
Sesampainya di rumah sakit Alfan segera menggendong tubuh istrinya hingga ada dua suster yang membantu membaringkan Alfina keatas ranjang rumah sakit. Alfan masih setia memegang tangan Alfina dengan erat mencoba memberi kekuatan untuk istrinya.
Hingga tak lama ada dokter kandungan yang masuk kedalam ruang bersalin, dokter tersebut memeriksa Alfina dan memastikan akan lahiran secara normal tanpa operasi sesar. Sang dokter menyuruh dua suster untuk menyiapkan peralatan yang akan digunakan untuk proses kelahiran buah hati Alfina dan Alfan.
"Bagaimana dokter keadaan istri dan anak saya?". Tanya Alfan pada dokter
"Sebentar lagi istri anda akan melakukan persalinan, karena pembukaannya sudah lengkap. Jadi saya sarankan untuk menemani istri anda disini". Jawab dokter tersebut
"Baik dok". Balas Alfan
Alfan bisa melihat bahwa perjuangan istrinya melahirkan sang buah hati dengan bertaruh nyawa. Ia tidak tega melihat raut wajah Alfina yang kesakitan dan dipenuhi oleh peluh keringat. Ia mengusap dahi Alfina kemudian menciumnya dengan lembut seraya membaca doa agar proses persalinan istrinya berjalan dengan lancar.
"M - mas sakit". Rintih Alfina pada suaminya
"Sabar sayang, adek pasti bisa demi buah hati kita. Mas akan selalu disini menemani adek". Ucap Alfan menenangkan Alfina
Oek ... Oek ... Oek ...
Terdengar suara tangisan bayi yang baru saja lahir dari seorang rahim perempuan yaitu Alfina. Alfan yang mendengar bahwa anaknya sudah lahir lantas mengucap hamdalah dan rasa syukur berkali-kali. Ia tersenyum haru melihat bagaimana perjuangan seorang ibu yang melahirkan anaknya dengan susah payah dan menahan rasa sakit.
"Alhamdulillah, buah hati kita sudah lahir sayang". Ucap Alfan sambil menciumi wajah Alfina
"Terimakasih sayang atas semua pengorbanan kamu untuk melahirkan buah hati kita". Lanjut Alfan dengan suara serak menahan tangis
"Sama-sama mas". Jawab Alfina dengan lirih sambil memejamkan matanya karena masih terasa sakit akibat proses persalinan tadi
"Alhamdulillah bayi ibu dan bapak berjenis kelamin laki-laki, sehat dan tampan seperti papa nya". Ujar seorang dokter
"Sebentar ya pak bu, biar dibersihkan dulu putranya". Lanjut dokter tersebut
Tak lama Alfina sudah tidak merasakan sakit lagi pada tubuhnya, akan tetapi ia masih merasa lemas dan lelah. Alfan mengusap kepala Alfina dengan lembut sambil menyemangati istrinya. Ia tidak menyangka bahwa sekarang ia sudah menjadi orangtua bersama dengan sang istri.
"Selamat ya sayang atas kelahiran buah hati kamu, umi bahagia sekali. Akhirnya umi dan abi mempunyai cucu dari kalian". Ucap umi Laila sambil tersenyum manis menatap Alfina dan Alfan
__ADS_1
"Terimakasih umi". Jawab mereka berdua bebarengan
"Sayang bagaimana keadaan kamu nak?". Tanya umi Laila khawatir menatap Alfina kemudian beliau mencium kening Alfina dengan sayang
"Alhamdulillah Alfina sudah lega umi". Jawab Alfina pada sang umi
"Putri bunda hebat, selamat ya sayang". Ujar bunda Nila seraya mencium kening dan pipi Alfina dengan gemas
"Terimakasih bunda". Jawab Alfina dengan pelan
Tiga puluh menit kemudian buah hati mereka berdua diantarkan kedalam kamar dengan digendong oleh sang dokter langsung. Semua yang ada dikamar tersenyum bahagia melihat malaikat kecil yang sangat tampan itu.
"Assalamualaikum semuanya". Ucap sang dokter menuju ranjang Alfina
"Waalaikumussalam". Jawab mereka serempak
"Silahkan di adzani dulu pak putranya". Ucap dokter tersebut kemudian memberikan bayi nya kepada Alfan dengan hati-hati
"Baik dok". Jawab Alfan singkat
"Ini bu putranya, silahkan diberi ASI terlebih dahulu ya bu. Karena asi pertama yang keluar akan sangat bermanfaat untuk buah hati anda". Kata dokter tersebut kepada Alfina
Alfina mengangguk "Baik dokter". Jawab Alfina seraya tersenyum manis menatap dokter kandungan yang menangani proses persalinannya
"Kalau begitu saya keluar dulu pak bu, kalau butuh apa-apa silahkan panggil saya". Ucap sang dokter
"Ya dok terimakasih". Jawab Alfan sambil tersenyum singkat
Alfina menatap umi Laila dan bunda Nila secara bergantian, ia masih malu membuka kancing bajunya untuk menyusui anaknya. Karena ia masih malu jika harus membuka bajunya didepan suaminya.
"Kenapa sayang?". Tanya bunda Nila seraya tersenyum pada Alfina
"Ehm enggak apa-apa bunda". Jawab Alfina kikuk pada bunda Nila
__ADS_1
"Segera susui sayang, pasti sudah haus cucu umi". Ujar umi Laila pada Alfina
Alfina mengangguk "Ya umi". Jawab Alfina sambil tersenyum menatap umi Laila
Alfan tersenyum jahil pada Alfina ia sebenarnya paham dengan istrinya, akan tetapi ia masih berdiam diri didalam sana ingin melihat reaksi dari istrinya tersebut. Ia tersenyum tipis melihat kegugupan sang istri ketika membuka kancing bajunya untuk menyusui anaknya.
Sampai akhirnya pun Alfina berhasil menyusui putranya dibantu dengan bunda Nila dan umi Laila yang tentunya sudah berpengalaman. Ia melihat sang anak yang sangat mirip dengan suaminya, anaknya tersebut sangat tampan, bibirnya sedikit tebal, dan matanya sedikit mirip dengan dirinya. Ia tersenyum sambil mengelus pipi gembul putranya yang sedang meminum ASI.
"Lihatlah sayang, dia lucu sekali. Sangat mirip dengan Alfan diwaktu kecil". Kata umi Laila sambil melihat cucunya
"Alfan izin keluar dulu buat shalat isya'". Ujar Alfan
"Ya sayang hati-hati". Jawab umi Laila pada Alfan
Alfina melihat suaminya yang sepertinya kelelahan, ia khawatir dengan kondisi sang suami karena dari tadi belum sempat istirahat sekalipun. Karena dirumah juga sibuk menyelesaikan pekerjaannya sambil menemani dirinya.
"Sayang habis ini kamu makan dulu ya?". Ucap bunda Nila pada Alfina
"Pasti sekarang kamu mudah lapar nak, karena kamu setiap hari menyusui jagoan". Timpal umi Laila sambil terkekeh
"Ya umi". Jawab Alfina
Selesai menyusui, kini putranya tengah digendong oleh umi Laila. Sedangkan dirinya bersiap untuk makan lagi karena ia juga merasa lapar sehabis melahirkan putranya. Waktu berangkat kerumah sakit tadi bunda Nila sudah membawakan makanan kesukaan Alfina, jadi Alfina merasa senang karena sudah dibawakan makanan kesukaannya oleh sang bunda.
"Makan dulu ya sayang, biar bunda suapin". Kata bunda Nila
"Biar Alfina makan sendiri saja bund". Jawab Alfina sambil tersenyum manis menatap bunda Nila
"Tidak apa-apa sayang, kamu pasti masih lelah". Keukeh bunda Nila kemudian mengambil sendok untuk menyuapi putrinya
"Terimakasih bunda". Ucap Alfina
Bunda Nila mengangguk "Sama-sama sayang". Balasnya
__ADS_1
Selesai makan Alfina diperintahkan untuk istirahat agar badannya kembali segar dan segera kembali pulang ke rumah. Sedangkan Alfan sudah masuk kedalam kamar lagi menemani Alfina yang sedang istirahat. Putra kecilnya tengah digendong oleh bunda Nila.
Alfan mengelus tangan Alfina dengan lembut, kemudian mencium keningnya singkat. Ia bisa melihat guratan wajah lelah dalam diri istrinya. Kedepannya ia harus selalu berusaha untuk membahagiakan Alfina yang sudah berkorban bertaruh nyawa melahirkan buah hatinya.