda dengan sedikit berteriak yang tak lain adalah Amel sang sahabat
"Waalaikumussalam Amel, jangan teriak-teriak". Ucap Alfina pelan
"Hehe maaf na, aku kalau ketemu sama kamu bawaannya pengen ngegas mulu". Jawab Amel dengan cengengesan
Alfina menghela nafas, sahabatnya itu tidak pernah berubah dari dulu.
"Selamat ya buat pak Alfan sama Alfina atas pernikahannya, semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warrahmah". Kata Amel
"Pak tolong jagain sahabat saya dengan baik, awas aja kalau bapak sampai buat sahabat saya nangis". Lanjut Amel yang tak sadar jika berbicara dengan dosennya dikampus
"Tanpa kamu bilang saya sudah tau". Jawab Alfan dengan datar
"Hehe ya pak itu memang sudah jadi kewajiban bapak buat bahagiain sahabat saya". Balas Amel santai
Alfina yang berada disamping Amel dibuat ketar-ketir dengan sahabatnya itu, pasalnya Amel termasuk orang yang bar-bar. Alfina takut jika Amel bisa bermasalah dengan mata kuliahnya pak Alfan. Karena sang sahabat sudah mengatakan hal-hal yang menurutnya kurang sopan. Semoga baik-baik saja.
"Amel". Panggil Alfina pelan
"Kamu jangan khawatir na kalau dikampus memang pak Alfan dosen kita, tapi kalau diluar kampus tetap dosen kita". Kata Amel sambil tertawa
"Kamu mau nilai di mata kuliah saya jadi E?". Tanya Alfan tiba-tiba
"Jangan dong pak saya cuma bercanda. Jadi jangan kasih nilai saya E di mata kuliah bapak". Jawab Amel dengan wajah memelas
"Assalamualaikum bro". Suara salam dari laki-laki yang sudah berada didepan Alfan
"Waalaikumussalam". Jawab Alfan singkat
"Udah nikah aja lo perasaan baru kemarin acara khitbahannya". Ucap Angga sahabat Alfan
"Btw semoga pernikahan lo sakinah, mawaddah, warrahmah". Lanjut Angga
"Aamiin terimakasih pak". Kata Alfina
Alfan yang melihat Angga memperhatikan Alfina, lantas menarik pinggang Alfina posesif agar lebih dekat dengan dirinya.
"Tenang bro gua tau itu istri lo gua gak mungkin ngerebutnya dari Lo. Secara lo kan sahabat gua dari SMP". Kata Angga saat ia tau kalau sahabatnya itu memiliki sikap posesif kepada istrinya
"Gua percaya sama lo". Jawab Alfan
"Ini siapa, sahabat istri lo?". Ucap Angga ketika melihat perempuan yang masih muda seperti Alfina
"Ya pak ini Amel sahabat aku". Jawab Alfina
Amel yang sedari tadi masih berada diatas pelaminan lantas memasang muka masam karena ia masih memikirkan soal nilai di mata kuliah Alfan. Semoga saja ia tidak diberi nilai yang jelek oleh dosennya itu.
"Assalamualaikum, siapa nama kamu?". Tanya Angga pada Amel
"Waalaikumussalam, saya Amel". Jawab Amel
__ADS_1
"Kalau lo mau kenalan sama sahabat istri gua mending turun sana, gak liat banyak tamu yang ngantri". Kata Alfan pada Angga
"Santai bro, oke gua mau makan-makan dulu. Ayo Amel kita turun sekarang sekalian saya mau mengobrol sama kamu". Ucap Angga pada Amel
"Alfina aku turun dulu ya, aku bakalan kangen banget sama kamu". Kata Amel sambil memeluk sahabatnya itu
"Kan kamu masih bisa ketemu sama aku setiap hari dikampus". Jawab Alfina
"Tapi kita pasti jarang quality time kayak dulu". Rengek Amel
"Kamu tenang saja pasti ada waktu kok". Jawab Alfina sambil tersenyum
Akhirnya Angga dan Amel turun dari pelaminan menuju meja yang sudah dipenuhi oleh makanan. Ia juga akan mengobrol sebentar dengan Angga.
"Kamu capek?". Tanya Alfan ketika melihat Alfina duduk di pelaminan dengan wajah yang sedikit lemas
"Ti-tidak kok pak". Jawab Alfina
"Kalau kamu capek kita bisa istirahat terlebih dahulu dikamar". Ucap Alfan sambil menatap Alfina
"Tapi tamu-tamunya masih banyak". Jawab Alfina
"Kamu tenang saja biar semuanya diurus sama abi, umi, ayah, dan bunda. Yang terpenting sekarang adalah kesehatan kamu". Kata Alfan yang membuat Alfina terdiam
"Alfina mengangguk "Yasudah istirahat saja tidak apa-apa".
Alfan segera menggandeng tangan Alfina dengan erat untuk turun dari pelaminan menuju kamar hotel yang sudah dipesan untuk mereka berdua menginap dan akan kembali pulang pada esok hari.
Hati Alfina berdebar ketika suaminya itu menggandeng tangannya. Baru pertama kali ini ia digandeng oleh seorang laki-laki selain alm ayahnya, karena ia sangat menjaga batasan dengan yang namanya laki-laki. Tapi untuk sekarang Alfan adalah suaminya jadi ia harus mulai terbiasa dengan hal-hal yang dilakukan pasangan suami istri yang sudah halal.
Ketika sudah sampai kamar Alfan mendudukkan Alfina ditepi ranjang kemudian ia melepaskan jas yang masih melekat ditubuhnya. Alfina memalingkan wajahnya ketika melihat suaminya itu melepaskan sebagian pakaiannya.
"Pak Alfan mau mandi?". Tanya Alfina
"Ya". Jawab Alfan singkat
"Kamu disini saja dulu jangan kemana-mana, saya akan mandi sebentar". Ujar Alfan
"Ya pak". Jawab Alfina
Alfina yang melihat Alfan sudah masuk kedalam kamar mandi lantas ia segera melepaskan jarum pentul yang melekat dihijabnya. Ia juga melepaskan kaos kaki yang tadi dipakainya kemudian mengambil bajunya yang ada di koper.
"Pak Alfan buat aku berdebar dari tadi". Kata Alfina dalam hati
Ceklek ...
Bunyi pintu kamar mandi sudah terbuka menampilkan Alfan yang baru saja keluar dari sana dengan menggunakan pakaian lengkap celana selutut dan kaos hitam polos. Alfina yang melihat penampilan suaminya berpakaian santai seperti itu dibuat terperangah karena baru pertama kali melihat penampilan lain dari dosennya itu.
"Sudah puas memandanginya hmm?". Tanya Alfan ketika melihat Alfina yang memperhatikan dirinya
Alfina gelagapan "Eng-enggak kok pak, bapak sudah selesai mandinya?". Ucap Alfina mengalihkan pembicaraan
"Sudah". Jawab Alfan singkat
__ADS_1
"Kalau gitu Alfina mandi dulu". Kata Alfina sambil berjalan menuju kamar mandi
Setelah tiga puluh menit berada dikamar mandi, kini Alfina sudah keluar menggunakan baju piyama tidur dan hijab instan namun syar'i. Ia masih malu dan belum berani melepaskan hijabnya didepan suaminya.
"Ngapain kamu masih berdiri disitu?". Tanya Alfan ketika melihat Alfina yang masih berdiri didepan pintu kamar mandi
"I-iya pak". Jawab Alfina kemudian berjalan kearah ranjang disisi bagian samping Alfan
Alfan yang tadinya masih fokus pada handphonenya, segera menaruh benda tersebut ke atas nakas saat melihat Alfina yang sudah naik keatas ranjang. Alfan memperhatikan Alfina yang sedari tadi hanya diam berada didekatnya. Alfina pun merasa tidak nyaman bila terus-menerus diperhatikan seperti itu oleh suaminya.
"Pa-pak Alfan kenapa lihatin Alfina kayak gitu?". Ucapnya sambil menunduk
"Memangnya kenapa?" Alfan malah balik bertanya
"Alfina malu". Cicit Alfina sambil menutupi wajahnya menggunakan kedua tangannya
"Kenapa kamu malu, kita sudah sah menjadi pasangan suami istri". Jawab Alfan sembari menurunkan tangan Alfina dari wajahnya
"Maaf pak Alfina masih belum terbiasa". Kata Alfina dengan pelan
"Mulai sekarang jangan panggil saya dengan sebutan pak, karena saya bukan bapak kamu". Ucap Alfan dengan tegas tapi masih terkesan lembut
"Terus Alfina harus panggil apa?". Tanya Alfina sambil melihat Alfan
"Panggil saya dengan sebutan mas". Jawab Alfan yang terus memandangi Alfina
Alfina yang terus dipandang oleh Alfan membuat dirinya grogi dan gugup, pasalnya suaminya itu tidak mengalihkan pandangannya sama sekali dengan dirinya.
"Baiklah m-mas". Jawab Alfina yang merasa kalau pipinya sudah memanas
"Kenapa kedua pipimu memerah?". Tanya Alfan jahil, sebenarnya Alfan sudah tau kalau istrinya itu masih malu-malu dengannya
"Jangan kayak gitu mas". Jawab Alfina yang kembali menangkupkan kedua tangannya dipipi
Alfan tersenyum manis ketika mendengar istrinya memanggilnya dengan sebutan mas. Ia bahagia karena sudah menjadi suami dari mahasiswinya sendiri sekaligus sahabat semasa kecilnya. Ia akan memberitahunya nanti ketika waktunya sudah tepat bahwa ia adalah kak Al nya dan Alfina adalah Nana nya. Pikir Alfan
"Saya akan memanggilmu dengan sebutan adek sebagai panggilan kesayangan dari saya". Kata Alfan kepada Alfina
Alfina mengangguk "Terserah mas saja". Jawab Alfina
Alfan mulai membaringkan tubuh Alfina ketempat tidur kemudian memasangkan selimutnya. Ia juga ikut merebahkan tubuhnya disamping istrinya itu dengan satu selimut yang sama.
Alfina merasa deg-degan karena suaminya itu selalu saja melakukan hal-hal yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Alfina pikir suaminya itu jika diluar sikapnya dingin dan datar tapi kalau bersama dirinya dan juga keluarganya ia akan bersikap hangat seperti saat ini.
"Kita istirahat ya pasti kamu sudah capek". Kata Alfan sambil memeluk tubuh Alfina
"M-mas peluknya jangan kencang-kencang Alfina gak bisa napas". Kata Alfina pelan
Alfan sedikit mengendurkan pelukannya kemudian mencium kening Alfina dengan lembut. Alfan menyadari kalau istrinya itu masih terjaga dan belum tidur.
"Tidur adek ini sudah malam". Kata Alfan seraya memandang wajah Alfina yang sudah sayu
"Alfina gak bisa tidur". Jawab Alfina polos
__ADS_1
"Baca doa dulu setelah itu pejamin mata kamu pelan-pelan". Ucap Alfan
Kemudian Alfan mengelus kepala Alfina dengan sayang sampai Alfina tertidur dipelukannya dengan nyaman. Mungkin istrinya itu masih belum terbiasa melakukan hal seperti ini mangkanya ia sulit untuk memejamkan matanya. Ketika dirasa Alfina sudah tertidur ia kembali memeluk tubuh istrinya dengan erat setelah mencium kedua pipinya.