
Paginya mereka berdua sudah bersiap untuk kembali pulang kerumah setelah acara pernikahan kemarin yang sudah dilaksanakan di ballroom hotel termewah dikotanya. Alfan akan mengajak Alfina tinggal beberapa hari dirumah umi dan abinya karena orangtuanya tersebut menginginkan dirinya dan juga istrinya untuk tinggal disana selama beberapa waktu.
"Sudah siap?". Kata Alfan ketika melihat Alfina yang sudah rapi menggunakan gamis panjang bewarna abu tua serta hijab syar'i yang selalu menutupi mahkotanya. Alfan sampai dibuat terpesona ketika melihat istrinya itu.
Alfina mengangguk "Sudah mas". Jawab Alfina
"Yasudah kita akan berangkat sekarang". Ucap Alfan
"Ya mas". Balas Alfina
Alfan kemudian menggandeng tangan Alfina keluar menuju mobilnya yang sudah terparkir rapi di depan hotel. Ia membukakan pintu mobil untuk Alfina yang berada didepan tepatnya disamping bagian kemudi.
Alfina masuk kedalam mobil kemudian berucap "Terimakasih mas". Kata Alfina
"Sama-sama". Balas Alfan
Alfan kemudian masuk dan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang sambil menikmati perjalanannya bersama perempuan yang sudah menjadi istrinya itu untuk pertama kalinya. Ia bersyukur bisa menjadi pendamping hidup Alfina karena ia adalah sosok perempuan yang selama ini ia doakan dalam sujud sepertiga malamnya.
Alfina menatap kedepan melihat kendaraan yang berlalu lalang memenuhi jalanan pagi ini. Jika waktu pagi banyak sekali kendaraan yang melintas karena pasti banyak sekali aktivitas atau kegiatan yang dilakukan diluar rumah, entah itu berangkat sekolah, berangkat kuliah, ataupun berangkat kerja.
"Kamu mau membeli sesuatu?". Tanya Alfan pada Alfina
Alfina menggeleng "Tidak mas". Jawab Alfina
"Yasudah tapi kalau ada yang kamu inginkan bisa bilang dengan saya". Ucap Alfan
"Ya mas". Balas Alfina
Tak terasa perjalanan dari hotel ke rumah umi Laila dan abi Lukman memakan waktu dua puluh menit. Kini keduanya sudah sampai didepan rumah orangtua Alfan dan mereka bergegas turun dari mobil untuk tinggal disini selama beberapa waktu.
Tok ... Tok ...
"Assalamualaikum". Salam Alfan dan Alfina bebarengan ketika sudah sampai didepan pintu
"Waalaikumussalam". Jawab umi Laila sambil tersenyum manis kepada mereka berdua
"Maa Syaa Allah pengantin baru pagi-pagi sudah datang, ayo masuk nak". Ujar umi Laila sambil menggiring mereka berdua untuk masuk kedalam ruang keluarga
Mereka berdua menyalami tangan umi Laila dan abi Lukman dengan takzim kemudian duduk disofa sambil berbincang-bincang. Alfina duduk diantara Alfan dan umi Laila.
"Sayang umi kangen banget sama kamu nak". Kata umi Laila sambil memeluk Alfina yang saat ini sudah resmi menjadi menantu satu-satunya
"Alfina juga kangen sama umi". Jawab Alfina sambil membalas pelukan umi Laila
__ADS_1
"Kamu sehat kan nak, umi khawatir kalau kamu kecapekan dan sampai sakit karena acara kemarin". Ucap umi Laila khawat6seraya mengelus kepala Alfina
"Alhamdulillah sehat umi". Jawab Alfina tersenyum manis kepada umi Laila
"Syukurlah nak". Balas umi Laila
"Abi gak kekantor?". Tanya Alfan ketika melihat abinya yang masih santai
"Nanti agak siangan boy, abi memang sengaja berangkat nanti karena abi mau menyambut kedatangan kamu dan juga istri kamu". Jawab abi sambil menatap putranya
"Terimakasih abi". Ucap Alfan
Ingin sekali Alfina memeluk seorang laki-laki paruh baya yang ada didepannya itu. Abi dari suaminya itu kini menjadi abi mertuanya yang sudah ia anggap seperti abi kandungnya sendiri.
"Umi abi". Panggil Alfina dengan pelan
"Ya sayang". Balas umi Laila
"Ehm Alfina boleh peluk abi?". Cicit Alfina pelan karena takut
"Boleh sayang". Jawab umi Laila sambil tersenyum manis kepada Alfina
"Sini nak". Kata Abi seraya merentangkan kedua tangannya
Alfina langsung berdiri menuju sofa yang diduduki oleh abi Lukman kemudian memeluknya dengan erat sambil meneteskan air matanya haru karena ia sangat merindukan pelukan seorang ayah yang selama ini selalu ia rasakan sendiri.
"Jangan sedih nak, abi mengerti kalau kamu pasti merindukan sosok alm ayahmu yang saat ini sudah tenang di Syurga-Nya Allah. In Syaa Allah saat ini beliau sudah bangga dan bahagia melihat putrinya sudah menikah dengan putra dari sahabatnya". Kata abi Lukman.
Umi Laila dan Alfan yang melihat itu semua menjadi terharu karena ia tahu bahwa selama ini Alfina itu anaknya selalu kelihatan kuat dan tegar, padahal didalam hatinya ia menyimpan berjuta kerinduan kepada alm orangtuanya.
"Alfina minta maaf abi umi". Kata Alfina pelan yang masih berada dipelukan abi Lukman
"Kamu tidak salah nak, kamu bisa memeluk abi dan umi kapanpun dan dimanapun. Asalkan itu semua bisa buat kamu bahagia sayang". Jawab umi Laila berkaca-kaca
"Terimakasih umi abi sudah menerima Alfina dengan tulus". Ucap Alfina
"Sama-sama sayang". Jawab abi Lukman sambil mengelus kepala Alfina lembut
Alfan berdiri menghampiri Alfina dan duduk disebelahnya sambil mengambil alih pelukan Alfina pada sang abi, karena Alfan tidak mau kalau abinya memeluk istrinya lama-lama akhirnya sekarang Alfanlah yang kembali memeluk Alfina dengan sayang.
"Boy kamu itu posesif sekali". Kata abi Lukman
"Ini istri Alfan bi, kalau abi ingin memeluk lagi abi peluk umi saja. Jangan memeluk istri Alfan". Ucap Alfan sambil mengeratkan pelukannya pada Alfina
__ADS_1
Blush ...
Alfina merasa deg-degan bila dipeluk oleh suaminya seperti saat ini, pasti sekarang kedua pipinya sudah memerah malu karena ulah dari suaminya.
Abi Lukman tertawa "Baiklah boy Alfina memang istri kamu, ternyata kamu bisa cemburu juga dengan abimu sendiri. Padahal tadi adalah pelukan seorang putri kepada abinya". Heran abi Lukman
"Sudah-sudah jangan berdebat, kalian tidak lihat kalau putri umi pipinya sudah memerah?". Kata umi Laila sambil tersenyum jahil
Alfina yang mendengar lontaran dari umi Laila lantas menenggelamkan kepalanya pada dada Alfan karena malu, Alfina bingung harus berbuat apa untuk menutupi kedua wajahnya yang memerah.
Alfan tersenyum tipis ketika melihat Alfina yang selalu blushing ketika dekat dengan dirinya. Ia beruntung bisa memiliki Alfina sebagai istrinya karena menurutnya Alfina itu sangat menggemaskan dimatanya.
"Fan sekarang ajak istri kamu kedalam kamar kamu ya untuk istirahat, pasti putri umi sudah capek". Kata umi Laila
"Baik umi". Jawab Alfan
Dengan segera Alfan menggandeng tangan Alfina menuju kamarnya yang berada dilantai atas. Ia akan menyuruh istrinya untuk istirahat karena ia juga takut kalau istrinya sampai kecapekan akibat acara pernikahannya kemarin yang banyak sekali menguras tenaga dan waktu. Akan tetapi ia bahagia karena sudah memiliki pendamping hidup yang shalehah dan cantik seperti Alfina.
Ceklek ....
Pintu kamar dibuka menampakkan suasana kamar yang begitu maskulin. Aroma kamar yang harum khas seorang Alfan yang begitu cool begitupun juga dengan susunan kamarnya yang begitu rapi dan luas. Alfina dibuat takjub melihat kamar suaminya untuk pertama kalinya.
Alfan mendudukkan Alfina diatas ranjang kemudian mengambilkan segelas air putih untuk istrinya itu. Ia tau istrinya pasti haus akibat menangis tadi waktu dipelukan abinya.
"Minum dulu dek". Perintah Alfan sambil menyodorkan segelas air putih pada Alfina
Alfina mengangguk kemudian meminum airnya sampai tandas lalu memberikan gelasnya kepada Alfan yang langsung ditaruh oleh Alfan di meja nakas.
"Terimakasih mas". Kata Alfina
"Sama-sama". Jawab Alfan
"Sekarang kamu istirahat dulu ya, saya mau kekamar mandi sebentar". Ucap Alfan sambil mengelus kepala Alfina
"Ya mas". Jawab Alfina sambil menunduk
Ketika Alfan sudah memasuki kamar mandi, Alfina segera merebahkan tubuhnya di ranjang king size milik Alfan. Sebenarnya ia gerah karena biasanya ia akan melepaskan hijabnya ketika akan tidur ataupun saat berada dikamar, tapi untuk kali ini ia berpikir dua kali untuk melepaskannya. Alfina yang mulai tidak nyaman akhirnya melepaskan jilbabnya dengan hati-hati, biarkan suaminya melihat mahkotanya nanti karena menurut Alfina ia dan Alfan sudah sah menjadi pasangan suami istri, jadi dosennya itu berhak melihat rambutnya.
Sekitar dua puluh menit Alfan sudah keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju ranjang, ketika sampai ranjang ia dibuat terperangah oleh kecantikan istrinya yang saat ini sudah tertidur dengan nyaman diatas kasurnya. Baru pertama kali ini ia melihat istrinya tanpa menggunakan hijabnya, rambutnya yang panjang dan lurus serta warnanya yang hitam legam membuat Alfan ingin mengelusnya berkali-kali.
"Maa Syaa Allah". Kata Alfan
Alfan ikut merebahkan tubuhnya disamping istrinya kemudian mengelus rambut panjangnya dengan pelan sambil mengecup keningnya lembut. Istrinya sangat menggemaskan ketika tertidur seperti saat ini, ia tidak menyangka setiap akan tidur maupun kegiatan lainnya ia akan didampingi dan ditemani oleh istrinya yang sangat ia cintai.
__ADS_1
"Selamat tidur adek, semoga kamu mimpi indah". Kata Alfan pelan sebelum memejamkan matanya mengikuti Alfina untuk istirahat.