Mencintaimu Dalam Doa

Mencintaimu Dalam Doa
Part 88


__ADS_3

Pagi sudah tiba kini semua orang saatnya melakukan aktivitas, ada yang bekerja, sekolah, maupun berangkat bekerja. Umi Laila sudah berada didapur memasak makanan untuk sarapan pagi. Beliau bersama dengan bibi Marta yang selalu membantunya.


"Bu hari ini memasak apa?". Tanya bi Marta pada umi Laila


"Kita buat nasi goreng aja bi untuk sarapannya, biar untuk makan siang nanti tanya sama Alfina dulu dia ingin makan apa". Jawab umi Laila sambil terkekeh


"Ya bu". Jawab bi Marta


Umi Laila memang sebelum memasak pasti menanyakan kepada keluarganya terlebih dahulu ingin memakan apa, karena dengan begitu maka selera makan keluarganya akan meningkat menurutnya.


"Non Alfina sudah bangun bu?". Tanya bi Marta


"Kayaknya sudah bi, mungkin dia masih didalam kamar. Kasihan perutnya sudah besar jadi susah buat gerak". Kata umi Laila


Bibi Marta mengangguk "Ya bu menjelang kelahiran soalnya". Balas bibi Marta


Tak lama kemudian Alfina berjalan menuju dapur untuk membantu umi Laila memasak, walaupun kandungannya sudah membesar tapi ia selalu berusaha untuk membantu uminya itu karena ia tidak mau dibilang menantu pemalas ketika berada dirumah mertuanya.


"Assalamualaikum umi, bibi". Salam Alfina ketika sampai didapur


"Waalaikumussalam". Jawab mereka bebarengan


"Gimana sayang keadaan kamu dan juga dede bayinya?". Tanya umi Laila seraya mengelus perut Alfina


"Alhamdulillah kita berdua sehat umi". Jawab Alfina sambil tersenyum manis menatap umi Laila


"Alhamdulillah, kamu jangan melakukan pekerjaan yang berat ya sayang". Ucap umi Laila


"Alfina cuma mau bantu memasak umi, boleh?". Tanya Alfina pada umi Laila


"Boleh tapi jangan lama-lama, karena umi tidak mengizinkan". Jawab umi Laila


Alfina mengangguk "Ya umi". Balas Alfina


Alfina membantu memotong sayuran yang digunakan untuk nasi goreng, setelah selesai memotong ia memberikannya kepada umi Laila kemudian kembali duduk sebentar dikursi meja makan karena perutnya merasa kram.


"Aduh". Ucap Alfina dengan pelan namun masih bisa didengar


"Kamu kenapa sayang?". Tanya umi Laila menghampiri Alfina dengan membawa segelas air putih


"Tidak apa-apa kok umi, perut Alfina cuma kram sebentar". Jawab Alfina


"Minum dulu sayang". Ucap umi Laila sambil menyodorkan gelasnya kepada Alfina

__ADS_1


"Terimakasih umi". Kata Alfina


"Sama-sama sayang". Jawab


Setelah dirasa perutnya sudah aman, ia kembali kekamar untuk bersiap karena pagi ini suaminya akan mengajaknya pergi jalan-jalan sebelum melahirkan, ia juga tidak tau mau diajak jalan-jalan kemana oleh suaminya. Saat masuk kedalam kamar ia melihat suaminya yang sedang berpakaian, ia pun menghampirinya sambil duduk ditepi ranjang.


"Sudah selesai bantu uminya hmm?". Tanya Alfan pada istrinya


Alfina mengangguk "Sudah mas". Jawab Alfina


"Yasudah sekarang adek siap-siap, habis itu kita sarapan pagi dulu". Kata Alfan


"Baik mas". Balas Alfina


Alfina masuk kedalam kamar mandi untuk mengganti bajunya, setelah mengganti bajunya ia memoleskan wajahnya dengan memakai make up yang tidak terlalu tebal agar wajahnya keliatan cantik dan segar. Lalu ia memakai jilbab bergo syar'inya yang warnanya senada dengan warna abaya nya.


Alfan yang melihat sang istri berpenampilan seperti itu tidak mengedipkan matanya sama sekali, ia terus-menerus menatap Alfina dari atas sampai bawah yang membuat Alfina mendadak malu dan salah tingkah. Ia mengusap kepala istrinya dengan lembut sambil memandangnya dengan lekat.


"Kamu cantik sekali sayang". Kata Alfan santai kemudian mencium kening Alfina lama


"Pipi mu yang tembam membuat mas selalu merasa gemas ketika melihat kamu". Lanjut Alfan sambil mencubit pipi Alfina dengan pelan


Alfina merasa malu dan gugup bila dipuji seperti itu oleh suaminya, apalagi dengan jarak yang begitu dekat membuat ia salah tingkah dan tidak berani menatap wajah suaminya.


"Pipimu memerah dek". Ujar Alfan sambil terkekeh


Alfan tertawa lebar mendengar rengekan dari Alfina, baginya menggoda dan menjahili istrinya adalah suatu kegiatan yang harus ia jalankan setiap hari. Ia terkekeh melihat sang istri yang masih bersifat malu-malu terhadap dirinya.


"Yasudah ayo kita sarapan pagi dulu sebelum berangkat". Kata Alfan sambil menggandeng tangan Alfina keluar kamar menuju meja makan


Setelah sampai dimeja makan, Alfina duduk dikursi sedangkan Alfan yang mengambilkan istrinya makanan karena ia takut kalau istrinya sampai kecapekan sebelum berangkat pergi jalan-jalan bersama dengan dirinya.


"Kamu cantik sekali sayang". Ucap umi Laila sambil tersenyum manis menatap Alfina


"Terimakasih umi". Jawab Alfina dengan menunduk


Abi Lukman terkekeh melihat istri dan menantunya, baginya melihat dua perempuan yang ia sayangi sudah membuatnya bahagia setiap hari. Sedangkan Alfan masih sibuk mengambilkan makanan untuk istrinya.


"Kamu mau kemana sayang?". Tanya abi Lukman pada Alfina


"Alfina tidak tau bi, karena mas Alfan tidak kasih tau Alfina mau pergi jalan-jalan kemana". Jawab Alfina dengan polos


"Kamu lucu sekali sayang". Ujar umi Laila sambil tertawa

__ADS_1


Alfina diam ketika semua orang menertawakannya, padahal dirinya sudah menjawab pertanyaan abinya dengan jujur dan apa adanya, akan tetapi kenapa semua orang yang ada dimeja makan menertawakan dirinya termasuk suaminya.


"Makan dulu sayang, ayo mas suapi". Ucap Alfan pada Alfina


Alfina menggeleng "Alfina makan sendiri saja mas". Jawabnya dengan memelas


"Bolehkan?". Tanya Alfina


Alfan mengangguk "Yasudah boleh, dihabiskan ya?". Ucap Alfan pada istrinya


"Ya mas". Jawab Alfina


Setelah sarapan pagi Alfan dan Alfina berpamitan kepada umi Laila dan abi Lukman untuk pergi karena Alfan akan mengajak sang istri berlibur seusai wisuda menjelang kelahiran buah hatinya. Ia harus berusaha membahagiakan Alfina supaya tidak terlalu nethink karena sang istri akan melahirkan buah hatinya kedunia.


"Fan jaga istri kamu baik-baik ya, jangan biarin istri kamu pergi sendirian kamu harus menemani. Bulan depan sudah waktunya melahirkan, jadi kamu harus selalu menjaga dan melindunginya sebaik mungkin supaya tidak terjadi hal yang tidak kita inginkan". Ucap umi Laila panjang lebar menasehati putranya


"Ya umi Alfan akan berusaha menjaga dan melindungi istri Alfan dengan baik". Jawab Alfan santai


"Awas saja ya kalau sampai istri kamu kenapa-kenapa, umi bakalan salahin kamu". Ancam umi Laila


"Ya umi sayang". Balas Alfan pasrah


Umi Laila beralih menatap Alfina yang sedari tadi memperhatikan dirinya yang sedang menasehati suaminya, ia bingung juga mau bicara apa, pikir Alfina.


"Sayang kamu jangan sampai kecapekan ya, umi gak mau kalau kamu sampai kenapa-kenapa". Ucap umi Laila


Alfina mengangguk "Ya umi, Alfina bakalan istirahat kok". Jawab Alfina sambil tersenyum manis kearah umi Laila


"Yasudah kita berangkat dulu umi abi". Kata Alfan


"Assalamualaikum". Salamnya


"Waalaikumussalam". Jawab abi dan umi bebarengan


Alfan menggandeng tangan istrinya sampai masuk kedalam mobilnya, ia harus memastikan keadaan istrinya yang aman dan nyaman. Setelah itu ia mengendarai mobilnya menuju tempat yang akan menjadi tujuan utamanya untuk berlibur bersama dengan istrinya.


Alfan akan mengajak Alfina ke pantai yang saat ini ramai dikunjungi oleh para wisatawan, selain ke pantai ia juga akan mengajak istrinya makan malam disalah satu restoran mewah yang sudah ia booking sebelumnya. Biarlah ini menjadi momen terindah sebelum istrinya melahirkan buah hatinya kedunia.


"Mas memangnya kita mau kemana?". Tanya Alfina membuka obrolan didalam mobil


"Rahasia, nanti adek juga tau kita akan kemana". Jawab Alfan sambil terkekeh


"Yaudah terserah mas". Balas Alfina

__ADS_1


"Masya Allah lucunya istrinya mas". Kekeh Alfan melihat wajah istrinya yang masam


Ia pun melanjutkan perjalanannya hingga dilokasi tujuan yang sebelumnya telah direncanakan, Alfan sebisa mungkin membuat istrinya bahagia dan senang, jika istrinya bahagia dia juga ikut bahagia melihatnya. Sungguh ternyata seindah dan senikmat ini menjalani hubungan halal bersama dengan istrinya. Apapun yang ia lakukan kepada istrinya akan membuahkan pahala yang besar begitu juga dengan istrinya yang selalu menuruti dan menghormati dirinya sebagai seorang suami.


__ADS_2